Pak Tedjo ada affair dengan bu Malika.
Itu gosip yang santer di mana – mana. Bahkan orang principal tak segan menelponku untuk mengkonfirmasi kebenaran itu. Ya walaupun berstatus b***k Tedjo, aku juga nggak tahu beneran valid atau tidak gosip itu.
Kalau mendengar kata affair, kok kesannya negatif gitu ya. Padahal kan mereka berdua sama – sama lajang, nggak salah juga kalau memang mau menjalin hubungan pribadi.
Tapi, yang paling membagongkan segala reaksi tentang gosip itu adalah reaksi Risa. Dia menangis. Me-na-ngis. Aku dan Gadis saling berpandangan ketika melihat Risa terisak di mejanya. Sementara Tami, tak peduli dan melanjutkan pekerjaan seolah tidak ada apa – apa.
Aku mendekati Risa dan bertanya, mengapa dia menangisi berita ini.
“Gue patah hati, Mon. Patah hati. Lo kan tahu gue suka banget sama pak Tedjo.”
Aku melirik Gadis, dia hanya menggelengkan kepala perlahan merespon pertanyaan tak terlontar dariku.
“Beneran? Serius? Kayak lo suka ke mas Andi dulu?”
“Hiks...beneran Lemon, lo kira gue bercanda punya perasaan ini, hah?”
“Ya, nggak tahu. Tapi, ini Tedjo, Sa. Yang sering memperlakukan kita kayak budak.”
Risa menelungkupkan kepalanya di atas meja dan kembali tersedu.
“Iya tapi gue beneran suka sama doi. Serius. Waktu gue denger doi cerai, gue senang banget.”
Aduh.
Aku dan Gadis memeluk Risa, mencoba menghiburnya dengan perkataan ‘ini hanya gosip’, ‘belum tentu benar’ dan berbagai ucapan sejenis.
Tapi aku juga coba menguatkan Risa, mungkin di mata pak Tedjo kami ini hanya debu – debu yang menempel di kaca mobilnya. Kalau sudah tebal banget, wajib dibersihkan karena ganggu pemandangan. Tapi, namanya juga debu, pasti terus nempel dan nempel berkali – kali. Suka tidak suka. Nggak perlu dikasih perhatian lebih kecuali sudah tebal dan mengganggu.
“Walaupun cuma dianggap bawahannya, selama dia care dan baik ke gue, gue terima saja kok, Mon, Dis.”
Care dari mana, Risa Risol??!! Tapi aku hanya menelan pertanyaan itu bulat – bulat, tidak ingin suasana semakin chaos dengan mood Risa yang kalau jelek benar – benar tidak bisa diajak berkompromi.
Hingga siang hari, aku dan Gadis menghibur Risa yang tengah patah hati. Eh, di tempat parkir kami malah melihat adegan yang menguatkan gosip dan membuat hati Risa semakin hancur.
Pak Tedjo dan bu Malika tengah bercanda di dekat mobil keduanya yang diparkir bersebelahan, dibubuhi beberapa skinship bu Malika pada pak Tedjo yang terasa sangat kentara dan memperjelas hubungan keduanya. Mungkin gosip itu benar, tapi aku tak sempat berpikir apa – apa saat melihat Risa berjalan cepat masuk ke dalam kantor dan menaiki tangga dengan derap ala tentara. Penuh semangat atau emosi?
Kami memang akan pindah ke gedung baru, kantor yang baru rampung dibangun oleh pak Ikhsan. Dan sekarang sedang tahap mencicil berbagai divisi. Bagianku terakhir kata pak Tedjo, tapi kami sudah melihat ruangan kami nanti. Jadi, aku dan Amido hanya berdua di ruangan nanti. Terpisah dengan dua bestieku yang tetap berada satu ruangan dengan tim sales nantinya.
Nah, bu Malika sedang membantu pindahan itu. Jadi memang sedang berkantor di ruangan pak Tedjo juga. Karena dirinya tidak memiliki ruangan di kantor sini.
Begitu keduanya tiba di ruangan kami, bibir Risa semakin maju dan tidak menyembunyikan ketidaksukaannya. Tapi, ya tentu hanya kami saja yang tahu alasan Risa cemberut, entah Tami yang langsung menyapa dengan sikap berdiri dan memberi salam menunduk pada pak Tedjo dan bu Malika secara berlebihan.
Oh ya, sejak Tami masuk beberapa kali pak Tedjo membandingkan diriku dengan Tami yang menurutnya penuh sopan santun dan sangat sabar. Aku tidak mempedulikan perkataannya, toh aku bekerja di sini bukan untuk menjilat siapa – siapa. Murni hanya agar bisa mendapatkan penghasilan tiap bulan dan terbebas dari omelan mamaku yang nggak suka melihatku menganggur di rumah.
Pak Tedjo menghampiri mejaku, mengetukkan tangannya di atas meja dan menyuruhku membawa laptop ke dalam ruangannya. Aku pun mengikuti apa yang diperintahkan dan duduk di sebelah bu Malika yang sedang bercerita tentang pengalamannya berlibur ke Jepang.
“Saya meeting dengan Tisha dulu ya, Mbak. Kalau perlu meja, bisa pakai meja Tisha dulu sementara.”
Lho, lho. Kok nadanya mengusir si bapak ini. Aku melirik bu Malika yang tampak tetap ingin bekerja dari ruangan pak Tedjo tapi akhirnya mengatakan padaku bahwa dirinya meminjam mejaku, tentu dengan nada suara yang riang.
Begitu bu Malika dan perlengkapannya duduk di kursiku, wajah lega pak Tedjo tidak dapat membohongi.
Oh my...apakah pak Tedjo hanya sedang berpura – pura menyukai berdekatan dengan bu Malika karena secara bu Malika kan atasannya. Anak owner pula.
“Buka performance, Sha.” Titahnya, aku pun mengikuti yang dia perintahkan.
Dan kami membahas performance sampai dengan langit menggelap. Aku melihat Risa terpaku menatap ke ruangan pak Tedjo yang dari luar tentu tidak terlalu jelas melihat ke dalam sini karena kaca film yang cukup gelap. Tapi aku bisa melihat ekspresinya yang seolah ingin menuntaskan rasa penasaran untuk bertanya langsung kepada objek gosip yang sedang panas tapi terlalu takut untuk sekedar menyapa.
Ya ini Tedjo, Cuy. Secara struktur perusahaan di cabang ini, dia lah kepalanya alias yang tertinggi. Sementara staf kayak kami – Aku, Risa dan Gadis—tentu saja ada di bagian terbawah yang mungkin melewati beberapa kepala.
Aku merasa kasihan pada Risa tapi juga nggak tahu bagaimana cara membantunya.
Bu Malika masuk lagi ke dalam ruangan pak Tedjo dan terang – terangan mengajaknya makan malam. Pekerjaanku masih belum selesai, tapi pak Tedjo mengakhiri meeting ini dan menyuruhku meng-update data penjualan per hari ini untuk kembali dimasukkan ke dalam performance yang masih on going.
Entah harus senang atau sebaliknya, karena sikap bu Malika justru membuat Risa semakin sedih dan berlalu turun dengan wajah menahan tangis.
Tapi, bu Malika juga membebaskanku dari jeratan meeting nirfaedah dengan Sawung Tedjo.
“Tisha ikut makan malam ya?” Ajak Tedjo, aku melirik ke bu Malika yang berusaha tetap tersenyum meski kedua matanya tidak bisa bohong dengan sorot kecewa yang nyata.
Dia hanya ingin makan malam berdua dan Tedjo dengan tidak pekanya malah mengajakku.
“Engg...anu...”
“Ayo. Nanti saya antar lagi pulangnya.”
“Eeeeeee---“ hendak menolak, tapi Tedjo menatapku lamat – lamat.
Ada tatapan penuh pemaksaan di sana, hingga akhirnya membuatku menyetujui ajakannya.
“Amido sekalian nggak, Mas?” Tanya bu Malika, yang kuyakin seribu persen dirinya menyindir ‘ajakan’ Tedjo padaku.
“Nggak usah, dia lagi mapping ruangan sales dengan Tommy.” Jawab pak Tedjo, dirinya juga mengatakan aku agar tidak perlu membawa laptop dan meninggalkannya di ruangannya saja.
Aku semakin tidak mengerti, tapi yaudahlah, ini Tedjo sekali lagi.
Sepanjang jalan hanya bu Malika yang mendominasi obrolan, sesekali memang dia menoleh untuk menanyakan pendapatku. Tapi murni untuk kesopanan saja sepertinya, dia lebih tertarik menunggu respon pak Tedjo kurasa.
Kami makan di warung sate kambing yang terkenal enak dan antri. Aku berjalan di belakang Tedjo yang dipimpin bu Malika di depannya, dan tidak menyadari kalau antrian di depan kami berhenti. Aku menabrak punggung pak Tedjo dengan keras karena jalan sambil melamun.
Pak Tedjo spontan memutar tubuhnya dan menahan punggungku agar tidak terjatuh karena memang tidak ada orang lagi di belakangku. Membuatku terkejut sendiri dengan situasi ini.
Bu Malika bahkan mundur dan bertanya apakah aku baik – baik saja, meski ia melirik tangan pak Tedjo yang masih menahan punggungku dan posisi kami hampir saling memeluk. Karena tangan kiriku otomatis memegang lengan kanan pak Tedjo untuk menahan diri agar tidak terjatuh.
Aku cepat menyadari situasi canggung ini dan langsung meminta maaf pada pak Tedjo yang punggungnya mendapatkan hantaman keras dari kepalaku. Ia hanya terkekeh dan mengomentari diriku yang berjalan sambil melamun.
Kemudian, atmosfer di meja kami terasa canggung sekali. Meski pak Tedjo berusaha mencairkan suasana dengan mengejekku soal ‘kepikiran ayang’ masih dalam rangka nabrak punggungnya tadi.
Tapi, aku sebagai perempuan yang walau nggak peka – peka amat, cukup bisa membaca situasi. Bu Malika mulai tidak nyaman dengan kehadiranku dan berusaha menghindari candaan pak Tedjo soal adegan di pintu masuk tadi.
Acara makan selesai, bu Malika repot memikirkan kembali ke kantor karena meninggalkan mobilnya di sana beserta tas berisi baju dan sebagainya. Beliau nginep di hotel, pak Tedjo pun menawarkan akan mengantarkannya ke kantor terlebih dahulu sebelum mengantarkanku.
“Antar Tisha dulu juga nggak apa – apa, Mas. Takutnya kemalaman.”
Pak Tedjo terkekeh dan menjawab, “rumah Tisha lebih jauh daripada kantor kalau dari sini, Mbak.”
Wajah bu Malika kembali muram, namun dirinya berusaha tersenyum dan akhirnya mengangguk bersedia diantarkan terlebih dahulu. Aku menghembuskan napas diam – diam karena terbebas dari tatapan penuh tanya bu Malika selama kami duduk berhadap – hadapan saat makan tadi.
Kami pun kembali ke kantor dan aku hendak turun untuk menolak diantarkan Tedjo. Aku selalu bawa motor dan sudah terlalu sering meninggalkan motor di parkiran kantor karena sering melembur dan berakhir diantar pulang terus.
Namun, pak Tedjo menahanku di dalam mobil dan berpamitan dengan bu Malika. Begitu bu Malika menjauh memasuki halaman kantor, pak Tedjo menyuruhku pindah duduk di sampingnya.
“Pak, saya naik motor saja. Masih jam sembilan kok, jalanan masih ramai.”
“Masih banyak yang ingin saya bahas dengan kamu, ayo naik.” Perintah Tedjo saat aku masih berada di luar mobilnya untuk pindah duduk.
Meski Tedjo menyadari tatapan kesalku, ia memilih cuek dan dengan santai berpamitan pada satpam yang berjaga. Mobilnya kembali berbaur di jalanan raya, menuju ke arah rumahku.
Seperti perkataannya, pak Tedjo kembali membahas soal pekerjaan. Dan seperti biasa, aku menanggapinya dengan profesional hingga dia akhirnya mengungkit soal bu Malika.
“Kamu pasti canggung ya sejak tadi. Tapi saya perlu perisai agar obrolan tidak melenceng jauh.” Terangnya, aku hanya mengangguk memaklumi.
Padahal, tadi siang pak Tedjo kelihatan menikmati obrolan bersama bu Malika atau dia sedang berakting saja karena sungkan?
Tak sengaja, tercetus komentar jujur nan sinis dari lidahku yang sulit dikontrol.
“Saya kira Bapak enjoy ngobrol sama beliau.” Aku melirik takut – takut.
Tedjo menertawakan komentarku dan menjelaskannya kembali.
“Kamu tahu nggak analogi memegang gelas?” Aku menggeleng. “Segala hal itu seperti analogi memegang gelas. Satu jam pertama, kamu akan baik – baik saja memegang sebuah gelas berisi air. Kemudian lima jam, tangan akan mulai kram. Lalu dua belas jam, tangan mati rasa.”
Aku memandangi wajahnya tanpa sadar, tidak mengerti analogi yang ia jelaskan.
“Semuanya itu tidak baik kalau berlebihan. Bikin pegal. Ngobrol juga.”
Komentar sinis kembali terlontar dari mulutku.
“Padahal Bapak juga berlebihan dalam bekerja.”
Kali ini dirinya tertawa lepas, seolah ucapanku adalah punch line dari komika yang sedang stand up. Membuatku mengerutkan kening karena ucapan tadi tidak berasa lucu malah sinis, menurutku.
“Mungkin itu karena hobi.”
HOBI DIA BILANG? Bekerja kok hobi. Kebutuhan, Bapaaaaaakk. Tapi, itu semua hanya ada di dalam hatiku yang rapuh ini.
“Ya kalau kamu menyukai pekerjaan kamu, kamu nggak akan bosan.”
“Itu juga berlaku ke bu Malika, Pak. Beliau kan lagi suka sama Bapak.” Cicitku, suaranya hampir terasa seperti bisikan tapi kuyakin pak Tedjo jelas mendengar karena di dalam mobil ini sepi.
Pak Tedjo menoleh dan menatapku beberapa saat sebelum kembali fokus melihat jalanan di depan.
“Kamu tahu gosip darimana kalau bu Malika suka sama saya?”
“Nggak perlu gosip kali, Pak. Kelihatan.” Jawabku jujur.
Dia terkekeh kecil dan menggelengkan kepalanya.
“Bu Malika punya pacar, mau nikah kok.”
Ooooohhhh. Info baru, Risa nggak perlu kecewa. Eh tapi, aku masih yakin seribu persen kalau bu Malika memang tadi tuh flirting ke pak Tedjo.
“Masaa?” Tanyaku tak percaya.
Dari nada bicaraku barusan, aku menebas jarak antara atasan dan bawahan. Bukan karena sengaja, tapi lebih ke faktor keceplosan. Yah, sejak beberapa saat lalu kan memang kami sudah bicara santai seolah teman. Bukan salahku dong terbawa suasana ‘teman’ ini. Kalau dia nanti berpikir aku mulai kurang ajar, berarti dia power abuse saat mengajakku membicarakan soal kebersamaannya dengan bu Malika sejak pagi. Seolah aku tidak berhak berkomentar, padahal jelas – jelas dia yang memantik api dengan pembahasan soal ini.
“Kamu nggak percaya gitu sih. Memang saya ada bakat jadi pembohong?”
“Bukan nggak percaya sih, Pak. Tapi lebih ke---apa yaa, semua orang yang melihat cara bu Malika saat melihat Bapak tuh pasti punya pemikiran yang sama seperti saya.”
“Memang—cara mbak Malika melihat saya, seperti apa?” Tantang pak Tedjo.
Seketika aku menyadari, bahwa cara kami bicara sudah terlalu santai dan ini berbahaya. Aku nggak mau jadi teman si Tedjo yang gila kerja ini. Kerja saja dianggap hobi olehnya.
TIDAAAAKK. Aku masih mencintai hidupku yang walau belum menyentuh work-life balance, tapi seenggaknya aku masih punya kehidupan di luar kantor. Nggak kayak makhluk di sebelahku ini. Aku yakin si Cimoy lama – lama juga tidak akan mengenali bapaknya sendiri saking seringnya ditinggal – tinggal.
.
.
.
“Halaaah, palingan pak Tedjo sungkan tuh mau mengiyakan asumsi lo. Secara bu Malika kan wakil direktur. Nggak enak lah dia kalau terlalu kepedean mengakui bu Malika naksir doi.” Nyinyir si Gadis saat aku menceritakan soal kejadian kemarin, minus adegan aku hampir terjatuh tentu saja.
Risa tampak lega saat mengetahui kalau pak Tedjo ‘terganggu’ dengan keberadaan bu Malika yang terus menempeli dirinya. Dia kembali meyakinkan diri dengan bertanya lagi padaku, “benar kan tapi, Mon. Pak Tedjo minta ‘diselamatkan’ sama lo biar nggak terlalu lama berduaan dengan bu Malika?”
Aku mengulang ucapan pak Tedjo di dalam mobil semalam, soal memerlukanku sebagai perisai didididadadadududu. Tapi, ada yang sengaja kusimpan sendiri tentang obrolan dengan pak Tedjo tadi malam.
Entah mengapa, sejak pembahasan tentang bu Malika terlontar, percakapan kami seterusnya menjadi santai dan ringan. Soal pekerjaan justru hanya sedikit yang kami bahas, sisanya hanya pembicaraan ala teman yang membuatku bergidik saat mengingatnya kembali.
Apalagi, Tedjo sempat bertanya – tanya tentang kehidupan pribadiku, seperti ; mengapa aku belum berpacaran dengan Bintang, tentang kantor lamaku sebelum masuk ke D&U, mengapa aku tampak membenci Tami (aku pun kaget pak Tedjo menyadari ini, tapi aku nggak tanya dia tahu darimana), kedekatanku dengan Amido dan terakhir dia bertanya apakah Amido ada kesempatan menjadi pacarku atau apakah dia tipe idealku. Sama sekali tidak seperti Tedjo yang kukenal selama ini.
Ia bahkan memuji caraku berpakaian yang menurutnya sangat modis meski dalam balutan pakaian kasual dan menyuruhku mengajari Risa cara berpakaian seperti ini. Masih ada setitik karakternya yang menyebalkan memang, mungkin sudah berkerak kata ‘menyebalkan’ itu disandingkan dengan profilnya.
Kayaknya otak dia hang sejak makan sate kambing deh semalam. Kebetulan yang dibicarakan sedang berada di gedung baru, dia sudah mengirimkan perintah kerjaan padaku dan mengatakan kalau perlu dirinya aku disuruh menghampiri dia ke gedung baru. OGAH.
“Lo dandan makanya, Sa. Gimana mau dilirik laki – laki, muka lo butek gitu.” Ujar Tami, memancing dua pasang mata melotot otomatis ke arahnya.
Dia melengos tidak peduli setelah melihat aku dan Gadis memberi tatapan bersiap menerkamnya bulat – bulat.
Tapi, beneran deh, aku jadi takut nih kalau si Tedjo sok – sok akrab gitu. Takut dijadiin b***k abadi seperti Amido. Hiks. Kasian tuh anak, sudah tak terhitung berapa kali kolaps karena tipes. Kebangetan kan emang si Tedjo kalau nyiksa budaknya.
•••