Rumah Siena dan Arga

1249 Kata
Framed bab 8 Kami menuju hotel, tempat Arga akan menjemputku. Sepanjang perjalanan, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Aku diam. Pikiranku berputar tanpa henti. Aku melirik Andra. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras saat menggenggam setir. Dia tidak banyak bicara. Seolah setiap kata harus ditahan. Aku masih belum tahu siapa dia sebenarnya. Dia terus menyuruhku mengikuti rencananya, tapi belum pernah menjelaskan semuanya. Dia bilang aku harus bertemu Arga dulu untuk mengetahui kelanjutan tentang Sophia. “Apa hubungannya Arga dengan Sophia?” tanyaku tadi. “Arga mengenal miss D.” Kalimat itu masih menggema di kepalaku. Aku terkejut. Tapi aku tahu, jika hanya Andra yang bercerita, aku bisa saja menganggapnya mengarang. Aku harus melihat sendiri. “Siena,” suaranya akhirnya memecah keheningan. “Kamu harus bersikap biasa saja. Jangan terlihat seperti orang yang tahu sesuatu. Jangan sampai Arga curiga.” “Baiklah. Tapi apa yang harus kulakukan di rumah?” “Kamu ambil barang-barang pentingmu. Identitas. Paspormu.” Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Dan aku ingin kamu membawa pakaian terakhir yang Arga kenakan malam sebelum paginya bertengkar denganmu.” Aku menoleh cepat. “Pakaian? Untuk apa?” “Aku yakin ada sesuatu di sana. Kita perlu tahu hubungan dia dengan Miss D yang sebenarnya.” Dadaku terasa berat. “Bailklah. Aku akan usahakan.” “Siena,” suaranya lebih rendah sekarang. “Kamu hanya punya dua jam sebelum polisi datang ke rumah. Kamu harus memastikan Arga percaya padamu.” Dua jam. Aku memandangi jalanan di depan. Rasanya seperti sedang menuju sesuatu yang tidak bisa kuhindari. “Lalu kamu di mana?” “Aku akan menunggumu di mobil ini. Dekat rumahmu.” “Kalau dalam dua jam aku tidak keluar?” “Aku akan masuk.” “Itu berbahaya.” “Aku tidak peduli.” Dia menoleh sekilas kepadaku. “Aku harus melindungimu. Apa pun yang terjadi.” Aku menelan ludah. “Andra... aku ingin bertanya.” “Apa kamu masih tidak percaya padaku?” “Iya.” Aku menatapnya lurus. “Aku masih tidak mempercayaimu.” Keheningan kembali mengisi mobil. “Kenapa kamu muncul sekarang? Kamu bukan tidak tahu Arga menamparku.” Tangannya mengencang di setir. “Saat aku melihatmu keluar dari rumah itu...” suaranya berubah lebih berat, “aku tidak tahu kalau itu kamu.” Dia berhenti. “Ketika kamu memegang pipimu... aku melihatnya.” Napasnya terdengar tidak stabil. “Kenapa saat itu?” tanyaku. “Aku ingin membunuhnya.” Kalimat itu diucapkan tanpa emosi. Justru itu membuatnya terasa lebih menakutkan. Aku membeku. “Siena,” katanya pelan, “aku tahu ini sulit. Tapi aku ingin kamu percaya padaku. Apa pun yang terjadi, kamu tidak akan terluka. Itu janjiku.” “Kenapa kamu tidak menghentikanku saat aku naik mobil itu?” “Aku sudah ingin mengehentikanmu sebelum kamu sampai hotel. Tapi kalau aku melakukannya, mereka akan mengubah rencana.” “Dan apa?” “Kita hampir sampai.” Mobil berhenti di depan Hotel LIMO. Aku turun. Lobi yang kemarin ramai kini terasa kosong. Terlalu kosong. Lampu tetap menyala, tapi tidak ada suara. Tidak ada petugas resepsionis. Ada yang tidak beres. Andra tidak ikut turun. Mobilnya berputar dan menjauh. Aku melangkah pelan menuju meja resepsionis. Sunyi. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan lobi. Pintunya terbuka. Arga turun dengan langkah cepat. Sebelum aku sempat berkata apa pun, dia meraih tanganku dengan kasar. “Sayang, ayo kita cepat pulang.” “Ada apa, Arga?” “Aku akan memberitahumu di rumah.” Nada suaranya terdengar tergesa, tapi wajahnya berusaha tetap tenang. Aku mengikutinya masuk ke mobil. Saat mobil mulai bergerak meninggalkan hotel, aku melihat wanita glamor itu berdiri di balik tembok dekat lift. Dia tidak sepenuhnya bersembunyi. Hanya cukup untuk mengintip. Mataku terbelalak. Kenapa dia mengawasi kami? Aku menoleh ke kanan dan kiri, berharap melihat mobil Andra di kejauhan. Tapi tidak ada. Sepanjang perjalanan, Arga akhirnya membuka percakapan. “Sayang, kamu sudah merasa lebih baik?” “Iya,” jawabku singkat. “Jangan marah lagi ya. Aku merindukanmu.’ Aku menatapnya sekilas. “Kenapa kamu tidak menghubungiku semalam?” “Aku harus ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.” “Arga... kamu tahu sesuatu tentang hotel itu?” “Hotel? Kenapa? Bukankah kita sudah beberapa kali menginap di situ? Kamu bilang sarapannya enak.” “Iya. Tapi kali ini terasa beda.” “Beda kenapa? Mungkin karena kamu menginap sendiri tanpaku.” “Mungkin.” Aku menahan napas. “Sayang, kemarin kamu di hotel saja? Apa kamu sempat keluar?” “Iya. Aku pergi ke kafe untuk membeli makan.” “Oh, begitu.” Ia terdiam beberapa detik. “Kamu tahu ada berita yang sedang viral?” “Berita?” Aku tersenyum tipis. “Aku terlalu sibuk menangis karena merasa sakit... karena tamparanmu.” Tangannya terangkat, mengelus pipiku pelan. “Maafkan aku, sayang. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi.” “Aku harap kamu memegang janjimu.” “Oh ya, Siena... kalau kamu tidak ingin punya anak, aku tidak akan memaksamu lagi.” Aku menoleh cepat. “Benarkah? Lalu bagaimana dengan keluargamu?” “Kita bisa tinggal di luar negeri saja. Hidup berdua.” Kalimat itu terdengar terlalu mudah. “Aku tidak pandai bahasa Inggris. Aku tidak bisa tinggal di sana.” “Ada aku,” katanya sambil mengelus rambutku. Aku menatap lurus ke depan. “Akan kupikirkan. Tapi kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?” “Karena aku sadar sudah menyakitimu.” “Orang bisa berubah secepat itu?” “Kamu meragukanku?” “Entahlah.” Aku memalingkan wajah ke jendela. Bayangan wajahku samar di kaca. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan – kebenaran atau kepura-puraan. Tak lama kemudian, kami sampai di rumah. “Arga, kamu sudah makan?” “Belum.” “Aku akan masak sebentar dan mencuci baju.” “Baik,” katanya sambil tersenyum. Senyum yang sulit kuterjemahkan. “Bisa kamu pergi beli buah? Dirumah sudah tidak ada. Aku ingin membuat jus.” “Tentu. Kamu mau buah apa?” “Aku kirim pesan nanti. Kamu harus beli di supermarket buah. Yang impor.” “Itu jauh.” “Nanti saat kamu pulang bisa langsung makan. Aku tinggal membuat jus.” Arga menatapku beberapa detik lebih lama dari biasanya. Seolah mencoba membaca sesuatu di wajahku. Tapi akhirnya dia mengangguk. Dia pergi setelah menurunkanku. Aku berdiri di depan pintu, melihat mobilnya menjauh sampai hilang di tikungan. Begitu suara mesin tak lagi terdengar, aku langsung masuk. Tanganku gemetar saat mengumpulkan berkas-berkasku. KTP. Pasporku. Beberapa surat penting milik kami. Lalu aku teringat permintaan Andra. Pakaian terakhir yang Arga kenakan. Aku menuju ruang laundry. Kemeja putihnya tergantung di sana. Celana hitam terlipat kasar. Dasi masih tergeletak di atas mesin cuci. Aku memeriksa saku kemeja. Sebuah struk terlipat kecil terselip di dalamnya. Aku membukanya. Skull bar. Tanggal dan Jam tertera jelas. Aku membeku. Jadi Arga memang ke bar itu. Apakah dia benar-benar mengenal Miss D? Aku memasukkan struk itu ke dalam tas. Kemeja, celana, dasi – semuanya kusimpan. Tapi ada yang janggal. Pakaiannya sangat kusut. Seolah dipakai dalam waktu lama, atau ... terjadi sesuatu. Kemeja impor seperti itu biasanya tidak mudah berkerut. Malam itu dia pulang pukul dua pagi. Aku ingat jelas. Aku sempat melihat jam di ponsel sebelum tertidur kembali. Dia memang sering pulang tengah malam. Tapi pukul dua adalah yang terlama. Dari mana sebenarnya dia malam itu? Aku memasukkan semua ke dalam tas dan menutupnya cepat. Aku harus pergi. Saat hendak membuka pintu, suara sirene terdengar dari kejauhan. Semakin dekat. Semakin jelas. Tubuhku membeku. Jangan sekarang. Tolong jangan sekarang. Sirene itu berhenti tidak jauh dari rumahku. Tanganku mulai gemetar. Bagaiaman ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN