Aku tiba di depan pagar rumah pas banget dengan adzan isya berkumandang.
Papa keluar lengkap pakai baju koko dan sarung, sambil melipat – lipat peci hitam dan membukakan pintu pagar untukku.
“Tumben pulang sore.” Ucap papa saat aku mengambil tangan kanannya untuk salim tanpa turun dari motor.
“Huum.” Sahutku tidak menjelaskan dengan nada nyinyir seperti seperti biasa kalau menyangkut pak Tedjo dan jam pulang.
Baru saja memarkirkan motor, suara salam di depan pagar membuatku kembali menoleh. Papa sudah terlihat jauh menuju Masjid, di depan pagar yang baru kututup Gavin sedang berdiri dan senyumnya merekah saat melihatku.
Sudah beberapa hari ini aku menghindar bertemu dengannya. Selain karena memang pak Tedjo tidak pernah membiarkanku pulang di bawah jam delapan malam, aku juga sengaja tidak membaca pesan – pesan wa dari Gavin. Kali ini, aku memang sudah tidak ada pekerjaan dan Tedjo tidak memanggilku untuk membahas apapun terkait pekerjaan, makanya aku pulang lebih awal.
Dan seolah sudah menunggu, Gavin langsung melesat dari kamar kostnya menuju rumahku.
Aku tidak mempersilakan Gavin masuk ke teras seperti biasa, sebaliknya, aku justru menghampiri pagar dan bertanya keperluannya.
“Ada apa?”
“Sha, gue berhutang penjelasan ke elo—“
“Tentang apa?” Aku melipat kedua tangan sambil menyandarkan punggung ke pagar yang sudah kubuka lagi sedikit.
Gavin mendadak gugup, ia bahkan sesekali mengusap dahinya yang tidak berkeringat sama sekali. Mungkin hanya perasaan dia saja. Aku mengubah posisi berdiri menjadi lebih tegak dan memasukkan tangan ke saku celana.
“Nggak tahu tentang apa?” Tantangku, tangan Gavin bergerak seolah ingin menahanku meski aku tidak beranjak kemana – mana.
Saat aku melirik tangannya yang memegang tanganku, Gavin meminta maaf dan kembali gugup sambil meremas kedua tangannya perlahan.
Aku menghela napas tidak sabar.
“Gue bantu nih, apa elo mau minta maaf karena sudah membuat gue tampak bodoh kurang lebih dua tahun selama elo pacaran dengan Tami dan dia satu kantor sama gue?”
“Sha, demi Tuhan bukan itu yang gue pikirkan saat tahu---saat tahu, k—kalau lo ternyata sss—suka sama gue.”
“Terus?”
Gavin menghela napas, ia melihat kanan dan kiri. Ini jam setengah delapan sore, area rumahku tergolong ramai orang lalu lalang. Apalagi banyak juga kost – kostan tak jauh dari sini, biasanya para anak kost baru pulang dari beli makanan di depan komplek dan lewat berbondong – bondong. Tapi, malam ini memang habis hujan tadi sore. Mungkin itu alasan malam ini agak sepi.
Ia maju selangkah lebih dekat denganku, membuatku harus benar – benar tegap melekat pada pagar di punggung.
“Gue bingung, Sha. Gue suka kebersamaan kita, tapi di sisi lain gue pacaran dengan Tami. Gue bingung. Lo nggak tampak bodoh, gue yang bodoh karena nggak berani bilang ke elo. Takut lo menjauh, takut lo pergi dan malu. Dan gue kehilangan sosok lo.”
Aku tertawa sinis.
“Jadi, elo cuma nggak mau kehilangan fans.” Sinisku.
“Nggak gitu, Tisha. Gue selalu menimbang – nimbang untuk pergi dari Tami tapi, gue nggak mau menyakiti hati dia.”
Jawabannya membuatku berdecih.
“Dan lo memilih disakiti sama dia.” Aku memalingkan wajah, menghindari melihat Gavin yang tampak serius menatapku.
“Itu lebih baik, Sha. Seenggaknya, gue nggak jadi laki – laki b******k yang membuat dia menangis.”
Aku bergerak menggertak, Gavin tergagap mundur dan menyadari bahwa jarak kami cukup dekat hingga bisa disalahpahami sedang hendak berciuman.
“Gue laperrr.” Tukasku dan masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikannya lagi.
Aku akan mempertimbangkan untuk berbaikan dengan Gavin atau cukup sudah berteman dengannya. Apapun alasan yang dia utarakan, tidak mampu membuat perasaanku jadi lebih baik. Terlebih kalau mengingat perkataan Tami tempo hari kalau dia sengaja membiarkanku tetap dekat dengan Gavin hanya karena dia meyakini Gavin tidak akan meninggalkannya untukku.
Menyebalkan!
“Sudah makan belum kamu?”
“Belom.” Jawabku judes pada mama.
“Ngegerundel* ajah kamu tuh dari kemarin, kunaon** sih? Hah?”
(*Ngedumel/marah-marah, ** kenapa.)
“Nggak kenapa – kenapa.”
Mama meninggalkanku sambil mengomel tentang kelakuanku beberapa hari ini. Kuhela napas dan merasa bersalah pada orang – orang yang tidak salah namun mendapatkan sikap judesku. Mereka nggak tahu saja, aku sedang menerapkan social plus physical distancing dengan my crush selama beberapa tahun terakhir ini. Dan itu membuatku malas berinteraksi manis dengan orang lain jadinya.
.
.
.
“Kita bikin mapping untuk ruangan di bangunan baru, Tisha.”
Aku hampir saja berteriak pada Tedjo yang sudah berjalan masuk ke dalam ruangannya kalau saja Gadis tidak langsung membekap mulutku.
Ini jam tujuh malam, Risa dan Tami bahkan sudah pulang sejak setengah enam tadi. Gadis sudah memakai helm siap turun dan aku baru saja ingin mematikan laptop. MENGAPAAAAAAAAA Mr. Tedjo suka sekali memulai meeting di malam hari siiiihhh???????
Aku sedang mengeluh pada Gadis ketika Tedjo keluar lagi dari ruangannya dan bertitah, “pesan Hokben, Sha. Bayar cash saja. Pesan buat Amido juga. Gadis mau pulang kan?”
“Iya, Pak.” Sahut Gadis dan memberi wajah cemberutnya hanya padaku.
Entah akan pulang jam berapa diriku kalau dikasih makan Hoka Hoka Bento malam ini. Mana Amido masih di lantai lima pula, nggak tahu lagi ngapain dia di sana sejak siang tadi.
Aku memesan makanan sesaat setelah Gadis pamit pulang dan aku tahu ‘hukuman’ akan segera dimulai. Jadi, seenggaknya jangan melaparkan diri gitu lho. Berurusan dengan Tedjo, sudah nggak mempan ngambek – ngambek manja menolak makan minum, toh dia nggak akan peduli sekalipun aku kelaparan.
Jadi, sekalian saja. Aku memesan Bento Spesial, tak lupa minum dan pudingnya sekalian. Jangan nanggung – nanggung kalau mau buat Tedjo bangkrut. Kalau saja urat maluku sudah putus, aku akan memesan lebih banyak dari ini. Tapi, yah aku masih punya rasa malu sih, sedikit.
Ck, ini mah nggak seberapa. Baru seratus ribu. Aku kan mau buat Tedjo kapok jajanin diriku kayak gini lagi.
Terdengar suara langkah kaki tergesa dari atas, aku bisa menebaknya kalau itu adalah Amido. Dia selalu grasa – grusu tiap turun tangga.
Aku menenteng laptop bersiap memasuki ruangan ‘pesakitan’ dan Amido muncul dari pintu depan dengan wajah semangat mengejek.
“Lembur, lembur, ayoo lembur. Mari kita lembur sampai sahur.”
“Bodo amat!” Sahutku, Amido mendekat dan mengarahkan tangan kanannya ke puncak kepalaku.
Dia memutar – mutar rambutku seolah aku gasing yang akan berputar jika di-spin seperti itu. Kutepuk tangannya, dia terkekeh senang dan kembali bernyanyi seperti sebelumnya. Nada lagu yang ia gunakan diambil dari jingle iklan sabun. Bikin geleng – geleng kepala memang.
Tedjo keluar dari ruangannya dan memanggil Amido untuk ikut meeting dengan kami, bocah koplak itu menyahut ingin ke toilet terlebih dahulu.
Aku memasuki ruangan pak Tedjo lebih dulu.
“Sudah pesan makan?”
“Sudah.”
“Berapa totalnya?”
Aku menunjukkan layar hape, dia tidak terkejut sama sekali melihat nominalnya dan langsung mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan serta selembar uang lima puluh ribuan.
“Ambil contoh mapping yang dibuat bu Malika di email. Saya sudah forward ke kamu.”
Aku mengikuti perintahnya, sementara dirinya memasang proyektor dan melambaikan kabelnya padaku agar disambungkan dengan laptop.
Waktu berjalan sangat lama, bahkan ketika makanan datang dan kami menyantap makan malam bersama, menjadi makan malam terpanjang (rasanya) dalam hidupku. Tahu – tahu, waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Aku tidak menyadari siapa saja yang menelpon karena hape dalam posisi silent sejak tadi. Aku terganggu dengan pesan Gavin, makanya kubuat silent mode saja.
Eh rupanya, aku juga melewatkan telepon papa. Telepon dari beliau lah yang biasanya mengingatkanku kalau meeting ini sudah terlalu malam.
Amido memesan kopi tadi setelah makan dan aku tidak menyadari waktu sama sekali.
Begitu menyadari waktu sudah berganti hari, aku merasakan tubuhku lelah sekali. Dan kuapan kantuk juga tidak dapat lagi kutahan. Pak Tedjo melihat jam di pergelangan tangannya dan menghela napas.
“Lanjut besok siang deh. Sudah jam segini, bisa – bisa kita sahur on the road.” Aku hanya merespon jutek karena terlampau ngantuk.
“Kamu bawa motor, Do?”
“Bawa, Pak.”
Pak Tedjo hendak mengatakan sesuatu tapi dia mengurungkan niatnya dan wajahnya berpaling padaku.
“Saya antar kalian deh.” Ucapnya.
“Nggak usah, Pak. Saya mah nggak apa – apa pulang sendiri. Paling dia nih.” Amido menunjuk bahuku.
“Nggak---hooaaaaamm---apa – apa kok, Pak. Saya naik taksi saja.” Aku menolak ide diantarkan Tedjo ke rumah, di jam dua pagi.
“Yaudah, kamu pulang sendiri, Do?”
“Iyah, Pak.”
“Ayo, Sha. Saya antar kamu. Motor tinggal saja.”
“Ngg—nggak usah, Pak.”
“Ayo! Sebelum saya berubah pikiran.”
“Ii—iyyaa deh.”
Alasanku menerima tawarannya adalah karena aku MALES BERDEBAT dan sudah ngantuk berat. Nanti dia akan menyindirku seolah – olah aku ke-GR-an diantarnya pulang. Sudah hapal betul aku cara yang Mulia Tedjo bersilat lidah.
Setelah memastikan Amido pergi dengan motornya, Tedjo pun mulai mengendarai kendaraan ke arah rumahku. Aku bertanya apa dia masih ingat jalannya dan jawabannya, “ingatan saya masih bagus kok.”
Padahal tinggal jawab “ingat, Tisha” gitu aja susah bener.
Aku pasrah dan bersandar sambil mencoba agar tetap sadar selama perjalanan. Bahaya banget kalau aku ketiduran, bisa – bisa besok ia akan meledekku dengan berbagai sebutan.
Saat aku datang lebih siang dari dia saja (dulu), dia memanggilku “bos”. Tentu saja dengan niat menyindir.
Perjalanan terasa sangat lama, padahal jalanan sudah tidak macet lagi. Aku juga merasa atmosfer di dalam mobil terasa lebih berat. Jangan – jangan... Kata Risa si penggemar cerita horor ‘Do You See What I See’ kalau suasana mendadak dingin dan berat itu berarti ada sesuatu di dalam ruangan itu. Tapi ini nggak dingin sih, maksudku lebih berat itu justru malah sebaliknya.
Kantukku bahkan sudah lenyap, berganti ketegangan yang nyata.
Layar hapeku berkedip, panggilan dari papa masuk lagi. Langsung saja aku menjawabnya dan meminta maaf karena pulang terlambat.
“Memang nggak ada hari besok apa, sampai jam segini masih kerja saja.” Omel papa, aku yakin pak Tedjo mendengarnya karena suasana hening banget dan suara papa cukup keras di telepon.
“Yaudah, Pah, Tisha udah di jalan ini.”
“Naik taksi? Telepon kek biar Papa jemput.”
“Diantar---pak Tedjo.” Aku berbisik saat menyebut namanya.
Papa langsung mengerti dan berkata akan menungguku sampai di rumah baru tidur.
“Ini pertama kali kamu kerja di Distributor?”
Perasaan, aku sudah pernah mengatakannya di interview. Baru aku ingat, yang mewawancara diriku saat itu Amido, bukan dia.
“Iya, baru pertama.”
“Begini memang resiko bekerja di Distributor, Sha. Cabang lain bahkan ada yang dua puluh empat jam pengirimannya dan hari libur masuk.”
Aku ingin menguap, tapi kutahan demi agar Baginda yang mulia di sebelahku tidak tersinggung.
“Nanti saya jelaskan ke ayah kamu.”
“Humm.”
“Soal pekerjaan ya, Sha.”
“Hm?”
“Ngantuk banget kamu? Tidur saja, saya nggak akan nyasar.”
Aku menggeleng dan membersihkan mataku.
“Nggak kok, Pak.”
Kulihat dari ekor mata, pak Tedjo tersenyum meski tatapannya tetap terarah ke depan. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tersenyum, berharap bukan kebodohanku yang tampak di matanya. Aku menunduk mencoba melawan kantuk dengan mengingat lirik lagu Bigbang yang berbahasa Korea.
Sesampainya di rumah, papa langsung menyalakan lampu teras ketika mendengar suara mesin mobil pak Tedjo yang berhenti persis di depan pagar rumah kami. Papa keluar dan menyambutku. Kemudian aku melihat pak Tedjo ikut turun dan mengucapkan salam pada papa.
Pak Tedjo juga memperkenalkan diri pada papa dan meminta maaf karena memulangkanku dini hari.
“Kok saya heran ya, Tisha sering sekali pulang di atas jam sembilan. Apa ini terhitung lembur, Pak?” Tanya papa, pak Tedjo terkejut dan menjawab bahwa semua absen pulang di atas jam delapan malam otomatis dihitung lembur.
Aku berdecih dalam hati, mana ada. Gajiku sama tuh sejak dulu, nggak ada lebih – lebihnya lemburan. Tapi, aku tidak mengungkapkannya di depan mereka berdua.
“Kalau memang urgent sih nggak apa – apa, tapi kalau bisa dikerjakan hari esok, lebih baik dikerjakan hari esok menurut saya. Kan nggak efektif juga bekerja di atas jam sembilan.”
Pak Tedjo tersenyum karir pada papa dan pamit pulang. Kami membiarkan mobil pak Tedjo menjauh baru masuk ke dalam rumah.
“Papa kira pak Tommy lagi yang antar kamu.”
“Ini bos cabangnya, Pah. Pak Tedjo.”
“Iya. Kamu sering cerita. Gimana kamu kerja pulang tengah malam terus begini, resign saja lah. Nggak bagus buat kesehatan, tahu! Kamu juga jadi nggak punya waktu buat keluarga, buat teman – teman. Hidup tuh harus seimbang.” Pesan papa yang bekerja di BUMN sejak baru lulus kuliah hingga saat ini.
Aku hanya mengiyakan pesan papa yang memang banyak benarnya.
Baru saja siap merebahkan diri, hapeku berbunyi tanda pesan masuk. Aku melihat pesan Tedjo, awalnya hendak kuabaikan, tapi saat baca di pop up isi pesannya sangat menarik.
Bpk. Tedjo : Kamu katakan hal senada ke ayah kamu soal uang lembur. Saya sudah ajukan khusus kamu & Amido akan terhitung lembur tiap pulang jam di atas jam 8 malam. Dgn catatan, absen pagi tidak lebih dari jam 9 pagi.
Bpk. Tedjo : Bisa dipahami kan, Tisha?
Dengan semangat ’45 aku pun membalas pesannya dengan nada template biasa.
Me : Baik, Pak.
Nggak perlu berterima kasih, karena itu memang hak kami dan kewajibannya sebagai atasan yang sering mengajak kami bekerja di atas jam tujuh malam.
Dengan wajah sumringah bahagia, aku mematikan lampu dan menaikkan suhu AC sebelum akhirnya merebahkan diri untuk tidur dalam damai karena tahu nominal di gajiku akan bertambah. Semoga dapat rapelan dari beberapa bulan sebelumnya. Amin. Hihihi.
•••