Semalam aku pulang jam setengah satu pagi. Dan sepanjang jalan diiringi salah seorang security yang sedang bertugas, pak Ijul. Tega banget memang si Tedjo.
Padahal papa sudah menelpon tiga kali sejak jam delapan malam, jam sepuluh sampai jam sebelas. Dan Tedjo baru memulangkanku jam dua belas lewat dua puluh menit. Sementara dia dan Amido masih melanjutkan meeting yang katanya belum selesai.
Aku mau nangis saja saat turun ke lantai satu yang sudah gelap dan tidak ada orang sama sekali. Takut ada penampakan, apalagi di lantai satu itu aku harus melewati gudang stok yang sudah gelap dan hanya berdinding kaca yang membuat area dalam gudang kelihatan dari koridor tempat aku berjalan menuju pintu utama itu. Dan jaraknya dari tangga menuju atas ke pintu utama itu jauuuuuhh banget, kalau sendirian dan gelap.
Saat sedang menstarter motor, tahu – tahu pak Ijul mendekat dan mengatakan akan mengiringi motorku sampai rumah. Meninggalkan rekannya yang berjaga sendiri di pos, pak Ujang.
Begitu sampai rumah, aku disambut papa yang menahan kantuk demi menunggu anak gadisnya pulang. Langsung saja aku mengeluarkan segala keluh kesah dan meminta izin untuk resign pada papa. Aku mendapatkan pelukan yang menenangkan dan papa memintaku melakukan apapun yang ingin kulakukan. Papa juga mengatakan agar aku tidak perlu memaksakan diri bertahan di kantor saat ini jika memang sudah tidak dapat kutahan.
Hari ini aku sengaja datang jam setengah sepuluh. Kalau Tedjo menegurku, aku ingin beralasan kalau aku terlalu lelah untuk bangun pagi tadi. Eh tapi dia malah baru datang setelah makan siang, tiga puluh menit setelah Amido.
Amido mengatakan padaku kalau dirinya baru pulang jam tiga pagi.
“Ngapain aja sih sampai ‘sahur’ di kantor?” Risa menyeruak di antara obrolanku dan Amido sesaat setelah memastikan pak Tedjo naik ke ruang meeting.
“Biasa lah, Bro. Dia kan perfeksionisssssss. Nggak boleh ada cacat, cela, noda, dosa setitik pun di laporan yang dia minta.”
“Performance gue aja belum kelar, sudah ditambah format macam – macam. Bikin rumus baru, makin berat deh file gue. Belum lagi report yang dia minta. AAAAKKKKKK KENAPA HARUS GUE SIH YANG JADI ASISTENNYA??!!”
Aku meletakkan kepala di atas meja Amido, menghembuskan napas dan kembali memikirkan soal resign.
“Gue pengen cabut aja rasanya.” Bisikku.
Gadis mendekat dan menepuk punggungku.
“Tunggu THR, Mon. Sayang banget kalau lo resign sekarang.”
Aku sudah tidak peduli lagi dengan THR, pokoknya hanya mau keluar dari D&U dan terbebas dari kungkungan Tedjo yang sok berkuasa.
“Jadi, semalam lo pulang tengah malem bareng sama maling keluar itu kerjaan lo belum kelar juga?”
Aku mengangguk sedih, Risa merangkulku sebentar dan memberi pukpuk ringan di punggung belakang.
“Sekarang doi meeting sama siapa?”
“Principle baru. Aduh nambah deh kerjaan gue.” Aku mengacak – acak rambut frustasi.
“Lusa meeting performance, don’t forget!” Amido menepuk kepalaku, membuatku semakin ingin menghilang dari D&U sekarang juga.
Reportku saja belum rapai, ditambah harus segera membuat hasil performance agar bisa digunakan saat meeting dengan semua Supervisor dan Manager sales lusa nanti. Harusnya aku bisa mengatakan ‘tidak’ saat dengan semena – mena Tedjo mengangkatku menjadi asistennya.
Tedjo turun jam enam sore dan memintaku melanjutkan meeting dengannya. Aku hanya mengikutinya masuk ke dalam ruangan tanpa protes atau bicara. Saat jam makan malam, ia bertanya aku ingin makan apa yang kujawab sedang tidak nafsu makan.
Tedjo menghela napas dan melihat jam di pergelangan tangannya.
“Hmm. Yasudah, sampai sini dulu deh. Besok kita akan meeting dengan atasan tim sales untuk bahas performance mereka. Mulai jam sembilan dan kamu moderatornya, jangan sampai mereka makan waktu untuk menyampaikan apa saja yang harus disampaikan. Kamu istirahat saja sekarang, meeting besok bisa sampai malam.”
Aku mengangguk dan segera berlalu dari ruangannya.
Saat keluar dari pintu utama, aku melihat jam di hape. Masih jam tujuh, aku pun segera menuju motor dan mengendarainya dengan riang gembira. Sekali – sekali memang harus frontal bersikap di depan si Tedjo, biar dia tahu kalau budaknya juga masih manusia. Pulang malem berhari – hari kok dijadikan habit.
Sesampainya di rumah papa menyambutku dengan senyum lebar. Kebetulan belum makan malam semua dan pesanan papa baru sampai. Pas banget, perutku lapar.
Kalau di depan Tedjo tadi memang nggak nafsu makan, lebih nafsu nebas lehernya dia soalnya.
.
.
.
Kalau dihitung, mungkin ini kuapan kantuk yang ketigapuluh tujuh kali.
Bukan hanya bosan, pantatku rasanya kebas karena kebanyakan duduk di samping Mr. Tedjo.
Sesi bu Gina banyak disela oleh pak Tedjo maupun pak Tommy, benar – benar sangat menguras waktu dan tenagaku yang sudah lima watt. Dan lima botol kopi dari Starbucks masih terlihat menggiurkan di tengah meja. Bahkan tetesan embun di botolnya sangat menggodaku untuk segera membukanya.
Seolah mengerti, tangan panjang pak Tedjo terulur ke kumpulan botol kopi itu berada, ia mengambil salah satu botol kopi yang masih dingin. Membuka tutupnya dan meminta gelas kertas pada Amido yang dekat dengan rak gelas. Dia mengambil lima gelas dan menuangkannya sendiri. Satu gelas diulurkan ke dekat laptopku, ia juga memberi isyarat menggunakan kepalanya yang terarah pada gelas itu untuk kuminum.
Aku mengangguk dan langsung saja meneguk kopi yang semoga saja mampu mempertahankan kewarasanku sore ini. Feelingku mengatakan meeting ini bisa sampai tengah malam.
Sesi masing – masing kepala sales memang banyak memakan waktu, mereka harus menjelaskan tentang ; pencapaian, target vs achievement, sales plan dan banyak lagi yang intinya untuk meningkatkan penjualan.
Aku sebagai moderator harus menghentikan mereka kalau penjelasan yang diutarakan mulai melantur kemana- mana, seringnya terjadi karena mereka beralasan tentang ketidak-achieve-an sebelumnya.
Roti – roti mulai dikeluarkan jam lima sore. Perutku yang kelaparan membuat sel malu – malu dalam tubuhku lenyap seketika. Begitu Gadis meletakkannya di atas meja, aku langsung mengambil dua roti untuk mengganjal perut. Tak ada yang memperhatikanku kecuali pelototan mata Gadis yang hendak keluar ruang meeting.
Aku tidak peduli dan kembali fokus pada penjelasan pak Indro, Manager tim sales bagian General Trade.
Tujuh puluh persen orang – orang sales di ruangan ini, aku yakin berusia lebih tua dari pak Tedjo. Tapi, semua menaruh respect padanya karena jabatan si Tedjo ini yang paling tinggi di cabang ini.
Tapi nggak tahu deh di belakangnya, beberapa kali aku pernah dengar tim sales gibahin pak Tedjo juga sih.
Siapa juga yang nggak gatel gibahin. Punya istri cantik sering ditinggal kerja sampai pagi. Giliran cerai, dia uring – uringan, semua orang kena semprot. Soal pekerjaan, nggak terima cela padahal kesempurnaan kan hanya milik Tuhan ya?
Adzan Maghrib berkumandang, kompak semua orang yang berada di ruangan (kecuali Tedjo) menghembuskan napas lega. Pak Tedjo mengatakan ‘break’ dan kembali jam setengah tujuh katanya. Dia menelpon pak Amir untuk memasukkan pesanan makan malam ke ruang meeting.
Bu Gina merangkul bahuku, kami turun ke lantai dua sambil mengobrol. Amido menyeruak di antara bu Gina dan aku, kemudian merangkul kami berdua sembari nimbrung obrolan santai kami.
Begitu sampai di lingkaran tangga ke dua, aku mendongak untuk melihat langkah siapa yang tak bersuara di belakang kami. Ternyata pak Tedjo sedang berjalan dengan mata fokus menatap layar hape.
Aku menyikut Amido dan menyuruhnya melihat ke belakang, Amido berbisik. “Sumpahin kesandung, jangan?”
Belum ada lima detik ngomong begitu, Amido lah yang tersandung kakiku dan hampir menarik kami bertiga terjatuh di tangga. Untungnya tangan kananku sigap meraih pinggiran tangga yang berbahan besi untuk menahan tubuh kami semua.
Bu Gina tertawa dan aku spontan menepuk punggung Amido sekuat tenaga sambil teriak, “kualat lo!”
Pak Tedjo hanya memandangi kami bertiga dengan pandangan heran dan melewati kami begitu saja tanpa tertarik bertanya atau peduli. Aku mencaci di belakangnya saat punggungnya sudah hilang dari balik pintu masuk ruangan kami.
“Autokarma, sial!” Amido misuh – misuh.
Aku dan bu Gina menertawakannya sampai perut kram.
.
.
.
Aku datang agak siang, jam sepuluh.
Semalam meeting performance bersama tim sales selesai jam dua belas malam. Aku diantar pak Tommy sampai depan rumah dan disambut papa seperti biasa. Pak Tommy menjelaskan pada papa kalau memang rapat bulanan sering memakan waktu seperti ini dan menyuruhku beristirahat segera.
Coba kalau Tedjo yang antar, turun tanpa ditendang saja sudah bagus. Boro – boro dia akan bersikap sopan dan menjelaskan pada papaku alasan anak gadisnya harus sampai rumah saat hari sudah berganti.
Aku juga meninggalkan laptop di brankas kantor dan motor di parkiran. Jadi, hari ini aku naik ojek ke kantornya karena papa sudah berangkat dari jam tujuh.
Tiba di lantai dua dengan susah payah, aku dikejutkan oleh sosok seorang wanita muda yang sedang duduk di salah satu meja sales dan tersenyum padaku ketika ia menyadari kedatanganku.
Itu Tami, duduk sambil memeluk amplop coklat yang bisa kuduga adalah CV lamaran kerja.
“Hai, Mon! Siang banget datangnya.”
“Lemon mah yang punya kantor, Tam.” Dengan senang hati Gadis menjawab untukku.
Aku menyapa Tami sekilas dan langsung duduk di tempatku.
Amido dan pak Tedjo juga belum datang, aku sedikit santai memulai pekerjaan dan malah membuka grup untuk menyemprot Risa.
Saya : KENAPA TAMI NGELAMAR DI SINI WOY?
Risa lah Hati : Gw hide dia, tapi kayaknya tmn2 lain yg forward info lowker ke dia
Saya : Alasan lo Saaaaa! Ih jgn diterima kek Sa. Nggak mau gw sekantor lg sama dia
Gadis Bukan Janda : GPP DONGGGG. GW MAO LIAT LEMON SENEWEN SM TAMI DEHHHH...
Aku memutar kursi dan menatap Gadis dengan pandangan sebal, Gadis terkikik pelan di balik laptopnya.
Amido dan pak Tedjo datang di jam makan siang, naiknya barengan. Nggak tahu deh apa mereka juga tidur bareng. Eh.
Dan aku sudah menduga, saat melihat pak Tedjo, kedua mata Tami berbinar cerah. Tatapannya tidak lepas bahkan ketika pak Tedjo sudah memasuki ruangannya dan menutup pintu. Tami masih terpaku pada ruangan yang dilapisi kaca film dan blur itu.
Aku mendelik sebal ke arahnya dan kembali melihat laptop saat ia memalingkan wajah ke arahku lagi.
“Nggak pulang gue, Bro.” Terang Amido, tanpa kami tanya.
Dia memang over sharing kadang – kadang, yang nggak perlu dibagikan pun dia share dengan senang hati.
“Lha? Jadi semalam lo kemana?” Gadis semangat bertanya, sementara kami pura – pura sibuk sehingga tidak ada waktu meladeni Tami.
Tapi sepertinya Risa sudah sempat memproses Tami dan menyuruhnya tes dasar sebelum bertemu dengan pak Tedjo untuk diwawancara.
“Gue nginep di rumah dia noh.” Amido menggerakkan kepalanya menunjuk ruangan pak Tedjo. “Motor gue nggak bisa distarter semalem. Tadinya mau dianterin, eh anaknya nangis katanya nyariin bapaknya. Yaudah gue nerus ke rumah dia. Disuruh nginep deh.”
Tepat saja dugaanku tadi.
“Eh kok anaknya sama dia sih? Bukannya kalau masih di bawah umur ikut emaknya yee?” Kali ini Risa yang bertanya.
“Katanya sih, kalau ibunya ketahuan selingkuh, hak asuh anak jatuh ke bapaknya.” Jawab Amido.
“Jadi....” ucapan Gadis menggantung karena si objek gibah keluar ruangan dan bertanya pada Amido sebentar dan masuk lagi ke ruangannya yang kali ini diikuti Risa.
Nggak lama, Risa menyuruh Tami masuk ke dalam ruangan pak Tedjo untuk diwawancara.
Langsung saja kepalaku dan Gadis mendekat untuk menebak – nebak, apakah Tami akan menggoda pak Tedjo di dalam sana? Dari jauh Risa memberi isyarat agar kami berdua nggak kelihatan mencolok gibahnya, tapi lama – lama dia juga ikutan dan merapatkan barisan.
“Taruhan, Tami pasti bakalan ngechat salah satu dari kita untuk bilang Tedjo ganteng.”
“Plus iri karena kita kerja di sini duluan.”
“Dan berharap dia juga diterima kerja di sini.” Aku menutup dugaan terakhir, kami bertiga mengangguk dan kembali ke tempat masing – masing.
Kenapa kami bisa yakin? Ya kami adalah cenayang kalau urusan menebak – nebak Tami doang. Dia terlalu transparan sifatnya, sehingga mudah banget ditebak.
Mungkin empat puluh menit, wawancara Tami selesai, ia pun keluar dari ruangan pak Tedjo dengan wajah memerah malu – malu. Tami juga berpamitan pada Risa lebih dulu, kemudian Gadis baru aku. Tak lupa ia juga menyapa Amido sebelum melangkah keluar.
Kurang dari lima menit, sebuah pesan masuk ke salah satu dari hape kami bertiga yang sengaja dijajarin di atas meja Gadis. Kali ini yang ketiban sial ya Gadis, ada pesan dari Tami yang langsung kami baca bersama.
Tami Racun Dunia : Kok kalian nggak bilang2 sih punya manager bening bgt. Mantan suaminya artis terkenal pula
Tami Racun Dunia : Tahu gini, gw resign setelah Lemon trus ikut masuk sini ya. Kalian pasti happy terus di kantor bisa cuci mata sama satu orang yang visualnya adem kayak ubin Masjid
Tami Racun Dunia : Semoga gw diterima ya sama doi. Gasabar deh kerja bareng kalian lagi
“HALAAAAAAHH---“
“Madrid!” Sambung Amido cepat, secepat hembusan angin laut.
“Jangan proses, Sa, please. Dia bisa jadi provokator jilid dua di sini.” Aku memohon pada Risa dengan mata melotot, yang kupelototi hanya mengangkat kedua bahu tak berdaya.
Pak Tedjo keluar dari ruangannya sambil membawa CV, aku yakin itu milik Tami. Ia hendak menyerahkannya pada Risa dan berkata, “buat gantinya Letisha ya. Sha, nanti kamu ajarin anak baru tadi ya, dia untuk replace kamu.”
Meski aku tahu tidak dapat mengendalikan segala hal yang terjadi di sekitarku, aku yakin cukup pandai mengendalikan diri untuk tidak menerjang Tedjo dan merobek – robek CV yang sedang ia lambaikan padaku. Jadi, aku hanya menghembuskan napas (pasrah) dan berkata, “baik, Pak.”
TEMPLATE jawaban yang paling kubenci di D&U.
Apa aku perlu menelpon Gavin dan merayu Tami agar ia menolak pekerjaan di D&U? Tapi kalau mereka komunikasi lagi, mereka bisa balikkan lagi dong.
Apa aku umpankan Tedjo ke Tami saja ya, agar Gavin terbebas selamanya dari Provokator itu?
•••