Dunia Sempit

2695 Kata
Bu Gina mengajakku untuk ikut gathering tim sales ke Puncak. Mereka akan berangkat hari Jumat malam dari kantor dan kembali hari Minggu. Aku sangat ingin ikut tapi hari Minggu-nya tetehku akan lamaran. Jadilah aku cemberut seharian ini, saat minta izin mama, bukannya dapat bujukan untuk tetap di rumah malah kena semprot. Ya, betul. Akhirnya mamah mengizinkan teh Nira menikah dengan mas Restu. Pasrah, ceunah. Mungkin memang jodohnya, kata mamah. “Sudah tahu tetehnya mau lamaran, kamu malah mau jalan – jalan.” “Tisha kan udah lama nggak liburan, Mah. Sejak kerja di D&U, capek tahu ih! Tisha tuh butuh healing. Healing, Mah.” “Halang hiling halang hiling, mending kamu bantuin Mama ambil karpet di laundry nanti malem.” Aku sarapan seperti menelan duri. Kenapa sih jadwal gathering harus bersamaan dengan acara penting keluarga kami. Bukannya tidak senang kalau tetehku dilamar, tapi aku bisa pulang pagi dari Puncak untuk tetap mengikuti acara keluarga. Tapi karena adat ketimuran, aku harus membantu orang rumah menyiapkan rumah dan segala macamnya. “Pergi saja. Sudah banyak yang bantu toh. Ada adek – adekku. Cukup lah. Yang penting Minggu pagi kamu sudah pulang, Sha.” Papa duduk di kursinya, melihatku yang masih cemberut papa mengomel. “Sarapan yang benar! Pergi saja kalau memang mau.” Memang benar, anak perempuan akan selalu jadi Princess di mata ayahnya. Papa selalu berhasil membuatku terbebas dari perintah mama yang kini melirik galak dan menegaskan kembali tentang ‘tetap mengikuti acara keluarga di hari Minggunya’. “Awas aja kamu telat datang!” Ancam mamah, aku memanyunkan bibir ke arahnya kemudian membuat tanda love dengan jari untuk kedua orangtuaku. Bersyukurlah papa memiliki tiga adik perempuan yang sering diperbantukan di segala acara keluarga. Terlebih, adik papa yang bungsu tergolong masih muda. Perbedaan umurnya dengan papaku dua puluh tahun, jadi saat papa kuliah, mbahku masih melahirkan tante bungsu. Saat umurnya delapan tahun, dia sudah dipanggil tante oleh kakak sepupuku dan saat usianya sepuluh tahun, teh Nira lahir. Jadi umurnya nggak begitu jauh dari kami. Dariku mungkin beda dua belas tahun. Sesampainya di kantor, aku terlalu semangat ingin memberi kabar pada Gadis dan Risa tentang gathering ke Puncak serta izin yang sudah kudapatkan dari papa mama. Aku moonwalk begitu memasuki ruangan mereka dan berkata bahwa aku akan pergi Jumat ini dengan mereka semua. Yeah, kami sudah pindah ke gedung baru sejak hari Senin. Gadis berdiri, matanya melotot sempurna. Kupikir itu karena reaksinya yang juga excited soal kabar dariku. Humm, karena kemarin aku sudah lesu banget saat diajak bu Gina dan langsung mengatakan kalau tetehku ada lamaran di hari Minggu. Jadi, mereka semua pasti tidak menduga bahwa aku bisa lolos izin mama untuk pergi dari Jumat malamnya. Risa memainkan mata, membuatku bingung tapi aku tak sabar memberi kabar baik ini pada mereka berdua. “Gue dikasih izin pergi hari Jumatnya, tapi Minggu pagi harus sudah pulang. Uwwooo. Akhirnya gue bisa healiinnggggggggg......” Tami melihatku dari ujung rambut dan kaki, kemudian pandangannya jatuh ke arah belakang tubuhku. Aku menatapnya tidak peduli dan kembali membuat rencana – rencana dengan Gadis dan Risa, hingga menyadari suara deheman yang kukenal terdengar di balik punggungku. Begitu berbalik, aku bisa menyadari bahwa tubuhku bergerak ke belakang karena terkejut dengan tangan menutup mulut secara otomatis. Pak Tedjo berdiri sambil memasukkan tangan kanan ke saku celana, ia memandangiku dan melongok ke belakang punggungku di mana Gadis dan Risa sedang duduk berjejer di meja masing – masing. Ini jam berapa? Kenapa dia sudah datang sepagi ini? Kenapa juga aku nggak menyadarinya? Oh nooo. Ruangan baru admin ini luas banget dari ujung ke ujung, saat memasuki ruangan ini tujuanku memang hanya meja Gadis dan Risa yang berada di sisi kanan pojok, sehingga aku tidak memperhatikan keadaan sekitar ruangan ini dan cukup percaya diri berjalan sambil menari kesenangan. Dia pasti melihatku deh. Karena aku cukup pede menari di depan staf lain yang sudah seperti keluarga, tapi tidak dengan manusia dengan lidah penuh racun ini. Komentarnya sering kali buat sakit hati dan sakit telinga. “Senang banget kamu mau ikut gathering.” “Hee’ehh.” Aku nyengir kuda, setengah malu dan setengah hati. Pak Tedjo bicara dengan Reza, mengabaikanku yang masih merasa agak malu dan berlalu menuju ruangannya. “Dasar Lemon!” Ria menertawakan tingkahku beberapa saat lalu, aku mengomel pada Gadis. Malah aku yang diomelin balik. “Siapa suruh elo moonwalk dari pintu masuk kemari?!” Cemberut, aku duduk di kursi nganggur sebelah meja Gadis. “Elo ikut kan?” Aku memastikan dua bestieku tidak ketinggalan acara juga. “Gue bawa ayang, Risa juga ikut. Tami juga bawa ayang.” “Gue bawa siapa?” “Gavin aja bawa.” Saran Gadis membuatku murka dan mencubit pinggangnya. Dari mejanya, Tami melengos tak peduli. “Dari kapan pak Tedjo di sini?” “Jam delapan. Dia duluan sampai daripada kita bertiga.” “Sudah sana ke meja lo, nanti dia nyariin masuk kesini lagi.” Gadis mengusirku dengan kejamnya. “Risa – Tami sih kesenangan ada doi, gue muak juga. Mana nanyain reconcile bad stock terus.” “Iye, iye.” Aku meraih tas dan laptop dan berjalan keluar dari ruangan admin sambil berpamitan pada semua. “Warga, Ratu menjadi b***k dulu ya. Jangan rindu!” Aku menutup pintu sebelum dilempar sendal oleh Fika dan Oky, sambil terkikik aku menuju ruangan kami. Ruangan yang mulia Tedjo Buwono dan kedua kacungnya yang setia. Amido jelas belum datang, ini belum jam sepuluh dan hanya dia yang berani datang siang di perusahaan ini. Di ruangannya, pak Tedjo tengah berteleponan nggak tahu dengan siapa. Aku mengetuk pintunya formalitas, meletakkan dokumen di atas meja dan kembali ke mejaku untuk bekerja menyajikan laporan yang akan membuat owner perusahaan bahagia karena penjualannya meledak melebihi target yang beliau berikan. Tak lupa memasang musik yang akan menemaniku bekerja. Entah tahu darimana, Gavin mengirim pesan bertanya soal gathering yang akan kuikuti Jumat nanti. Dia bertanya apa aku bisa mengajaknya juga. Dan dia belum tahu kalau Tami bekerja denganku sekarang. Aku mengiriminya balasan, Ada Tami juga, masih mau ikut? Lama sekali waktu yang dibutuhkan Gavin untuk kembali membalas pesanku. Gavin : Kok ada Tami? Lo ngajak dia? Me : Tami sudah dua bulan kerja di sini juga, Vin. Gavin : Oh. Gue baru tahu Kuletakkan hape dan memfokuskan diri pada data yang sedang kukerjakan. Aku menerima beberapa panggilan seputar pekerjaan juga dan alhamdulillah pak Tedjo sedang anteng, tidak menggangguku untuk hal remeh temeh atau meeting tidak penting lainnya. Aku terkejut saat dia membuka pintu ruangannya dengan kasar dan meminta maaf karena melihatku tersentak. Dia juga mengunci ruangannya dan berkata kalau dia ada urusan sehingga memintaku menerima semua pesan dari tamu yang akan datang seharian ini. Berarti, dia nggak akan kembali ke kantor dong ya? Hatiku mendadak kegirangan. “Baik, Pak.” Aku mengangguk. “Kalau Amido sudah datang, suruh dia kerjain PO Trader buat Primex. Saya sudah kirim pesan sih, tapi ingatkan dia untuk baca email ya.” “Oke.” Kayaknya aku nggak pernah melihat pak Tedjo terburu – buru seperti itu deh. Dia hampir berlari keluar. Apa ada yang darurat? Apa si Cimoy mendadak sakit? Aku melihat ke sekeliling ruangan kami, sepi. Hanya aku sendiri. Ruangan besar ini hanya terisi oleh aku dan Amido, serta pak Tedjo di ruangan lain di sebelah kiriku. Karena Amido belum datang, aku sendirian deh. Jadi, kukencangkan volume dan bernyanyi mengikuti lirik lagu yang sedang berputar. Suara ketukan di pintu, membuatku kembali mengecilkan volume. Bilal berdiri di sana sambil tersenyum. “Hai Bilaaalll. Masuk, masuk. Sendirian? Atau sama bu Farah?” “Sendiri nih. Mbak Farah lagi ke Biru.” “Mau ketemu pak Tedjo? Yah, beliau baru saja pergi.” Bilal masuk dan duduk di sofa yang tersedia. Dia melepas tasnya dan mengeluarkan laptop di atas meja kaca yang sekarang menghiasa ruangan ini. Oh ya, dengan alasan tamu untuk pak Tedjo kadang tak terhitung, maka dibuatkan lah ruang tamu beserta satu set sofa serta meja kaca untuk mereka menunggu bertemu dengan bosku itu. Diletakkan persis di sebrang meja kami, aku dan Amido yang berjejeran. “Mau ketemu pak Tommy sih, tapi beliau belum datang. Tadi gue sudah ke ruangannya.” Aku sudah mengobrol banyak dengan Bilal saat dia selesai meeting tempo hari. Dia sudah menikah sekarang dan baru punya anak bayi laki - laki berumur lima bulan yang ia beri nama Kenzo. Aku terus memuji penampilannya yang sangat berbeda dari jaman kuliah dulu. “Elo malah nggak berubah – berubah, Sha. Masih langsing, masih keriting, masih lucu.” Respon Bilal saat aku memuji ke-glowing-annya. “Sudah lama kerja di sini, Sha?” “Uhm, mau dua tahun kayaknya.” Jawabku. Aku berdiri menuju kulkas, mengeluarkan dua botol s**u siap minum dan memberikan satu botol untuk Bilal. “Wah, produk kita nih.” “Hmm. Pak Tedjo selalu stok buat tamu.” “Pak Tedjo memang kemana, Sha? Masih pagi gini sudah keluar.” “Nggak tahu, buru – buru gitu sih.” Notifikasi grup membuatku mengganti aplikasi di layar dari excel ke w******p, ada kiriman foto dari Gadis. Aku membacanya. Itu berita tentang kecelakaan yang dialami Anita Marra semalam. Jadi jelas, mungkin pak Tedjo terburu – buru untuk menemui mantan istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Gadis Bukan Janda : Tadi gw lihat pak Tedjo hampir lari turun ke parkiran. Mau ke RS kali ya? Me : Pantes Risa tidak komen, mungkin hatinya kembali pedih menyadari kalau ayang crush masih peduli pada mantannya. Aku kembali ngobrol dengan Bilal, mengingat masa - masa kuliah. Kami satu organisasi, walau terkesan nolep tapi Bilal cukup aktif dan sering dimintai tolong oleh senior. Cuma ya itu, dia