Saksi Kunci

1176 Kata
Framed bab 10 Aku –“ Tring! Ponsel Andra berdering, memotong kalimatnya. Ia langsung mengangkatnya. Wajahnya berubah serius. “Aku akan segera ke sana. Ingat, jangan pernah membuka pintu pada siapa pun. Aku akan datang dengan kode LIMO 99. Kalau tidak ada kode itu, jangan buka pintu... atau kamu yang akan mati.” Suara di seberang tidak terdengar jelas dariku, hanya napas tergesa dan suara pintu dikunci. Andra memutus sambungan. “Siapa itu, Andra?” tanyaku pelan. “Saksi itu. Kita harus cepat, Siena. Aku takut jaringan mereka lebih dulu menemukannya.” Mobil melaju lebih kencang dari sebelumnya. Sepanjang jalan, layar videotron di perempatan kota menayangkan berita yang sama berulang-ulang. Gambar mobil yang ringsek. Garis polisi. Kantong jenazah hitam. Mayat ditemukan di bagasi mobil. Polisi telah mengantongi nama tersangka. Dadaku terasa kosong. Mereka pasti menyebut namaku. Karena aku yang turun dari mobil itu. Tak lama, ponselku kembali berdering. Arga. Namanya menyala di layar. Aku tidak mengangkatnya. “Siena,” suara Andra lebih rendah sekarang, “matikan ponselmu. Buang kartunya.” Aku menatapnya. “Mereka akan mulai melacakmu. Apalagi kamu tidak menjawab telepon Arga.” Tanpa berkata apa-apa lagi, aku melepas kartu SIM, membuka kaca sedikit, dan membuangnya ke selokan. Ponsel kulempar ke arah berbeda saat mobil melambat di lampu merah. Seolah-olah aku sedang membuang hidupku sendiri. Bagaimana aku bisa berada di mobil ini... bersama mantan kekasihku... dalam pelarian dari polisi? Pikiranku melayang. “Setelah lulus nanti kamu mau kuliah dimana?” tanyaku padanya dulu, di bangku taman sekolah. “Aku belum tahu,” katanya santai. “Tapi aku ingin mengikutimu ke mana pun.” “Jangan begitu. Kalau aku tidak kuliah, masa kamu juga tidak?” “Kalau kamu tidak kuliah, aku juga tidak.” Saat itu aku tertawa. Menganggapnya hanya ucapan manis remaja. Ternyata yang memisahkan kami bukan pilihan kampus. Tapi kecelakaan. Dan koma dua bulan yang tak pernah kuketahui. Andai saja waktu itu aku pergi melihat siapa yang kecelakaan di ujung jalan... mungkin semuanya berbeda. “Siena.” Aku tersadar. “Kamu melamun, kan.” “Aku hanya memikirkan masalah ini,” jawabku pelan. Beberapa detik hening. “Andra... saat kamu sadar dari koma... apa yang kamu ingat?” Ia tidak langsung menjawab. “Kenapa kamu tanya itu?” “Aku melihat fotoku di kamarmu. Tidak ada foto lain. Hanya itu.” Andra tersenyum tipis. Tapi matanya tidak. “Hanya itu yang kupunya.” Ia menarik napas panjang. “Aku mencari ponselku. Mereka bilang hancur saat kecelakaan. Aku tidak ingat nomor teleponmu. Aku kembali ke sekolah mencari alamat rumahmu... tapi kamu sudah pindah.” Tanganku terasa dingin. “Saat itu,” lanjutnya, “aku tidak pernah membayangkan akan kehilanganmu.” Ia berhenti sejenak. “Aku hampir bunuh diri, Siena.” Aku menoleh cepat. “Apa?” “Tapi ada satu hal yang membuatku bertahan.” Ia milirik ke arahku. “Fotomu. Yang tersisa di saku celanaku.” Aku terdiam. “Aku tidak tahu ada foto itu. Aku pikir kamu yang menyimpannya.” “Tidak,” suaranya lebih lembut sekarang. “Kamu yang memasukkannya. Waktu kita foto bersama di depan kelas. Kamu bilang, ‘Biar kamu tidak lupa aku.” Jantungku terasa aneh. “Aku tidak pernah menyangka foto itu akan ditemukan saat aku koma.” Aku menatap jalan di depan. Lampu-lampu kota lewat seperti bayangan. “Kalau foto itu tidak ada,” katanya pelan, “mungkin aku tidak ada disini sekarang.” Aku tersenyum kecil. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, hatiku terasa hangat... meski keadaan kami sedang runtuh. Aku bersyukur dia mengingatku. Tapi di saat yang sama... aku berharap dia bisa melupakanku. Karena aku sudah menjadi istri orang lain. Dan hidup kami sekarang... bukan lagi tentang cinta remaja. Melainkan tentang bertahan hidup. Kami tiba di alamat yang disebutkan Andra. Rumah itu berada di ujung jalan kecil. Lampu terasnya mati. Pagar setengah terbuka. Tapi yang membuat napasku tercekat adalah halaman depannya. Pot bunga terbalik. Kursi plastik patah. Kaca jendela pecah. Seperti baru saja terjadi penggeledahan kasar. Andra turun lebih dulu. Aku mengikuti di belakangnya. Ia mengetuk pintu. Tok. Tok. Tok. Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang menggesek daun kering di lantai semen. “Sepertinya kita terlambat, Siena.” “Terlambat?” suaraku hampir tidak keluar. “Mereka lebih dulu sampai.” Dadaku terasa semakin sesak. “Jadi sekarang bagaimana, Andra?” “Kita harus menemui Miss D.” Aku menatapnya. “Apa hubungannya dengan saksi ini?” “Kalau saksi ini sudah mereka temukan... mungkin dia tidak akan hidup lama.” Jantungku terasa jatuh. “Dan kamu akan semakin sulit terbebas dari tuduhan itu.” “Aku semakin tidak mengerti, Andra.” “Aku belum bisa menjelaskan semuanya sekarang.” “Kenapa selalu begitu?” suaraku mulai bergetar. “Kenapa terus menutupnya dariku?” Ia mendekat satu langkah. “Karena kalau kamu tahu... kamu akan terluka.” “Kenapa begitu?” Belum sempat ia menjawab – Sorot lampu mobil menyapu pagar rumah. Andra langsung menarik tanganku ke sisi tembok samping rumah. Kami bersembunyi di balik bayangan pohon mangga yang rimbun. Satu mobil berhenti. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Tiga mobil. Bukan mobil polisi. Pintunya terbuka hampir bersamaan. Beberapa pria turun. Berpakaian hitam. Gerakan mereka terlatih. Mereka langsung masuk ke halaman. Mengacak-acak apa yang sudah hancur tadi. Mencari sesuatu. Atau seseorang. Lalu pintu mobil paling depan terbuka pelan. Seorang pria turun dengan langkah tenang. Aku menahan napas. Wajah itu. Aku mengenalnya. “Ayah... Sophia?” bisikku tanpa suara. Andra cepat menutup mulutku dengan tangannya. Tatapannya tegas. “Jangan bersuara,” lirihnya. Ayah Sophia berdiri di tengah halaman, mengamati rumah itu seperti seorang pemilik yang marah karena barangnya hilang. Ia berbicara pada salah satu anak buahnya. Aku tida bisa mendengar jelas, tapi nada suaranya dingin. Sangat dingin. Beberapa menit kemudian, mereka keluar lagi. Kosong. Tidak menemukan apa pun. Mobil-mobil itu pergi satu per satu. Lampu belakangnya menghilang di tikungan. Baru setelah benar-benar sunyi, Andra melepaskan tangannya dari mulutku. Kami keluar dari persembunyian dan kembali ke mobil. Tanganku masih gemetar saat duduk. Aku tidak pernah membayangkan akan melihat ayah sahabatku berdiri di lokasi seperti itu. “Siena... kamu baik-baik saja?” suara Andra lebih lembut. Aku menatap lurus ke depan. “Andra... mereka siapa?” “Orang-orang ayah Sophia.” “Tapi kenapa ayah Sophia ada di sini? Kenapa dia mencari saksi itu juga?” Andra diam. Sunyi di dalam mobil terasa berat. “Jangan hanya diam!” suaraku akhirnya pecah. “Katakan padaku. Aku sudah cukup bodoh mengikuti semua ini tanpa tahu apa-apa!” Ia menoleh padaku. Tatapannya kali ini bukan hanya serius. Tapi penuh keputusan. Tiba-tiba ia menarikku ke dalam pelukannya. “Tenang,” bisiknya. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu.” Aku mendorongnya perlahan. “Bukan itu yang kubutuhkan. Aku butuh kebenaran.” Wajahnya berubah tegas. Ia menatap langsung ke dalam mataku. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku melihat keraguan di matanya. “Ayah Sophia,” katanya pelan, “bukan hanya orang tua biasa.” Angin malam berembus melewati kaca mobil. Aku menelan ludah. “Apa maksudmu, Andra?” Ia menarik napas panjang. Lalu mulai bercerita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN