Wulan tidak tahu berapa lama waktu berlalu ketika ia kemudian sadar. Beberapa anak magang mengerubunginya dengan panik, sementara Diana terlihat sedang mengusap-usap bahunya dengan lembut. "Wulan masih pusing?" Tanyanya. Ia menggeleng. Bayu yang sedari tadi panik langsung mendekat, mengangsurkan segelas teh manis hangat padanya. Dengan bantuan Diana, Wulan berusaha untuk duduk. "Minum, Lan." Suruhnya. Wulan mengangguk dan menuruti anjuran Bayu. Dengan tangannya yang masih sedikit gemetar, Wulan meneguk teh hangat itu perlahan-lahan. Setelah hampir setengah isi gelas itu berpindah ke perutnya, Wulan merasa sedikit lebih baik. Ia lalu berusaha duduk bersandar pada sandaran sofa yang kini menampung tubuhnya dan Diana sambil menghela napasnya. Tiga detik kemudian ia bergidik. Pemandang

