#21 - Lebih Dewasa

1540 Kata
Dua hari berlalu sejak Letta ke rumah Arion, mereka kembali fokus pada sekolahnya lagi. Meski begitu Arion selalu menelepon Letta sebelum tidur hingga mengacaukan jadwal baca komiknya. Gadis itu selalu merengek untuk tidak ditelepon saat dia tengah membaca komik. Tapi, jawaban Arion malah membuat Letta tidak bisa berkata-kata dan mau tidak mau menerima telepon itu sampai Letta ketiduran dengan sendirinya. “Iya, si Arion masa suruh gue milih antara dia atau Naruse-kun? Gue ‘kan bingung!” rengek Letta pada Dhira yang daritadi menyimak curhatan sahabatnya itu dengan bosan. “Ya wajarlah, mana ada orang mau dikalahin sama tokoh komik? Haduuh, terus lu jawab apa?” tanyanya. “Hmm ... gue gak jawab. Tapi, gue jadi gak bisa nutup teleponnya. Gue seneng sih denger suara dia, tapi kalo sampe gak bisa baca komik favorit gue tiap malem jadi sebel juga!” “Ya, lu ubah aja jadwal baca lu. Gampang!” Letta berpikir sejenak dan menyetujui saran sahabatnya itu dengan perasaan lega. Mungkin dia harus membaca komik tepat setelah selesai belajar di malam hari. “Ngomong-ngomong lu kenapa sih? Kayak gak semangat gitu mukanya?” tanya Letta. “Muka gue emang begini dari dulu,” jawab Dhira asal. “Yee ... gue tanya baik-baik juga. Ada masalah kah sama orang rumah? Atau sama cowok-cowok lu?” Jam istirahat sebentar lagi habis, mereka kembali ke kelasnya dan Dhira mulai bicara di kursinya. “Semalem gue mutusin semua cowok gue kecuali Pendi.” Letta terkejut dan langsung melotot menatap wajah lesu seorang Andhira yang selalu memiliki banyak pacar itu. “Kenapa?” “Bosen aja, gue lagi cape berhubungan. Semuanya gak ada yang bisa bantu gue keluar dari tekanan di rumah.” Gadis mungil di sebelahnya itu mulai berwajah khawatir. Dhira yang menyadari tatapan itu langsung duduk tegak dan menunjukkan ekspresi santainya seperti biasa. “Tenang aja, gue tinggal cari yang baru, kok!” serunya. “Hmm ... tapi, kenapa Vendi gak lu lepasin juga?” “Dia ... dia gak mau, masih sayang katanya. Dia bakal jemput gue siang ini, lu gak apa-apa pulang sendiri?” “Oh, gak apa-apa, kok. Bagus, mending lu pertahanin dia kalo dia serius dan baik. Siapa tau sama dia, beban lu sedikit berkurang?” “Gak mungkin, dia orangnya gak ngerti apa-apa. Dia gak bisa diandelin!” “Emang lu udah coba curhat sama dia?” Dhira terdiam dan menggeleng. “Nah, jangan mikir negatif dulu kalo belum dicoba. Siang ini lu manfaatin deh waktu lu sama dia.” Dhira hanya mengangguk sembari terus mempertimbangkan saran Letta. Sepanjang pelajaran hari ini, Andhira nampak tidak fokus. Tapi, Letta berusaha untuk terus membantunya kalau dia tidak tahu sampai mana sang guru menjelaskan atau soal mana yang harus dikerjakan. Letta paham sahabatnya itu tengah dilanca kebingungan. Semua orang pasti menginginkan seseorang yang mengerti dirinya dan mampu mengurangi bebannya meski hanya sedikit. Tapi, itu sangat penting, apalagi masalah Dhira di rumahnya itu benar-benar membuatnya tertekan sampai menjalani hubungan yang tidak sehat sejak dini. Siapa yang tidak tahan diperlakukan kasar oleh orang tua sendiri? Letta saja yang jarang diperhatikan merasa selalu sendiri dan tidak ada yang peduli. Tapi, sebisa mungkin kedua sahabat itu ingin selalu ada untuk satu sama lain. Mereka sama-sama menyembunyikan lukanya demi membuat hati orang lain bahagia. Dhira adalah gadis yang sangat peduli pada Letta dan memberikan segala yang membuat sahabatnya itu senang. Begitupun Letta yang selalu berusaha tampil ceria supaya sahabatnya itu bisa selalu senang berada di dekatnya. Ya, semua orang mengenakan topeng kebahagiaan demi membahagiakan orang lain. Tapi, mereka lupa cara membahagiakan diri sendiri. Dhira bisa saja bahagia kalau menempuh jalur yang lurus, pikir Letta, mungkin ini kesempatan bagus untuk Vendi terus mengisi hatinya dengan cinta dan membuat Dhira berhenti menyakiti diri sendiri dan laki-laki lain. ٭٭٭  Sharletta menunggu kepulangan Dhira di teras balkon lantai duanya sembari berbaring di sebuah kursi panjang. Dia membaca komiknya lagi ditemani kripik keju dan s**u kotak yang dia ambil dari dapur. Menikmati sore hari yang mendung ini dengan hati berdebar karena adegan romantis dalam komik tersebut. Berkali-kali bibirnya tersenyum malu dan suara kekehan kecil keluar dari mulutnya. Hatinya begtu gemas membaca tiap slide cerita di gawainya. Sayang, semua komik kesukaannya bersambung lebih cepat. Dia pun bingung harus baca komik apa lagi, dia pun membuka Instagramnya dan melihat akun Olioz. Melihat postingannya membuat mata lebih segar lagi, semua isinya hanyalah dandanan dia yang sedang bercosplay. Tidak ada yang tahu wajah dia yang sebenarnya. Tapi, pasti sangat tampan dari lahir, pikir Letta. Tidak ada postingan baru sudah seminggu terakhir ini, story pun hanya satu. Pemandangan kota dari balkon lantai dua. Mungkin rumahnya. Tak lama kemudian teleponnya berdering. Awalnya membuat Letta terkejut, namun setelah melihat namanya di layar, dia jadi lebih tenang dan berusaha tetap setenang mungkin untuk menjawab panggilan video itu. Begitu tombol hijau ditekan, gadis mungil itu langsung menyembur lawan bicaranya dengan pertanyaan sinis. “Kenapa?” “Lagi baca komik ya?” tanya pria di seberang sana yang masih menggunakan seragam SMA-nya. “Emang kenapa?” “Kenapa lu gak pernah hubungin gue duluan? Emang lu gak kangen sama gue?” Sejenak Letta terdiam dan malu sendiri. Dia rindu, tapi malu. Jawabannya hanyalah gumaman tanpa kata. Arion di seberang sana hanya tersungging tipis. “Gue kangen banget sama lu,” katanya singkat. Sontak Letta kembali berdebar mendengar pernyataan blak-blakan pria itu. Gadis itu jadi tidak enak karena Arion selalu membuatnya bahagia sedangkan dia malah memikirkan gengsi. “Gue juga, kok,” jawab Letta akhirnya sembari tertunduk malu. Gadis itu melirik ke layar gawainya dan melihat ada senyum lega di wajah Arion. “Sabtu besok jalan yuk!” ajak Arion. “Pulang sekolah gue jemput.” “Ha? Sabtu ya? Bisa sih. Semoga orang tua gue ngizinin ya.” “Emang lu ada acara lain?” tanya Arion dengan ekspresi mencurigakan. “Enggak, kok, hehe ....” Letta takut kalau Arion tahu hari Minggu ada acara AFA itu dan malah ngikut, Letta jadi tidak bebas fangirlingan dengan cosplayer tampan di sana. Tapi, Arion sendiri sudah curiga meski akhirnya dia memilih mengalah dan tidak menanyai kelanjutannya lagi. “Yaudah, pulang sekolah gue anter ke rumah sekalian minta izin sama orang tua lu. Mereka libur ‘kan Sabtu?” “Eh? Iya sih, tapi ... lu mau ketemu mereka?” “Kenapa enggak? Lu bakal jadi calon istri gue nanti.” Wajah Letta langsung merah padam. Apa hubungan mereka bakal selama itu? Dia sendiri masih SMP, untuk sampai ke jenjang pernikahan pasti harus melewati masa kuliah dulu dan di atas kepala dua. Itulah yang Letta pahami tentang pernikahan di Indonesia ini. Masih butuh banyak waktu dan perjalanan panjang, pikirnya. “Masih lama itu, kenapa udah ngomongin istri segala, deh?” tanya Letta akhirnya bisa membuka mulutnya lagi. Arion hanya tersenyum gemas. “Lulus SMA pun kita bisa langsung nikah, sayang.” Gadis mungil itu menarik napas dalam-dalam karena dipanggil dengan sebutan yang membuat hatinya meleleh. “Ih, kata siapa?! Gue mau kuliah kali! Mau kerja, mau menggapai mimpi!” “Menikah bukan berarti nahan mimpi lu, cara berpikir lu masih kuno, ya? Menikah itu harus disegerakan, lu mau kuliah? Gue persilakan, lu mau kerja? Juga silakan aja, apalagi meraih mimpi, gue bakal dukung lu dua ratus persen. Bukannya menikah itu menjauhi hal negatif? Percaya sama gue, Let. Kalo udah waktunya nanti, gue bakal nemuin orang tua lu lagi dengan lebih formal.” Letta benar-benar tidak bisa berkata apa pun, hatinya terenyuh. Dia pikir menikah berarti melepas segalanya. Tapi, Arion mengatakan yang sebaliknya. Mungkin pikiran Letta terpaku pada kedua orang tuanya yang menikah ketika lulus SMA dan mamanya tidak bekerja sama sekali. Awalnya memang membahagiakan, tapi lama kelamaan mamanya jenuh dan memilih mencari pekerjaan. Namun, bukannya keluarga makin bahagia, malah membuat papanya yang dirugikan. Mamanya jadi suka pulang di atas jam tujuh tanpa menyiapkan makan malam. Papanya adalah tipe yang menginginkan makanan tersedia saat pulang kerja dan disambut oleh sang istri. Letta pun jadi kurang kasih sayang lagi dan membuat mereka semua semakin menjauh satu sama lain. Orang tuanya memang masih memanjakan Letta namun hati mereka tidak seintim dulu. Letta tahu di depan orang tuanya harus terlihat bahagia supaya tidak menambah masalah dalam keluarganya, jadi setiap hari dia harus memasang topeng di depan keluarga sendiri. Dia tidak pernah bercerita soal kehidupannya pada kedua orang tuanya. Dia lebih sering menyimpannya dan mencari solusi sendiri atau mengatakannya pada Dhira jika sudah benar-benar tertekan. Hingga akhirnya dia merasa terbiasa tanpa bantuan orang tuanya. Dari situlah, dia mersa harus meraih mimpinya dulu baru menikah. Dia tidak mau menyesal di kemudian hari. “Kok bengong?” tanya Arion. Reflek Letta tersadar dengan panggilan itu. Dia bener-bener sangat dewasa dibanding gue, pikirnya dalam hati. Letta jadi merasa minder, tapi di sisi lain dia jadi semakin memercayai pria itu untuk terus ada dalam hidupnya. Dia merasa ada secercah harapan untuk bisa bahagia tanpa topeng di luar sana. Disaat yang bersamaan terdengar suara motor dari depan rumahnya. Letta bangkit dan mendekati pagar pembatas. Nampak sahabatnya turun dari motor bersama pria berseragam SMA di depan rumah besar itu. Letta melihat wajah Dhira yang sembab tengah tersenyum pada Vendi dan membiarkan pria itu kembali beranjak pulang. Buru-buru Letta bicara pada Arion untuk menutup teleponnya karena dia harus bicara pada Dhira. Untunglah pria itu mengerti dan menutup teleponnya tanpa basa-basi lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN