Framed Bab 12
Sophia.
Nama itu kembali terlintas di kepalaku.
Seorang siswi yang akhirnya menjadi sahabatku saat SMA.
Ingatan itu muncul begitu jelas.
“Kamu Siena, kan?”
Aku menoleh saat mendengar suara itu.
“Iya. Kamu siapa?”
“Aku Asmara Sophia Lestari. Kita akan satu kelas di IPA.”
“Kamu pilih jurusan ini juga?”
“Iya. Kita duduk bareng saja, ya.”
Aku menatapnya sejenak.
Dia terlihat ceria. Senyumnya mudah sekali muncul, seolah hidupnya tidak pernah dipenuhi masalah.
Kupikir saat itu dia adalah gadis yang memiliki segalanya.
Setiap hari dia datang ke sekolah dengan mobil mewah yang menurunkannya tepat di depan gerbang. Saat pulang pun selalu ada yang menjemputnya.
Bagiku, dia terlihat seperti seseorang yang tidak pernah hidup dalam kekurangan.
Selama tiga tahun kami berteman.
Tidak pernah sekalipun terlintas pikiran buruk tentang Sophia.
Sampai suatu hari, di akhir semester.
Hari itu suasana kelas tiba-tiba berubah.
“Hei, Siena. Kamu kok mau sih berteman dengan Sophia?”
Suara Irene terdengar keras.
“Dia itu PSK.”
Ucapannya membuat seluruh kelas mendadak gaduh.
Semua mata langsung menoleh ke arah Sophia.
Dia terdiam.
Tidak membantah.
Tidak juga mengatakan apa pun.
Melihat itu, aku langsung berdiri.
“Kenapa kamu asal bicara seperti itu, Irene?” bentakku.
“Jangan menyebarkan kebohongan tanpa bukti!”
Irene hanya tersenyum sinis.
“Bukti?” katanya pelan.
“Kamu akan segera mengetahuinya nanti.”
Teman-teman sekelas tidak mempercayai ucapannya. Irene memang tidak menunjukkan bukti apa pun saat itu.
Aku juga tidak percaya.
Sama sekali tidak.
Tapi sekarang... aku mengerti kenapa Irene tidak pernah menunjukkan bukti itu.
Karena dia sendiri juga bekerja sebagai PSK saat itu.
Hanya saja keberadaannya tidak pernah diketahui Sophia.
Sejak hari itu, Sophia mulai menjaga jarak dariku.
Dia masih menyapaku sesekali.
Kami masih berbicara.
Tapi hubungan kami tidak lagi sedekat dulu.
Dia juga tidak pernah menjelaskan apa pun tentang ucapan Irene hari itu.
Dan saat itu aku tidak pernah memaksanya.
Karena bagiku, semua itu hanyalah fitnah.
Lalu kejadian kebakaran di laboratorium itu terjadi.
Aku yakin saat itu Sophia sudah keluar dari sekolah.
Karena aku melihatnya berjalan di belakangku ketika kami meninggalkan gedung.
Namun ketika aku sudah berada di luar, aku tidak melihatnya lagi.
Setelah semuanya selesai, Sophia mengatakan sesuatu yang membuatku bingung.
Dia bilang saat itu dia kembali ke laboratorium.
Dan kemudian kebakaran terjadi.
Saat itu dia tidak mengatakan siapa yang menyelamatkannya. Tapi sekarang aku mengerti.
Ternyata Andra, lah yang menyelamatkannya.
Setelah kejadian itu, Sophia juga tidak banyak bercerita.
Dia hanya mengatakan satu hal.
Bahwa dia sangat beruntung bisa selamat dari kebakaran itu.
Saat itu aku tidak memikirkan apa pun.
Tapi sekarang semuanya terasa berbeda,
Sekarang aku mulai mengerti.
Jaringan itu sudah mengincar Sophia sejak kami masih di SMA.
Sejak Irene mengetahui bahwa Sophia bekerja di Skull Bar.
Dari dulu mereka sudah ingin membunuh Sophia.
Namun rencana itu gagal.
Karena Andra berada di sana saat kebakaran itu terjadi.
Dan jika sesuatu terjadi pada Sophia, Andra tidak akan membiarkannya.
Karena dia tahu aku dan Sophia bersahabat.
Lalu aku juga mulai mengerti sesuatu yang lain.
Tentang kejadian ketika Andra berurusan dengan guru BP dulu.
Semua itu... ternyata karena ayah Sophia.
Mereka juga mengincarku.
Terutama ayah Sophia yang mengancam Andra untuk pergi meninggalkan sekolah.
Jika tidak, mereka akan membawaku kepada Miss D.
Aku akhirnya mulai melihat awal dari semua kekacauan ini.
Aku mulai memahami bagaimana semuanya bermula.
Kenapa Sophia bisa terjerat di dalam jaringan Skull Bar.
Karena kenyataannya...
Sophia adalah anak angkat dari pria yang setiap hari menjemputnya dengan mobil mewah itu.
Pria yang selama ini kami kira adalah ayahnya.
Dia sendiri yang mengenalkan Sophia kepada Miss D.
Dialah yang menyeret Sophia ke dalam dunia itu.
Namun ada satu hal yang masih tidak bisa kupahami.
Kenapa Sophia mau terjebak dalam jaringan mereka?
Lalu siapa sebenarnya orang tua kandung Sophia?
Dan bagaimana mungkin Sophia dan Irene bisa menjadi dekat... setelah kejadian di kelas waktu itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Aku menatap Andra.
Air mataku masih jatuh, tapi perlahan aku coba menahannya.
Tangisku berhenti.
Namun pikiranku justru semakin dipenuhi oleh kenyataan yang baru kusadari...
Semua ini... ternyata sudah dimulai sejak dulu.
Aku mengingat hal yang dari awal harusnya kuketahui.
“Andra..?”
Aku menatapnya dengan napas masih tidak teratur.
“Kamu siapa sebenarnya?”
Andra terdiam.
Namun pertanyaan yang selama ini tertahan di kepalaku akhirnya keluar satu per satu.
“Bagaimana kamu bisa diterima di sekolah kami saat itu, padahal sudah akhir semester?”
“Bagaimana kamu bisa menyelamatkan Sophia saat kebakaran di laboratorium?”
“Dan siapa yang sebenarnya membuat kebakaran itu?”
Aku berhenti sejenak, mencoba mengatur napas.
“Lalu dari mana kamu tahu semua hal yang berkaitan dengan jaringan Skull Bar, Hotel Limo, ayah Sophia... dan Miss D?”
Aku menatapnya dengan tegas.
“Andra... jelaskan semuanya padaku.”
Walaupun tubuhku masih bergetar, kali ini aku tidak ingin dia menghindari pertanyaanku lagi.
Andra terlihat membeku.
Tatapannya serius, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Namun tiba-tiba –
Tok... tok...
Suara ketukan terdengar dari pintu kamar.
Kami berdua langsung terdiam.
Aku dan Andra saling bertatapan.
Siapa yang tahu kami berada di kamar ini?
“Apakah kamu memberitahu seseorang?” tanyaku pelan.
“Tidak, Siena.”
“Lalu siapa yang mengetuk pintu itu?”
“Aku juga tidak tahu.”
Andra berpikir cepat.
“Kamu sembunyi di toilet dulu. Aku yang akan menghadapi siapa pun yang ada di luar.”
Aku mengangguk.
Tanpa banyak bicara aku segera berlari menuju toilet dan menutup pintunya perlahan.
Dari celah pintu, aku masih bisa melihat Andra.
Dia membuka tasnya dan mengambil pistol.
Jantungku langsung berdegup lebih kencang.
Pintu kamar kembali di ketuk.
Namun saat Andra mulai berjalan mendekatinya, ketukan itu tiba-tiba berhenti.
Aku ikut menoleh ke arah pintu.
Andra tetap waspada.
Saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu, tiba-tiba terdengar suara dari luar.
Suara pria.
Dengan bahasa inggris.
“Andra, you are inside?”
Andra terlihat sedikit tersadar.
Dia cepat menyembunyikan pistolnya di belakang tubuhnya, lalu membuka pintu.
“Hey George. Why are you taking so long?”
Seorang pria bule berdiri di depan pintu.
Mereka terlihat akrab, keduanya berjabat tangan, seperti teman lama.
Pria itu masuk ke dalam kamar.
Melihat keadaan sudah aman, aku akhirnya memberanikan diri keluar dari toilet.
Andra menoleh kepadaku.
“Siena, ini George. Temanku. Dia akan membantu kita menemukan Irene.”
Aku menatap pria itu.
Seorang pria bule yang juga tampan, dengan wajah yang terlihat ramah.
Dia berbalik menatapku dan mengulurkan tangannya.
“Hi, I’m George. You’re Siena, right?”
Aku mengangguk dan menerima jabatan tangannya.
“So it’s true,” katanya sambil tersenyum ringan.
“That’s why you’re here with Andra.”
Andra menepuk bahu George dengan santai.
“Siena... you are the luckiest woman.”
Aku sedikit bingung dengan ucapannya.
Aku hanya tersenyum kecil tanpa benar-benar mengerti maksudnya.
Andra segera memotong percakapan kami.
“So George... you’ve already uncovered Irene’s location?”
“Yes, Andra. They brought her to the hotel where Miss D stays.”
Wajah Andra langsung berubah serius.
Aku juga mengerti maksud pembicaraan mereka.
Irene masih hidup.
Dan dia dibawa ke hotel tempat miss D berada.
Aku mendekati Andra.
“Apakah Irene akan baik-baik saja di sana?”
“Iya, Siena. Mereka tidak akan langsung membunuhnya.”
“Kenapa?”
“Karena ayah Sophia akan mencoba menggagalkan rencana itu. Dia punya orang-orang yang berada di pihaknya.”
George mengangguk.
“Alright, George. We’ll meet there.”
“Alright, Andra. Take care.”
George menatapku sekali lagi sebelum pergi.
“I hope the two of you end up married after all this.”
Dia tersenyum lebar.
Aku langsung mematung mendengar ucapannya.
Tanpa sadar aku melirik ke arah Andra.
Dia terlihat canggung dan sama sekali tidak menanggapi ucapan George.
George berjalan menuju pintu.
Namun tiba-tiba Andra memanggilnya lagi.
“Wait, George.”
George berhenti dan menoleh.
“Were you the one who knocked on this door before?”
George terlihat bingung.
“No, Andra. I only called your name.”
“Why? Did something happen?”
Andra terdiam.
Kami bertiga saling menatap dalam keheningan.
Aku yang mendengar percakapan ini juga mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Kalau bukan George...
Lalu siapa yang tadi mengetuk pintu kamar kami?