“Mama, ngapain sih masuk-masuk? Kebiasaan deh kalo gak dikunci!” protes Arion.
Kemudian mata Letta dan mamanya Arion bertemu dan membuat masing-masing dari mereka terkejut. Reflek Letta menunduk memberi hormat.
“Maaf, Tante. Arion yang bawa aku ke sini!” teriak Letta dengan ekspresi panik.
Tapi, mamanya Arion malah mengomeli anaknya dan memukul lengannya dengan keras menggunakan tas tangannya.
“Aw! Apa-apaan ini, Ma?” bentak Arion tidak terima dipukul begitu.
“Kamu ini bawa anak perempuan, kok, gak bilang-bilang?! Mama ‘kan mau kenal, biar gak kayak yang dulu itu!” bentaknya.
“Jangan bawa-bawa yang dulu di depan dia!”
Mamanya langsung bungkam dan kembali memukul anaknya. Sedangkan Letta langsung terpaku mendengar kalimat itu. Suasana hatinya jadi turun seolah sudah paham apa maksudnya. Jadi, Arion pernah pacaran sama cewek lain dan membawanya ke sini juga, ya? pikir Letta dengan lesu.
Mamanya Arion langsung menghampiri gadis berseragam SMP itu. “Maaf ya, sayang. Anak tante emang gak sopan. Kenalan dulu dong!” katanya dengan senyum merekah menjulurkan tangan lentiknya dengan kuku yang sudah dihias cantik.
Wanita paruh baya itu masih terlihat muda dan elegan. Tubuhnya yang langsing dan tinggi membuatnya nampak cantik berbalut kemeja dengan semi jas berwarna biru pastel yang dipadu dengan celana bahan serta high heels hitam. Rambut hitamnya disanggul rapi ke belakang, sangat mencirikan wanita karir yang sukses.
“Ah, iya. Nama aku Sharletta Adhisty, panggil aja Letta,” ucap gadis mungil itu meraih tangan wanita tersebut.
“Saya Molly Agara. Mamanya Arion. Kamu masih SMP?”
“Iya, Tante.”
“Kelas berapa?”
“Kelas tiga.”
Molly langsung berbalik menatap anaknya dengan kesal, namun Arion tidak memedulikannya.
“Kamu pacarnya Arion?” tanya Molly sekali lagi.
Pertanyaan itu membuat Letta jadi canggung, dia mulai takut salah bicara. Tapi, Arion buru-buru mengiyakan.
“Hmm ... kamu jangan takut, Arion pasti tanggung jawab. Kalo masih takut buka pintunya lebar-lebar terus kabur aja.”
“Mama?! Udah deh mau belanja ‘kan katanya? Pergi sana! Mbak Neni udah nunggu tuh!” perintah Arion menarik lengan mamanya sendiri keluar.
“Ish! Anak ini emang kurang ajar! Hati-hati, ya, Letta! Tante gak akan lama, kok, belanjanya!” teriak Molly, lalu dia kembali memukul kepala anaknya dengan tasnya itu. “Jangan ditutup pintunya!” perintahnya pada Arion.
“Iya udah sana!”
Letta tersenyum diam-diam, rupanya tidak semenakutkan yang dia perkirakan.
Arion keluar menuju pagar pembatas lantai duanya dan terdengar teriakan ancaman dari mamanya dari bawah sana sebelum pintu depan tertutup. Lalu pria tinggi itu menghela napas lega dan kembali ke kamarnya. Dia melihat Letta yang terkekeh, namun Arion tidak mau menanyakan alasannya karena sudah tahu apa yang dia tertawakan. Pria itu menutup pintunya dan menyuruh Letta meminum jus jeruknya dulu.
Gadis itu menurut dan mulai menyeruput minumannya banyak-banyak. Sembari menaruh tasnya di mana saja dan duduk di kasur.
“Gak semenegangkan yang lu kira ‘kan? Dia memang gitu, berasa dirinya masih muda. Dia seneng banget kalo ada anak perempuan di rumah ini,” jelas Arion sembari membuka lemari bajunya.
“Hmm ... iya, keliatannya baik dan pengertian. Gue belum pernah sedeket itu sih sama nyokap.” Letta menunduk menatap jus jeruk di genggamannya.
“Lu boleh anggep ini rumah sendiri, dia bakal jadi nyokap lu juga, kok.”
Tiba-tiba Letta merasa terharu mendengar kalimat itu. Dia memasang senyum dan meneguk kembali minumannya. Sontak dia jadi kembali melihat Arion yang ada di hadapannya. Dia jadi tersedak melihat Arion yang hendak melepas kausnya.
“Elu ngapain?” tanya Letta menyeka mulut dan bajunya yang ketumpahan jus jeruk.
“Gue mau mandi,” jawab Arion singkat.
“Lah, elu ke sekolah tadi gak mandi?” tanyanya lagi sembari bangkit menaruh gelasnya di atas meja.
“Enggak!” jawabnya membuat cengiran kuda di bibirnya.
Letta menggeleng dan matanya semakin membesar ketika pria itu melepas kaus terakhirnya dengan santai. Sebelum mata Letta benar-benar ternoda, dia langsung menutup mata. “Kenapa gak buka baju di kamar mandi sih?!” bentak Letta mengalihkan wajahnya ke samping.
Arion menunjukkan muka jahil, kakinya melangkah mendekati Letta. Sementara gadis itu mulai menyadari keheningan di antara mereka, reflek dia kembali menoleh dan mulutnya menganga mendapati wajahnya sudah berhadapan dengan d**a bidang pria itu. Matanya bergetar menyusuri tubuh indah itu sampai ke perutnya yang berbentuk kotak-kotak. Bahkan sempat-sempatnya gadis itu menghitung jumlah kotak di perut Arion.
Lalu matanya langsung tertarik pada atas linkar ppinggul Arion, ada sebuah tato bertuliskan “Heaven”. Seketika Letta menutup mulutnya dan hampir tertawa terbahak-bahak.
Maksudnya di bawah sana ada surga? Batinnya. Dia pun mengatupkan bibir karena tidak bisa lagi menahan tawa.
Arion mengangkat wajah Letta yang tengah menahan tawanya itu dengan susah payah. Gadis itu baru menyadari bahwa di bahu kananya pun ada sebuah tato yang memanjang sampai belakang, tapi dia tidak bisa lihat dengan jelas gambar atau tulisannya.
“Mau ngerasain ciuman yang bukan sekadar ciuman gak?” tanya Arion dengan wajah seksinya.
Letta berusaha menelan ludahnya. “Emang ada? Apaan itu?” tanyanya dengan muka bingung.
Sedetik kemudian bibir mereka bertemu, kali ini Arion melakukannya dengan sedikit lebih agresif. Meski begitu Letta hanya bisa diam mengatur jantungnya supaya tidak meledak, bibirnya terus dikecup tanpa henti sampai kakinya lemas. Arion mendorong tubuh Letta sampai dia terduduk di atas ranjang, gadis itu mulai meremas lengan Arion kuat-kuat untuk melawannya.
Tapi, Arion tidak berhenti di sana, dia terus mendorong tubuh gadis mungil itu sampai terduduk di pinggir ranjang. Sejenak pagutan mereka lepas, hal itu digunakan Letta untuk bernapas. Wajah mereka masih sangat dekat, Arion menahan sebelah lengan Letta di sana.
“Buka—"
Bisikan Arion dipotong oleh Letta yang langsung menggeleng. Tidak mau menurutinya begitu saja, dia terlalu takut akan terjadi yang tidak diharapkan di usianya yang masih belia. Dia tidak mau membuka mulutnya, kemudian dia meronta berusaha dilepaskan.
Arion pun hanya bisa tersenyum, lalu dia kembali mengecup bibir Letta sesingkat mungkin dan mengecup dahinya sebelum dia melepas gadis itu. Arion bangkit sembari menarik lengan Letta untuk ikut bangkit.
“Gue mandi dulu, lu boleh ngapain aja kalo bosen,” katanya masuk ke kamar mandi begitu saja meninggalkan Letta yang masih bengong seolah jiwanya belum kembali dari keterkejutannya tadi.
Gadis itu masih diam di tempat. Pikirannya kosong, jantungnya menderu seperti genderang yang mau pecah. Tubuhnya juga sedikit gemetar. Kemudian dia teringat Dhira, seketika dia merogoh ponsel di ranselnya dan menghubungi gadis itu diam-diam di pojok ruangan.
Ketika teleponnya diangkat, Letta langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
“Dhir! Tolongin gue! Tadi, Arion ... dia nyium gue, tapi kayaknya dia berusaha mau lakuin lebih. Gue takut!” bisik Letta.
“Ya ampun, lu di mana?” tanya Dhira di seberang sana dengan nada khawatir.
“Di rumah Arion.”
“Duh, lu mau aja lagi diajak ke rumahnya. Ada nyokap bokapnya gak?”
“Hmm, tadi gue ketemu nyokapnya sih.”
“Terus? Aman dong?”
“Emm, tapi gue nggak tau sekarang nyokapnya ke mana.”
“Astaga, Letta! Lu jadi anak jangan polos-polos banget kenapa?! Di mana rumahnya? Mau gue jemput? Sementara lu ke ruang yang gampang kabur aja, jangan pernah masuk ke kamarnya. Atau cari nyokapnya!”
“Ta-tapi, gue di kamarnya sekarang ....” Suara Letta berubah lirih.
“Sharletta Adhisty! Anak ini sangat meresahkan, ya. Yaudah lu keluar aja!”
Tiba-tiba suara pancuran di kamar mandi Arion berhenti.
“Eh, udah dulu deh! Nanti gue hubungin lagi, nggak usah jemput, gak apa-apa. Gue bakal keluar dari sini. Thanks, Dhir.”
“Eh, Let—”
Tuut ... tuut ... tuut ....