Yap, Tami pun bergabung dengan D&U, Pemirsaaaahh.
Hanya berjarak dua hari dari dirinya melamar kerja, proses singkat kepegawaian pun membuatnya langsung bisa bekerja hari ini.
Alih – alih laptop, perusahaan memberikan seperangkat komputer untuk Tami dan meja baru. Ia tak henti memandangi Bintang dengan mata berbinar. Ya, Bintang sedang menginstalasi semua perangkat untuknya bekerja. Dia pasti berpikir meja dan komputer baru berarti istimewa seperti di perusahaan kami sebelumnya.
Dia tidak tahu saja, di D&U setiap ada orang baru untuk bagian yang diekspansi pasti diberikan perangkat baru. Berhubung aku adalah orang yang sebelumnya ekpansi divisi klaim, aku mendapat laptop baru. Tetapi karena aku naik menjadi assisten a.k.a b***k Tedjo, otomatis aku membawa laptop lamaku dan penggantiku lah yang mendapat perangkat baru.
Jadi, itu tuh nggak istimewa – istimewa amat sebenarnya.
Tapi, aku menikmati ekpresi Tami yang merasa diistimewakan kali ini. Kemudian, sambil memangku laptop, aku meminta USB pada Gadis untuk memindahkan banyak file yang akan dibutuhkan Tami nanti.
“Mbak MJ, gimana jadi asisten bapak Tedjo?” Tanya Bintang sesaat setelah memastikan pak Tedjo tidak berada di ruangannya.
Tapi, reaksi Tami yang secara spontan membelalakkan kedua matanya padaku, membuatku memundurkan wajah demi menghindari pelototannya yang menyeramkan.
“Elo asisten pak Tedjo, Mon?”
“I—iya. Makanya elo gantiin posisi gue, kan...”
“Ck!” Dia berdecak sebal.
LHAAA?
Langsung saja, secara kompak dan terstruktur, wajah Risa juga Gadis menoleh padaku. Kami pun mengejek Tami saat ia sedang fokus ngedumel + menyesal dengan wajah menatap belakang kepala Bintang.
Anyway, pak Tedjo dan Amido sedang meeting di luar. Tadinya belio ngajak aku juga, tapi berhubung Tami baru masuk, akhirnya aku malah diminta serah terima pekerjaan dengan Tami selama seminggu dan mengajarinya tentang jobdesc lamaku. Jadi kedatangan Tami itu bikin senang sekaligus bikin sebal. Tapi sebalnya manjang sampai salah satu dari kami resign.
Daaaaannn, ide resignku ditolak mamah Teti tersayang yang sudah sehat, bugar dan galak lagi seperti sedia kala. Kata mamah, karirku akan bagus karena baru setahun saja sudah ada peningkatan posisi dan GAJI.
Padahal, jujurly nih, aku belum tahu berapa kenaikan gajiku sekarang.
Sebenarnya mamah tidak pernah menanyakan gajiku berapa atau bahkan memintanya. Tapi pasti menurut mama naik jabatan berarti naik gaji. Memang iya sih, tapi kan siapa tahu saja di D&U beda. Aku sih nggak mau berharap banyak. Bebas dari Tedjo saja sudah menjadi hadiah untukku.
“Mbak—siapa namanya tadi?”
“Tami, Mas.”
“Iya Mbak Tami, sudah bisa ya komputernya, tinggal masukkin data dari Lemon saja.”
“Tumben lo manggil Lemon, biasanya MJ.” Gadis menyahut di sela – sela percakapan Bintang dan Tami.
Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
“Hehehe.” Aku gemas ingin mencubit pipi Bintang kala dia terkekeh seperti itu, menggemaskan.
Tapi, kalau ingat obrolannya dengannya di telepon atau video call, auto-illfeel. Kami pernah video call dan nggak ngobrol apapun tapi aku melihatnya sedang nonton anime. Aku suruh fokus nonton dan matikan panggilan video, dia nggak mau. Prik banget kalau kata anak twitter mah.
Bukan tentang nonton aminenya, tapi lebih ke video call dan nggak ngobrol itu buat apa coba. Bikin panas hape saja.
“Kalau saya sebut MJ, nanti mbak Tami-nya bingung, Gadis.”
“Tami sudah langganan bingung kalau sama kita bertiga, Ntang.” Risa menyahut dari tempatnya.
“Ntang, Ntang, Rantang kali ah.” Pisuh Bintang pada Risa.
“Dari pada Bin, Bin, jadi recycle bin.” Balas Risa tak mau kalah.
“Tempat sampah dong!” Seru Gadis, kami semua menertawakan Bintang.
.
.
.
“Sudah ajarkan Tami semuanya?”
“Sudah, Pak.”
“Rambutmu, kuncir kek!” Tiba – tiba saja pak Tedjo mengeluarkan komentar yang sudah lama alpa kudengar dari mulutnya.
Yeah, aku habis warnai rambut lagi menjadi hijau stabilo, tapi bagus kok hasilnya. Nggak terlihat seperti mie glosor kena cat tembok mushola. Padahal aku sudah merapikannya sebelum mulai meeting dengan dia, pake tenaga dalam pula. Memang dasar Tedjo, segala hal yang berada di dekatnya akan berubah menjadi rusak dalam sekejap. Entah mood atau kunciran rambut.
Aku kembali merapikan rambut dan menguncirnya agar terhindar dari komentar sinis yang mulia Sawung Tedjo.
Untungnya, meeting kali ini dia tidak berulah. Aku sudah selesai jam tujuh malam dan langsung membalas ajakan Gavin yang menawarkan ide tempat nongkrong malam ini.
Gavin mewujudkan janjinya dengan mengajakku makan malam di tempat makan Seafood. Dan Gavin belum tahu kalau Tami sekarang pindah ke kantorku (untuk kedua kalinya).
Aku masih menimbang - nimbang, apakah perlu memberitahukan info ini ke Gavin sementara mereka berdua sudah putus. Lagi pula, aku menyukai hubungan kami sekarang. Meski tidak ada tanda - tanda dia akan segera mengungkapkan cinta atau apa, aku menyukai kebersamaan kami.
Tanpa membahas Tami atau cewek lain, Gavin sekarang lebih suka mengajakku ngobrol seputar investasi atau issue – issue terkini. Dia juga mendengarkan ceritaku seputar pekerjaan dan aku selalu siap mendengar cerita – ceritanya di kantor. Gavin punya banyak teman yang lucu dan super seru, dia juga janji akan ngajak aku nongkron bareng teman kantornya kapan – kapan.
Kapan? Ya nggak tahu, tunggu saja menurutku sih.
Gavin memesan lobster kecil dan kepiting besar beserta kawan – kawan (kerang, udang, cumi) yang porsinya bisa untuk empat sampai lima orang. Tapi, berhubung ini adalah aku dan Gavin yang memang selain doyan makan, juga memiliki suatu keanehan seperti entah mengapa perut kami rasa – rasanya tetap muat untuk menyantap mereka semua.
“Si kembar nggak suka Seafood juga ya, Sha?”
Sambil berusaha mengupas cangkak kepiting dengan pencapit dari penjualnya, aku menjawab pertanyaan random Gavin.
“He’eh. Mereka berdua sukanya ayam aja. Sebentar lagi juga bertelor tuh anak berdua.”
Gavin terkekeh menanggapi candaanku.
“Teh Nira juga?”
“Teteh mah masih mau makan ikan, cuma kalau yang ngerepotin kayak gini paling juga nyerah.”
Sebenarnya aku nyindir sih, tapi seru juga tangan belepotan bumbu saus padang dari makanan kami yang keras banget capitnya buset. Aku kan mau makan daging mereka.
“Sini, sini, aku aja yang bukain capitnya. Kamu pisahin kulit luar udangnya aja, Tt--Sha.”
Sebentar, sebentar. Ini barusan dia ber-aku-kamu sama aku, ya nggak sih? Ett, sebentar, dia keserimpet nyebut huruf T sebelum namaku itu maksudnya—iiihhh. Masih belum move on dia!
Apa aku kasih tahu saja ya kalau Tami sekarang resmi jadi b***k Tedjo juga?
Gavin melirikku takut – takut. Sepertinya dia menyadari kalau dia hampir memanggilku Tami tadi, aku jadi nggak tega melihatnya kayak nggak enak hati gitu.
“Santai.” Ucapku, Gavin tersenyum sekilas dan sekarang kepiting sudah beres dari urusan percangkangan dan percapitan.
Gavin menyodorkannya padaku untuk kumakan. Tanpa ragu, aku mengambil sisa capit kepiting yang kini sudah terbuka dan mengeluarkan dagingnya yang gemuk. Begitu merasakan dagingnya di mulutku, aku pun berseru pada Gavin, memuji rasa manis dan pedas kepiting yang barusan kumakan.
“Enak?”
“Banget!” Seruku kegirangan dan bersiap mengambil daging kepiting bagian lain.
Gavin pun bergabung denganku menikmati daging kepiting yang sudah banyak tercacah dengan menggoda. Kami larut dalam obrolan seru dan nafsu makan yang menggebu.
Banyak kecocokan antara kami dan aku menyukainya. Aku menikmati waktu bersama Gavin saat ini dan berharap bisa terus selamanya seperti ini. Gavin nggak perlu membalas perasaanku, asal bisa sama – sama terus, aku rela. Menjadi temannya seperti ini, aku mau – mau saja. Selama bisa bersamanya, menjadi tempatnya bercerita, menjadi orang yang ia cari untuk mengabarkan segala hal baik – buruk yang ia alami hingga teman di segala situasi, aku mampu terus berada di sisinya seperti ini.
Kami selesai makan dan kekenyangan. Aku bersandar pada dinding dan tidak lagi peduli Gavin menertawakan kepayahanku duduk.
“Begah.” Sesalku karena terlalu kalap menghabiskan ini semua berdua saja.
Gavin berdiri untuk mencuci tangan dan kembali sambil membawakan tissue lain yang masih baru dan mengansurkannya padaku.
“Tadi gue ketemu mamah lo, terus gue izin kalau mau ajak lo makan sekarang.”
“Terus, terus?”
“Eh si mamah bilang gini, ‘ya sekalian dipacarin Tisha-nya juga nggak apa – apa, Pin.’ Gitu.”
“Idih, idih si mamah. Seenak jidat nyuruh - nyuruh anak orang.” Aku misuh – misuh dan berusaha menyembunyikan rasa malu sekarang yang tak tertahankan.
“Hahaha. Memang ya si mama. Belum tentu juga anaknya masih mau sama gue.” Celetuk Gavin.
Ehhh, apaaaa???
“Hah?” Aku pura – pura b**o.
“Iyaa---elo kan belum tentu masih suka sama gue ya?”
“HAHHHHH?”
Sebentar, ini dia kok mikir aku pernah suka—oke aku memang pernah suka dan MASIH, masalahnya kenapa dia bisa tahu?????
Gavin berdeham beberapa kali.
“Ya mungkin mamah Teti nggak tahu seberapa gantengnya pak Tedjo dan nggak tahu juga kalau elo dekat sama Bintang, kan?”
Oke, Tedjo memang ganteng tapi dia iblis, terus Bintang? Aih please deh. DAN ELO MASIH CRUSH GUE, VIIINNNN.
“Yeee, mamah malah ngira gue pacaran sama Amido, tahu!” Sahutku. “Anyway, kenapa lo bisa bilang ‘belum tentu masih suka sama elo’ itu maksudnya gimana ya?”
Pura – pura b**o adalah jalan ninjaku untuk memuaskan perasaan kepo.
Gavin garuk – garuk kepala dan terkekeh kecil.
“Gue tahu sih elo suka sama gue, dulu.”
Dan MUNGKIN LO NGGAK TAHU KALAU GUE MASIH SUKA YA, VIN?
“Kok—lo nggak menjauh.”
“Kenapa harus menjauh?”
Aku mengangkat kedua bahu.
“Biasanya kan gitu, kalau tahu ada orang lain suka tapi kita nggak suka, kita bakalan menjauh kan?”
“Nggak lah. Elo kan tetap teman gue.”
Catet, TEMAN. Oke.
“Hmm...”
Suasana di sekitar kami tiba – tiba menjadi canggung. Perut begahku juga sudah lenyap entah kemana, berganti rasa malu karena ternyata Gavin menyadari perasaanku sejak dulu dan mengira aku sungguhan dekat dengan Bintang atau terdistraksi oleh visual pak Tedjo.
“Tami dulu sering cemburu kalau gue jalan atau kelihatan ngobrol sama lo.” Pengakuan Gavin membuatku mengangkat wajah dan menatapnya.
“Jadi, kalian berdua tahu?”
Gavin mengangguk dan bibirnya tersenyum, seolah perasaan sukaku adalah suatu hal yang sudah ia duga dan ia nyaman dengan itu.
Tapi, aku tidak nyaman sama sekali. Apalagi saat mendengar kalau Tami juga tahu dan mungkin di belakangku, mereka berdua menertawakan perasaanku yang terlunta – lunta karena tak berbalas dan harus tumbuh sendirian dengan mengenaskan.
“Kenapa Tami nggak bilang ke gue?” Bisikku.
“Kita sepakat untuk nggak bilang ke elo, takut elo malu dan menjauh.”
Aku berdiri dari dudukku dan meraih kedua tasku.
“Sekarang...gue malu, menyadari kalau kalian berdua tahu tapi memilih diam dan mungkin menikmati melihat gue seperti orang t***l yang menyedihkan karena perasaannya nggak berbalas dan masih sanggup berdiri di samping kalian sebagai---teman.” Suaraku tercekat, Gavin ikut berdiri dan berusaha meraih tanganku untuk menahan kepergianku. “Makasi makan malamnya. Gue cabut.”
Aku pun langsung menuju tempat aku memarkirkan kendaraan dan tak lupa bayar parkir. Setelah itu, aku pun melajukan motorku untuk kembali ke rumah dengan perasaan tak menentu.
Jadi, selama ini Gavin dan Tami tahu kalau aku menyukai Gavin. Keduanya tetap bersikap santai, bahkan nggak jarang Gavin mengajakku keluar untuk makan atau nonton bareng. Bahkan beberapa kali Tami juga sering menitipkan sesuatu untuk Gavin dan sebaliknya, menjadikanku kurir di antara mereka jika sedang sulit bertemu karena sibuk.
Beberapa kali aku mencoba menjauh dari Gavin demi menyelamatkan hatiku dan selalu,Tami akan tiba – tiba mempertemukan kami untuk sekedar nongkrong bareng. Semua itu dia lakukan saat dia tahu aku menaruh perasaan pada pacarnya. Dan mereka berdua nggak bilang apa – apa. Aku merasa t***l mengetahui ini semua.
Sesampainya di rumah, aku bahkan enggan menyapa keluargaku yang sedang berkumpul dan langsung masuk ke dalam kamar. Mengundang tatapan horor orang – orang di ruang tv karena aku melewati mereka begitu saja.
“Orang masuk rumah teh di mana – mana itu SALAM! Bukan nyelonong waeeeeee.” Teriak mama yang tidak kupedulikan dan langsung menutup pintu kamar. “Kayak nggak diajarin sopan santun.”
“Si teteh mah so fun dan santuy, Mah.”
Aku menyalakan musik dari playlist untuk meredam suara – suara di luar kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Kembali mengingat masa – masa di mana aku melalui hati yang retak karena berulang kali nongkrong bareng pasangan itu.
Apakah di belakangku Tami menertawakan ini? Aku menyukai pacarnya dan dia merasa menang karena berhasil membuatku tampak bodoh. Mungkin itu alasan dia selalu merasa kesal jika aku mendapatkan perhatian lebih dari Juwita, dulu. Atau aku dipuji oleh rekan – rekan kerjaku. Mungkin dia merasa, kalau semuanya hanya lah untuknya. Gavin dan segala perhatian itu.
.
.
.
Pak Tedjo dan Amido tengah meeting di luar. Membuat kami hanya berempat di dalam ruangan ini sekarang. Aku belum menceritakan soal semalam pada Gadis dan Risa, keduanya hanya bisa menebak kalau mood-ku sedang tidak bagus.
Tami sedang fokus pada layar komputer. Melihatnya seperti itu, membuatku kembali membayangkan masa lalu dan beberapa bayangan jahat tentang Tami yang senang kala itu sangat menggangguku.
“Tam,”
“Ya?”
Dia hanya menyahut tanpa memalingkan wajah.
“Lo dari dulu tahu kalau gue suka sama Gavin?”
Aku bisa merasakan Gadis dan Risa terkejut dengan pertanyaanku, dan Tami hanya menoleh dan mengangguk sambil tersenyum.
“Tahu lah! Siapa yang nggak tahu. Jelas banget kok.”
“Lo tahu tapi nggak bilang apa – apa, padahal saat itu Gavin pacaran sama lo.”
“Memang gue harus bilang apa?”
“Mungkin, minta gue jauhin Gavin. Untuk nggak terlalu dekat sama cowok lo, gitu.”
“Hahaha. Buat apa? Gue tahu kok Gavin nggak akan selingkuh sama lo atau gimana.”
“Maksud lo?”
“Ya jelas kan,” Tami melambaikan tangan menunjuk wajahnya sendiri dan melanjutkan perkataan. “Nggak mungkin Gavin selingkuh dari gue ke elo.”
Dia terkikik di akhir kalimat, sebaliknya, aku bangkit dari kursi dan berjalan mendekatinya.
“Maksud lo, gue lebih jelek dari elo?”
Risa ikut berdiri dan Gadis tiba – tiba sudah berdiri di antara aku dan Tami, seolah ingin menengahi.
“Ya memang—lo nggak merasa?”
“HAHH??”
“Mon, Mon—sudah Mon, ngalah aja.”
“Ngalah dan ngaku jelek? HEH!” Aku mendorong bahu Tami dengan sengaja, dia terkejut dan ikut berdiri. “Lo pikir lo siapa, hah? Sok cantik banget tingkah lo.”
“Ya memang gue cantik. Kalau elo lebih cantik, Gavin pasti milih lo daripada gue.”
Ihhh aku ingin menjambak rambutnya kalau saja tangan Gadis tidak lebih dulu menampar Tami. Aku juga terkejut melihat Gadis se-frontal itu.
“Diam, Tam. Dari dulu memang mulut lo racun. Tingkah lo menjijikan. Kalau masih mau kerja di sini, diam lo.” Gadis menarik tanganku dan membawaku kembali ke tempatku. “Elo juga, kalau mau nyari ribut, di luar jam kantor. Kita nggak tahu siapa saja bisa masuk ke ruangan dan lihat adegan tadi. Di sini nggak toleransi keributan.”
Aku mengalah dan duduk dengan emosi belum selesai, tapi Gadis benar. Lagipula, Tami memang seburuk itu sejak dulu, seharusnya aku tidak terkejut lagi. Aku hanya masih kesal mengetahui—yang sudah kuulang – ulang di atas itu.
•••