jarang dekat sama orang lain kecuali denganku. Dulu sih kata teman – teman, Bilal menyukaiku. Tapi aku memang tidak tertarik dengannya. Coba kalau dia berpenampilan seperti sekarang, mungkin aku berubah pikiran. Sayang sekali, saat bertemu lagi dia malah sudah punya buntut. Suami orang kenapa jadi menggoda banget deh! Setan di hatiku menjerit centil. . . . Ini hari Jumat dan nanti sore aku akan pergi ke Puncak dengan tim sales. Yihaaaa. Aku memastikan tidak ada barang yang tertinggal sebelum turun untuk sarapan. Tak henti – henti mulutku bersenandung riang, memancing komentar julid Rivaldi. “Mau mangkir dari bantu – bantu yah?” “Enak aja lu!” Aku melayangkan sendok ke arahnya. “Jangan sampe kesiangan pokoknya, Sha.” Pesan yang punya hajat. “Iya Teteh. Jam sepuluh lah sampai sini. Acara jam satu kan?” “Pulang sama siapa kamu nanti?” Tanya papa. “Naik bis. Nanti aku cari akal deh.” Sambil jawab, otakku berputar mencari solusi untuk pulang. Aku kan nggak tahu rute angkutan umum di daerah Puncak menuju rumah. Kalau minta antar salah satu dari mereka, ada yang mau nggak ya? “Adek, bawain ini buru!” Mamah memanggil si bungsu yang langsung melakukan perintahnya. “Kalau nggak ada yang antar, minta om Rino jemput saja. Apa ketemu di terminal gitu. Kalau pagi mah nggak macet kan Puncak?” “Iyaaa.” Sahutku pada mamah. Aku sampai kantor agak lebih pagi, tentu saja mengundang ejekan teman – teman kantor yang mengatakan aku terlalu bersemangat karena akan pergi nanti malam. Tidak kupedulikan ejekan mereka dan berjalan sambil menenteng tas berisi baju dengan langkah penuh keceriaan. Hari Jumat terasa cepat sekali, tahu – tahu sudah jam lima sore. Pak Tedjo keluar dari ruangannya, duduk di sofa seberang mejaku. Sambil memainkan ponsel, dia bertanya jam berapa kami berangkat dan berapa mobil. “Jam delapan, Pak. Pake mobil bu Gina, pak Tommy, pak Samsul, Reza sama mobil tiga anak sales.” “Cukup tuh?” “Banyak yang naik motor juga sih Pak anak laki – lakinya.” Jawabku. Kami sudah membuat grup Gathering, tanpa Tedjo pastinya. Wakakakak. Jadi kami puas membicarakan dia di grup itu. “Hmm.” Responnya terkesan tidak peduli. Iih, dia tuh nanya gitu basa – basi doang bukan beneran mau tahu. Dia juga nggak pernah ikut gathering sales katanya. Info ini aku tahu dari pak Tommy. Meski begitu, pak Tommy berbasa – basi mengajaknya serta. Aku memilih mobil bu Gina yang disupiri suaminya, bersama Risa, Fika dan Oky. Ayangnya Gadis bawa mobil sendiri dan Tami menumpang di sana beserta pacarnya yang baru. Makanya aku memilih ikut bu Gina saat tahu Gadis menampung Tami juga. Gadis memang nggak suka juga dengan Tami, tapi dia berhati baik sebenarnya. Cuma mulutnya saja kadang suka kelepasan ngegas. Meski nggak suka, dia nggak tega menolak Tami yang belum dapat tumpangan. Lagipula pacarnya bisa gantian menyetir dengan pacar Gadis. Kudengar, bu Gina belum punya anak. Makanya mobilnya masih lenggang karena anak – anak sales bawahannya justru banyak yang membawa motor masing - masing ke Villa. Pak Tedjo turun jam delapan malam, saat kami bersiap akan pergi. Ia menghampiri mobil bu Gina dan mengobrol dengan suaminya. “Hati – hati Gin, To. Kamu jangan ngerepotin, Sha.” Pesan pak Tedjo, dia hanya mengomel kepadaku. “Yeee, saya mah udah gede. Mana mungkin ngerepotin.” Risa menyenggol lenganku, aku memajukan bibir padanya. “Akrab banget dia sama bu Gina.” Aku berkomentar saat mobil kami sukses keluar dari parkiran gedung baru D&U. “Teman kuliah gue itu si Tedjo.” Lhaaaaaa. “Kok kita baru tahu ya?” “Elo doang yang baru tahu, semua orang sih sudah.” Oky menoleh ke arah kami. Dia duduk di depan, bu Gina denganku. Risa dan Fika di kursi belakang. “Memang iya?” “Lha iya. Kita bertiga teman kuliah. Laki gue malah akrab sama Tedjo. Cuma dia profesional di kantor. Gue masuk sini juga rekomendasi dia.” “Hooh.” Risa menyeruak di sela antara aku dan bu Gina, dia bertanya dengan semangat. “Bu, ceritain dong gimana pak Tedjo saat kuliah? Dia memang se-galak itu ya dari dulu?” Kami pun mendapatkan informasi gratis dari bu Gina tentang bos Tedjo semasa kuliah. Ternyata dia aktif di berbagai organisasi kampus, tipe leader yang selalu menjadi ketua panitia di berbagai acara. Meski namanya terbilang cukup tidak umum bagi anak kuliah seumuran dia, tapi pak Tedjo tidak pernah malu dan justru bangga dengan nama pemberian kedua orangtuanya. Saat orang – orang memanggilnya ‘Jo’ dia justru meralat panggilan itu dengan menjawab ‘Tedjo’. Dan aku baru tahu kalau Anita Marra ternyata juniornya di kampus. Bu Gina bercerita, saat kuliah justru pak Tedjo menyukai kakak seniornya. Tapi, kakak senior itu sudah punya pacar yang beda kampus. Pak Tedjo termasuk gigih mendekati kakak seniornya dan menyerah saat si kakak seniornya itu sudah menikah. Di saat itu lah pak Tedjo memacari Anita Marra yang masih suka mendekatinya. Ternyata Anita Marra yang naksir duluan. Nggak heran, di umur segini saja ketampanan Tedjo nggak manusiawi. Apalagi jaman dia kuliah. Dia pasti Don Juan di angkatannya. “Tahu nggak kakak senior yang ditaksir si bos kayak gimana wajahnya?” Kita semua menggeleng. “Persis Tisha. Makanya waktu Tisha masuk, dia wa aku. Dia tanya, ingat kak Anjani nggak. Anak baru itu kenapa mirip banget ya.” “HAHHHH?” Aku memuncratkan kunyahan Pringles yang sedang kumakan. “Ih Ibu mah, jangan gitu kek. Masa mirip aku sih! Emang mukaku jadul apah?” “Yeee bukan jadul, Oneng! Mirip dari air mukanya, postur badan sampe ke rambut. Keriting kayak gini, tapi nggak diwarnai kayak kamu gini lah.” Aku dikatain Oneng dong. “Siapa namanya?” “Anjani. Anjani Pancawati kalau nggak salah.” “Waduh.” Aku merogoh hape dalam tas, mencari foto adik bungsu papa dan menunjukkannya pada bu Gina. “Ini bukan?” Aku memberikan foto lebaran tahun lalu saat kami berkumpul di rumah mbah. Tanteku sudah menikah sih, tapi meski sudah punya anak dirinya tidak gemuk sama sekali. Masih terlihat sama lah saat masih kuliah. “Lhaaaaa. Ini siapa, Sha? Iya bener, ini kak Anjani senior kita nih.” “Tante aku, tahu!” “Hah? Hahahaha. Dunia sempit banget. Waduh kalau si bos tahu, bisa dikejar lagi ini kak Anjani.” “Yeee, sudah nikah Ibuuuu. Sudah punya anak dua.” Aku pun langsung dipanggil ponakan secara otomatis hanya karena Tedjo pernah naksir tanteku. Wakakakaka. Lucu sih, aku berlaga jadi ponakan sambil memberi perintah pada Risa. Kami banyak mengobrol sampai kecapekan dan tertidur. Perjalanan masih jauh, di pintu keluar tol kendaraan tampak mengular. Aku pun tertidur tak lama kemudian. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN