Framed bab 11
Kami tiba di hotel lain. Letaknya hanya beberapa blok dari Hotel LIMO.
Lampunya redup. Cat dindingnya kusam. Parkirannya sempit dan setengah gelap.
“Kenapa kita menginap dekat Hotel LIMO, Andra?” tanyaku pelan.
Ia mematikan mesin mobil.
“Kamu tahu pepatah, Siena. Semakin dekat kita dengan musuh, semakin mereka tidak sadar kita ada di sana.”
“ Tapi Ini berbahaya.”
Ia menoleh.
“Aku di sini bersamamu. Mereka tidak akan menyentuhmu.”
Nada suaranya datar. Bukan janji kosong.
Kami masuk ke satu kamar di lantai tiga. Lorongnya bau rokok dan karpet lembab.
Saat pintu tertutup, aku baru menyadari sesuatu.
“Kita tidur satu kamar?”
“Iya. Kita tidak boleh berpisah.”
“Tapi aku ini istri orang, Andra.”
“Aku tidak akan melakukan apa pun tanpa perintahmu.”
Aku terdiam. Ucapannya terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
“Kamu pandai sekali berbicara,” bisikku.
Ia tidak menjawab.
Kamar itu sempit. Dindingnya tipis. Dari luar terdengar suara televisi berbahasa asing, langkah kaki, dan sesekali tawa keras.
“Kenapa berisik sekali di sini?”
“Itu yang membuat kita aman.”
Aku menatapnya.
“Maksudmu?”
“Orang lain bisa mendengar kita berbicara. Tapi mereka tidak akan mengerti.”
“Tidak mengerti?”
“Hotel ini tempat para imigran kabur. Banyak yang tidak punya dokumen. Mereka menginap murah di sini. Sebagai gantinya, mereka membantu hotel ini mencari pelanggan.”
Aku merinding.
“Kenapa kamu tahu tempat seperti ini?”
“Pemiliknya membenci Hotel LIMO. Jadi pegawai LIMO tidak akan berani masuk ke sini.”
Entah kenapa, kalimat itu tidak membuatku tenang.
“Sekarang ceritakan semuanya,” pintaku.
Andra meletakkan tas yang dia bawa di atas meja.
Ia membukanya.
Isi tas itu membuat napasku terhenti.
Pistol.
Dua. Dan beberapa magazen peluru.
Tanganku refleks mundur.
“Kenapa kamu punya s*****a seperti ini?” suaraku nyaris berbisik.
“Ini milikku. Dan sah.”
“Sah? Bagaimana mungkin warga sipil punya s*****a seperti ini, Andra?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia memeriksa salah satu pistol, lalu menutup tas itu kembali dengan rapi.
Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur dan menarikku duduk di sampingnya.
Tangannya menggenggam tanganku.
“Kalau saja saat itu aku tidak mengalami kecelakaan... menurutmu kita akan hidup bahagia bersama?”
Pertanyaan itu datang seperti peluru yang salah arah.
“Aku tidak tahu,” jawabku jujur. “Bisa iya. Bisa tidak. Tidak ada yang tahu.”
Aku mencoba menarik tanganku, tapi ia menahannya sesaat.
“Siena. Dengarkan aku baik-baik. Jangan memotong. Setelah aku selesai, kamu boleh bertanya.”
Nada suaranya berubah. Lebih berat.
Aku menelan ludah.
“Baik.”
Ia menatap lurus ke depan, bukan ke arahku.
“Pertama, kamu perlu tahu siapa saksi yang tadi kita cari.”
“Siapa?”
“Dia adalah Irene.”
Aku terkejut.
“Irene? Yang dulu menyebarkan gosip tentang Sophia jadi PSK saat SMA?”
“Benar. Irene adalah saksi kunci.”
“Tapi bukankah kamu bilang Irene juga bekerja di Skull Bar waktu itu?”
“Benar. Dan Dia masih bekerja di sana. Sampai sekarang.”
Aku membeku.
“Bahkan Sophia dan Irene menjadi dekat. Mereka sering menerima tamu bersama,” kata Andra.
“Tidak mungkin... “bisikku. “Sophia tidak pernah menceritakan dia padaku.”
Aku mencoba mengingat. Wajah Sophia.
Percakapannya. Sikapnya yang selalu ceria.
Tapi ada satu bagian dari ingatanku yang mulai terasa ganjil.
“Tunggu.”
Tapi tunggu sebentar, aku rasa aku ingat sesuatu.
“Sophia pernah mendapat hadiah lipstik mahal saat ulang tahunnya,” kataku pelan. “Dia bilang itu dari teman kantornya. Tapi dia tidak pernah menyebut namanya.”
“Bisa jadi dari Irene,” jawab Andra tenang. “Sophia tidak pernah bekerja di kantor, Siena. Dia mengelabuhimu. Selama ini dia hanya bekerja di Skull Bar.”
“Tidak mungkin.” Suaraku melemah. “Sophia sering mengirimiku selfie. Video call. Dia berdiri di depan gedung kantornya.”
“Kamu benar-benar polos, Siena. Dan kamu terlalu percaya padanya.”
“Itu kebohongan yang dia bangun sendiri,” kata Andra.
Kali ini aku benar-benar melepaskan genggamannya. Aku berdiri menjauh dari tempat tidur.
Dadaku terasa sesak.
Apakah selama ini aku hanya melihat apa yang ingin kulihat?
“Lalu kenapa Irene menjadi saksi kunci?” tanyaku dengan napas tidak stabil. “Dia bersaksi sebagai apa?”
“Irene dan Sophia sangat dekat. Lebih dari yang kamu tahu.”
“Karena itu ayah Sophia mencari Irene?” tanyaku.
“Ya.”
“Tapi Irene tidak ada saat kita datang. Ke mana dia?”
Kepalaku terasa berat.
“Yang mengacak-acak rumahnya kemungkinan orang suruhan Miss D. Mereka pasti tahu Irene tahu sesuatu.”
“Tahu apa?” suaraku mulai meninggi. “Apa hubungan Sophia, Skull Bar, Irene, dan aku?”
“Andra... kenapa kamu juga mencari Irene?”
“Orang yang menghubungiku tadi adalah Irene,” jawabnya akhirnya. “Padahal aku sudah memperingatkan jangan buka pintu untuk siapa pun. Mungkin mereka sudah mengancamnya karena kita terlambat datang.”
Ia melangkah mendekat lagi.
“Aku harus mendapatkan kesaksiannya. Tanpa itu, kamu akan resmi jadi tersangka atas mayat di mobil itu, Seina.”
Aku menatapnya lurus.
“Apa hubungan Irene denganku?”
Andra berhenti tepat di depanku.
Tangannya memegang bahuku. Kali ini lebih kuat.
“Siena...”
Nada suaranya berubah,
“Mayat yang ada di mobil itu... adalah Sophia.”
Dunia seperti berhenti.
“Apa?”
Suara itu keluar dari mulutku, tapi terasa bukan milikku.
“Tidak mungkin,” aku mundur satu langkah. “Kenapa Sophia ada di sana? Tidak. Ini salah. Kamu salah.”
Andra tidak memelukku. Tidak menenangkanku.
Ia hanya berdiri dan membiarkan kata-katanya menggantung di udara.
“Dua hari terakhir... apa Sophia menghubungimu?” tanyanya pelan.
Aku terdiam.
Mencoba mengingat.
Benar.
Dua hari lalu tidak ada pesan darinya.
Pesan terakhir yang ia kirim –
“Siena, terima kasih karena selalu percaya padaku.”
Aku tidak sempat membalasnya.
Karena malam itu aku bertengkar dengan Arga.
Jantungku berdegup kencang.
“Tapi... kenapa ayahnya terlihat baik-baik saja?” suaraku pecah. “Kalau benar itu Sophia... kenapa dia tidak terlihat hancur?”
“Apa karena Sophia hanya anak angkatnya?”
“Iya. Siena. Dia tidak peduli pada Sophia walaupun dia sudah mati.”
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Andra seperti menghancurkan satu demi satu keyakinanku tentang sahabatku sendiri.
Aku terduduk di lantai kamar hotel itu.
Aku tidak tahu apa-apa tentang hidup Sophia.
Tidak tahu dia bekerja di mana.
Tidak tahu dia berbohong.
Tidak tahu dia dalam bahaya.
“Berita tadi menyebutkan inisial korban ASL,” suara Andra terdengar jauh. “Kamu tahu artinya, kan?”
ASL.
Aku membeku.
Asmara
Sophia
Lestari.
Tangaku gemetar.
“Itu... nama lengkapnya.”
Ruangan terasa mengecil.
Suara-suara dari luar kamar terdengar samar, seperti dari dunia lain.
Aku tidak bisa bernapas dengan benar.
Aku kehilangan sahabatku.
Dan aku bahkan tidak tahu dia sedang tenggelam.
Air mata jatuh tanpa suara.
Aku menangis.
Bukan hanya karena Sophia mati.
Tapi karena aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Bagaimana Sophia bisa mati?