#5 - Pernyataan Cinta

1467 Kata
Paginya seperti biasa Letta menunggu Dhira di depan pintu rumahnya. Lima menit berlalu dengan hening, lalu terdengar suara Bu Nindy mengomeli Dhira karena membiarkan Letta menunggu lama. Tiba-tiba gadis berambut sebahu itu muncul dari dalam rumah sembari mengikat rambutnya dan memenjepit sehelai roti di mulut. Dia menyuruh Letta cepat berangkat sembari memakai sepatunya. Letta, daritadi sudah berdiri dan siap untuk jalan, dia hanya menunggu Dhira yang masih sibuk mengikat tali sepatu. Tak lama kemudian ibunya keluar dan menyapa Letta. Sontak gadis yang disapanya itu memberi hormat dengan menyalami tangan Bu Nindy. “Hati-hati, ya, berangkatnya,” kata Bu Nindy tersenyum ramah. Letta pun pamit setelah Dhira keluar rumah. Mereka tidak banyak bicara sampai di sekolah. Memang begitu rutinitas pagi mereka kalau berangkat sekolah. Letta tidak akan bertanya apa pun karena biasanya Dhira tidak suka ditanyai soal masalahnya di rumah kecuali dia sendiri yang mengatakannya. Hari ini kelas benar-benar dimulai. Anak-anak kelas 9C sudah ramai di dalam. Ada yang mengobrol, ada juga yang keluar mencari teman lamanya. Beruntung mereka masih mendapat tempat duduk di pojok dekat jendela yang mengarah keluar sekolah, ada pemandangan serba hijau di sana dan jalan setapak yang menghubungkan kantin di belakang dan parkiran motor di depan dekat jalan menanjak ke arah pintu gerbang. Meski tempat itu sejajar dengan meja guru, tapi posisi mereka ada di urutan ketiga dari depan. Masih aman bagi mereka. Banyak teman lama dari kelas merek amasing-masing yang masuk ke sana, namun tak sedikit juga yang tidak mereka kenal. Seperti misalnya gadis bertubuh subur dengan rambut ikal dan wajah yang manis duduk di depan mereka sedang mengobrol bersama gadis lainnya yang bertubuh ideal dengan kulit kecokelatan, rambutnya panjang seperti Letta namun sangat lurus seperti Dhira. Rambut gadis itu nampak halus berkilau seperti iklan sampo. Kemudian gadis yang bertubuh subur itu mengajak mereka berkenalan. “Panggil aja Aliyah,” katanya setelah Letta dan Dhira memperkenalkan diri. “Ruri,” kata gadis si pemilik rambut berkilau itu bergantian. “Rambut lu bagus banget, pake sampo apa?” pertanyaan yang lucu keluar dari mulut Letta dengan polosnya. Ruri tertawa malu dan berkata, “Sampo biasa, kok, rambut lu juga bagus kayak puteri di dongeng-dongeng.” Mereka pun mulai akrab, tapi tidak dengan Dhira, gadis itu masih cuek saja seperti tidak tertarik membuat pertemanan baru. Namun dia masih cukup sopan untuk menanggapi pertanyaan mereka. ٭٭٭ Pukul dua mereka keluar bersama dan saling membicarakan pelajaran yang tadi mereka pelajari. Lumayan mudah di awal semester ini. Lalu mereka membicarakan soal kelas tambahan yang akan diadakan semester depan. Katanya susunan kelas akan berbeda sesuai nilai individu selama di semester satu ini. “Tapi, katanya di akhir semseter bakal ada ujian final untuk menentukan kelas. Jadi, nilai selama semester satu ini bakal ditambah dengan hasil ujiannya,” jelas Ruri. “Berarti kita bener-bener harus belajar nih biar bisa masuk kelas unggulan, bakal banyak kuis dadakan pasti!” ucap Letta. “Iya, kelas unggulan cuma ada di kelas A-B-C, pastilah kita mulai disibukin sama itu semua,” sahut Aliyah. “Pasti susah ya, kalo pun kita bisa masuk kelas itu gak bisa tenang gitu aja, di sana bakal ada murid-murid unggulan. Emang kita bisa ada di kelas yang kayak gitu?” tanya Letta. “Iyaa ya, pasti kelasnya boring, semua anak udah pada ngerti sedangkan kita pelongo aja kali kayak sapi bengong, terus anak-anaknya serius banget lagi kalo belajar,” keluh Ruri. Andhira tidak bicara sedikit pun dan hanya berjalan di belakang mereka. Kemudian Letta menghampiri Dhira dan bertanya tentang keadaannya. “Gak apa-apa, gue gak tertarik bahas gituan. Gue masuk kelas mana aja yang penting nyaman orang-orangnya jadi gue bisa belajar,” katanya dengan malas. Tiba-tiba Letta melihat seorang laki-laki berseragam SMA tengah berdiri di sebelah pohon yang tak jauh dari gerbang sekolah tengah merokok. Merasa curiga, dia pun menunjukkannya pada Dhira. Gadis itu langsung terkejut dan mengira Vendi ada di sana. Lalu dia menahan Letta untuk tidak ke sana. Akhirnya mereka membiarkan Aliyah dan Ruri pulang duluan. Aliyah hanya perlu berjalan karena rumahnya memang ada di kawasan dekat lapangan panjat tebing. Sedangkan Ruri pulang bersama ojek langganannya karena rumahnya agak jauh dan harus masuk ke area perkampungan di belakang komplek ini. Dhira mengamati sekitar yang tidak terlalu ramai, rupanya murid lain masih betah di dalam sekolah. Buru-buru dia berlari menemui anak SMA itu disusul Letta yang sesekali memerhatikan sekitar. Ada beberapa anak yang berjalan pulang melewati mereka. “Ngapain lu di sini?” terdengar Dhira membentak pria itu. “Sama Vendi? Gue bilang jangan ke sekolah!” Letta yang baru sampai langsung diam di tempat melihat Arion yang berdiri di sana. Pria itu menginjak puntung rokoknya dan melihat ke arah Letta tanpa memedulikan pertanyaan Dhira. Arion berjalan melewati Dhira dan berdiri tepat di depan Letta yang mau tak mau menenggakkan kepalanya tinggi-tinggi. “Gue mau ketemu Sharletta,” katanya membuat simpul senyum di bibirnya. Debaran itu muncul lagi, kini perutnya terasa dihinggapi kupu-kupu terbang. Dhira tak bisa diam begitu saja lalu menarik lengan Letta ke belakang tubuhnya. “Ngapain ketemu dia?” tanya Dhira dengan galak. Pria itu mendengus. “Pengen aja,” jawabnya singkat. “Emang lu gak sekolah? Di mana Vendi?” “Kelas gue pagi doang. Gue sendiri, gak tau dia ke mana.” “Masa sih?” “Iya, bawel banget sih, gue gak ada urusan sama lu.” “Adalah! Letta itu sahabat gue, awas kalo lu macem-macem, masih polos banget nih anak!” “Dhira!” Letta tidak terima dengan kaimat terakhirnya Dhira. Gadis di depannya itu menjulurkan lidah dan akhirnya membiarkan dua pasangan itu mengobrol sambil jalan. Karena tidak enak di depan sekolah begini, bisa-bisa kena masalah guru kalau melihat murid SMP bermain dengan murid SMA. Letta masih takut-takut berhadapan dengan Arion jadi dia memilih jalan di sebelah Dhira yang ada di tengah. Tapi, pria itu jadi tidak bicara apa-apa sepanjang jalan sampai ke lapangan besar. Tiba-tiba pria itu menunduk dan berbisik pada Dhira. Letta penasaran dengan yang dibicarakan mereka. Mereka berdua berhenti dan sama-sama mengeluarkan gawai. Letta hanya diam di tempat memerhatikan mereka. Setelah itu Arion tersenyum puas dan kembali berjalan mendekati Letta. “Dhira, sini cepet!” perintah Letta sebelum Arion mendekat. Tapi, Dhira sengaja memelankan jalannya dan membiarkan pria tinggi itu jalan di sebelah Letta. Arion dengan santainya merangkul pundak Letta dan memutar tubuhnya untuk berjalan ke depan. Gadis mungil itu panik dan menepis lengan Arion. “Rumah lu di mana?” tanyanya membuka percakapan. “Gak perlu tau!” jawab Letta singkat. Tiba-tiba Airon berdiri di depan Letta dan menghentikan langkahnya lalu membungkuk menatap wajah gadis itu dari dekat. “Lu takut, ya, sama gue? Lu takut gue cium ‘kan?” tanyanya dengan seringai yang menggoda. Mata Letta membelalak dan dengan cepat melangkah mundur, tapi pria itu langsung menahan kepala Letta dengan satu tangannya. Letta tidak terima diperlakukan seperti anak kucing, dia menggenggam tangan jenjang yang berurat itu dan mencoba melepaskan cengkeraman pada kepalanya. “Jangan kabur dari gue, Let.” Arion kembali mendekat dan melanjutkan kalimatnya. “Lu gak bisa kabur dari gue.” Akhirnya dia melepas cengkeramannya dan berbalik mendekati CBR hitam doff. Letta berlari menghampirinya yang memakai helm fullface untuk bersiap pergi. “Gue heran kenapa lu gini, lu cuma mau iseng sama gue ‘kan? Lu mau ngerjain gue doang ‘kan?!” tanyanya dengan penuh rasa penasaran yang memuncak. Pria itu melirik dari dalam helmnya sembari mengenakan sarung tangan, kemudian mengatakan hal yang membuat Letta mematung dengan jantung berdebar kencang seperti hendak keluar dari sarangnya. “Awalnya gue iseng, tapi lu lebih menarik dari yang gue kira. Gak masalah ‘kan kalo gue suka sama lu?” katanya menyipitkan mata seolah dia tengah tersenyum di dalam helmnya. Tanpa menunggu jawaban Letta, pria itu melajukan motornya dan hilang di tikungan. “Kenapa, Let?” tanya Dhira setelah pria itu pergi menjauh. “Dia bilang dia suka sama gue,” jawab Letta masih dengan tatapan kosong. “Waw! Jackpot! Ayo kita makan mie ayam dulu di sini sekalian minum yang seger-seger untuk ngademin hati lu yang pasti lagi deg-deg ser!” Dhira tertawa geli melihat ekspresi sahabatnya yang lurus itu karena syok atas pernyataan cinta yang barusan didengarnya. Letta sendiri hanya menurut dan duduk menunggu pesanan datang. “Ngomong-ngomong dia bawa motor ya? Kenapa ditaro di sini ya, berarti dia jalan ke sekolah?” ucap Dhira pada dirinya sendiri. “Dasar cowok aneh. Kenapa yang deketin lu rata-rata orangnya aneh?” “Gue masih gak ngerti, Dhir. Kenapa dia suka sama gue?” tanya Letta yang kabel di otaknya sudah mulai tersambung kembali tanpa mendengar omongan Dhira barusan. “Ya mana gue tau, tanyalah sama orangnya!” Pesanan pun datang dan Dhira langsung menyuruh Letta memakannya sebelum sore. Mendengar hal itu Letta langsung buru-buru mamakannya, dia tidak mau pulang kesorean lagi, dia takut Dhira akan kena marah seperti kemarin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN