Mereka pun bertemu lagi dengan Dhira yang tengah bicara dengan Vendi. Lalu gadis itu mengajak Letta dan Arion langsung ke lantai paling atas menggunakan lift di pojok dekat toilet. Beberapa menit mereka menunggu lift terbuka, Vendi terus merangkul tubuh Dhira dan entah apa yang mereka perbincangkan yang jelas nampak menyenangkan karena bibir mereka tersenyum sesekali. Sedangkan Letta hanya bisa menunduk mencoba mengatur perasaannya yang daritadi sulit diajak berkompromi. Arion sendiri tidak mengajaknya bicara apa-apa.
Lift pun terbuka dan mereka masuk bersama pengunjung lain. Mau tidak mau lengan Arion dan Letta saling bersentuhan dengan tangannya yang semakin erat diremas oleh Arion. Sekilas gadis mungil itu melirik Arion yang memandang lurus ke depan tanpa ekspresi. Letta terpesona melihat wajah Arion yang semakin hari semakin tampan dilihatnya, pria itu hanya mengenakan kaus hitam dan jaket kulit yang senada begitupun celana panjangnya dipadu dengan sepatu sneakers putih bercorak marun.
Katanya seseorang bakal keliatan semakin indah dipandang ketika kita jatuh cinta padanya. Seolah gak ada celah untuk kekurangannya.
Dengan cepat Letta berusaha memikirkan hal lain supaya dirinya tidak berdebar terus-terusan begini, dia harus belajar dari Dhira yang nampak baik-baik saja. Akhirnya dia hanya memikirkan film apa yang nanti mau ditonton, lalu membuat rencana sehabis nonton harus ke toko buku untuk update buku barunya, dan berbagai pikiran lain bahakn tentang sekolah pun dia pikirkan demi terlihat tenang di depan yang lain. Sesekali saat Arion berjalan di depannya, Letta mengelus pipinya yang tadi dikecup oleh pria tinggi itu. Masih ada sensasi senang di dalam perutnya.
Ketika mereka masuk antrean pembelian tiket, Vendi meminta uang ke Arion supaya mereka saja yang beli. Arion pun mengambil dompetnya dari saku belakang dan membukanya dengan mudah, kemudian dia menyerahkannya pada Letta. Gadis itu tentu kebingungan dan menatap wajah Arion.
“Pegang!” perintahnya.
Letta dengan polosnya memegang dompetnya dan jari lentik Arion mengambil selemabar uang seratus lalu memberikannya pada Vendi. Setelah itu dia mengambil kembali dompetnya dan memasukkannya ke saku.
Letta baru sadar dan mulai protes. “Lu ‘kan punya dua tangan, kenapa harus gue yang megangin?!”
“Iya, tapi gue gak mau lepasin tangan lu,” balasnya dengan santai dan menarik Letta menjauh dari antrean untuk mencari tempat duduk.
Gadis itu benar-benar diam tidak tahu apa yang harus dikatakan. Setiap perkataan Arion selalu membuatnya terkesima.
Jam segini lorog bioskop masih tidak terlalu ramai, mereka berdua pun duduk di depan pintu teater empat di mana nanti mereka akan masuk ke sana lima belas menit lagi.
“Emm ... kita jadi nonton itu?” tanya Letta melihat ke arah poster besar di sebelah pintu di hadapannya. Berjudul IT Chapter Two.
“Iya, lu udah nonton yang pertamanya belum? Biar nyambung.” Arion balas bertanya.
“Udah, waktu itu dapet copy-annya dari temen di laptop.”
“Siap nonton keduanya dong?”
“Siap! Yang pertama emang nyeremin, seremnya karena s***s siih. Tapi, gereget juga sama si gendutnya. Benjamin ya? Hehe ... di fim kedua ini dia jadi keren banget gila!”
Tanpa terasa mereka jadi nyambung membicarakan film itu. Sampai Vendi dan Dhira datang pun tidak diacuhkannya.
Letta jadi teringat untuk mengabari orang tuanya karena akan pulang malam, berhubung film baru akan dimulai pukul 16.45 pasti keluarnya akan kemalaman. Dia melepas genggamannya yang tidak sedetik pun dilepas Arion.
“Mau ngapain?” tanya Arion yang tidak terima genggamannya berusaha dilepaskan.
“Ih, lepas dulu! Gue mau nelepon papa! Gue cuma bilang mau main, tapi belum bilang kalo bakal sampe malem gini.”
Arion pun mengerti dan melepaskan Letta. Gadis itu merogoh gawainya dari dalam tas imutnya itu. Lalu menghubungi papanya. Untunglah papanya membolehkan setelah memeperingatinya untuk tidak pulang di atas jam sembilan. Papanya hanya tahu bahwa Letta bersama Dhira seorang tanpa tahu kalau ada laki-laki bersama mereka. Perasaan Letta jadi tidak enak, lalu dia kembali bicara sebelum menutup teleponnya.
“Tapi, Pa, kita juga sama temen cowok. Ramean sih jadinya, kita juga di mall gak ke mana-mana.”
“Oh, tapi masih sama Dhira ‘kan?” tanya papanya di seberang sana.
“Iya.”
“Coba papa mau ngomong sama temen kamu yang laki-laki.”
Mampus gue! Batin Letta menggelegar seperti tersambar petir. Dia ragu-ragu dan menyuruh papanya menunggu sebentar. Sementara dia berbisik pada Dhira di sebelahnya. Tapi, Dhira bilang Letta harus memberikannya pada Arion kalau tidak mau bohong.
Dengan mengembuskan napas berat, Letta pun memberanikan diri memberikan teleponnya pada Arion. Pria itu kebingungan dan bicara dengan ekspresi wajahnya. Letta menggerakkan bibir membuat sebuah kalimat, papa mau ngomong, jangan ngomong yang aneh-aneh!
Arion mengangguk dan bicara pada papanya Letta. Gadis itu penasaran dan berdiri untuk merapatkan telinganya ke gawai yang dipegang pria itu. Arion hanya mengiyakan perkataan papanya yang tidak dapat Letta dengar dengan jelas. Lalu Arion berkata lagi, “Nanti saya antar ke rumah sampai selamat.”
Letta terkejut dan telepon pun dimatikan. Arion memberikan gawainya kembali pada Letta dengan senyum tipis.
“Papa ngomong apa tadi? Dia marah ya?” tanya Letta dengan wajah panik.
“Enggak. Sini duduk lagi!” katanya dengan perlahan menarik tubuh gadis itu duduk di sampingnya lalu merangkul pinggulnya. “Bokap lu cuma nyuruh gue jagain lu, jangan macem-macem katanya, terus jangan pulang kemaleman. Yaudah gue bilang bakal anter lu pulang, terus bokap lu ngeiyain dan bilang suruh hati-hati. Udah deh.”
Letta terpana. Mulutnya menganga menatap karpet hijau tua di bawahnya. “Ini gak mungkin!” pekiknya.
“Ha? Lu ngomong apa?” tanya Arion menunduk menatap wajah Letta.
Gadis itu terkesima dan melontarkan kalimatnya sekali lagi dengan jelas. “Papa gak mungkin percaya sama cowok yang gak dikenalnya. Temen sendiri aja suka gak dipercaya selain Dhira.”
Arion hanya tersenyum lega. “Bagus kalo gitu, bokap lu merestui hubungan kita.”
Sontak gadis itu menoleh. “Hubungan apaan?! Sejak kapan kita ada hubungan?!” bentaknya.
Lalu pintu di hadapannya dibuka dan suara pemberitahuan teater empat telah dibuka berkumandang di seantero bioskop ini. Mereka pun berdiri dan masuk ke dalam. Kali ini Arion tidak menggandeng lengan Letta lagi dan membiarkannya berjalan di depan tepat di belakang Vendi dan Dhira.
Letta terus mengikuti sahabatnya itu sampai di tempat duduk barisan D-6 sampai D-9. Dua sejoli di depannya masuk duluan dan membiarkan Letta dan Arion duduk di pinggir.
“Ih, Dhira di sini dong! Nanti gue gak bisa ngobrolin filmnya kalo lu di sana. Lagian masa Vendi deket gue?” rengek Letta.
Akhirnya Dhira mengalah dan duduk di sebelah Letta. Arion pun duduk di sisi lainnya. Gadis mungil itu sekilas melihat wajah Arion yang datar.
“Lu kenapa? Gak suka duduk di pinggir?” tanya Letta dengan polosnya.
Pria itu melirik gadis di sebelahnya lalu kembali melirik layar tanpa sepatah katapun. Letta jadi tidak enak dan memutar otak mencari tahu apa kesalahan yang udah dia buat? Tiba-tiba kabel di otaknya tersambung dan dia mengingat perkataan mengenai hubungan itu. Tapi, dia terlalu malas membahasnya di dalam sini. Jadi dia mengurungkan niat untuk bertanya dan duduk dengan santai menunggu film dimulai. Banyak orang yang masih berusaha masuk ke kursi di sebelah Vendi, mereka tidak benar-benar duduk di pojok, kok.
Begitu lampu dimatikan, Arion menurunkan duduknya hingga kakinya mentok ke kursi depan supaya tidak terlalu menghalangi orang di belakangnya meski jarak tempat duduk mereka cukup rendah daripada yang di belakangnya. Kedua tangannya dilipat di d**a, sedangkan Letta nampak antusias dengan filmnya.
Baru juga sepuluh menit film diputar, Letta sudah mengelus jantungnya berkali-kali. Memang film keduaya ini jauh lebih melelahkan bagi yang menonton, seperti tidak ada jeda untuk sekadar bernapas lega. Sesekali Letta menutup matanya karena tidak suka dikagetkan terus menerus. Dia lelah, tapi masih mau menonton filmnya. Beberapa menit setelahnya dia menoleh ke Dhira, rupanya gadis itu enak-enakan merangkul lengan Vendi. Letta kesal karena merasa dikhianati.
Saat dia menoleh kembali ke layar, badut menyeramkan itu muncul dan mengejutkan Letta hingga refleks tangannya mencengkeram jaket Arion. Semakin terkejutlah dia mendapati tangan Arion di sana. Buru-buru dia melepasnya dan kembali fokus pada film. Selang satu jam tubuhnya semakin menggigil karena pendingin yang semakin lama semakin rendah ditambah ketegangan yang terus-terusan disajikan oleh film tersebut hingga kadang membuat beberapa penonton ikut terkejut bersama.
“Sumpah, ini film keduanya kenapa lebih nyapein dibanding yang pertama?” bisik Letta pada dirinya sendiri sembari memeluk tubuhnya dan menyilangkan kakinya supaya lebih hangat. Dia terus mengutuk dirinya yang mau saja disuruh pakai celana pendek.
Tiba-tiba Arion melepas jaketnya dan menutupi paha dan bagian lengan Letta. Gadis itu menoleh terkejut dan lengan Arion merangkul tubuh mungilnya. Awalnya Letta canggung harus bagaimana, tapi pria itu menarik tubuhnya lebih dekat sampai saling bersentuhan. Tangan lain Arion menyelinap masuk ke dalam jaket dan menggenggam kedua tangan Letta dalam satu kepalannya.
Akhirnya gadis itu merasa lebih hangat dan tenang. Film itu jadi tidak terasa begitu menakutkan sekarang. Apalagi ketika ada adegan romantis sekilas antara Beverly dan Benjamin yang sudah tumbuh dewasa. Benjamin jadi pria yang keren dan berotot juga tampan. Hal itu membuatnya merasa malu karena dia tengah dipeluk seorang pria tampan juga. Tapi, jelas berbeda, yang di sebelahnya tidak brewokan dan entah memiliki tubuh se-body goals itu atau tidak. Tapi, dari pengalaman video call pertamanya dulu, dia hanya melihat bagian d**a atasnya yang terlihat berbentuk.
Sampai akhirnya film berakhir dengan durasi yang lebih panjang dan melelahkan itu, lampu menyala dan Letta reflek menjauhkan dirinya dan mengembalikan jaketnya Arion. Semua orang pun bangkit dan mulai keluar dengan wajah yang nampak lelah dan puas bercampur jadi satu.
Letta sendiri berusaha melemaskan ototnya yang tegang selama hampir tiga jam lamanya duduk di sana dan dibuat memompa janutngnya berkali-kali. Kemudian Dhira bertanya padanya mau makan ke mana sebelum pulang? Gadis itu bingung dan membiarkan Dhira menentukan asal tidak mahal-mahal.
Akhirnya Vendi dan Dhira keluar lebih dulu dari barisan tempat duduk itu disusul oleh Letta dan Arion yang membiarkannya kembali jalan di depan.