Letta terdiam meremas ponselnya dengan tanpa sadar menahan napas. Tapi, suara pancuran kembali terdengar. Napas lega pun keluar dari mulut Letta.
Menit demi menit berlalu, suara air pancuran terdengar berirama, gadis mungil itu menuju pintu keluar dan menuju ke pagar pembatas untuk menghirup udara dan mengalihkan rasa takutnya ke segala hiasan di rumah itu terutama lampu gantungnya yang sangat besar di atas aula. Letta berusaha membersihkan pikirannya dari kejadian tadi, dan menggeleng berkali-kali karena matanya sudah ternoda oleh tubuh indah pria itu.
Tapi, jantungnya terus berdetak cepat, membuat dirinya menarik senyum lebar dan membayangkan tokoh pria di komiknya yang juga pernah melakukan itu pada gadis yang disukainya. Sedikit-sedikit dia terkekeh seperti orang kerasukan. Buru-buru dia menutup mulutnya supaya tidak terdengar oleh Arion. “Nggak! Ini berbeda dengan di komik, Letta!”
Benar saja, pria itu sudah keluar dari kamar mandi dan memanggilnya. Seketika Letta menetralkan mimik mukanya lagi dan berbalik menuju ambang pintu. Pria itu masih t*******g d**a dengan rambut basah dan handuk yang masih menggantung di pundaknya. Mata Letta tertuju lurus ke tubuh Arion yang mulus dan masih lembab itu. Perlahan kakinya melangkah semakin masuk ke kamar dan melihat tato di belakang pundaknya ketika pria itu mengambil kaus dari lemarinya.
Letta masih tidak mengerti tulisan dari tato itu. Seperti huruf Jepang yang menjadi sebuah kalimat tertulis dari punggungnya sampai ke depan lengan atasnya.
Arion berbalik menatap Letta yang tersadar dan langsung menatap manik hitam keabuan itu.
“Kenapa?” katanya.
“Hmm ... enggak.” Gadis itu menunduk mengalihkan pandangannya.
Lalu, Arion kembali mendekat, sontak gadis itu melotot. Kalau dia sedang berada di komik, mungkin hidungnya sudah mimisan.
“Penasaran, ya, sama badan gue?” tanya Arion sedikit berbisik.
Ini cowok pede banget rupanya! Tapi, emang iya sih, gue pengen banget pegang! Aaaaarrrgh!!! teriak Letta dalam hatinya. Tapi, enggak! Gue nggak mau m*****i tangan gue!
“Nanti kalo udah waktunya mungkin lu bakal tau maksud dari tato gue di bawah sini,” ucapnya menarik telapak tangan Letta ke bawah perutnya.
Sisi lain gadis itu langsung berteriak tidak keruan. Secepatnya dia menarik tangan jauh-jauh sebelum ujung jarinya menyentuh perut haram tersebut.
“m***m banget sih! Gue gak mau tau itu!” teriaknya mundur sampai menabrak tembok di belakangnya sembari meremas kepalanya untuk menghilangkan pikiran kotor yang terlintas di otaknya. “Gue cuma penasaran sama tato yang ada di pundak lu!”
Arion malah tertawa terbahak-bahak. “Jadi lu paham maksud gue? Bener-bener pernah baca genre ‘terlarang’, kan lu?”
“Ih, ngomong apa lu?! Komik yang gue baca cuma romansa anak remaja biasa, kok, tapi ... siapa yang gak mikir negatif kalo lu ngarahin tangan gue ke sana? Dasar m***m!”
Pria itu kembali tertawa sembari memasang kausnya. “Memang komik apa sih yang lu baca? Kayaknya lu tau banyak sampe seneng banget liat badan cowok.”
“Emm ... itu ....” Letta ragu harus memberitahunya atau tidak perlu, tiba-tiba saja dia jadi malu. “Siapa yang bilang gue suka liat badan cowok? Kalau badan cowok 2D ya ... suka!”
Pria itu berbalik menutup lemarinya dengan terkekeh dan berkata, "Yang di pundak ini Bahasa Jepang, artinya I'm One of a Kind, yang diawali huruf tawa di awal."
Letta terpana dan mengangguk paham meski tidak mengerti apa alasan pria itu membuat tato berbunyi demikian.
Arion kembali mendekat dan berbisik di telinga Letta. “Ngomong-ngomong, jangan keseringan baca komik begitu, nanti lu gak akan bisa nahan keingintahuan lu lagi. Terus ... gue yang repot.”
Letta merasa dipukul telak, dia memang salah sudah baca komik seperti itu di umurnya yang masih muda.
“Ta-tapi, elu yang nyerang gue terus, elu yang bikin gue takut!”
Arion tidak menggubris perkataan Letta dan berbalik menatapnya lalu memojokkannya ke dinding. “Lu cuma boleh liat dan nyentuh badan gue, jangan yang lain!” bisiknya lagi.
Ini orang kenapa sih? Siapa juga yang mau pegang-pegang dia? Emang gue mau liatin badan dia terus? Liat mukanya aja udah bikin gue deg-degan.
“Iiih! Bisa berhenti gak sih?!” bentak Letta mendorong Arion kuat-kuat, di saat yang bersamaan suara gemuruh terdengar dari perut gadis itu.
Sontak keduanya sama-sama terkejut. Muka Letta merah padam dan berlari keluar kamar sedangkan Arion tertawa untuk kesekian kalinya. Pria itu ikut keluar dan menyuruh gadis itu mengikutinya ke dapur.
Dengan rasa malu luar biasa, Letta mengekor di belakang tubuh Arion. Namun, melihat punggung pria yang tegap itu, niat jahilnya tiba-tiba datang.
“Berhenti!” teriaknya ketika mereka baru sampai di tengah tangga.
Arion berhenti dan menoleh. “Kenapa lagi?”
“Hadap sana! Jangan jatuh, ya!” perintahnya.
“Kenapa sih?” tanya Arion yang keheranan, namun tetap menuruti keinginan gadisnya itu.
Dia menghadap ke depan sampai mendengar perintah lainnya dari Letta. Tapi, dia dikejutkan dengan tubuh Letta yang lompat ke punggungnya, refleks Arion berpegangan pada pagar tangga dan menahan tubuhnya supaya tidak jatuh ke depan.
“Letta! Bahaya tau!” bentaknya.
“Ini pembalasan gue! Buruan ke dapur!” perintah Letta yang sudah melingkarkan kedua lengannya di pundak Arion dengan kuat. Kakinya pun melinkar di perutnya.
Arion hanya mendengus tak habis pikir dengan tingkah kekanakan gadisnya itu. Tapi, bibirnya tersenyum karena dia senang kalau Letta bisa bermanja-manja padanya. Letta sendiri tengah heran kenapa Arion tidak merasa keberatan? Padahal niatnya untuk memberatkan langkah pria itu.
Arion malah melangkah santai bahkan tidak menopang tubuh belakang Letta dengan kedua tangannya seolah sedang tidak membawa beban.
“Emang gue gak berat, ya?” tanya Letta kecewa.
“Enggak,” jawab Arion singkat menuju dapur yang ada di sisi kanan rumahnya.
Letta tidak mau turun meski Arion menyuruhnya duduk di atas meja dapur. Akhirnya Arion terpaksa terus menggendong gadis itu yang menempel seperti anak monyet di punggungnya. Pria itu mencari bahan makanan dan hanya menemukan telur.
Akhirnya dia memasak dua telur untuk mengganjal perut Letta.
“Sorry ya, cuma ada telur, tadi siang makanannya udah abis. Mbak juga kayaknya lagi di belakang nyiram tanaman,” kata Arion sembari mengocok telur di sebuah mangkuk kecil.
“Gak apa-apa gak makan juga, nanggung. Nanti malem juga gue makan di rumah.”
“Perut lu udah bunyi, orang yang punya penyakit maag gak boleh sampe kosong perutnya.”
“Tau dari mana gue ada maag?”
“Vendi.”
“Vendi?”
“Dia diberitahu Andhira.”
Letta pun menghela napas dan menunggu masakannya jadi. Setelah Arion menaruh dadar telurnya di atas piring beserta segelas air mineral, Letta baru mau turun. Pria itu menurunkan Letta dengan sangat hati-hati tepat di kursi makan dan membiarkan gadis itu menikmati camilan sorenya.
Arion duduk di sebelah Letta dan menopang kepalanya dengan sebelah tangan di atas meja. Pria itu mengamati Letta makan dengan senyum menghiasi bibirnya.
Letta sendiri terlihat biasa saja yang fokus pada makanannya sembari mengayunkan kakinya yang tidak sampai ke lantai, tapi di balik itu, jiwa dalam diri Letta berteriak dan menggeram malu karena ditatap seperti itu oleh Arion.
Tahan, Let! Tahan! Tetap tenang, aaargggh!!! Orang ini bener-bener nyebelin, bikin batin gue gak tenang! Kenapa pasang muka secakep itu? Kenapa kelakuannya mirip Naruse-kun? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kesal!
Begitulah jeritan hati seorang Sharletta di balik wajah datarnya saat ini.