Arion memarkirkan kendaraannya di tempat biasa. Setelah menaruh helm, dia pun pergi ke depan untuk menaiki anak tangga kecil menuju pintu depan rumahnya. Di saat yang bersamaan, pintu pagar kembali dibuka, Molly datang. Lelaki tinggi itu pun berbalik dan kembali ke area parkiran untuk membantu mamanya yang sudah pasti akan membutuhkannya.
Mbak Neni membuka bagasi mobil Molly dan mereka berdua mulai mengambil sau persatu tas belanjaannya, Arion pun langsung membantu tanpa diperintah. Seperi biasa Molly selalu belanja pakaian branded, perhiasan, aksesoris, sampai bahan makanan kalau moodnya sedang bahagia atau buruk. Dia tidak membeli semua untuk diri sendiri, dia selalu membelikan beberapa untuk suami dan kedua anaknya itu, tak terkecuali Mbak Neni. Asisten rumah tangga itu selalu diberikan beberapa pakaian wanita dan anak serta s**u.
Molly memang berhati baik dan memiliki pikiran yang sederhana meski hobi berbelanja. Sebagian penghasilannya selalu dia sumbangkan juga untuk anak-anak yatim. Oleh karena itu rezeki keluarga Agara tidak pernah habis.
Molly dan Arion masuk ke dalam melalui pintu depan sedangkan Mbak Neni seperi biasa melalui pintu belakang. Sebelum ibu dan anak itu membuka pintu, Molly berhenti dan berbalik pada Arion.
“Anak itu udah pulang? Letta, ya, namanya?” tanya Molly.
“Iya, barusan aku anter,” jawab Arion singkat.
“Yaah, kapan dibawa ke sini lagi? Pas ada mama dong!” rayu Molly.
“Hmm, ya liat aja nanti.”
Molly pun hendak membuka pintu, tapi kembali berhenti hingga membua Arion gemas dan hanya bisa menhela napas.
“Ngomong-ngomong dia udah ketemu Oxel?” tanya Molly lagi.
Arion langsung kesal dan berkaa, “Udah. Mama gak bilang kalo dia ada di rumah! Aku sempet lengah, untung aku cepet dateng ke kamar.”
Molly berpura-pura terkejut dan sedikit berbisik. “Oxel masuk kamar kamu pas Letta sendirian? Terus gimana?”
“Ya, gak gimana-gimana, dia cuma ngelus kepala Letta.”
Molly tersenyum. “Dia memang selalu terarik sama apa yang kamu punya, Ri. Dari kecil selalu begitu, apa kamu mau mengalah terus?”
Arion hanya diam memandang mamanya yang tersenyum penuh arti. Kemudian mereka akhirnya benar-benar masuk rumah. Sesampainya di aula, pria tinggi lainnya sudah menunggu mereka di sana.
“Oxel! Kamu udah bangun? Mama beliin kamu ini,” kata Molly meraih satu tas belanjanya dan diberikan pada anak pertamanya itu.
Oxel hanya tersenyum manis dan berterima kasih pada mamanya. Lalu Molly mengambil sisa belanjaannya yang Arion bawa dan memberikan satu juga untuk anak bungsunya itu.
“Kalian jangan berantem ya, mama mau nyiapin makan malem sama Mbak Neni!” perintah Molly melenggang ke dalam.
Ketika melewati tubuh Oxel, dia menepuk bahunya yang tinggi dan berbisik, “Jangan mainin adik kamu terus, sayang.” Lalu dia masuk ke kamarnya yang ada di sisi kiri rumah ini.
Sedangkan Oxel hanya tersenyum tanpa emosi.
Oxel pun mendekat. “Gue ada kenalan orang dalem Namseen, anak perusahaan Green Steel. Lu udah kelas dua belas ‘kan? Pasti butuh tempat untuk PKL. Siapa tau lu tertarik, nih kartu namanya,” kata Oxel memberikan sebuah kartu nama putih dengan huruf yang dicetak berwarna perak pada Arion.
Adiknya itu mengambilnya sembari memerhatikan kartu nama tersebut. “Thanks,” singkatnya memasukkan kartu nama itu ke saku celana lalu berjalan menuju tangga tanpa mengatakan apa pun lagi.
“Ngomomg-ngomong ... yang ini manis banget, memang tipe lu sih. Yang sebelumnya enggak banget deh.”
Kalimat Oxel itu membuat Arion geram namun dia berusaha tidak memedulikannya dan terus melangkah menaiki tangga berpagar hitam yang dilapis warna emas itu.
“Kapan lu bawa dia ke sini lagi?” tanya Oxel. Kalimat itu menggema di aula bahkan di dalam kepala Arion.
Arion akhirnya menghentikan langkah dan berbalik menatap Oxel di bawah sana yang dengan santai menunggu jawabannya.
“Gue gak akan kasih yang ini, dia milik gue!” pekik Arion dengan nada yang lebih berat sembari meremas tali tas belanjanya.
“I know,” jawab Oxel singkat dengan senyum mengembang di bibirnya.
Mereka saling menatap satu sama lain beberapa detik hingga Arion muak dan memilih kembali melenggang menaiki tangga menuju kamarnya.
٭٭٭
Di sisi lain Sharletta tengah berbunga-bunga di kamarnya. Dia bahkan tidak mau mengganti bajunya, tapi kalau dipakai terus pun nanti akan semakin kotor. Jadi, dia terpaksa menggantinya dengan pakaian tidur dan memasukkan semua pakaian kotornya dalam keranjang cucian di depan kamarnya. Di lantai duanya itu hanya ada kamarnya dan satu kamar tamu. Semua menghadap ke balkon depan rumahnya. Dua kamar itu dipisahkan oleh sebuah jalan lorong menuju pintu balkon. Biasanya area depan kamarnya di sisi kiri dipakai untuk menjemur pakaian, di sisi lainnya ada sebuah kursi kayu untuk bersantai.
Lantai duanya tidak terlalu luas, kurang lebih mirip seperti lantai dua rumah Arion. Ada sebuah ruangan lain yang dipakai untuk mencuci pakaian dan satu ruang kamar mandi yang berhadapan dengan kamar Lettta. Jaraknya hanya sekitar lima meter. Jalan antara ruangan dan pagar pembaas tangg apun hanya sekiar dua langkah.
Setelah makan malam di bawah bersama papa mamanya, dia kembali ke kamar untuk belajar. Tapi, pikirannya selalu teralihkan pada setiap kejadian di rumah Arion tadi. Jantungnya kembali berdebar mengingat wajah menggodanya, tubuh atletis nan indahnya, serta suaranya yang selalu nikmat untuk didengar. Apalagi ketika pria itu menyebut namanya.
Tiba-tiba dia memandang tangan kanannya yang pernah menyentuh d**a dan roti sobek pria itu. Bibirnya kembali tersenyum gemas, buru-buru dia mengambil bantal dan mulai berteriak di dalamnya.
“Kalo setiap hari gue digituin bisa jantungan kali ya? Bikin deg-degan terus ih!” bisik Letta pada bantalnya.
Kemudian dia melempar bantalnya ke kasur dan menarik napas dalam lalu mengeluarkannya dengan cepat. “Gak boleh! Gue harus fokus belajar biar bisa dapet nilai yang lebih tinggi dari kemarin.”
Setelah dia menepuk wajahnya berkali-kali, gadis mungil itu pun bisa fokus belajar dan melupakan sejenak kegirangannya.
Dua jam dia lewati dengan tenang, buru-buru dia menutup semua buku dan memasukkannya ke dalam tas untuk dibawa besok. Dia pun menyiapkan seragam putih cadangannya untuk dipakai besok. Tiba-tiba dia teringat sesuatu ketika matanya melihat sebuah kalendar di dinding sebelah lemarinya.
“Ah, iya. Akhir minggu ini ada AFA,” bisiknya.
Hatinya bergetar tidak sabar untuk hari itu tiba. AFA adalah singkatan dari Anime Festival Asia, pameran yang cukup besar yang akan di selenggarakan di Indonesia. Di sana akan ada banyak barang-barang Manga, Anime, dan cosplayer yang dia sukai. Ada satu cosplayer yang dia ikuti dan sudah beberapa kali bertemu dengannya, nama panggungnya Olioz, pria yang selalu berdandan ala anime atau tokoh 2D yang bisa dikatakan sangat mirip dengan aslinya. Seperti 2D yang muncul ke dunia nyata, dia pun sudah memenangkan berbagai penghargaan atas penampilannya tersebut.
“Kali ini dia jadi apa ya?” tanya Letta pada dirinya sendiri.
Gadis itu sudah minta izin pada orang tuanya sejak minggu lalu untuk mendatangi acara tersebut. Dia memang sudah diberi uang untuk ke sana, tapi dia pun diam-diam tetap menabung karena targetnya tahun ini harus beli sebuah Dakimakura tokoh Naruse. Dakimakura sendiri adalah sebuah guling yang kain penutupnya biasanya bergambar tokoh Anime, Manga, Game, atau apa pun yang berbau 2D. Biasanya pula tokoh itu akan berpose beda dari biasanya, lebih ke seksi dan memesona. Kalau itu tokoh perempuan biasanya lebih seksi dan menunjukkan pakaian dalamnya, bahkan ekspresinya sengaja dibuat er*tis. Letta tidak menyukai yang seperti itu, terlalu berlebihan pikirnya. Dia hanya ingin tokoh Naruse yang tampan, seorang pria yang membuatnya selalu senyum-senyum sendiri di setiap lembar adegannya. Dan pria itu jadi mengingatkannya pada Arion.
Dia beralih menghitung uang tabungannya yang sudah ada dua ratus sejak satu bulan terakhir ini. Lalu tambahan dari papanya sebanyak tiga ratus. “Pasti cukuplah!” bisiknya memeluk uang tersebut.