#19 - Kakak Ipar

1298 Kata
Letta mengajukan diri untuk membantu mencuci piring sisa makannya. Gadis itu bergerak cepat meski dia jarang sekali mencuci piring karena biasanya selalu mamanya saja yang mencuci. Tapi, baginya ini latihan untuk hidup mandiri, selama ini pun dia selalu masak mie sendiri kalau siang dan mencuci piringnya. Dia masih belum bisa mencuci banyak piring. Wastafel di dapur rumah ini sedikit lebih tinggi rupanya, jadi dia agak kesusahan dan malah membasahi seragamnya karena terlalu menempel ke pinggiran wastafel. Arion yang melihatnya tersenyum dan mengangkat tubuh Letta lebih tinggi seperti mengangkat anak kecil yang ingin mengambil ikan di kolam. Perasaan Letta jadi campur aduk antara senang dan kesal. Dia selalu diperlakukan seperti anak-anak yang tidak ada berat-beratnya bagi Arion. Ditambah jemari pria itu yang berada di pinggir dadanya membuat jantung Letta kembang kempis. Akhirnya dia menyelesaikan cuciannya lebih cepat dan Arion menurunkannya perlahan. Tak sampai di situ, Arion mengelap bagian bawah d**a Letta yang basah dengan sebuah lap kering. Kemudian dia mengajak Letta kembai ke kamarnya dan memberikannya kaus. “Untuk apa?” tanya Letta bingung menerima kaus hitam polos itu. “Ganti bajunya! Nanti lu masuk angin, basah banget gitu.” “Oh, oke.” Tanpa basa-basi lagi dia masuk ke kamar mandi dalam kamar Arion. Dia pun melepas dasinya dan mulai melepas kancingnya satu persatu, tapi tiba-tiba pintu terbuka. Reflek Letta menutup tubuhnya dengan kedua tangannya dan dengan panik berteriak, “Kenapa masuk?!” Untunglah semua pakaian dia masih utuh menutupi tubuhnya. “Sorry, gue lupa bilang, gue mau ke bawah sebentar beresin dapur. Takut lu nyari gue,” kata Arion yang kembali menutup pintu tanpa rasa bersalah. “Ih! Kan bisa teriak!” bentak Letta yang tidak ditanggapi pria itu lagi. Buru-buru Letta pun mengunci pintunya. Dengan cepat dia mengganti seragam dengan kaus Arion yang rupanya nampak sangat besar dan panjangnya sampai ke paha. Tak lama setelahnya dia membuka pintu dan malah mendapati seorang pria tinggi di sebelahnya, bukan Arion karena wajahnya lebih dewasa dengan rambut yang dicat blonde lima sentimeter dari akarnya yang hitam. Rambutnya juga sedikit lebih panjang dari Arion hingga pria itu mengikatnya sebagian. Pria itu tersenyum menatap Letta yang terpaku menatapnya. Wajahnya sama tampannya dengan Arion, sedikit mirip, tapi yang ini tampak lebih kalem dan ... membuat Letta terpesona. Otak Letta mencari-cari sosok yang mirip dengannya, seperti pernah dia lihat entah di mana. Pria itu hanya memakai kemeja putih panjang longgar yang bagian dadanya sedikit terbuka serta celana panjang hitam yang sobek di bagian lututnya. Tanpa sadar Letta memerhatikan pria itu dari ujung kepala sampai kakinya. Lalu pria itu bicara. “Hmm ... gue kira Ari yang di dalem, rupanya gadis manis.” Letta semakin terkejut karena cara bicaranya jauh berbeda dengan Arion, yang ini lebih lembut dan bernada. Tingginya sama dengan Arion, tapi pria ini memiliki hawa yang jauh lebih dingin. “S ... siapa ya?” tanya Letta dengan polosnya. Apa Arion tiba-tiba berubah jadi lelaki yang lebih tampan kayak manekin gini? Pria itu kembali tersenyum, bagi Letta senyumnya sangat memesona namun juga menakutkan. Wajahnya sangat mulus tanpa cela bagai boneka berjalan. Orang itu membungkuk dan menatap Letta lebih dekat hingga gadis itu mampu melihat mata abu nan indah di hadapannya. Semerbak bunga yang habis terkena air hujan di pagi hari menyeruak masuk ke rongga hidung Letta. Sangat menyegarkan dan menenangkan. “Namaku Oxel Agara. Nama kamu siapa?” tanyanya dengan ramah seperti bicara pada gadis kecil. Wajah Letta memerah saking terpesona oleh pria di hadapannya ini. “Le ... Letta. Sharletta ... Adhisty,” jawabnya terbata-bata tanpa mengedipkan matanya. “Hmm ... manis banget, pacarnya Ari kah?” Letta tidak menjawab dan hanya tersipu malu. Lalu pria bernama Oxel itu mengelus kepala Letta. Saat itulah tangannya dicengkeram dan ditarik menjauh oleh seseorang. “Ah, Ari ... gue nyari lu barusan,” ucap Oxel mendapati tangannya diremas oleh Arion. Letta merasa senang melihat Arion lagi. “Ayon!” Sontak kedua pria di depannya menoleh pada Letta. Arion merasa tersipu melihat tubuh Letta yang tenggelam dalam kaus hitamnya sedangkan Oxel tersenyum gemas. “Ayon?” tanya Oxel yang reflek menepis lengan Arion dan menatap geli pria itu. “Ah ... reflek aja manggil gitu, hehe ... lu gak marah ‘kan?” ucap Letta bertanya sekali lagi pada Arion. Arion hanya menatap Letta dengan senyum yang dipaksakan karena masih kesal dengan Oxel. “Urusin dulu deh cewek lu, urusan gue bisa nanti,” potong Oxel. Pria itu segera beranjak melewati mereka keluar dari kamar. “Sejak kapan lu di rumah? Bukannya lu bilang besok baru mau pulang?” tanya Arion sebelum Oxel benar-benar pergi dari sana. “Dari siang sampe, gue di kamar terus, istirahat.” Oxel memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan wajah penuh senyum. “Hmm ... ada urusan mendadak, jadi gue dateng hari ini,” lanjutnya dan segera berlalu ke arah tangga. Letta yang kebingungan dengan situasi itu jadi tidak enak lama-lama ada di rumah ini. “Gue pulang aja deh, anter gue, Yon!” ucap Letta dengan suara pelan. “Oh, sorry ya. Lu gak diapa-apain ‘kan sama dia?” tanya Arion cemas. Letta menggeleng dengan cepat. “Dia cuma nanya nama gue doang, emang dia siapa?” “Kakak gue.” Wajah Arion nampak lesu. “Menurut lu dia gimana?” “Ha? Gak gimana-gimana, hawanya emang beda siiih. Dia cakep banget kayak boneka, tapi—” Belum selesai Letta bicara, Arion langsung memeluk tubuh mungil itu kuat-kuat. Jelas hal itu membuat Letta kebingungan. “Jangan! Tolong jangan suka sama dia!” perintah Arion. Gadis itu terkejut mendengarnya lalu dia tertawa gemas. “Apaan sih? Gue gak bilang suka, gue sukanya sama lu doang. Eh, maksudnya ....” Letta jadi malu sendiri mengatakan itu. Arion menatap Letta lekat-lekat dan tersenyum lega, dia pun memeluk Letta sekali lagi dan bersiap mengantarnya pulang. Letta mengambil ranselnya yang ditaruh di bawah kasur Arion lalu memasukkan seragmnya ke dalam. Mereka pun turun ke bawah dan menuju parkiran motor tanpa bicara. Tidak lupa, Arion memakaikan gadis mungil itu jaketnya sebelum jalan. Ada kelegaan di d**a Letta karena Arion tidak berniat melakukan hal tak senonoh padanya. Arion sangat baik, dia hanya jahil, itulah yang ada di pikiran Letta. Di perjalanan itu seperti biasa Letta memeluk erat tubuh Arion, hatinya terus berbunga-bunga karena hari ini dia bisa mengenal kehidupan Arion lebih jauh. Mama Arion cantik banget, baik lagi, kakaknya aja seganteng itu, pantes Arionnya juga cakep. Sekarang gue pansaran bapaknya seganteng apa? Batin Letta mulai berdialog sendiri dan senyum-senyum di saat Arion justru merasa cemas dengan hal lain. ٭٭٭  Sesampainya di rumah, Letta menyadari kecemasan di wajah Arion saat mengembalikan helm dan jaketnya. “Lu kenapa?” tanya Letta. “Gak apa-apa, gak usah khawatirin gue,” jawab Arion mengelus pipi Letta dan berusaha menunjukkan senyumnya. “Hmm ....” Letta menatap Arion lebih dalam sembari mengingat segala kemungkinan yang membuatnya cemas. “Lu takut gue jatuh cinta sama kak Oxel?” Tiba-tiba Arion menurunkan senyumnya dan kembali lesu. Letta malah tersenyum dan berjinjit sedikit mengelus kepala Arion yang masih duduk di motornya. “Don’t worry, I’ll always love you. Selama lu gak mainin gue sih, karena lu yang pertama untuk gue. You are my dream come true.” Bola mata Arion membesar dan mukanya memerah, reflek dia tersenyum lega. “You too, lu yang pertama bikin gue sejatuh ini, Let. Gue sangat percaya sama lu. Gue cuma takut aja orang lain yang ...” “Hmm ... kan ada lu. Gue percaya lu bisa jagain gue, iya ‘kan?” jawab Letta tersenyum lepas memotong kalimat Arion. “Lagian kakak lu baik, kok, ramah banget sama gue. Dia gak akan macem-macem selama masih ada lu di sisi gue.” Arion hanya tersenyum mengangguk dan mengelus tangan Letta sebelum kembali ke rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN