“Tishaaaaaaaa, bangun! Ada Gapiiinnn iniii.”
Sebenarnya aku sudah bangun sejak jam setengah enam tadi. Dan entah setan apa yang merasukiku, aku sedang berbalas pesan dengan Tedjo. Iya si manusia setengah iblis yang berstatus bosku itu.
Berawal dari status whatsappku yang sedang memamerkan langit subuh, dia komen nyinyir mengatakan aku pamer bangun pagi padahal hari Minggu.
Aku balas saja,
Bapak juga pamer sudah bangun & komen status saya.
Dan obrolan itu bertambah santai hingga aku berani meledeknya dengan kalimat,
Makanya cari istri lagi, Pak. Biar sarapannya dibuatin.
Hanya karena ia mengeluh harus membuatkan sarapan untuk dirinya dan Cimoy sebab mbak nanny dan ART-nya izin jogging ke Senayan.
Me : Tumben Bapak nggak jogging.
Bpk Tedjo D&U : Kaki saya keseleo semalam, mau panggil tukang urut dulu.
Me : Kebanyakan kerja tuh
Bpk Tedjo D&U : Apa hubungannya?
Me : Kaki Bapak meminta hak nya untuk rebahan, Bapak kerja terus
Bpk Tedjo D&U : Kerjanya cuma duduk. Masalahnya di mana?
Me : Kebanyakan duduk bikin wasir lho Pak, makanya kaki Bapak minta rebahan
Bpk Tedjo D&U : Kayaknya sama saja
Me : Beda lah, kalau duduk penekanan ada di p****t. Kalau rebahan nggak
Bpk Tedjo D&U : Pagi2 kamu sudah bahas pantat
Aku sadar sih topik barusan nggak nyambung, namanya juga gabut. Baru melek mata dichat orang ganteng. Orang – orang mah diucapin good morning sama ayang, apalah aku yang forever b***k, malah ladenin komentar nyinyir makhluk satu itu.
Spontan aku menyadari bahwa percakapan ini sudah terlampau random dan nirfaedah. Langsung saja aku bangkit dari kasur hendak menuju ruang depan, namun di depan pintu Rivaldi menghadang dan berkata bahwa Gavin sejak tadi menungguku keluar kamar.
Karena mama mengomel soal sopan santun untuk menemui Gavin di pagi hari yang indah ini, aku pun menuju teras dan mendapati Gavin sedang mengobrol dengan teh Nira serta si bontot Riswaldi yang sedang mendribble bola basket.
Padahal mah Gavin aja yang nggak sopan memaksa bertamu pagi – pagi.
“Apaan?” Tanyaku ketus.
Teh Nira mendorong lenganku sambil ngomel, nggak baik katanya pagi – pagi sudah judes. Riswaldi juga ikutan mencibir sikapku, terkecuali Gavin yang terkekeh canggung dan berkata bahwa ia ingin mengajakku jalan pagi.
Aku menguap dengan barbar di hadapannya, “masih ngantuk nihhh!”
“Nggak sopan ih Teteh!” Seru Riswal, aku memutar mata bosan.
Gavin tampak sangat ingin bicara denganku, tapi aku nggak mau memberinya kesempatan untuk itu. Aku mengambil bola di tangan Riswal dan melemparnya ke ring setinggi dua meter yang dipasang papa di depan rumah. Bola mengenai ring dan memantul sebelum kembali jatuh, aku mengambil lagi bola yang memantul – mantul di atas conblock halaman rumah. Mendribble sebanyak tiga kali dan mencoba peruntungan kembali.
Yasss, bola melewati ring dengan mulus kali ini. Mengundang tepuk tangan Gavin, aku mengabaikannya dan bertanding dengan si bontot sampai keringat cukup untuk membasahi rambutku.
Dari ekor mata, aku melihat Gavin berdiri dari duduk dan menghampiri arena ‘tanding’ antara aku dan Riswal. Ia menangkap bola yang memantul hasil lemparanku yang gagal memasuki ring.
“Ayo lawan gue, Sha. Kalau gue menang, kasih gue waktu untuk ngobrol.”
Perkataan Gavin mengundang cie – cie norak dari si ‘kembar’ yang sekarang nongkrong di pinggir arena ‘tanding’.
“Kalau gue menang, lo harus berhenti cari – cari gue kayak sekarang.”
“Deal!” Jawab Gavin, percaya diri.
Aku menghela napas pasrah dan mengerahkan segala kemampuan serta keberuntungan yang kumiliki agar menang darinya dan terbebas dari drama cari – carian yang ia lakukan selama beberapa hari ini.
Dan, hasilnya sudah bisa ditebak. Walau kurus – kurus begini, aku tetap kalah sih. Ya gimana mau menang, Gavin saja lebih tinggi dariku. Entah berapa kali dia berhasil merebut bola dari tangan lentik ini.
Aku pun berakhir di warung bakso bang Komeng yang baru jadi, untuk ngobrol dengan Gavin karena nggak nyaman ngobrol di teras rumah apalagi di kamar kostnya.
“Gue nggak punya pembenaran untuk membela diri, gue hanya mau minta maaf. Ternyata sikap gue yang berpura – pura nggak tahu itu justru menyinggung lo. Gue sama sekali nggak bermaksud menikmati perasaan lo apalagi menertawakannya. Sumpah, Sha.”
Papa pernah bilang sih, semua orang itu sebenarnya pemaaf. Hanya, beberapa cara si peminta maaf kadang kurang tepat dan nggak bisa menyentuh hati orang yang dimintai maaf. Mungkin itu yang kurasakan sekarang. Melihat Gavin meminta maaf dengan tulus seperti sekarang, hatiku melunak.
“Oke. Gue juga nggak mau berlarut – larut kesal sama orang lain.”
Segaris senyum terbit dari bibir Gavin.
“Makasi ya Sha. Gue tenang sekarang.”
Aku menyeruput teh botol sambil merespon sinis perkataan Gavin barusan.
“Tenang, kayak mau mati aja lo.”
.
.
.
“Coba lihat lagi PO-nya berapa? Ini trader?”
“Iya Pak.”
“Yasudah kamu buat CWO ke Primex.”
Amido melakukan yang diperintahkan, aku memasang headset di kedua telinga biar nggak diajak ngobrol oleh pak Tedjo yang roman – romannya sedang sok akrab pada kami.
Dengan sengaja dia menyenggol bahuku, aku menoleh dan tersenyum karir. Tuhkan betul dugaanku.
“Nih pak Samsul alasan lagi, format insentif rumusnya error. Padahal kemarin sudah saya kirimkan versi Tommy yang rapi. Ck ck ck, kapan belajarnya dia.”
“Saya sudah bilang ke pak Samsul, kalau rusak lagi timnya nggak akan dapat insentif. Capek saya beresin dosa – dosanya.”
Pak Tedjo dan Amido menertawakan perkataanku, Tami di seberang ikut tertawa meski Gadis dan Risa pura – pura b***k saja.
Tedjo tidak pernah mempermasalahkan sikapku yang tegas pada tim sales untuk urusan perhitungan insentif. Kadang kala, atasan tim sales sering abai dengan permintaanku yang dianggap sepele, mungkin karena aku hanya staf biasa. Tak jarang yang bernama pak Samsul kerap meremehkan pekerjaanku.
“Yuk lihat kantor baru, sekarang.”
Tanganku terangkat dari keyboard. Menoleh ke arah pak Tedjo, aku menegaskan ajakannya.
“Sekarang, Pak?”
“Iya. Kamu lagi ngerjain apa?”
“Uhm, yang Bapak minta dari kemarin. Belum selesai report penjualan saya.”
“Yaudah nanti aja, ayo. Do!”
“Sekarang, Pak?” Tanya Amido kurang terkoneksi dengan pertanyaan dan jawaban barusan.
“Iya, sekarang.”
“Sekarang atau lima puluh tahun lagi?” Candaku.
Spontan pak Tedjo terkekeh geli, diikuti Amido yang ikut tertawa kemudian menyanyikan sepenggal lirik lagu yang pernah di-remake oleh Raffi Ahmad itu.
“Sekarang atau lima puluh tahun lagi, ku akan masih tetap mencintaimu...”
Pak Tedjo mengajak aku dan Amido melihat kantor baru dan meminta kami memberi saran untuk hal yang menurut kami kurang. Amido merangkul bahuku dan berbisik, “percuma kita kasih saran. Kayak bakalan didengerin aja.”
Si Julit, tapi benar. Bagi Tedjo, bertanya saran hanya basa – basi.
“Kursi kamu di sini nanti.” Tedjo menunjuk sepaket meja kursi beserta sekat yang hanya diperuntukkan untuk dua orang. “Dan Amido di sini. Telepon lebih privat dan direct kan.”
Aku menyikut lengan Amido, ia mengaduh perlahan.
“Itu ruangan saya.”
“Ruangan Gadis and the gank, di mana Pak?”
Tedjo menunjuk ruangan lain yang lebih luas, sebelum ruangan kami pastinya. Ruangan itu bergabung dengan tim sales, dan menyisakan tiga meja di sisi pojok kanan untuk Gadis, Risa dan Tami.
Aku mengitari ruangan khusus staf administrasi tempat dua bestieku akan ditempatkan. Ruangannya sudah terisi sebagian, aku yang kukenal hanya Fika sisanya orang baru yang belum sempat kuajak berkenalan.
Amido mengecek semua instalasi listrik hingga internet, memastikan semuanya sudah sempurna. Bintang datang dan menyapa kami semua, kemudian dia menjelaskan beberapa hal pada pak Tedjo. Sebelum akhirnya menghampiriku dan bertanya Jumat malam apakah aku mau pergi nonton dengannya.
Aku tidak bisa menghindari deheman kepo pak Tedjo yang tidak berusaha menghindar dari percakapan kami. Bintang tersipu malu dan hanya tersenyum melihat pak Tedjo dengan sengaja meledek ajakannya padaku.
Bintang bahkan dengan sengaja ‘meminta’ restunya. MEMANG DIA BAPAKKU APA??!
Eh iya sih, kalau di struktur perusahaan pak Tedjo memang kerap diakui sebagai ‘bapakku’. Misal Reza sedang mencari belio, pasti bertanya seperti ini, “bapak lo ada ngga?”
Begitu juga bu Gina kalau sedang kesal dengan pak Tedjo. “Tuh bapak lo, nggak approve.”
“Tuh, Sha, diajak nonton sama ayang.” Goda pak Tedjo, membuatku memanyunkan bibir ke arahnya.
Saat sadar, aku segera menutup mulut dan menunduk. Kadang memang suka kelepasan bersikap barbar di depan Tedjo, itu karena dirinya juga kadang kelewat santai memperlakukanku. Bukan salahku juga dong.
“Belum jadi ayang, Pak. Tisha susah diajak jalan.” Aku Bintang pada pak Tedjo.
“Ya gimana mau jalan, pulang aja bareng maling dinas.” Sahutku sengaja sengit, pak Tedjo berjalan menuju ruangan barunya, meninggalkan kami.
“Si Lemon nggak doyan sama elo, Ntang. Dia sukanya yang dewasa – dewasa, ya Mon?” Amido menginterupsi obrolan kami, pak Tedjo keluar lagi dari ruangannya sambil menebar senyum.
Membuatku semakin terpojok karena Bintang yang masih menanti jawaban dariku.
“Dewasa kayak gimana maksudnya?” Tanya Bintang.
“Ya kayak sugar daddy gitu lah.”
Spontan aku menyahuti perkataan Amido dengan ketus.
“Sugar Glider! Sugar daddy, sugar daddy.” Ucapku sambil cemberut.
Pak Tedjo terbahak. Hari ini dia ceria sekali, sudah dua kali dia tertawa akan leluconku. Biasanya lempeng saja dia. Nggak peduli meski lawakanku selucu Jo Koy atau Cak Lontong.
Dengan nggak berat hati – berat hati amat, aku menolak ajakan Bintang dengan alasan sekalipun pulang cepat, aku memilih rebahan. Karena kasurku posesif banget, kalau ditinggal lama dia suka dingin gitu. Bintang mengatakan akan menunggu waktuku senggang hingga bisa diajak jalan. Hmm, dia nggak bisa membaca kode kalau aku MENOLAKNYA secara halus. Sekilas, aku melihat pak Tedjo merespon dengan menaikkan kedua alisnya seolah takjub dengan kegigihan Bintang menungguku.
Hiliihh, menunggu!
Puas melihat kantor baru, Tedjo mengajak kami (aku dan Amido) kedua dayang setianya, makan di luar. Tedjo menceritakan soal alur pengiriman pabrik yang ribet di salah satu principal. Aku merespon sesekali dengan tawa hambar karena nggak ngerti juga sih pembahasannya.
“Masa kita sudah buat CWO, sesuai dengan target marketing mereka. Giliran ditanya kapan barang sampai, produksinya belum selesai. Terhambat bahan produksi yang lagi mahal. Ada – ada saja.” Keluh pak Tedjo.
Aku memeriksa hape, ada pesan dari Gavin yang ingin mengajakku nonton malam ini. Aku menolaknya secara halus dengan alasan akan pulang malam meski dalam hati aku berharap Tedjo tidak menyebalkan hari ini.
“Laporan penjualan bisa selesai hari ini nggak, Sha?”
Eeghhhh. Aku mengutuk dalam hati. Kenapa sih semesta nggak bisa mendengarkan harapanku saja? Kenapa harus mengabulkan ketakutanku? Pfftttt.
“Insya Allah, Pak.” Aku menjawab.
“Iya tapi bisa kan? Besok saya mau meeting dengan pak Ikhsan.”
Mendengar kata meeting berpadu dengan pak Ikhsan adalah hal menggembirakan bagiku. Aku yakin Amido bisa melihat kilatan bahagia di mataku, makanya dia tertawa.
“Oke kalau begitu.”
“Semangat banget kamu, saya meeting di gedung baru, tahu!”
YAAAAHHH. Pupus harapanku. Kukira dia akan bertolak ke Bandung, kota pak Ridwan Kamil. Ternyata pak Ikhsan yang datang kesini.
“Mulai cicil barang – barang kalian ke gedung baru ya mulai besok. Minta bantuan Ujang dan pak Amir saja. Yang lain juga besok menyusul pindah semua.”
“Iya, Pak.”
Begitu kembali ke kantor, aku menyelesaikan pekerjaan yang diminta pak Tedjo segera. Sementara pak Tedjo dan Amido meeting dengan orang principal. Di mejanya, kudengar Tami sedang bertelponan dengan cowok. Yang jelas bukan Gavin sih.
Anyway, sejak tahu tentang Gavin dan Tami yang mengetahui perasaanku itu, aku serasa mati rasa dengan Gavin Kukira perasaan suka ini akan bertahan lama sampai seenggaknya aku menemukan pengganti dirinya lah di hatiku. Ternyata nggak tuh, aku langsung illfeel setiap mengingat atau membayangkan bagaimana mereka berdua menikmati perasaanku yang terlunta – lunta.
Pesan dari pak Tedjo masuk, aku hendak mengabaikannya tapi ketika melihat pop up dan isinya, dengan semangat k****a chatnya.
Saya belikan Starbucks biar kamu semangat selesaikan report penjualannya. 3 botol, kamu antar ke ruang meeting.
Tetap saja ujung – ujungnya perintah juga. Ish!
Dua puluh menit kemudian, pesanan Tedjo datang dan dia hanya beli satu yang gelas. Sisanya berupa botolan. Tiga botol kubawa ke ruang meeting, yang dua kutinggalkan untuk cungpret di ruangan yang sama denganku.
Aku mengetuk pintu ruang meeting secara formal dan membukanya sendiri. Kuletakkan tiga botol kopi yang masih berkeringat di atas meja. Tedjo mengucapkan terima kasih, namun suara seseorang membuatku menoleh ke arah tim principal yang mengenakan kemeja seragam berwarna mint.
“Letisha ya? Benar, Tisha!”
Aku melihat seorang pria berkacamata kotak, dengan lesung pipi di sudut bawah bibirnya kanan dan kiri. Aku menatapnya selama beberapa saat, mencoba mengenali siapa dirinya. Ketika teringat seseorang, aku meragukan hal itu karena pria yang tersenyum padaku ini terlalu kurus menjadi diri---nya.
“Bilal?” Aku bertanya, ragu.
Ia mengangguk dan meminta maaf pada beberapa orang di ruangan meeting.
“Teman kuliah saya, Pak.” Bilal menjelaskan, sementara aku terpana akan perubahannya.
Maksudku, Bilal yang kukenal di bangku kuliah adalah cowok gempal dengan kacamata bulat dan penggemar anime kelas berat yang sering dijuluki manusia nolep alias no life.
Bilal bangkit berdiri dan mengikutiku berjalan ke luar ruang meeting.
“Lo kerja di Kolls sekarang?”
“Iya. Baru masuk sih. Lo apa kabar, Sha?”
“Ya kayak yang lo lihat. Gokil perubahan lo, glowing parah ini sih.”
Bilal tersipu, kemudian dia meminta maaf karena harus melanjutkan meeting dan berjanji akan mampir ke mejaku ketika selesai. Aku pun mengangguk dan turun lagi menuju ruanganku.
Nggak menyangka akan bertemu teman kuliahku di D&U, bedanya dia lebih keren karena bekerja di principal yang bonafid dan aku tahu yang ikut meeting ini paling rendah menjabat sebagai Head of Area. Dan aku nggak tahu jabatan Bilal sekarang.
Keren dia!
•••