Siang itu Letta lagi-lagi mengecek gawainya terus menerus disaat Dhira sibuk dengan teleponnya dengan salah satu prianya. Mereka berjalan dan terus berjalan tanpa bicara. Kemudian Letta memberi isyarat pada Dhira untuk mampir ke tempat jajanan di pinggir lapangan, Dhira mengangguk dan mengikuti arah Letta. Mereka duduk dan memesan dua es campur. Dhira duduk di hadapan Letta yang menghadap ke jalan sedangkan Letta duduk menghadap ke lapangan. Suara hilir mudik murid-murid yang melewatinya di belakang tak dipedulikannya karena memang itu hal biasa.
Tiba-tiba gawai Letta yang ditaruhnya di atas meja bergetar. Dengan cekatan dia melihatnya, nama Arion terpampang di layar hingga membuat bibirnya mengembang dan menekan tombol hijau. Suara di seberang sana menyapanya dengan lembut.
“Hai, Let. Lagi di mana?” tanya Arion dengan suara khasnya yang sedikit dalam.
“Di tempat jajanan nih deket lapangan,” jawab Letta setenang mungkin.
“Hmm ... yaudah gue cuma tanya, kok. Gue tutup, ya, teleponnya.”
“Eh!” Telepon itu ditutup begitu saja membuat Letta keheranan dan kecewa.
Gawainya kembali diletakan di atas meja dan Dhira tiba-tiba menyudahi teleponnya ketika seorang pria beridri di belakang Letta dengan menaruh telunjuknya di depan bibir. Dhira mengalihkan pandanganya dan berdeham. Letta yang tengah lesu itu menatap Dhira heran, namun sedetik kemudian pipinya dicium oleh seseorang. Reflek dia menengok dan mendapati Arion sudah duduk di sebelahnya menaruh jaket di dan ranselnya di atas meja.
Letta hanya bisa diam dan perlahan menatap Dhira yang menahan tawanya. Tak lama es campur pun datang dan membuyarkan keterkejutan Letta. Arion meminta segelas kopi hangat pada pedagang minuman yang tak jauh darinya.
“Lu seneng gak ketemu gue?” tanyanya mengelus pipi Letta yang tadi diciumnya.
Gadis itu kembali menegang, ingin sekali dia menepis tangan itu, tapi rasanya seluruh tubuhnya jadi kaku sesaat.
“Emm ... entahlah, lu nagapain di sini? Tadi nelepon itu kenapa?” tanya Letta berusaha mengalihkan ketegangannya.
Pria itu menyunggingkan senyum. “Iseng aja, biar lu kaget.”
Letta menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar lalu mulai menikmati es campurnya. Arion merapatkan duduknya bersamaan dengan kopinya yang ditaruh di depannya. Lengannya jadi menyentuh lengan Letta hingga membuat gadis itu kembali berdebar. Lengannya lebih gede dari gue ya? Ngapain sih dia nempel-nempel? Bikin deg-degan aja! Batinnya.
“Eh, Dhir. Tadi gue ketemu Vendi,” ucap Arion yang bicara pada gadis cuek itu.
“Kenapa?” tanyanya tanpa menatap Arion.
“Dia mau ikut ke sini tadi, tapi gajadi gara-gara harus anter nyokapnya.”
“Hmm ...”
Letta hanya mengamati Dhira yang seperti tidak tertarik dengan pembicaraan itu. Kemudian kakinya menendang kaki sahabatnya itu hingga membuat Dhira tersadar dan berusaha tertarik membahas kekasihnya itu.
“Eh, terus dia baik-baik aja ‘kan? Akhir-akhir ini gue lagi ga mood jadi jarang nanggepin chatnya,” ucap Dhira seolah tengah cemas.
Kali ini Arion yang tidak semangat lagi dan hanya mengangguk. “Gue cuma mau nyampein aja.”
Arion kembali memerhatikan Letta dan meminta makanannya dengan paksa. Mau tidak mau dia memberikan sendok dan sedotannya untuk Arion.
“Beli sendiri dong kalo mau!” bentak Letta.
“Gue maunya yang punya lu,” kata pria itu sembari menyeruput kuah es campurnya dan memakan alpukat yang paling besar. “Hmm, enak. Jajanan di sini emang enak-enak ya?”
Buru-buru Letta merebut mangkuknya kembali dan menghabiskan sisanya. Di sisi lain Dhira hanya tersenyum geli melihat kelakuan dua sejoli itu.
“Eh, Ri! Kalo lu mau ketemu Letta di sekolah, boleh aja. Tapi, coba deh jangan pake seragam,” ujar Dhira membuka percakapan kembali.
“Kenapa?” tanya Arion yang mulai menyeruput kopinya.
“Tadi dia difitnah sama temennya yang kemarin karena jalan sama lu sampe masuk BP. Untung aja gue tau ceritanya detail jadi bisa bantu Letta biar gak jadi kena teguran.”
Arion melirik gadis di sebelahnya yang masih asyik menyeruput seluruh air manis itu sampai tak bersisa. “Temennya yang mana?” tanya Arion dengan muka serius.
“Dua cewek yang sama dia, lu liat ‘kan kemarin?”
Arion berpikir sejenak dan mengiyakan. Kemudian dia menundukkan wajahnya ke depan Letta.
“Lu gak apa-apa?” tanyanya dengan khawatir.
Pria di depannya itu tersenyum lega, kemudian mengelus kepala Letta dan memainkan rambut bergelombangnya yang digerai itu. “Elu cantik, Let,” katanya lagi.
Sontak Letta mematung mendengar kalimat itu. Menerima pujian seperti itu dari mulut seorang pria yang dia sebut ikemen membuatnya ingin sekali berteriak kegirangan dan memeluk pria itu. Namun apa daya, dia harus lebih kuat lagi menahan perasaannya dan alhasil malah meremas tempat duduknya.
Pria itu kembali ke posisi semula dan beranjak dari duduknya lalu membayar semua pesenan mereka. Dhira yang menyadari itu berteriak untuk menolaknya, tapi Arion sudah telanjur memberi uangnya. Lalu dia kembali mendekati Letta dan mencium keningnya sebelum pamit pulang.
“Hati-hati ya, Let pulangnya. Kabarin gue kalo udah di rumah,” teriak Arion memakai helmnya dan bersiap pulang.
Dhira menggeleng ketika Letta tersneyum lebar padanya dan mengajaknya segera pulang.
Di jalan pulang itu Dhira mengatakan sesuatu yang membuat Letta semakin berdebar dan semakin berandai-andai tentang Arion. Sampai dia di rumah, mandi, ganti baju, mengerjakan PR, semua dilakukan dengan bibir yang tersenyum dan semangat tinggi. Dia menyelesaikan PR-nya lebih cepat setengah jam. Setelah dia merenggangkan tubuh di kursinya, dia membuka gawai dan ada banyak pesan masuk dari Arion. Dia lupa menyalakan nada deringnya.
Kebanyakan isi pesannya menanyakan keberadaan gadis itu sejak tadi sore. Dia lupa mengabarinya, saat pulang sekolah itu dia langsung tertidur saking lelahnya berkhayal tentang dia dan tokoh komik kesukaannya. Bangun-bangun langsung mandi dan belajar.
Buru-buru dia membalas. Belum sempat dia keluar ruang obrolan, chatnya langsung dibaca.
“Apa dia nungguin gue daritadi ya?” bisik Letta.
Pesan pun masuk lagi. “Lu bikin gue panik, daritadi gue nahan diri untuk gak ngedatengin rumah lu!” katanya.
“Ya, jangan lah! Gue gak apa-apa, kok,” balas Letta panik.
“Sekarang lagi apa?”
“Mau baca komik.”
“Hmm ... oke. Selamat membaca! Nanti langsung tidur aja ya.”
“Iya ...”
“Good night ....” Lagi-lagi dia mengirim lambang hati di akhir kalimatnya.
Letta mulai heran sekarang, saat bersamanya dia merasa Arion sangat manis, tapi waktu di luar bersama Dhira atau yang lainnya dia keliatan biasa saja bahkan nampak cuek menanggapi Dhira. Tapi, Letta tidak mengerti maksud Arion itu dan malam ini memilih untuk melanjutkan komiknya saja daripada memikirkan yang tidak dia ketahui jawabannya.
Lagi-lagi di halaman terakhir ada adegan ciuman yang membuatnya penasaran. Dia menyentuh bibirnya dan teringat perkataan Dhira yang membuatnya berbunga-bunga seharian ini.
“Lu tau gak? Makan dengan satu sendok atau minum satu gelas maupun sedotan yang sama itu bisa dibilang ciuman secara gak langsung, lho!” kata Dhira sembari membalas chat salah satu kekasihnya.
“Masa?! Kata siapa?!” tanya Letta keras-keras.
Dhira menyuruhnya jangan berteriak karena saat itu mereka ada di dalam bus, Letta pun menurut dan merapatkan diri ke tubuh Dhira.
“Iya, itu bener, kok. Lu seneng ‘kan?” godanya.
“Iiih ... berarti gue udah ciuman sama dia dong?!” bisik Letta menutup mulutnya.
“Yaa gak secara langsung, menurut gue sih itungannya udah, tapi belum resmi aja.”
“Haa? Ih, gue gak tau ada hal kayak begitu! Berarti selama ini kita minum satu sedotan itu ciuman juga? Gak mungkin ‘kan?”
“Yee ... beda! Konteksnya ini pria dan wanita yang gak ada hubungan darah.”
“Terus gue harus gimana?”
Dhira berusaha menahan tawanya karena berhasil menjahili sahabatnya yang polos itu.
“Ya ... itu tandanya ciuman yang sebenernya bakal dateng, siap-siap aja.”
Letta langsung terdiam dan merasa deg-degan setengah mati membayangkan momen itu akan segera menghampirinya. Sedangkan Dhira tidak tahan dan akhirnya tertawa.
“Kenapa ketawa? Lu bohongin gue ya?” tanya Letta mulai kesal.
“Enggak, ini gue lagi chatan sama cowok gue, kok, geer banget sih lu! Omongan gue tadi itu bener. Udah, lu siapin diri dah!”
Mengingat perkataan Dhira itu membuat jantungnya jadi berdetak tidak keruan dan membuatnya memeluk guling kuat-kuat karena malu sendiri. Lama-lama dia malah terbawa ke alam mimpi.