Kantor polisi (Lampau)

1145 Kata
Framed bab 9 Aku panik. Suara sirene polisi semakin dekat. Bukan lagi samar. Benar-benar menuju ke arah rumah ini. Aku kembali masuk ke dalam, mengunci pintu depan dengan tangan gemetar, lalu berlari ke belakang. Pintu dapur kubuka. Aku naik ke tembok pembatas rumah. Di belakang rumah adalah kebun tetangga yang jarang dipakai. Di sana Andra sudah menunggu. “Siena, pegang tanganku. Hati-hati.” Aku melemparkan tas lebih dulu ke seberang, lalu menggenggam tangannya dan melompat turun. Saat kakiku menyentuh tanah, aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Mobil Arga. Pintu depan digedor keras. Dia mencoba membukanya. Aku dan Andra sudah berlari menjauh. “Napasmu pelan,” bisik Andra sat kami bersembunyi di balik pohon besar. “Kamu bilang aku punya waktu dua jam,” kataku lirih, masih terengah. “Aku kira begitu. Tapi sepertinya mereka bergerak lebih cepat.” “Untung saja aku sempat melakukan yang kamu suruh.” “Iya. Kamu hebat.” Aku menatapnya tajam. “Tapi kenapa suamiku kembali lagi? Padahal aku sengaja menyuruhnya pergi jauh.” “Mungkin dia sudah mencurigaimu.” “Arga tahu sesuatu?” “Atau polisi sudah lebih dulu menghubunginya.” Kalimat itu membuat perutku terasa mual. “Sekarang kita harus kemana?” “Kita kembali ke mobilku dulu. Sebelum mereka benar-benar mencarimu, kita harus mendapatkan bukti kalau kamu tidak bersalah, Siena.” “Tapi... mayat siapa yang ada di mobil itu?” Andra diam. Dia tidak menjawab. Hanya berjalan lebih cepat. “Andra,” suaraku hampir bergetar, “mayat siapa itu?” Dia tetap bungkam. Beberapa menit kemudian kami sudah berada di mobilnya. “Siena,” katanya akhirnya, “apa yang kamu ingat saat tiba di hotel?” “Yang aku ingat?” “Atau saat kamu di dalam mobil yang berisi mayat itu.” Aku menutup mata, mencoba mengingat. “Sopirnya bertanya tujuanku. Lalu... saat turun dari mobil, aku melihat stiker tengkorak di spionnya. Tapi kupikir itu biasa.” Andra menoleh cepat. “Stiker tengkorak?” “Iya. Dan... satu lagi. Di mobil itu diputar lagu. Ada lirik tentang marriage.” Aku mengerutkan dahi, mencoba mengingat lebih detail. “Aku tidak banyak mengingat yang lain. Saat itu pikiranku kacau.” “Stiker tengkorak itu simbol Skull Bar.” “Skull Bar? Tempat Sophia?” “Iya.” Dadaku terasa sesak. “Kendaraan yang terhubung dengan jaringan mereka biasanya memakai tanda itu.” Aku terdiam. “Tunggu,” kataku pelan. “Aku pernah melihat stiker seperti itu.” “Di mana?” “Di mobil Arga. Tapi dia tidak memasangnya. Dia bilang salah beli stiker, jadi tidak dipakai.” “Jadi aku tidak memedulikannya.” Kalimat itu kini terdengar berbeda. Bukan lagi hal sepele. “Ternyata itu ada artinya...” bisikku. “Tapi kenapa Arga behubungan dengan Skull Bar?” “Karena Arga pelanggan di sana.” Aku menoleh cepat. “Apa?” “Itu yang kudapat dari daftar tamu mereka.” “Tidak mungkin. Selama ini dia sibuk kerja.” “Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi namanya ada.” Aku memandang Andra lama. “Apa aku harus percaya semua ini?” “Setelah semua yang terjadi hari ini, apa kamu masih menganggap ini kebetulan?” Aku tidak bisa menjawab. Ponselku tiba-tiba bergetar. Nama Arga muncul di layar. Andra menatapku. “Angkat.” Aku menelan ludah dan menerima panggilan itu. “Halo?” “Sayang kamu di mana?” Suaranya terdengar normal. Terlalu normal. “Aku... pergi berbelanja. Tadi lupa ada bahan yang kurang untuk memasak.” “Hm.” Keheningan singkat. “Aku sudah di jalan. Naik taksi online.” “Berapa lama kamu kembali?” “Mungkin satu jam.” “Baiklah. Kembali secepatnya. Karena kita kedatangan tamu.” “Tamu? Siapa? Orang tuamu?” “Bukan. Mereka polisi.” Jantungku seperti jatuh. “Polisi? Ada apa polisi ke rumah, sayang?” “Aku juga tidak tahu. Tapi mereka menanyakanmu.” “Aku? Kenapa denganku?” “Kamu harus cepat pulang, Siena.” “Iya... aku akan buru-buru pulang.” Aku langsung mematikan ponsel. Tanganku dingin. Andra menatapku. “Siena, sekarang Arga akan memberi alibi pada polisi.” “Apa maksudmu?” “Mereka sudah tahu kalau yang berada di mobil itu adalah kamu. Dan aku dianggap kaki tanganmu. Kita berdua sekarang dalam pelarian.” Aku menatapnya tak percaya. “Tapi kenapa harus aku?” “Apa hubungannya aku, Arga, dan kamu dengan jaringan itu?” “Aku masih tidak mengerti, Andra.” Andra kembali diam. Fokusnya hanya pada jalan di depan. Beberapa detik kemudian dia menggenggam tanganku. “Siena, aku akan memberitahumu. Tapi sebelum itu kita harus mendatangi seseorang.” “Seseorang?” “Aku harus mengambil perlengkapanku di rumah. Setelah itu kita pergi menemuinya.” “Siapa?” “Saksi yang mengetahui keberadaan mayat itu sebelum dia mati.” Aku terdiam. Saksi. Berarti orang itu masih hidup. Kami tiba di rumah Andra. Dia turun lebih dulu dan masuk dengan cepat. Aku ikut turun, berdiri di halaman, melihat sekeliling. Rumah itu sunyi. Apa selama ini Andra tinggal sendiri di sini? Aku sadar... aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku tidah tahu siapa orang tuanya. Tidak tahu latar belakangnya. Yang kutahu hanya bahwa dia murid pindahan saat SMA. Dulu aku pernah bertanya dia tinggal di mana. Dia hanya tertawa dan berkata, “Di bumi.” Sekarang aku tahu, Di sinilah dia tinggal. Saat aku tidur di kamarnya semalam, aku tidak melihat satu pun foto masa kecil. Tidak ada foto keluarga. Hanya satu foto yang terpajang jelas di meja kerjanya. Fotoku. Apa dia benar-benar tidak pernah melupakanku? Atau semua ini bagian dari sesuatu yang lebih besar? Pintu terbuka. Andra keluar membawa tas hitam. “Siena, sudah. Ayo kita pergi.” “Andra.” Dia berhenti. “Dari dulu... kamu tinggal di sini? Sejak SMA sampai sekarang?” Dia menatapku beberapa detik. “Kenapa kamu bertanya?” “Dulu setiap aku bertanya, kamu tidak pernah menjawab.” “Saat SMA aku jarang di sini. Aku lebih banyak di kantor.” “Kantor? Kantor apa?” “Kantor polisi.” “Apa?” “Ayahku seorang polisi. Ibuku sudah meninggal. Ayahku jarang pulang. Jadi aku sering menemaninya di kantor.” “Kamu tidak pernah memberitahuku.” “Aku tidak ingin kamu tahu, Siena.” “Kenapa?” “Aku sudah bilang berkali-kali. Aku harus melindungimu.” “Melindungiku dari apa?” “Aku tidak ingin seperti ayahku. Dia kehilangan istrinya karena pekerjaannya.” Aku menelan ludah. “Jadi sekarang pekerjaanmu apa?” Andra melangkah mendekat. “Aku tidak ingin memberitahumu.” “Kenapa?” “Aku takut.” “Kamu takut?” “Aku takut kalau kamu tahu... kamu yang akan berusaha melindungiku.” “Aku tidak punya kekuatan apa pun untuk melindungimu,” kataku pelan. “Tapi aku tetap ingin tahu.” Andra membuka mulutnya. “Aku –“ Tring! Ponselnya berbunyi. Kami berdua terdiam. Nama yang muncul di layar membuat wajah Andra berubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN