Matahari terik banget hari ini. Padahal baru jam setengah delapan dan aku sudah basah karena keringat.
Gavin sudah menyuruhku bawa minum tadi, tapi aku lupa dan sekarang aku kehausan. Beruntungnya, Gavin memang sudah bawa minum sendiri. Ia memberikan botolnya padaku untuk minum lebih dulu.
“Duduk sini, Vin.”
Aku mencari tempat teduh dan duduk di pinggiran trotoar.
“Kakinya selonjorin, Sha. Kalau habis lari jangan ditekuk gitu, katanya sih nggak bagus.”
Aku menuruti perkataan Gavin dan menyelonjorkan kedua kaki sebelum menegak air dari Gavin. Airnya tidak dingin seperti air es, tapi cukup menghilangkan dahaga dan cairan yang terbuang karena keringat.
GBK hari ini ramai sekali. Mungkin karena baru dibuka kembali setelah cukup lama ditutup karena pandemi. Orang – orang berlarian di depan kami, ada juga yang berjalan santai dengan peluh di sekujur tubuh mereka. Ada yang membawa pasangan, keluarga bahkan anjing mereka untuk berlari dan menikmati sinar Matahari bersama.
Mungkin orang lain berpikir aku dan Gavin juga sepasang kekasih, wajahku memanas hanya dengan membayangkannya.
Heh, muka lo kena Matahari, LEMON. Makanya panas.
Aku mengabaikan ucapan si jahat dalam kepala.
Begitulah hidup, abaikan saja komentar negatif dan jelek yang kamu dengar dari sekelilingmu. Jangan menghabiskan energi untuk meladeni mereka.
Setelah Gavin juga ikut minum, kami hanya terdiam menetralkan deru jantung dan pernapasan. Masih memperhatikan orang – orang yang sedang jogging di sekitar kami.
Tadinya aku ingin rebahan saja seharian di rumah, mama masih istirahat dan sedang tidak aktif. Aku juga berencana memesan makanan saja hari ini. Tapi Gavin menyambangi rumahku jam setengah enam dan mengatakan pada papa sudah janjian untuk lari pagi denganku.
Dengan semangat ’45 papa pun menyeretku keluar kamar dan berkata bahwa aku perlu udara segar. Teh Nira juga samanya, seolah aku memang diharapkan pergi dari rumah di hari Minggu yang damai dan ceria ini.
Di sini lah aku, mandi keringat dengan baju basah kuyup di samping laki – laki yang (masih) kusukai.
“Sha, pernah nggak sih lo berpikir untuk merencanakan hidup lo dengan sangat sempurna?”
Pertanyaan Gavin membuatku tertegun sebentar, berat amat elaaaaah masih pagi begini.
“Gue nggak percaya rencana. Seringnya apa yang direncanakan itu gagal terus.”
Aku menekuk kaki dan menumpu dagu di atas dengkul, masih asyik melihat orang – orang berlari.
“Itu semua tergantung kok, Sha. Seberapa serius elo dengan rencana lo. Kalau dibuat dengan matang pasti bisa ikuti segalanya sesuai rencana.”
Aku mencebikkan bibir mendengar perkataan Gavin. Bukannya menyepelekan, hanya saja membicarakan hal itu di jam tujuh pagi tuh kurang meyakinkan keseriusannya. Akan berbeda jika dia mengatakan ini jam sepuluh malam. Nggak tahu kenapa.
“Perut gue laper, belum siap diajak bahas deeptalk.” Alasanku padanya, meski dia tidak bertanya.
“Oh ya, gue janji mau ajak lo makan bubur, Sha.”
“Deket sini kan?”
Ekspresi Gavin yang melipat bibir membuatku mengernyit curiga.
“Jangan bilang deket rumah!”
“Hehehe.” Ia menggaruk tengkuknya.
Aku cemberut.
Kalau tahu lokasinya di dekat rumah kan lebih baik olahraga di Velodrome. Ini sudah jauh – jauh ke GBK, aku harus menahan lapar lagi ke arah Jakarta Timur gitu? Kan sebal.
Aku bangkit berdiri dan menepuk – nepuk celana.
“Yaudah ayo. Laper banget nih gue.”
Gavin memijat bahu kiriku beberapa saat, sebelum ia menggandeng tanganku dan kami berlalu dari arena lari GBK menuju tempat parkir.
Eettttt, sebentar.
Di pintu keluar area lari, aku melihat sosok yang tidak asing.
Memakai celana training pendek dipadukan legging hitam di dalamnya, baju ketat warna hitam, topi baseball putih dan sepatu lari berwarna hitam merah. Aku sangat mengenalnya. Penampilan yang seratus delapan puluh derajat sangat berbeda dari yang biasa aku lihat di kantor dan seratus persen menggiurkan.
Langkahku otomatis terhenti saat menyadari sosok itu dan tiba – tiba, seorang anak kecil gembul memakai setelan olahraga berwarna ungu mengejarnya. Pria itu meraih tangan gempal anak perempuannya dan berjalan bersama.
Pak Tedjo tidak menyadari kehadiranku meski jarak kami semakin dekat.
Gavin mengikuti arah pandangku dan bertanya, “kenal, Sha?”
“Hah?” Aku tersentak dan hampir berteriak pada Gavin.
Saat aku terkejut itulah pak Tedjo baru menyadari keberadaanku dan ia menghentikan langkahnya. Membuat gadis kecil gembul yang bergandengan tangan dengannya ikut mendongak ke arahku.
“Tisha.” Sapa pak Tedjo, formal.
Aku mengangguk dan berbasa- basi dengannya.
“Lari juga, Pak.”
“Nggak. Mau hitung luas GBK.” Jawabnya SARKAS.
Aku memanyunkan bibir tanpa sadar dan langsung menyapa Cimoy yang masih menggenggam tangan bapaknya.
“Halo Ciaa, inget Kakak Tisha nggak?”
Kudengar suara pak Tedjo tertawa tertahan, aku melirik galak dan kembali menyapa putri kecilnya.
“Cia lupa yaa? Kita kan pernah ketemu.”
Cimoy tampak ketakutan dan langsung mengulurkan kedua tangan pada bapaknya, minta digendong.
“Takut elo tuh.” Gavin menyenggol bahuku dengan bahunya, aku bersungut – sungut ke arahnya.
“Sudah selesai larinya?” Tanya pak Tedjo, aku lebih memperhatikan si Cimoy yang mengintip malu – malu dari leher bapaknya.
“Iya nih, Pak. Saya dari jam enam sudah lari.”
“Wah semangat banget ya. Coba semangatnya ditransfer juga ke hari Senin sampai Sabtu.” Ucapnya sambil tersenyum pada Gavin dengan sopan.
Memang paling juara soal sindir menyindir dengan gaya si Sawung Tedjo bapaknya Cimoy ini.
Aku baru menyadari seorang wanita muda yang mengenakan baju nanny berdiri sejak tadi di belakang pak Tedjo. Aku tersenyum menyapa dan berpamitan pada bos nyinyirku.
“Dadah sama Tantenya, Sayang.”
Cimoy melihatku sesaat dan kembali menyembunyikan wajah di lekuk leher bapaknya. Pak Tedjo menepuk – nepuk pantatnya dengan sayang dan melambaikan tangan pada kami. Aku mengangguk dan meraih tangan Gavin untuk melanjutkan langkah menuju tempat kami memarkir motor.
“Siapa, Sha?”
Aku kembali memastikan bahwa jarak kami sudah jauh dan sial, kenapa mataku harus melihat pantatnya yang tertutup celana training sih?!
Cimoy sudah kembali berjalan tertatih di samping pak Tedjo dan nanny yang setia mengikuti di sampingnya.
“Itu yang namanya pak Tedjo.”
Wajah Gavin terkejut, ia juga ikut menoleh ke arah mereka bertiga yang sudah jauh banget.
“Masih muda, Sha. Gue kira sudah seumur bapak lo.”
“Ih, gue bilang masih muda. Denger kan tadi, nyinyir banget.”
“Sarkas hahaha. Seru nggak jadi timnya?”
“TER.SIK.SA. Catat itu!”
Gavin tampak tidak percaya. Dia memberikan helmku dan mengenakan helmnya sendiri.
“Coba saja sendiri kalau nggak percaya.” Aku berkata tepat di samping helmnya, Gavin hanya tertawa dan mulai menjalankan motornya.
.
.
.
Suasana rumah sepi, padahal ini hari Minggu.
Si kembar main entah kemana dan teh Nira sibuk merapikan lemari bajunya di dalam kamar. Mama masih sakit dan papa kayaknya juga menemani mama di dalam kamar saja.
“Teh,” aku menyapa tetehku dan duduk di kursi meja belajarnya. “Mamah sakit, rumah hampa ya?”
Teh Nira hanya tersenyum singkat dan tidak menanggapi dengan perkataan apapun. Jadi, aku pun mengoceh tentang posisi seorang ibu yang sangat sentral.
Biasanya, rumah akan ramai dengan teriakan mama yang entah menyuruh atau memarahi kami. Atau meminta kami membantunya di dapur atau bersih – bersih.
Sejak dulu, mama memang tidak pernah memperkerjakan ART. Alasannya ya karena mama seorang ibu rumah tangga dan suka melakukan semuanya sendiri. Itu saat kami kecil yah.
Begitu aku beranjak ABG, suara merdu mama seringkali terdengar di segala penjuru. Menyuruh kami BELAJAR berbenah dan masak, meminta kami disiplin mengurus segala urusan kami sendiri. Tapi sikap mama tidak begitu ke dua pangeran kecil. Hmm, kedua anak itu bertangan emas yang tidak boleh digunakan untuk apapun selain belajar dan bermain.
Masih menjadi misteri, setiap kali aku rajin mama pasti menghilang dan begitu aku rebahan, mama akan muncul dan berkata dengan kalimat drama penuh luka.
“Punya anak perempuan dua MALES BANGET! Nggak pernah bantuin mamahnya. Lihat saja nanti kalau Mamah sudah nggak ada, pada bisa makan nggak tuh anak berdua? Hah?!”
Teh Nira yang segitu kalem saja nggak jarang kena semprot si mamah.
Apalagi kalau aku sedang mencari barang yang hilang, entah kenapa mamah selalu menemukan apapun yang tidak kelihatan di mataku sebelumnya.
“Makanya nyari barang tuh PAKE MATA, bukan PAKE MULUT! Sekalian saja kamu ke Masjid, umumin pake toa kalau kehilangan chargeran hape. Lihat nanti, warga datang nggak bantuin kamu nyari.”
Tapi, itu lebih baik. Mendengar semua omelan mama itu lebih baik daripada merasa hampa seperti sekarang ini.
Teh Nira menghela napas dan menyuruhku kembali ke kamarku sendiri.
“Kalau mau makan, pesan online saja, Sha.” Ucap teh Nira sebelum benar – benar mengusirku.
Aku hanya tertegun di depan pintu kamarnya yang sekarang tertutup rapat. Otak cerdasku sulit mencerna situasi tidak biasa ini.
What happen, aya naon?
Aku berjalan ke ruang makan dan melihat papa sedang mengupas apel. Sebagai anak berbakti, aku pun segera mengambil alih pisau dan apel dari tangan halus papa dan memintanya duduk saja.
“Mama gimana keadaannya, Pah?”
“Masih lemas, nggak mau keluar kamar. Makanya kamu beberes rumah, kasian mamah biar istirahat.”
Aku melihat ke sekeliling ruang makan sampai dapur, bersih. Se-bersih belum dipakai mama untuk beraktifitas alias pasti dari kemarin papa pesan makanan terus.
“Tapi mau makan?”
“Mau, sedikit – sedikit saja. Belum mau makan nasi, takut naik lagi gulanya.”
“Dikasih obat nggak? Apa suntik insulin?”
“Dikasih obat, mamahnya nggak mau disuntik insulin. Takut katanya.”
Beres memotong – motong apel, aku mencucinya sebentar sebelum menyerahkan pada papa.
“Tisha nggak boleh lihat mama?”
Papa malah merangkul bahuku dan berkata, “kita makan sop kambing di tempat biasa yah. Berdua aja. Papa antar ini dulu ke mamah.”
Aku mengangguk kecil dan berkata akan mengganti celana untuk pergi keluar.
Papa sudah di dalam mobil saat aku selesai mengganti celana, aku pun naik tak lama dan kami pergi menuju rumah makan yang biasa kami kunjungi berdua saat ingin makan sate atau sop kambing.
Di keluargaku, hanya aku dan papa yang makan daging kambing. Sisanya, tidak tahan dengan bau kambing katanya. Jadi, papa akan selalu mengajakku jika sedang ingin makan sate atau sop kambing.
“Sekalian cuci mobil kali ya, malas banget cuci sendiri.” Keluh papa, aku hanya merespon dengan kata.
“Tumben.”
“Mama sakit kok jadi kompak pengen istirahat juga ya.”
“Hahaha. Kirain Tisha doang yang ngerasa. Memang beda banget yah kalau mamah yang sakit.”
“He’eh. Hampa.”
“Ceileeehhhhh, hampa. Ari Lasso kali ah.” Papa tertawa.
“Lagu – lagu Dewa waktu Ari Lasso masih di sana, keren – keren, Sha.”
“Memang sekarang nggak keren?”
“Papa sudah jarang denger lagu kan sekarang, jadi nggak tahu.”
“Yeeeuuu. Tisha suka lagunya ‘Tak Kan Ada Cinta Yang Lain’.”
Eh si papa malah nyanyiin lagunya dong, kami pun bernyanyi bersama sampai di tempat tujuan.
Aku memesan lima tusuk sate ayam plus nasi, papa memesan sop kambing dan sate kambing dengan nasi juga. Aku sibuk dengan hape, kemudian papa memanggilku. Wajahnya tampak seperti ingin bicara serius denganku.
Aku pun meletakkan hape dan bertanya pada papa soal lamaran teh Nira. Entah mengapa, aku merasa penyebab mama sakit itu adalah tentang ini.
“Mamah nggak setuju dengan Restu, Teh.”
Aku terdiam selama beberapa saat, masih mencoba memahami perkataan papa barusan.
“Alasan nggak setujunya itu apa?”
Papa menghela napas, seolah topik ini sangat membebaninya.
“Restu itu duda. Dan baru cerai dua bulan yang lalu.”
Sekarang, giliranku menghela napas mendengar informasi dari papa.
Kalau dipikir – pikir, ya memang wajar di umur mas Restu dirinya duda. Kalau nggak salah umurnya empat puluh satu. Sangat jarang laki – laki lajang di Indonesia berumur segitu.
“Masalahnya di status atau karena baru cerai, Pah?”
Papa memijat pangkal hidungnya sebentar dan menjawab pertanyaanku dengan suara lemah.
“Dua – duanya.”
Papa pun menceritakan duduk perkaranya.
Jadi, mas Restu itu salah satu klien yang ditangani teh Nira sejak lama. Ya cukup kenal lah bisa dibilang. Walau teh Nira bersumpah dirinya tidak pernah dekat secara ‘pribadi’ dengan mas Restu, mama nggak percaya. Jadi, mama berpikir kalau teh Nira mungkin punya andil di perceraian mas Restu dengan mantan istrinya.
Teh Nira bersikukuh mengatakan kalau proses perceraian mas Restu itu sudah cukup lama dan panjang, hanya baru mencapai keputusannya dua bulan lalu.
“Kalau pendapat Papa sendiri, gimana soal mas Restu?”
“Papa sih lihat Restu baik, sopan, kelihatan bertanggung jawab. Dia nggak ngajak teteh Nira pacaran, tapi langsung datang ketemu Papa dan mama. Gentle lah.”
“Soal statusnya, Papa nggak keberatan?”
Papa menangkupkan kedua tangannya di atas meja kami yang baru dibawakan minuman.
“Cuma status, Teh. Belum punya anak, jadi Papa rasa mestinya nggak terlalu sulit untuk teh Nira beradaptasi di keluarga Restu nanti. Kalau ada anak pasti beda. Harus mendekati anaknya juga.”
“Hmm... Jadi Mamah stres soal itu. Mau nolak tapi—“
“Mamah nolak, teh Nira yang keukeuh. Khawatir kalau nolak Restu, malah nanti lama lagi nunggu yang lain.”
Aku kembali menghela napas di saat yang sama pesanan kami datang.
Pantas saja sikap teh Nira padaku tadi seperti itu. Mungkin teh Nira juga sedang berperang dalam hatinya. Di satu sisi dirinya mengkhawatirkan soal umur yang sudah kepala tiga dan di sisi lain, hubungannya tidak mendapat dukungan dari mama.
Haruskah aku turut mencoba bicara dengan mama dan membuatnya mengerti?
Sambil makan, aku pusing memikirkan soal tetehku semata wayang. Namun papa kini membahas hal lain, seputar aplikasi investasi dan bertanya apakah aku mempelajari salah satunya. Masalah domestik itu kami singkirkan sementara dan aku pun menceritakan bahwa sudah lama aku menabung di instrumen keuangan yang lagi hits. Saham dan reksadana. Papa tertarik dan memintaku mengajarinya juga.
Soal aplikasi maksudnya, kalau soal bursa efek mah papa jagonya.
•••