Sabtu pagi adalah jadwal kelas Letta berolahraga. Sejak dari rumah Letta dan Dhira sudah mengenakan baju olahraganya yang sependek lutut dan kaus pendek. Berwarna putih dengan bagian lengan yang berwarna biru dongker senada dengan celananya. Ada lambang SMP GS di bagian d**a kiri.
Letta hanya menutup seragamnya dengan jaket tipis kesukaannya yang berwarna marun. Begitupun Dhira yang melapisinya dengan jaket lepis andalannya.
Sesampainya di kelas, Ruri menyapa mereka dengan girang, tapi Aliyah sedikit tidak bersemangat. Hubungan mereka memang sudah seperti biasa, Aliyah tidak mempermasalahkan kasus kemarin meski tidak ada itikad baik untuk meminta maaf, Letta sudah tidak mempermaslahkannya juga. Mungkin sikap Aliyah memang begitu, pikirnya.
Aliyah tidak suka berolahraga makanya membuat mukanya terus lesu pagi ini. Hal itu berkat tubuhnya yang terlalu subur jadi cepat mudah lelah. Apalagi kata Pak Dedy-guru olahraga kelas sembilan-hari ini mereka bakal melakukan olahraga bola. Anak-anak belum tahu jenis bola apa yang akan dimainkan, yang pasti tetap butuh banyak energi. Tapi, seperti biasa mereka harus lari keliling lapangan tiga kali terlebih dahulu lalu melakukan pemanasan tubuh bersama
Pagi ini suasana sekolah sepi, tapi penuh hawa menyenangkan karena ini akhir pekan yang berarti besok libur sekolah. Seluruh suasana hati anak di sekolah ini sangat positif dibanding hari-hari biasa. Semua anak-anak jadi lebih semangat belajar supaya cepat pulang dan liburan.
Tak terkecuali dua gadis yang selalu bersama itu. Di tengah-tengah larinya, Dhira mengobrol dengan Letta.
“Nanti sore gue mau main sama Pendi. Lu ikut gak? Mau nonton,” katanya sembari mengatur napas.
“Ha? Lu berdua? Ngapain gue ikut? Sendirian dong nanti?”
“Enggak, kalo lu mau ikut, gue suruh dia ajak Arion lagi,” jelas Dhira yang napasnya sudah mulai tidak teratur.
Sontak Letta berhenti memelankan langkahnya, hal itu diikuti oleh Dhira yang menunggu jawaban sahabatnya itu.
“Kok gue masih takut, ya, deket-deket sama dia? Lu gak khawatir sama gue apa?” tanya Letta dengan wajah cemas.
“Khawatirlah, tapi ‘kan ada gue. Jadi aman. Sekalian gue pengen liat kelakuan dia kalo jalan sama lu biar gue bisa nilai sikap asli dia baik apa enggak. Gue juga bakal tanya-tanya ke Pendi nanti. Kalo baik ‘kan ... lu gak usah takut lagi sama dia. Tenang aja, ada gue yang bakal labrak mereka kalo lu diapa-apain!” tegas Dhira.
Letta pun mengangguk dan menyetujui ajakan Dhira. Gadis itu memang sangat memercayai sahabatnya. Kalaupun keadaan berjalan tidak baik, dia yakin sahabatnya akan siap menolong dan membelanya seperti kasus kemarin. Dhira itu sudah seperti kakak bagi Letta yang serba tahu hal-hal percintaan dan kehidupan dibanding dirinya sendiri.
Mereka pun kembali melanjutkan pemanasan dan berkumpul dengan yang lain untuk mulai olahraga yang ternyata permainan bola kasti. Letta sangat bersemangat dengan permainan itu, terakhir kali dia mengikuti olahraga ini waktu SD. Di SMP ini sudah tidak ada lagi sampai hari ini Pak Dedy memutuskan untuk membangkitkan kembali permainan lama. Tidak hanya Letta rupanya yang bersemangat, seluruh anak kelas 9C pun antusias dan buru-buru membagi kelompok jadi dua.
٭٭٭
“Waah, udah lama, ya, kita gak main kasti gitu. Semoga minggu depan main lagi,” ucap salah seorang anak perempuan di kelas mereka pada yang lainnya.
Para perempuan sedang berada di kamar mandi untuk berganti pakaian setelah berolahraga tadi. Mereka semua tidak ada yang malu membuka baju di depan satu sama lain. Hanya Letta dan Dhira yang memilih tempat di paling pojok yang bersekat. Tapi, Ruri mengikuti mereka dan ikut berbincang.
“Eh, Let. Kapan Arion ke sini lagi? Gue penasaran deh,” katanya sembari melepas kausnya dan menyisakan tangtop putihnya.
Letta terkejut melihat dadanya yang tidak kalah besar dengan milik Dhira. Reflek dia melirik ke tubuh Dhira yang sudah menggantinya dengan kemeja putih lalu dia menatap miliknya sendiri sembari menjawab pertanyaan Ruri dengan wajah datar. “Emm ... gak tau, kemarin sih ketemu di jalan.” Lalu kembali fokus memakai seragam putihnya sambil mendengus pasrah.
“Yaah, apa gue ikut jalan sama lu, ya, hari ini biar ketemu?”
“Oh, jalan? Maksudnya mau ikut main? Aw!”
Tiba-tiba Letta memekik karena perutnya disikut oleh Dhira. Ruri kebingungan juga melihatnya.
“Sorry, gak sengaja, tempatnya sempit nih. Ruri ikut aja pulang mah jalan sampe halte. Tapi, kita jarang main keluar sih apalagi sama cowok,” ucap Dhira.
“Ooh, kalian gak pernah main ke mana-mana? Ke mall gitu?”
Mereka berdua menggeleng. “Jarang sih,” kata Letta yang mulai memakai dasinya serapi mungkin supaya Bu Dini tidak marah-marah lagi kalau bertemu.
“Yaah, kapan-kapan ikut gue deh kita main ke mall sama Aliyah.”
“Makasih, tapi gue gak minat,” kata Dhira menggulung baju olahraganya dengan asal dan memasukkannya ke dalam tas dengan paksa.
Leta hanya tersenyum menanggapi kelakuan Dhira di depan Ruri dan berkata, “Kapan-kapan deh, Ri.”
Mereka pun selesai dan kembali ke kelasnya menaruh tas. Masih ada jam kosong sebelum mata pelajaran selanjutnya. Dhira mengajak Letta makan bakso sebentar ke kantin. Di sana Dhira mengomeli Letta yang terlalu terbuka pada Ruri.
“Lain kali jangan mau ngajak dia kalo lu ketemu Arion!” bentaknya sedikit berbisik.
“Kenapa?” tanya Letta dengan herannya.
“Lu tuh polos banget! Gue tau maksud Ruri, dia suka sama Arion, makanya dia pengen banget ketemu lagi lewat lu!”
Letta langsung tersadar dengan pernyataan itu. “Oooh, gitu ya? Gue kira dia beneran baik dan mau berteman.” Buru-buru Letta menyeruput es teh manisnya.
“Udah gue bilang, lu harus pekak dikit. Jangan terlalu baik sama semua orang. Lu aja udah gak pede ngeliat badannya Ruri, terus lu rela nanti Arion berpaling ke dia?”
“Kok lu tau gue tadi liat badan dia yang berbody itu? Sebelas duabelas sama lu,” balas gadis mungil itu dengan sangat pelan.
“Taulah! Mulai sekarang lu pepet deh si Arion sebelum dia ketemu sama Ruri secara gak sengaja.”
“Tapi, bukannya bakal lebih sakit kalo gue udah bener-bener cinta sama dia dan dia malah berpaling? Bukannya mending gue biarin aja? Kalo dia serius sama gue dan gak tergoda sama cewek lain, baru deh gue bakal kasih seluruh hati gue untuk dia.”
Dhira menatap lekat mata Letta yang bulat itu. “Kadang lu pinter juga kalo masalah hati sendiri. Lu emang bener, tapi bukan berarti lu harus diem aja, cinta itu tentang perjuangan antara dua orang. Kalo lu gak ngisi kekosongan di hati Arion, bisa aja diisi sama cewek lain yang lebih dulu maju tanpa ragu macem Ruri.”
Sahrletta terpaku mendengarnya. Jauh di lubuk hatinya dia memang mulai menyukai Arion, tapi Dhira ada benarnya. Cinta itu tidak sebelah pihak, kalau hanya satu sisi, bisa-bisa seperti Dhira yang akan membuka hatinya untuk siapa pun. Letta tidak mau, dia menyukai Arion yang membuatnya berdebar.
“Oke, gue mau ikut ngedate sama lu nanti sore, pastiin kalo Arion ikut, lho! Gue bakal coba membiasakan diri di deket dia,” ucapnya dengan yakin, tapi lama-lama tubuhnya kembali melemas dan wajahnya penuh dengan kecemasan. “Tapi, gue belum tau harus apa kalo dia nyerang gue lagi, gue deg-degan banget dia bakal macem-macem!”
“Ikutin aja alurnya, jadi diri lu sendiri kayak biasa, lu cuma butuh nurunin sedikit ego lu supaya terbiasa dengan perlakuannya. Bukannya itu yang lu suka? Kalo macem-macemnya berlebihan, bilang sama gue, biar gue yang hajar!”
“Kan udah gue bilang ini beda sama di komik. Tapi, gue bakal usahain deh, toh gue udah kelas sembilan, tahun depan gue udah SMA. Gak perlu takut untuk memulai perjalanan cinta gue ‘kan? Gue siap menjadi remaja yang sesungguhnya dan lu harus jadi tukang pukul kalo gue diapa-apain! Janji?”
Dhira bertepuk tangan pelan untuk menyemangati sahabatnya itu. “Janji!”