Tertawan
Aku datang kesiangan.
Kali ini bukan karena dibuat – buat, tapi sungguhan kesiangan. Mamaku sedang kurang fit, jadi belio tidak membangunkanku seperti biasa dan hapeku mati karena tidak di-charge sejak pulang semalam. Jam delapan lewat lima belas menit aku baru berangkat dan sadar kalau motorku ditinggal di kantor. Membuatku harus memesan ojek karena papa malah nggak kerja, mau antar mama ke rumah sakit katanya nanti siang.
Memang kalau mama yang sakit, hidup mendadak jadi kacau. Kalau kata ayah Pidi Baiq, semua orang boleh sakit kecuali mama. Sama, aku juga sependapat. Dan berharap pak Tedjo saja deh yang sakit. Tiga hari nggak apa - apa, biar aku tenang bekerja tanpa embusan napasnya di lantai dua.
Begitu tiba di ruangan, aku bernapas dengan lega karena pak Tedjo justru belum datang. Pfftt. Aku bahkan lupa untuk melihat mobilnya di parkiran, saking paniknya.
“Kenapa lo?” Gadis menyapa, di tangan kirinya ia menggenggam gelas berisi kopi yang masih mengeluarkan uap.
“Kesiangan lah. Kenapa lagi.” Sahutku.
Membuka laptop dan mengatur ritme jantung karena tadi berlari saat menaiki tangga.
“Iya tumben. Mama Teti lagi kemana?”
“Ada. Lagi sakit.”
Bibir Gadis membentuk huruf O. Puas berbincang denganku, dia kembali ke mejanya.
“Eh semalam makan di mana? Tumben lo nggak pamer?” Kali ini Risa bertanya, raganya sih duduk di kursi dia, tapi suaranya merasuki sukmaku yang masih suci.
Kejulidan mpok Betawi satu ini memang juara tak ada dua.
“Gimana mau pamer, fotonya aja nggak dibagi sama bapak lo tuh!” Sahutku ketus, Risa bermain mata dengan Gadis.
Aku memutar mata tak peduli.
“Kemana si Amido? Belum datang?”
Kedua Bestieku hanya mengangkat bahu.
Aku butuh konfirmasi dari Amido tentang posisiku yang baru dan jobdesc-nya dong tentu saja. Culun banget nggak sih aku, masa sama sekali nggak tahu apa yang harus kukerjakan dengan posisi baru. Nama jabatannya saja aku masih ragu.
Asisten Manager gitu?
Kan sudah ada Amido. Memang pekerjaan pak Tedjo sebanyak apa sih sampai membutuhkan dua orang asisten?
Pintu menjeblak terbuka, langkah tergesa seseorang membuat kami bertiga kompak menoleh ke sumber suara. Amido datang sambil menelpon serius dan langsung duduk di tempatnya tanpa menyapa kami. Aku menunggu dia selesai teleponan dan langsung menyerbunya. Tapi tangan kanan Amido yang panjang sudah menyetop jidatku, tanpa sempat aku berbisik sesuatu padanya.
Iisshh!
“Reshuffle, Guys!” Info Amido pada kami bertiga.
Ya di ruangan ini hanya ada kami berempat sih sekarang.
“Siapa?”
“Kemana?”
Tanya kedua temanku yang lain.
“Nih, si Lemon. Jadi partner gue dia per hari ini. Lo buat broadcast lowongan kerja, Sa.” Titah Amido pada Risa yang menjabat sebagai HR cabang Jakarta.
“HIDE STATUS LO DARI TAMI!” Aku langsung menunjuk Risa yang mengerutkan dahi menatapku judes.
Tapi kita semua memang sebal pada Tami, jadi aku yakin kalau Risa pun nggak mau Tami masuk Perusahaan ini dan bekerja bareng – bareng kita lagi. Dia itu orangnya manipulatif, playing victim dan toxic banget sih menurut kita bertiga.
Awal – awal kenal, aku kira dia memang baik dan polos eh ternyata nggak. Terus begitu aku dan Gadis bertengkar karena diadu domba Tami, baru lah kami sadar kalau dia itu serigala berbulu burung merpati. Dari saat itu, kami bertiga sudah nggak mau makan bareng atau ajak dia nonton bareng juga. Dan dia playing victim ngaduin kami ke mbak Juwita. Seolah – olah kami adalah perundung yang sengaja mengucilkan dia.
Padahal memang benar kita nggak mau temenan lagi, tapi kan karena ulah dia juga. Kalau saja dia nggak mengadu domba aku dan Gadis sampai Gadis pindah kost-an dari rumahku ke kost-annya yang sekarang. Mungkin kita juga nggak akan jauhin dia kayak gini.
Tapi ya, dua penyihir terdekatku selalu menggoda, katanya aku cemburu karena Tami pacaran dengan Gavin yang notabene inceranku dari awal.
Ya sedikit sih, tapi aku juga masih realistis kok. Kita kan nggak bisa memaksakan perasaan seseorang. Kalau mau nekat ya pakai jalur gaib, pelet deh. Tapi nggak deh, aku nggak se-hopeless itu untuk mendapatkan Gavin.
.
.
.
Pak Tedjo datang di akhir waktu makan siang dan langsung memanggil aku serta Amido untuk meeting. Untung saja kami sudah makan sejak tadi. Padahal masih sisa sepuluh menit lagi, tapi memang dasar Yang Mulia Baginda Sawung Tedjo Buwono adalah salah satu makhluk Tuhan yang tidak berpatokan pada waktu, jadi yasudah kami manut saja.
Kami pun melakukan pembagian tugas. Amido menyerahkan sepertiga pekerjaannya padaku. Syukurlah aku nggak begitu jetlag mendapatkan tugas ini. Karena pekerjaan Amido adalah hasil matang dari yang biasa kukerjakan. Jadi, aku hanya perlu meminta data pada masing – masing divisi, meng-compile dan menyajikannya agar mudah dibaca oleh para bos.
“Kalian sudah makan?” Tanya pak Tedjo pada kami berdua.
“Sudah, Pak.” Jawab Amido mantap, aku ikut mengangguk saja.
“Tisha sudah makan? Kamu harus makan siang, saya perlu kamu sampai malam hari ini.” Ujarnya lagi.
Aku menahan keki dan hanya menjawab dengan memperjelas jawaban Amido tadi, tapi kemudian pak Tedjo menyerahkan ponselnya. Layar itu menunjukkan menu minuman dingin, dia menyuruhku untuk memilih. Aku pun memilih pesanan yang aku mau, ponsel beralih ke Amido dan pak Tedjo berjalan keluar. Pasti untuk menawarkan Gadis dan Risa juga. Tidak lama dia duduk lagi di tempatnya dan meneruskan perintah pada kami berdua.
“Performance kasih Tisha saja, Do. Jadi, kamu fokus di Supply Chain Management.” Aku mendengarkan dengan seksama perintahnya untuk tugas – tugas yang harus kulakukan.
Meeting dengan pak Tedjo nggak pernah sebentar. Selalu saja terjeda dengan panggilan di hapenya. Kalau aku hitung, dalam satu jam dia bisa menerima dua belas sampai dua puluh panggilan. Kebanyakan dari principle, pak Ikhsan, manager cabang lain yang kerap berkonsultasi atau petinggi outlet yang memang biasa berbincang langsung dengannya.
Dia juga seorang perfeksionis yang selalu memeriksa ulang apa yang sudah kami kerjakan bersama – sama.
Lebih tepatnya sih, dia yang memberi perintah sedangkan aku dan Amido yang mengerjakan. Sangat memakan waktu. Bahkan saat pekerjaanku masih sangat sepele seperti kemarin – kemarin. Waktuku habis hanya mengubah format laporan seperti yang dia mau dan selalu berubah tiap bulan. Kalah deh design plan acara Fashion mingguan.
“Sebentar, sebentar, Do. Coba lihat lagi stok Tissue. Kok jomplang banget ya rasionya.”
Aku fokus mengerjakan limpahan data dari Amido sementara mereka berdua asyik berdiskusi soal stok barang.
Dulu aku pernah membahas hal ini dengan Gadis juga Risa, kenapa gitu orang se-good looking pak Tedjo memilih bekerja sebagai Manager Cabang perusahaan Distributor seperti D&U. Kadang kami menjuluki gedung tujuh lantai ini sebagai Gudang.
Gimana nggak, bangunan boleh tinggi tapi di bawah kita akan disambut dengan gudang seluas nggak tahu berapa. Pokoknya luas banget deh. Kalau masuk, kayak IKEA gitu lorongnya.
Padahal, pak Tedjo itu katanya sih lulusan terbaik salah PTN. Nggak heran sih, doi memang cerdas banget. Belum lagi perkataannya, ih, semua orang seperti kehilangan kata – kata deh kalau berhadapan dengan dia.
Maksudku, banyak gitu Perusahaan bonafide yang pasti menginginkan segala kualifikasi di diri pak Tedjo. Tapi kenapa harus di sini gitu beliau bekerja? Walaupun gajinya memang fantastis sih, yang ini aku tahu dari Amido si admin lambe.
Apalagi istri---mantan istri maksudku, itu kan artis ya. Ya masa iya gitu lho, suaminya nggak bisa dapat job di Dunia entertaiment dengan fisik pemberian Tuhan se-sempurna itu.
Dan sampai sekarang kami masih belum tahu jawabannya. Mau nanya siapa lagi coba kalau Amido saja nggak tahu alasan pastinya. Dia hanya berpendapat karena gaji yang ditawarkan pak Ikhsan besar makanya pak Tedjo menerima pekerjaan ini.
Tahu – tahu langit di luar sana sudah gelap.
Dari ruangan pak Tedjo, ada tiga jendela besar yang langsung menghadap keluar ruangan. Aku baru menyadari hari sudah sore saat pak Tedjo menyalakan dua lampu di dalam ruangannya. Dan begitu melihat ke ruangan luar, tahu – tahu Gadis dan Risa sudah bersiap pulang.
Lha, aku ditinggal!
Aku menghela napas kesekian kali saat Amido meregangkan tubuhnya ke belakang. Sementara pak Tedjo masih bercakap di telepon dengan salah satu petinggi principle. Saat Adzan Maghrib berkumandang, pak Tedjo mengangkat satu jarinya pada kami—yang berarti break. Hanya break dan nanti lanjut lagi.
Oh my God, baru sehari jadi asistennya aku merasa seperti pantatku dipaku di kursi ini sejak tadi.
Begitu mendapat kesempatan, aku segera berlari keluar dan menghirup napas banyak – banyak. Sungguh seruangan dengan pak Tedjo menyesakkan d**a dan mengaburkan akal sehat. Ada kalanya aku ingin melempar dirinya dari jendela di dalam sana tapi aku tahu pasti aku yang akan lompat sendiri pada akhirnya.
Menatap wajah pak Tedjo terlalu lama sangat tidak sehat. Bisa membuat tingkat halu naik beberapa level. Entah halu menaklukan hatinya, atau menghalu dapat menyingkirkan dirinya di D&U dan tetap berakhir menjadi istrinya. Ehhh!
Ponselku bergetar, papa menelpon.
Aku duduk di tempatku dan menjawab panggilan papa.
“Teh, kamu pulang jam berapa?” Tanya papa setelah aku menjawab salamnya.
“Belum tahu, Pah, masih meeting ini sama pak Tedjo.”
“Beli makan malam saja ya, Mamah nggak masak.”
“Ohya, mamah gimana, Pah? Jadi ke dokter tadi?”
“Gulanya naik. Enam ratus tadi tuh.”
“Yaa Allah si mamah. Itu kenapa bisa tinggi banget, Pah, gulanya?”
“Stres kayaknya, mikirin teteh Nira mau dilamar.”
“Harusnya mah senang atuh, masa stres.”
“Yaudah, hati – hati kamu pulangnya. Kalau kemaleman banget, nanti Papa jemput.”
“Nggak usah, Papah jagain mamah aja di rumah. Yaudah ya Pah.”
“Iya.”
Aku jadi kepikiran mama Teti. Masa iya stres karena teh Nira mau dilamar. Ya mama memang nggak pernah mendesak teh Nira untuk menikah sih kayak ibu – ibu lain, tapi tetap saja, teh Nira itu sudah kepala tiga. Mama pasti khawatir kalau teh Nira belum nikah juga tahun ini. Tapi sekarang, kenapa malah stres?
Aku mengirim pesan di grup keluarga Pohon Jati. Soalnya, keluarga Cemara sudah jadi trademark film, jadi, aku menamai grup keluarga kami menjadi ‘Keluarga Pohon Jati’. Nggak ada alasan, biar matching saja dengan keluarga Cemara. Ya syukur – syukur bisa jadi film juga.
Lihat, terlalu lama menghirup udara yang sama dengan si Tedjo membuat tingkah kehaluanku mengkhawatirkan, bukan?
Aduh, jam berapa sih kami selesai?
Amido datang dari bawah membawa kantong plastik berwarna hitam. Isinya aku tebak, gorengan sih. Dia menyerahkannya kantong plastik itu tepat di hadapan hidungku. Aku dapat merasakan hawa panas dari dalamnya dan ternyata itu bukan gorengan melainkan pecel ayam.
“Makan dulu deh, bisa sampai jam sebelas ini.”
Spontan saja aku memukul lengannya sambil menolak kemungkinan yang tadi dia sebutkan.
“Ah jangan dong! Gue naik motor sendirian ini woy!”
“Sama woy!”
Amido duduk di tempat Gadis yang sudah rapi setelah mengantarkan makanan untuk pak Tedjo, membuka pecel ayam miliknya dan mengajakku makan bersama.
Aku pun segera mencuci tangan dan ikut makan di tempatku sendiri. Kulihat di ruangannya, pak Tedjo juga mulai makan. Ia memiliki wastafel sendiri di dalam sana, jadi tidak perlu keluar untuk mencuci tangan.
Amido selesai lebih dulu, sambil membungkus rapi bekas makannya, ia mengatakan hal yang sering ia katakan ketika kami selesai makan.
“Ayo dipercepat makannya, sebelum adukannya kering.”
Bangke emang!
Dikata aku rombongan pekerja bangunan yang lagi istirahat kali.
Kami lanjut meeting sampai jam sepuluh malam. Pak Tedjo menghentikannya saat melihatku terantuk ujung laptopku sendiri karena ngantuk. Beneran ngantuk ini tuh, nggak dibuat – buat.
Yang Mulia Baginda Tedjo melirik jam tangannya dan berkata, “wah nggak terasa sudah jam sepuluh saja.”
Nggak terasa, Ndasmu, Jo, Jo!
Kesal banget aku ih sama dia.
“Kamu bawa motor, Sha?”
“Iya.” Jawabku hampir teler.
Bayangkan saja, semalam aku baru tidur jam dua belas malam dan sekarang harus tidur malam lagi? Heehhh. Jam tidurku delapan jam, please! Kalau kurang dari itu, jadi kerupuk yang kalengnya nggak ditutup sebulan alias meleyot. Lemasss, Shaayyy.
“Do, antar Tisha ya.”
“Siap, Pak.” Amido menjawab tegas.
“Terus besok saya berangkat naik ojek lagi?” Aku menggerutu sambil mematikan laptop.
“Mau saya jemput?” Tanya pak Tedjo dengan tatapan menghujam Jantungku.
Yailah kayak lagu Tompi.
Tapi beneran, dia menatapku tajam meski aku tahu ucapannya barusan adalah SINDIRAN. Tolong, jangan GR dengan tiap kata manis yang keluar dari bibirnya. Aku sudah terlatih sejak setahun lalu.
“Nggak, Pak. Makasi!” Aku menjawab judes.
Pokoknya kalau sudah ngantuk dan gondok, hilang sudah tata krama kesopan santunan yang diajarkan papa sejak dini.
Yang kudengar hanya tawa kecil pak Tedjo dan Amido yang pintar sekali ‘menjilat’ bapaknya. Aku berjalan keluar lebih dulu dan membereskan barang – barangku sebelum akhirnya memaksa Amido untuk segera pulang.
Dia akan mengantarkanku kan?
Aku terlalu lelah untuk membawa motorku sendiri.
“Yaudah gue bawa motor lo, nanti gue naik ojek dari rumah lo.”
Aku menghela napas dan merangkul tangan Amido menuruni tangga. Di belakang kami, aku tahu pak Tedjo juga ikut turun sambil teleponan. Suaranya pelaaaaaaaaan banget. Aku mencolek Amido dan kami tebak – tebakan. Aku menebak itu mantan istrinya dan Amido menebak itu bu Malika.
Tapi kami berdua tidak akan pernah tahu jawabannya karena WOYAAAAA JELAS NGGAK PUNYA NYALI UNTUK BERTANYA DONG!
Kami kan para b***k.
•••