#12 - It's Not a Hunger Games

1184 Kata
Tepat pukul tiga sore Dhira datang ke rumah Letta. Dari lantai atas, Letta menyuruh Dhira langsung naik saja. Gadis berambut lurus itu pun masuk dan langsung ke kamar Letta. Begitu masuk, Dhira dikejutkan dengan penampilan Letta yang menurutnya kurang pantas untuk acara main kali ini. “Lu yakin pake itu?” tanyanya dengan raut muka aneh. “Emang kenapa? Gue biasanya juga main ke luar begini, lu juga pake jeans!” ucap Letta tidak terima dengan tatapan sahabatnya itu. Gadis rambut gelombang itu hanya memakai kaus dan jaket kecintaannya dengan celana jeans. Sedangkan Dhira menggunakan baju sifon putih tulang yang sedikit formal berlengan panjang dipadu dengan jeans biru keabuan membuatnya nampak lebih cantik. Apalagi rambutnya yang digerai indah dengan kepanagan kecil di kanan dan kirinya. Letta juga tidak terima dengan penampilan itu setelah lama mengamatinya. “Kok lu jadi cantik gini? Jadi manis kayak cewek beneran!” Dhira hanya tersenyum menyindir. “Makanya lu jangan pake baju kayak gitu, yang cantik dikitlah biar Arion makin nempel!” “Ih, tujuan gue untuk main, ya, bukan bikin dia nempelin gue mulu, udah tau gue masih belum terbiasa sama dia.” “Ya pokoknya ganti!” perintah Dhira yang mulai membuka lemari baju sahabatnya itu. Dia fokus mencari dengan cepat, mengeluarkannya satu persatu dan mencocokkannya antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan Letta hanya duduk di kursi belajarnya sembari memerhatikan Dhira. Hingga akhirnya sahabatnya itu menemukan pasangan yang cocok. Letta memang tidak memilik banyak baju feminim karena dirinya yang aktif sejak kecil lebih suka berlari-lari dengan pakaian longgar. Tapi, rupanya Dhira berhasil menemukan baju manis untuk Letta. “Coba pake!” perintahnya. Letta pun menurut dan membuka semua bajunya dan menggantinya dengan baju berbahan kain 100 persen katun, sekilas bahannya mirip kemeja. Tapi, baju ini sangat nyaman dipakai dan tidak tembus pandang, lengannya panjang dan bertudung, semi hodie berwarna marun dengan aksen garis putih yang bawahnya nampak jatuh dipadu celana jeans pendek berwarna hitam yang memiliki lipatan di ujungnya. Berkat bajunya yang mirip hodie itu celananya jadi tidak kelihatan karena ukuran bajunya yang memang oversize namun sangat manis dipakai tubuh mungil Letta. Sebelumnya dia sudah melapis bagian dalam dengan tangtop supaya tidak terlalu dingin di jalan nanti. Setelah Letta memakai semuanya, dia berkaca pada cermin di sebelah mejanya. Kemudian berbalik menatap Dhira. “Lu yakin gue pake ginian? Celanaya pendek banget di atas lutut, hampir gak keliatan pula karena bajunya emang agak panjang. Gue kayak gak pake celana.” “Gak apa-apa, lu gak punya baju lain sih, mau gue pinjemin tapi repot harus balik ke rumah lagi. Kaki lu langsing jadi manis banget kalo pake baju kegedean gini malah kayak dres! Gak kayak gue yang sedikit berisi gini. Rambut lu disanggul aja. Lucu deh!” ucap Dhira membantu menata rambut Letta yang sedikit tebal dan bergelombang itu. “Tadaaa!” Dhira menyeret tubuh Letta kembali ke depan cermin. Gadis mungil itu terpesona pada pantulan dirinya di depan cermin. Belum pernah dia melihat dirinya secantik ini. Wajahnya yang manis sudah dibubuhi bedak tipis dan bibirnya dioles lipglos membuatnya semakin nampak manis dan cantik. Rambutnya jadi tertata rapi dengan beberapa helai yang menghias bagian samping wajahnnya jadi nampak begitu natural. Hampir setengah jam mereka di kamar Letta, buru-buru Dhira mengajak keluar untuk segera berangkat. Tak lupa Dhira juga memilihkan tas selempang yang cocok untuknya. Satu-satunya yang Letta punya hanya tas selempang hitam dengan bentuk telinga mickey mouse yang dipadukan dengan tali rantai. Dhira menyuruhnya menggunakan itu karena desainnya polos jadi masih aman dan tas itu tetap membuat Letta tidak melepas kepribadiannya yang kekanakan. Selama di perjalanan itu Letta berusaha menurunkan sedikit celananya supaya menutupi pahanya sampai di atas lutut. Dia memang pernah memakai pakaian pendek begini saat jalan-jalan bersama keluarganya, dan dia merasa aman saat itu. Tapi, hari ini dia jalan bersama temannya dan akan bertemu Arion. Tiba-tiba jantungnya berdebar semakin cepat ketika mereka tiba di sebuah mall besar di kota mereka yang memiliki bioskop besar di dalamnya. Letta melihat Dhira yang dengan percaya diri melenggang ke dalam. Dhira memang cantik dengan tubuh berisi gitu jadi nampak seperti anak SMA. Bisiknya dalam hati. Lalu dia mengambil lengan Dhira dan berkata, “Gue deg-degan. Gue takut.” “Kenapa takut? Lu kayak mau tanding Hunger Games aja!” “Ish! Ini kali pertama gue jalan sama cowok dan nonton bareng. Meski ada lu, tapi gue tetep deg-degan karena kita sama cowok, apalagi itu Arion.” Wajah Letta menunjukkan hal yang berbanding terbalik dengan apa yang dikatakannya. “Wajah elu tuh nunjukkin kalo lu gak sabar pengen cepet ketemu Arion, tapi gue paham sih perasaan lu. Lu emang gak biasa begini. Gak apa-apa, santai aja, jangan sampe lu keliatan tegang di depan Arion. Nanti dia malah mikir yang enggak-enggak lho!” Sontak Letta melepas genggaman tangan Dhira, dia langsung mengangguk dan berusaha untuk tetap tenang. Mereka pergi ke lantai basemen karena mengira dua pria itu bakal muncul dari sana. Tapi, setelah mereka berada di tangga darurat yang menuju basemen itu, Vendi meneleponnya. Dhira kembali ke atas mencari sinyal yang putus-putus. Letta disuruh menunggu di sana kalau mereka datang. Letta tidak melihat Dhira di atasnya, mungkin dia masuk lagi ke mall. Dia tetap tenang di tempat sepi itu dan memilih berdiri di tengah-tengah supaya dapat melihat pintu di atasnya dan di bawahnya yang sama-sama tertutup meski agak berjauhan. Kemudian dia melipat kedua tangannya di atas pagar tangga sembari terus mengamati pintu di atasnya berharap Dhira cepat kembali. Telinganya terus berdengung karena suara ramai di dalam mall yang menembus pintu besi di sana, ditambah suara kendaraan yang bergemuruh di sisi lain pintu yang mengarah ke parkiran. Saat dia kembali menoleh ke pagar yang dia sandari, ada sepasang tangan besar muncul dari belakangnya dan membuat dia tidak bisa keluar dari sana. Secepat itulah wajah Arion muncul di pundaknya dan seperti bermanja pada gadis yang tengah panik itu. “Sejak kapan lu—"           “Ngapain lu sendirian di sini?” potongnya. Jantungnya berdetak tidak keruan, tubuhnya merinding ketika mendengar suara Arion terdengar tepat di telinganya. “Gue ... nunggu Dhira ... tadi lagi ke atas,” ucap Letta terbata-bata berusaha mengalihkan mukanya dari wajah Arion yang ada di sebelahnya. “Hmm ... terus lu sendirian di sini dengan pakaian begini? Gimana kalo lu digodain cowok lain?” tanya Arion dengan nada yang seperti tengah menggoda gadis itu. Kedua tangan yang dilapis jaket kulit andalannya itu masih belum mau beranjak mengapit tubuh mungil gadis di depannya. Letta semakin menegakkan tubuhnya karena tubuh Arion semakin menyentuh punggungnya. Lalu Vendi muncul dari pintu basemen seraya bicara di telepon. Katanya mereka yang akan menyusul ke atas. Dia pun memberi isyarat pada Arion untuk segera ke atas setelah menyapa Letta sekilas seolah gadis itu nampak baik-baik saja. Arion mengecup pipi Letta dengan gemas sebelum melepasnya. Gadis itu mengunci mulutnya rapat-rapat supaya tidak berteriak dan menoleh dengan cepat ke arah Arion, sesaat rasanya dia kehabisan oksigen untuk dihirup banyak-banyak. Tapi, pria itu tidak memandangnya lagi dan malah menarik tangan Letta untuk dibawanya ke atas. Sekilas mata Letta terus menatap tangan besar dan jari lentik yang menggenggam tangannya dengan kuat. Mliknya jadi tampak sangat mungil di genggaman pria itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN