#4 - Tidak Seperti yang Dibayangkan

1560 Kata
“Lu tau? Tadi Arion hampir nyium gue, rasanya gue takut setengah mati, meski ada sedikit deg-degan dan rasanya pengen banget dapetin ciuman itu. Ternyata cerita yang gue baca di komik rasanya nakutin kalo terjadi di kehidupan nyata. Tapi, kenapa lu gak ngerasa begitu? Lu bener-bener gak kayak anak SMP, lu gak pernah takut sama apa pun. Lu bahkan udah melangkah terlalu jauh dalam sebuah hubungan, Dhir.” Andhira mengubah ekspresinya seketika ketika mendengar sahabatnya hampir dicium oleh seorang pria tanpa memedulikan kekhawatiran Letta lagi. “Serius lu hampir dicium? Kok, bisa?” “Iya, waktu gue mergokin lu di pos, dia narik gue ke balik pohon. Katanya gue gak boleh liat karena dia tau itu kali pertama gue ngeliat hal begituan. Terus refleks gue bilang kalo gue gak pernah ciuman waktu dia tanya udah berapa kali gue ngelakuin itu. Gue tersinggung dibilang begitu, pas dia tau itu dia langsung tanya apa gue mau ngerasain juga, kan gue jadi bengong ya. Otak gue kosong dan dia malah lansgung nyosor, untungnya gue bisa selamat, kepala gue bergerak sendiri ngehindar dan gue dorong dia,” cerita Letta dengan mengebu-gebu. Dhira masih menyimak cerita Letta yang air matanya juga sudah mengering. Mereka malah jadi membicarakan Arion. Semakin jauh Letta bercerita, Dhira malah mendengar pujaan-pujaan dari mulut sahabatnya itu. “Dia tuh termasuk ikemen yang gue cari, tapi—" “Tunggu dulu!” potong Dhira. “Tolong pake bahasa Indonesia yang benar, gue gak paham sama ikemen itu apa.” Letta mendengus dan kembali melanjutkan kalimatnya. “Ikemen itu sebutan untuk cowok keren atau tampan. Tapi, rasanya semua adegan di komik gak sesuai ekspektasi kalo kejadian di sunia nyata. Tiap gue baca adegan ciuman pasti bikin gue deg-degan, seneng, gemes, greget, gimana gitu. Tapi, pas gue dihadapkan langsung di situasi kayak gitu, kok, rasanya takut ya? Deg-degannya bercampur sama takut, jadi bukan deg-degan gemes gimana gitu.” Dhira tersenyum dan mengelus kepala sahabatnya itu seperti mengelus seorang gadis kecil. “Temen gue udah ada kemajuan, lu suka, ya, sama Arion? Gak apa-apa cinta tumbuh seiring waktu berjalan, kok.” “Kok jadi ke situ? Apa hubungannya?” “Selama ini lu sukanya sama cowok di komik, bahkan lu terus ngarepinnya muncul ke dunia nyata dan ... gila! Sekarang lu udah nemuin cowok itu yang hadir di dunia nyata, lu pasti suka ‘kan? Jadi, selamat. Harapan lu terkabul dan lu gak bisa dong, nolak sesuatu yang udah Tuhan kasih? Itu harapan lu, lho, inget.” Sharletta jadi bungkam. Memang benar selama ini dia mendambakan seorang pria yang seperti di komik yang dia baca. Arion itu bener-bener bikin dia dag dig dug sejak awal bertemu, rasanya benar-benar bertemu tokoh cowok dalam komiknya. Tinggi, tampan, tidak banyak bicara, keren. Padahal pria itu tidak tahu kalau Letta suka hal-hal seperti itu, tapi tanpa sengaja pria itu memberikan apa yang dia mau. Ucapan Dhira pun membuatnya jadi menyesal telah berharap demikian. Dia tidak tahu kalau ternyata rasanya sangat berbeda dengan membaca komik. Setelah lama mengobrol dan melewati dua kali bus yang lewat, mereka pun pulang dengan bus ketiga pada pukul empat lebih. Rumah mereka berada di sebuah komplek yang cukup jauh dari sekolah, sekitar sembilan kilometer lebih. Mereka masih harus berjalan ke dalam dari halte. Rumah mereka sangat dekat, hanya lima langkah untuk bertemu karena memang letaknya depan-depanan. Itulah alasan mereka sudah bersahabat sejak kecil. Sharletta tahu betul keadaan rumahnya Dhira hingga dia memaklumi sikap sahabatnya yang cuek dan kurang peduli pada sekitar bahkan dirinya sendiri. Sebenarnya tidak beda jauh dengannya, Letta masuk ke rumah tanpa ada yang menyambutnya setiap hari. Papanya bekerja di perusahaan terkenal di kota itu, mamanya mulai bekerja sebagai konsultan bisnis sejak dua tahun lalu. Kadang makanan pun tidak ada hingga membuatnya harus masak mie atau telur. Dia belum bisa masak yang lain. Di sisi lain Dhira masuk ke rumah dengan sehening mungkin dan menyusuri lorong rumahnya yang sedikit lebih besar dari Letta. Dia terus melangkah dan berbelok menaiki tangga. Tapi, sebelum dia bisa kabur, suara ibunya muncul dari dapur yang terhalang lemari televisi. “Dari mana kamu? Jam segini baru pulang,” tanya ibunya yang muncul dengan kacamata bacanya. “Dari sekolah, Bu,” jawab Dhira dengan perasaan harap-harap cemas. “Masa sekolah keluar jam segini? Bohong kamu? Dari mana?!” bentak Bu Nindy. Ibunya Dhira memang terkenal galak dengan raut wajah yang tegas dan mata bulat. Siapa pun yang melihatnya pasti akan sungkan dan takut. “Bener, tanya aja sama Letta, kita pulang bareng, kok.” Tapi, sang ibu tetap tidak percaya. “Paling kamu yang ngajak dia pulang jam segini ‘kan? Sini kamu!” Bu Nindy menarik tangan Dhira dan menjambak rambutnya dan dibawa menuju dapur. “Jangan, Bu! Aku ngomong jujur, kok, aku gak ke mana-mana selain dari sekolah!” teriak Dhira. Ibunya tetap bergeming dan mendorong anaknya itu masuk kamar mandi lalu menekan tubuhnya untuk jongkok. Sedetik kemudian air mulai membasahi tubuh Dhira. “Ibu gak percaya, Letta itu anak baik, gak kayak kamu! Ibu punya aturan di rumah ini, dia ‘kan gak ada, jadi jangan bawa-bawa dia. Kamu yang udah ngelanggar. Ibu tau, kok jam pulang sekolah itu siang, apalagi baru masuk ajaran baru malah harusnya lebih cepet! Kamu pasti main dulu!” Ibunya terus saja mengomeli Dhira sambil menyirami tubuh anaknya sampai basah kuyup. Letta sendiri tengah berdiri di ambang pintu rumahnya dan mendengar omelan-omelan itu samar-samar, karena posisi dapur dan kamar mandinya menghadap ke depan rumah Letta, sedangkan pintu depan menghadap ke kirinya. Gadis mungil itu hanya menatap pintu yang tertutup rapat di depan sana, hatinya miris mendengar suara marah-marah Bu Nindy dan kadang teriakan Dhira yang terus menyangkal omongan ibunya. Kemudian Letta masuk ke dalam rumah dan mengunci rapat pintunya. Dia tidak sanggup harus mendengarnya terus menerus setiap hari. Bahkan semua tetangga sudah tahu kelakuan Bu Nindy pada anaknya itu. Hingga kadang, mamanya Letta pun suka menawari Dhira makan di rumah, tetangga sebelah pun begitu selalu memperlakukan Dhira sebaik mungkin jika ibunya tidak ada di rumah. Tapi, ada aturan di rumahnya yang tidak bisa Dhira hindari. Dia tidak boleh makan kalau ibunya tidak ada di rumah. Mamanya Letta pernah menawari berkali-kali bahkan berjanji bahwa Bu Nindy tidak akan tahu. Tapi, Dhira tetap menolak dan berkata, “Nanti kenyang terus pas Ibu dateng ngasih makan, kalo Dhira gak ngabisin bisa curiga dan lebih marah lagi.” Kalimat itu menyayat hati mamanya Letta dan dirinya sendiri. Itu kehidupan Dhira, hanya dia yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri bukan orang lain. Jadi, wajar kalau Dhira berpikir dirinya tidak pernah berguna dan tidak berarti. Dia hanya menjalani hidup semaunya di luar untuk lepas dari beban yang siap dihadapinya lagi di rumah. Letta berganti pakaian dan tiduran di kamarnya yang berada di lantai dua, memikirkan kehidupan Dhira yang bergitu kejam dan tidak adil. Berkat itu, Letta jadi bisa tetap bersyukur meski dia selalu sendirian di rumah dan orang tuanya tidak pernah mendengar curhatannya seperti anak-anak lain, dia masih bisa makan kapan saja tanpa harus menunggu mamanya datang seperti Dhira. Dia masih bisa bermanja-manja pada orang tuanya ketika mereka di rumah. Mamanya pun masih punya hati untuk menyayanginya juga sahabatnya itu. Tapi, tetap saja ketika Letta mengingat kejadian tadi siang, dia merasa ingin sekali menyelamatkan Dhira. Sayangnya, dia sadar bahwa dirinya saja tidak bisa melindungi diri ketika Arion hendak menyerangnya, tubuhnya terasa kaku dan otaknya kosong. Saat itu dia masih beruntung tubuhnya yang bergerak sendiri, bagaimana kalau nanti terjadi lagi? Bagaimanapun kekuatan pria dewasa lebih besar darinya. Gadis itu pusing sendiri dan memutuskan untuk membaca komik yang tadi siang terpotong. Dia melihat adegan seorang laki-laki keren yang habis mencium gadis yang dicintainya dengan paksa, gadis itu malu-malu dan berusaha kabur, tapi pria itu kembali menahannya dan berkata hal romantis sampai sang gadis kembali bermuka merah padam. Pria itu langsung tersungging seperti tengah mempermainkan kucing kecil dengan gemas. Letta mengembuskan napas berat dan menenggelamkan wajahnya pada guling yang dia peluk. “Ini gak seperti yang gue bayangkan!” teriaknya. “Gue pikir rasanya menyenangkan jadi si gadis yang dikejar pria keren begitu dan dicium tiba-tiba sampai si gadis panik ketakutan. Emang sih ada juga yang malah marah-marah gak jelas, yaaa ... rupanya itu memang menakutkan.” Sharletta bicara pada guling yang dia peluk itu dan sesekali menenggelamkan wajah lagi untuk berteriak mengeluarkan unek-uneknya. “Tapi, Arion itu cakep, tinggi, keren, ya ampuuuun!! Kenapa ada laki-laki begitu di dunia nyata? Gue kira gak akan ada dan cuma ada di komik! Ya Tuhan, maafin harapanku yang dulu.” Letta bangkit dan turun dari kasurnya lalu berjalan mundar mandir di kamarnya. Hatinya tidak tenang takut kalau dia akan bertemu lagi dengan pria itu. Tapi, di sisi lain dia merasa gak pede dan bisa saja Arion hanya bercanda, tidak mungkin pria itu tertarik padanya. Kadang pikiran seperti itu yang membuatnya jadi lebih tenang. “Tapi, gimanapun gue harus waspada, gue gak mau ikut Dhira lagi pokoknya! Untuk jaga-jaga gue bakal latihan memukul orang, memperkuat otot gue biar bisa dorong dia lagi, atau pake kaki sekalian!” Gadis berambut gelombang itu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak sadar matahari sudah benar-benar turun dan suara mobil papanya datang. Buru-buru dia turun ke lantai bawah dan menyambut papanya. Tapi, papanya langsung menanyai mamanya yang belum pulang. Karena Letta tidak tahu, papanya jadi kesal mengomel tentang mamanya yang harusnya sudah di rumah saat suami datang. Letta hanya diam dan menyalakan satu persatu lampu rumahnya lalu kembali ke kamar.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN