Letta tidak beranjak dari tempatnya sama sekali. Dia masih berdiri di belakang pintu menatap ke depan. Dia tidak suka tempat sempit, penuh serangga dan gelap. Memang di tempat itu tidak begitu gelap karena cahaya matahari masuk dari jendela ventilasi di atasnya. Tapi, kesunyian yang begitu pekat membuatnya terus gemetar ketakutan. Dia menangis sesenggukan karena merasa tidak ada harapan lagi. Pasalnya jarang sekali ada petugas yang masuk ke sana setelah pulang sekolah. Apalagi guru. Anak murid saja enggan masuk kalau tidak ada jadwal olahraga atau upacara khusus. Keringatnya mulai keluar. Dia masih menangis beberapa menit, sampai akhirnya dia mencoba tenang. Dia menatap ke atas pintunya yang terbuka. Ada dua bayangan dalam benaknya, dia memanjat ke sana atau suatu makhluk yang tak diingi

