Ada Udang Di Balik Bakwan

2336 Kata
Semalam, aku memutuskan bicara dengan mama. Mencoba mengerti sudut pandangnya sebagai ibu yang sedang menolak lamaran untuk anaknya. Papa pun mendukung niatku dan memberi kami ruang untuk bicara di dalam kamar mereka. Tapi yang bisa kulakukan hanya mendengarkan curahan hati mama. “Kenalnya sudah lama mereka.” “Logis nggak baru cerai dua bulan sudah memutuskan nikah sama orang lain. Kalau bukan karena memang sudah dekat dari lama, kok bisa yakin. Cerai kan berarti gagal membina rumah tangga. Memang dua bulan cukup untuk intropeksi diri?” “Beda umurnya juga jauh banget, Sha. Anaknya masih SMP, nanti dia sudah pensiun. Itu Nira kenapa sih ngebet banget. Memang Mama papa mendesak dia untuk buru – buru nikah?” “Telat dikit nggak apa – apa, tapi dengan laki – laki yang baik. Bukan yang pernah gagal.” “Apalagi alasan cerainya karena nggak cocok. Kenapa baru sadar saat sudah sepuluh tahun nikah?” Dan aku hanya bisa menenangkan mama yang berapi – api dalam menjelaskan alasannya menolak mas Restu padaku. Semalam. Aku terkejut sekarang melihat pak Tedjo menjentikkan jarinya di depan wajahku. “Masih pagi. Kok semangat joggingnya hilang?” Aku berdiri dari duduk di anak tangga, menepuk – nepuk p****t membersihkan debu dari sana. Tak lupa mengucapkan selamat pagi pada pak Tedjo dan membiarkannya berjalan lebih dulu memasuki ruangan. Ia pun mendorong pintu ruangan setelah beberapa saat menatapku dengan pandangan judes campur tak mengerti karena aku tidak merespon kesinisannya. “Kesambet apa dia duduk di tangga pagi – pagi begini?” Pak Tedjo bertanya pada Gadis, yang ditanya hanya nyengir kuda seraya berkata ‘tidak tahu’. “Bawa laptop, ke ruangan saya.” Padahal dia baru datang dan sedang membuka kunci ruangannya lho. Bisa – bisanya langsung kerja. Nggak mau ngulet dulu gitu, main i********: kek kayak aku dan dua bestie. Atau sarapan kayak Gadis, boleh juga nyeduh kopi sachet kayak Risa. Amido bahkan belum datang dan bosnya—maksudku, bos kami, lebih rajin dari dua kacungnya. Luar biadab memang. Baru saja aku hendak masuk ke ruangan bosque, eh disalip bu Gina dan pak Tommy. Jadi, aku putuskan menunggu mereka berdua selesai bicara dengan pak Tedjo baru masuk ke dalam sana. Aku merecoki Gadis yang sedang sarapan dengan mengambil gorengan cireng miliknya dengan gesit, membuatnya terbelalak kaget seolah baru saja dijambret. Iya sih, curanreng alias pencurian cireng. Aku juga ikut menyeduh kopi seperti Risa dan menyemangati tim sales yang baru saja selesai briefing kemudian bersiap untuk segera ke lapangan. Pak Anto bahkan mendekat dan mengajakku ngobrol seputar kopi. Padahal kopi yang aku ngerti hanya sachet. Anak warung kopi banget kita mah. Pak Anto menyarankanku untuk mencoba kopi Liong. Aku bilang akan mencarinya nanti. Satu persatu para sales pun pergi, meninggalkan kami para b***k Tedjo sendiri. Aku kembali memeriksa ruangannya dan masih ada kedua orang tadi. Spv dan manager sales. Jadi, aku pun memulai pekerjaanku sembari menunggu dua orang itu selesai. “Hai Mary Jane!” Bintang berjalan masuk sambil menenteng laptop dan menyapa Gadis – Risa juga. “Elo Peter Parker apa gimana, Ntang?” Gadis meledeknya. “Peter Parkir dia sih.” Risa menyahut, kami terbahak bersama. Bintang hanya nyengir dan menarik kursi dari meja sales ke mejaku. “Sudah sarapan, Mbak MJ?” “Sudah dong.” “Lemon kalau belum sarapan bisa - bisa merangkak datang ke kantor, Ntang.” Aku memanyunkan bibir untuk Gadis yang melengkapi jawabanku. “Mau ngapain?” Aku bertanya pada Bintang yang tampak bekerja di mejaku dengan laptopnya. “Mau ngomong ke pak Tedjo. Mau buat pengajuan beli perangkat baru.” “Untuk?” “Nggak tahu ya, mau ada tim finance di sini.” “Oh? Jadi?” “Cabang Jakarta mau dibuat mandiri. Sekarang kan baru HR saja yang pecah sendiri, nanti ke depannya tim finance juga sendiri terpisah dari HO.” “Oohh. Pak Nugie di sini?” “Pak Nugie katanya seminggu tiga kali ngantor di sini, sisanya HO.” “Sama saja bohong. Pak Nugie kan orang HO.” “Tapi dia kepala finance-nya. Mungkin buat manager dan timnya di sini.” “Ooh.” Amido datang dan menyapa kami semua, kemudian Bintang pindah ke meja Amido dan mengobrol dengannya sambil kerja. Obrolan seru mereka ikut terdengar oleh kami juga ; aku, Gadis dan Risa. Gadis bahkan sering menimpali. Aku sibuk mengerjakan yang pak Tedjo perintahkan sejak kemarin dan beberapa rumus yang sudah dibuat olehnya banyak yang rusak. Aku sedang belajar memperbaikinya dibantu mbah google. Kalau ketahuan, bisa digetok aku. Tangan Mr. Tedjo lebih aktif saat sudah kenal lama. Beberapa kali aku dipukul pakai gulungan kertas. Nggak sakit sih, kesel doang. Sebenarnya aku yakin dia aslinya konyol deh, hanya sama para cungpretnya saja mungkin dia sok cool dan berkharismatik. Coba kalau sama teman – teman mainnya, bisa saja dia memang ngocol abis orangnya. Aku sotoy saja sih, aku pernah lihat pak Tedjo ngomong gue – elo dengan orang principle yang sepertinya mereka Bestie gitu. Pintu ruangannya terbuka, bu Gina dan pak Tommy berjalan keluar diikuti pak Tedjo. Mereka masih berbincang mengenai target, penjualan dan pengiriman. Sampai di depan mejaku, pak Tedjo dengan sengaja mengetuk permukaan meja sebanyak dua kali. Ia mengisyaratkanku untuk masuk ke ruangannya dengan mengarahkan ibu jarinya ke dalam ruangan. Sementara dirinya kembali berjalan hingga ke pintu depan dengan dua orang tadi. Aku pun mengambil hape, laptop dan buku catatan untuk memasuki ruangannya yang sekarang kosong. Ruangannya wangi hmm bunga apa ya? Bukan mawar atau melati. Hmm pokoknya wangi bunga. Aku mencari sumber aroma dan melihat reed diffuser dengan tiga stik kayu yang mentransfer aromanya ke seluruh ruangan. AC yang menempel di atas temboknya turut menyebarkan ke segala penjuru di ruangan berukuran studio ini. Ada kulkas satu pintu di sudut ruangan pak Tedjo, posisi di belakang kursinya yang besar dan beroda. Terdapat lemari dengan isi dokumen, buku – buku, terus beberapa semacam piagam penghargaan juga ada semacam tanda kerjasama seperti plakat yang diatur di atas rak setengah meter itu. Dengan rapi tentunya. Oh ada foto pak Tedjo dan Cimoy masih bayi juga. Sejak awal aku masuk perusahaan ini dan ruangannya, foto Anita Marra memang tidak pernah ia pajang di dalam ruangan, profil atau status – status whatsappnya. Profil picturenya masih foto dirinya dan Cimoy masih bayi. Belum ganti sudah setahun berlalu, atau mungkin sejak foto tersebut dipasang di waktu yang sama ia mengambil gambar itu. Belio tipe orang yang hanya share seputar pekerjaan atau informasi terkait pekerjaan ; Perubahan harga materai, kenaikan ppn, kenaikan harga – harga dan sebagainya. Profesional lah. Sulit mencari cela-nya sosok ini. Padahal aku yakin, tidak mungkin dia nggak punya kehidupan sosial di luar pekerjaan kan? Hapeku bergetar, ada pesan dari Gavin yang mengajakku hangout nanti malam. Aku membalas kalau aku tidak bisa memastikan pulang jam berapa. Sekitar lima belas menit aku sendirian di dalam ruangannya yang sejuk, hingga akhirnya si pemilik ruangan masuk dan duduk di kursinya. “Saya sudah minta Angie kirim semua report cabang Tangerang ke kamu, nanti kamu yang compile ya. Masukkan ke file perfomance yang gabungan Jakarta dan Bogor.” “Saya pegang tiga cabang, Pak?” “He’eh.” Ia menjawab dengan yakin dan melihatku seolah aku baru saja berjalan melayang. Takjub. “Kamu tahu kan saya pegang tiga cabang?” “Enggg...” sejujurnya aku tahu. Tapi nggak tahu kalau beban pekerjaan ini dibebankan padaku semua. Eh tolong, tiga cabang di-compile jadi satu. Cabang Jakarta saja datanya ribuan. “Makanya saya upgrade posisi kamu, Amido sudah kewalahan. Dia jadi supply chain juga, untuk tiga cabang.” “Oke.” “Ya kalau klaiman memang per region, tapi kamu kan asisten saya. Pekerjaan kamu adalah perbantuan untuk pekerjaan saya. Paham kan?” “Paham, Pak.” “Oke. Buka file yang kemarin saya minta.” Kami pun mulai berdiskusi, mengolah data, merapikan beberapa hal dan banyak lagi. Sampai – sampai aku tidak menyadari bahwa jam makan siang sudah lewat. Aku baru ngeh saat perutku berbunyi kriuk kriuk keroncongan. Pak Tedjo berhenti bicara, melihat jam dan bertanya aku akan makan siang apa. Aku menoleh ke arah luar ruangan, tempat aku dan teman – teman lain di lantai ini. Gadis dan Risa jelas baru datang dari makan siang entah di mana. Sementara Amido tidak ada di tempatnya yang kutebak masih makan siang dan mungkin merokok juga di bawah. “Nggak tahu, Pak. Paling makan mie ayam di dekat sini.” “Kok makan mie ayam, memang kenyang sampai sore?” “Kenyang lah, memang perut saya torren air. Ehhh.” Aku keceplosan berbicara santai. Ini pasti faktor lapar, sehingga otak dan lidah tidak sinkron dalam bertindak. Tapi pak Tedjo hanya tertawa kecil menanggapi perkataanku. “Yasudah kamu makan siang dulu sana.” Usir yang Mulia Tuan Tedjo Buwono. “Baik, Pak.” Aku berdiri dan hanya membawa hapeku keluar. Kutinggalkan laptop serta notes karena yakin ini semua masih berlanjut. Tedjo memang makhluk perusak ketenangan batin para budaknya. Aku menghampiri Gadis dan meminta inspirasi makan siang apa yang harus kusantap hari ini. Bukan hanya demi kelangsungan hidup, tapi juga yang mampu memperbaiki mood dan membuatku bertahan hingga malam nanti di bawah naungan makhluk bertingkah seperti iblis tapi sayangnya berparas malaikat itu. Malaikat maut kali ah! “Gado – gado setan yang di pengkolan. Dijamin mata lo melotot sampe malem. Jadi, kalau pak Tedjo lagi tanya – tanya, lo lihatin mukanya sambil melotot. Pasti dia auto menyelesaikan meeting dalam sekejap.” “Serem ya gue kalau melotot?” Aku memeragakannya pada Gadis. “Iya serem. Udeeh, udeeehh, buruan makan. Sebelum bola mata lo menggelinding beneran.” Aku memanyunkan bibir dan segera mengambil dompet. “Mon, titip Thai Tea di depan Alpa dong!” Teriak Risa. Aku hanya melambaikan tangan ke atas sambil memberi tanda oke dengan jempol dan telunjuk yang membentuk huruf O. “Rasa thai tea yang original yeee!” “Iyeeeee!” Sahutku berteriak seraya memutar tubuh. Eeeeehhh, tahu – tahu pak Tedjo sudah berada di belakangku persis. Hanya berjarak satu rentang tangan. Ia menatapku dengan wajah terkejut dan mata melotot sempurna. Spontan aku langsung meminta maaf dan berlari turun agar tidak perlu jalan bersama dengannya sampai bawah. Sampai di depan mushola anak – anak gudang, aku berhenti untuk mengatur napas. Di sana ada Amido sedang memakai sepatu. Aku pun duduk di sampingnya dan bertanya dia sudah makan atau belum. “Ini baru mau. Lo mau makan di mana?” Sambil melirik takut – takut ke pintu utama, aku menarik lengan Amido agar kami segera pergi sebelum kelihatan mata Mr. Tedjo. Ealaaah Amido sempat – sempatnya berhenti untuk mengobrol dengan salah satu supir. “Cepetan iiihh! Bapak lo di belakang gue tadiiii.” Aku berbisik. Amido pun melambaikan tangan pada supir yang baru saja ia ajak ngobrol dan kuseret menuju tempat motorku diparkir. Aku memberikan kunci pada Amido, di waktu yang bersamaan pak Tedjo memanggilnya. “Baru mau makan kamu?” Belio hanya bertanya pada Amido. “Iya Pak, nih diseret nenek sihir ini.” “Ikut saya saja. Ayo, Tisha!” Titah yang Mulia Baginda Tedjo Buwono. Amido langsung melepas tanganku dan mengikuti bapaknya untuk duduk di dalam mobil Pajero hitam terbaru itu. Dengan sangat terpaksa, aku berjalan mengikuti keduanya dan duduk di kursi belakang. Di kursi sampingku, masih terpasang baby car seat bekas si Cimoy. Aku dicuekkin sejak mobil pak Tedjo keluar dari parkiran kantor kami. Keduanya mengobrol seru soal entah apa, aku asyik berbalas pesan dengan Gavin dan Risa. Aku meminta maaf pada Risa karena tidak bisa membelikan Thai Tea pesanannya. Ya kali aku minta mampir di Alfamart hanya untuk membelikan segelas minuman penuh kandungan gula untuk salah satu cungpret yang Mulia Baginda Sawung Tedjo. Jelas tidak mungkin. Tumben sekali kami makan hanya sebentar dan langsung kembali ke kantor. Biasanya makan siang di luar bisa memakan waktu sampai dua jam. Mungkin karena kami baru makan di luar jam makan siang juga, jadi restoran yang kami datangi sudah agak sepi. Saat lewat di depan Alfamart, pak Tedjo berbelok dan memarkirkan mobilnya di depan Alfamart. Amido menoleh ke belakang dan bertanya padaku, apakah aku hendak mampir? Aku menggeleng kecil. Kemudian pak Tedjo mengingatkan, “bukannya tadi Risa nitip tea – tea apa gitu? Di sini kan?” Whoaaaaaa. Sejak kapan dia memperhatikan omongan para cungpret? “Nggak apa – apa, Pak?” Tanyaku takut – takut. “Ya nggak apa – apa lah. Saya juga mau beli sesuatu.” Dia turun juga diikuti Amido yang mengekor di belakangnya. Aku pun memesan pesanan Risa dan menelpon Gadis, menanyakan mungkin dia mau juga. “Mau mampir pak Tedjo?” Gadis terdengar tidak percaya. “Iya nih. Dia inget aja si Risa nitip minuman.” “Inget lah pasti. Wong dapat semprotan teriakan dari elo hihihihi.” Seketika aku teringat adegan tadi, saat tidak menyadari pak Tedjo di belakangku dan dengan percaya diri menyahuti teriakan Risa dengan gaya meledek. Pesananku sudah selesai lebih dulu, aku pun menunggu si bos dan kacung satu di samping mobilnya. Keduanya keluar tak lama, Amido membawa tas besar berisi belanjaan yang cukup banyak dan mengacungkannya padaku. Aku hanya mencebikkan bibir ke arahnya dan kami kembali ke kantor untuk melanjutkan bekerja. Saat aku membagikan pesanan Gadis dan Risa, pak Tedjo meletakkan tas belanja dari Amido di atas mejaku. “Bagikan ya, Tisha. Ambil buat kamu juga.” Seketika wajahku mendadak kaku sesaat, seiring kepergian pak Tedjo masuk ke dalam singgasananya. Kami punya pendapat, semakin pak Tedjo baik dengan membelikan kami jajanan, berarti semakin banyak beban pekerjaan yang hendak ia berikan. Alias, ada Udang di balik bakwan. Bedanya, udang ini masih memiliki capit yang kalau kita gigit, capitnya menjepit. Eh ini udang atau kepiting? Ya kalau berurusan dengan Tedjo, udang dalam wujud kepiting saja jadi mungkin. Dan itu telah terbukti selama beberapa bulan kemarin. Aku menatap wajah Risa dan Gadis dengan ekspresi memelas. Masalahnya, laptopku lah yang sedang berada di dalam sana. Itu berarti, aku lah yang menjadi tumbalnya hari ini untuk disiksa hingga entah jam berapa malam nanti. Amido, Gadis dan Risa memberiku semangat. Semakin berat juga kakiku melangkah memasuki ruang ‘pesakitan’ itu sekarang. Please atuh lah, aku juga kan mau nongkrong bareng gebetan nanti malam. Hiks. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN