Mereka masuk ke sebuah restoran bernuansa minimalis di lantai bawah dekat pintu masuk mall itu. Menu-menu di sana adalah menu makanan western yang seimbang. Rata-rata menu steak yang digoreng dengan sedikit minyak sayur dipadu dengan salad. Restoran itu tidak begitu besar, mereka memilih duduk di sebuah sofa yang ada di pojok dekat meja bartender. Setelah memesan makanan, mereka pun berbincang kecil. Letta dan Dhira banyak membicarakan soal tugas untuk hari Senin yang belum mereka kerjakan sama sekali. Besok mereka berencana mengerjakan bersama di rumah Dhira.
Lalu ketika pesanan mereka datang, Dhira meminta pramusaji tersebut untuk memfotokan mereka dengan gawainya. Pose pertama biasa saja, pose kedua mereka berlagak bahagaia, pose ketiga Arion merangkul tubuh Letta dan tersenyum pada kamera. Letta bereaksi cepat dengan memasang senyum canggung ke kamera karena tidak mau mukanya jadi jelek karena terkejut.
Buru-buru Letta menepis lengan Arion setelah gawai Dhira dikembalikan. Pria itu hanya tersungging menanggapi perlakuan Letta. Tanpa basa basi lagi mereka mulai menikmati makannya dengan cepat sebelum pukul delapan.
Sesekali Vendi menyuapi Dhira makanannya. Letta yang melihat pemandangan itu reflek melirik Arion yang asyik dengan makanannya sendiri sudah hampir habis. Gadis itu merasa sendirian dan memakan semua makanannya sampai habis dengan cepat. Sejenak mereka bersantai menunggu makanan yang sudah masuk ke perut turun dan tercerna dengan sempurna.
Tiba-tiba Vendi bicara pada mereka. “Kalian mau liat sesuatu gak?”
Semua orang bingung termasuk Dhira sendiri.
“Apaan?” tanya Letta dengan santainya menegakkan tubuhnya mendekat ke meja.
Vendi tersenyum menunjukkan giginya yang tidak rata itu. Lalu sedetik kemudian wajah Dhira ditarik dalam pelukannya, dengan refleks Arion menutup mata Letta sampai gadis itu terkejut dan bertanya-tanya apa yang Vendi lakukan pada Dhira.
“Kekanakan lu, Ven! Liat-liat tempat dan keadaan kenapa?!” bentak Arion tanpa mau menjelaskan kejadian tadi pada Letta.
Tangan Arion pun diturunkan mengambil tangan Letta untuk segera pergi dari sana. “Kita pulangnya misah aja!” bentaknya.
“Eh, serius lu bakal anter dia pulang?” tanya Dhira khawatir.
“Gak apa-apa, Dhir. Sampe ketemu besok,” ucap Letta akhirnya bicara dengan setenang mungkin.
Mereka berdua pun keluar dengan terburu-buru. Arion membawa Letta sampai ke foodcourt yang menjajakan banyak jenis cemilan. Letta masih menunjukkan wajah lesu karena berpikir bahwa tadi temannya itu melakukan hal aneh sampai Arion tidak membiarkannya tahu.
“Letta,” panggil Arion sampai gadis itu menengok ke arahnya. “Suka yang manis-manis?”
“Suka!” serunya dengan cepat.
“Tunggu sini!” perintahnya menyuruh Letta duduk di sebuah kursi yang kosong di depan eskalator.
Sebelum Letta menjawab, pria itu berjalan cepat menembus kerumunan orang-orang sampai Letta tidak bisa melihatnya lagi. Dia pun memainkan gawainya untuk mengecek update-an komiknya untuk mengalihkan pikiran dari ketidaknyamanannya ini.
Di sisi lain seorang pria tinggi nan tampan ikut mengantre untuk memesan sebungkus permen kapas yang tengah dikerumuni anak-anak dan remaja wanita. Beberapa dari mereka terus melirik pria itu dan berbisik-bisik malu pada temannya. Tak lama pria itu berhasil mendapatkannya dan bergegas berlari ke tempat seorang gadis mungil menunggunya di depan eskalator.
Tiba-tiba sebungkus permen kapas yang cukup besar muncul di depan hidung Letta hingga membuatnya menengadah para pria tinggi yang tersenyum menyerahkan bungkusan itu. Bergegas Letta memasukkan gawainya dan mengambil permen itu dengan senyuman lebar.
Arion duduk di sebelah Letta dengan santai dan bersandar ke pagar pembatas di belakangnya dengan mengangkat satu kakinya yang jenjang itu.
“Makasih ya,” ucap Letta melempar senyum termanisnya pada Arion dan mulai membuka bungkusan itu.
Arion hanya menatap gadis itu dengan lega.
“Enak gak?” tanyanya.
“Enak, manis. Gue suka!” seru Letta seolah lupa dengan masalah tadi.
Arion merebut sesuap permen kapas yang ada di tangan Letta dan melahapnya. Tak lupa dia juga menjilati jemari Letta yang lengket karena permen itu.
Otomatis hati Letta berdebar lagi dan hanya mampu menelan ludahnya dengan susah payah. Dia berusaha kembali fokus dengan makanan kesukaannya itu. Baru menoleh sedikit saja, muncul beberapa gadis menghampiri Arion.
“Permisi, mmm ... boleh kenalan gak?” tanyanya dibantu oleh beberapa temannya yang mendorong dia supaya berani.
Letta langsung melirik dengan tidak suka. Begitu pun Arion yang berekspresi datar menatap gadis itu.
“Hmm ... itu adeknya atau ceweknya ya?” tanyanya lagi.
Sontak Letta semakin kesal mendengar pertanyaan itu. Tapi, dia tahu tidak punya hak apa-apa, jadi dia memakan permen kapasnya dengan kesal.
“Cewek gue,” balas Arion singkat.
“Eh? Oh, sorry. Jadi gak boleh kenalan?”
Arion dan Letta sama-sama menoleh pada gadis yang tidak mau berhenti itu meski Arion sudah mengatakan bahwa gadis di sebelahnya ini kekasihnya.
“Lu gak denger gue bilang apa barusan?” tanya Arion sedikit membentak dan merangkul Letta supaya lebih dekat dengannya.
Jelas Letta jadi terkejut dan hanya menunduk malu.
“Ah, oke. Sorry.” Akhirnya gadis itu pergi kembali pada teman-temannya yang berdiri sedikit lebih jauh.
Tidak ada kata terucap di antara mereka setelah Arion melepas rangkulannya dan kembali bersandar ke belakang. Letta sendiri tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya fokus pada makanannya sampai habis.
Sesekali Letta melirik cewek-cewek tadi yang masih menatap mereka dengan sinis. Jauh di lubuk hatinya dia merasa cemburu karena dirinya tidak lebih tinggi dari gadis tadi bahkan mereka menganggap dirinya sebagai adiknya Arion. Seketika napsu makannya jadi hilang. Padahal permennya memang sudah habis hanya menyisakan batang kertasnya saja.
Arion sendiri memerhatikan Letta daritadi dan dia mulai menurunkan kakinya lalu bertanya kenapa?
“Emang gue kayak anak kecil, ya, sampe dikira adik lu gitu?” tanya Letta dengan wajah sedih. “Memang sih semua orang kalo liat gue pasti ngiranya gue anak SD!”
Tiba-tiba jemari pria itu menarik wajah Letta dan mendekatkan wajahnya. Lidah Arion terjulur menjilati pinggiran bibir Letta yang penuh dengan sisa permen kapas itu. Tapi, dia masih bisa menahan diri untuk tidak sampai mencium bibir gadis itu. Setelahnya ibu jarinyalah yang bekerja menyeka bibir merona itu sampai bersih.
“Memang kadang lu kayak anak-anak, tapi gue suka,” katanya membuat senyuman lebar menunjukkan gigi taringnya.
Otak gadis itu konslet lagi seperti biasa dan dengan cepat mengalihkan pandangannya menghirup oksigen banyak-banyak. Matanya masih belum bisa berkedip menatap lantai bersih di bawahnya.
Arion menahan tawanya karena melihat gadis itu jadi salah tingkah. Padahal dalam hatinya pun pria itu berdebar karena sangat ingin merasakan bibir merona itu. Namun, dia bangkit dari duduknya dan membawa Letta turun ke basemen untuk segera pulang. Dia sudah berjanji pada papanya Letta untuk membawa anaknya pulang sebelum jam sembilan.
Letta buru-buru membuang sampah sisa permen kapasnya ke tempat sampah di tengah eskalator dan terus memandang tangannya yang selalu digenggam Arion. Lama-lama senyumnya naik dan reflek jemarinya mengelus pinggiran bibirnya tadi. Sontak perutnya jadi mulas karena terlalu berdebar. Tapi, tidak lama. Dia menyadari beberapa gadis remaja memerhatikan pria di sebelahnya itu, ada yang tersenyum-senyum dan berbisik girang pada teman di sebelahnya. Letta melihat wajah tampan dan tubuh ideal Arion yang jelas mampu menarik perhatian mereka. Gadis itu merasa tidak dianggap padahal Arion sedang menggenggam tangannya. Tanpa sadar dia malah meremas tangan Arion dengan kesal.
Pria itu menyadari tingkah Letta dan menoleh ke berbagai arah untuk mencari penyebab kekesalan gadisnya itu. Begitu dia paham, dia pun melepas genggamannya dan merangkul pundak Letta dengan erat, sesekali mengelus kepalanya dengan mesra sembari terus berjalan menuju pintu darurat.
Letta merasa lebih tenang diperlakukan begitu. Saat mereka menuruni anak tangga menuju basemen parkir motor, Arion bertanya pada Letta yang membuatnya terkejut.
“Ngomong-ngomong yang tadi ... apa disebut ciuman?” tanyanya.
“Ha? Hmm ... enggaklah! Gak kena bibir gue, kok,” ucap Letta tertawa canggung. “Lagian gue gak ngerasain apa-apa. Gue gak anggep itu ciuman, lu pasti juga gak sengaja ‘kan lakuin itu?”
Kemudian Arion berhenti tepat di depan pintu yang mengarah ke parkiran, Arion menghalangi pintu dan menunduk menatap gadis itu. Mereka jadi saling bertatapan dan Arion mengembuskan napas berat seraya berpikir.
“Kenapa?” tanya Letta yang tidak mengerti dengan tatapan Arion itu.
Sedetik kemudian tangan Arion menyentuh pipi Letta dan mengangkatnya ke atas tinggi-tinggi hingga membuat kakinya sedikit berjinjit dan mau tidak mau dia memgang kedua tangan Arion untuk berpegangan. Pria dengan tinggi 187 cm itu memaksa tubuhnya sendiri membungkuk untuk bisa mengecup bibir gadis 148 cm di depannya. Meski hanya satu sampai dua detik, Arion melakukannya dengan lembut, bagi Letta waktunya seperti berhenti.
“Gimana sama yang itu, udah lu anggep ciuman?” tanya Arion menatap Letta dengan sabar.
Gadis itu kembali menapak lantai, masih mematung, namun bibirnya dipaksa bicara. “Jadi ... yang tadi juga ... lu sengaja?!” pekiknya terbata-bata.
Arion tidak suka menunggu jawaban terlalu lama, dia kembali mengangkat wajah Letta dan mencium bibir itu sekali lagi. Kali ini lebih lama hingga membuat Letta sadar dan merasakan lembutnya bibir pria itu. Salah satu tangan Arion turun ke pinggul gadis itu untuk mengangkat tubuhnya.
Letta merasa matanya jadi semakin berat dan memaksanya untuk terpejam menerima ciuman pertamanya di bawah tangga darurat bersama pria impiannya. Dengan mata terpejam, kaki berjinjit karena tubuhnya terangkat, dan tangannya yang menggenggam erat pergelangan tangan Arion serta pundaknya, Letta dibawa terbang ke langit ke tujuh.
Arion melepas kecupannya karena takut akan keterusan. Hasratnya pada gadis di hadapannya itu terlalu besar hingga harus membuatnya mengontrol diri sekuat mungkin, bagaimanapun Letta baru lima belas tahun.
Saat yang bersamaan Letta membuka matanya dan menatap mata hitam keabuan di hadapannya.
“Gimana sama yang barusan? Udah disebut ciuman ‘kan? Gue yang pertama untuk lu,” bisiknya kembali menyunggingkan senyum khasnya.
Letta berusaha tetap sadar melepas genggamannya dan berkata, “Gue gak tau harus ngomong apa ... mmm ... kaki gue, kok, lemes ya?”
Tapi, Arion malah menyemburkan tawa dan memeluk tubuh mungil itu dengan gemas. Debaran di hati Letta semakin cepat, ini pun kali pertama baginya dipeluk oleh seorang pria. Sekilas terhirup wangi parfum Arion yang manis, tapi tetap maskulin.
Tak lama, Arion melepas pelukannya dan memakaikan jaket kulitnya pada tubuh mungil itu. “Biar gak masuk angin, dipake ya!” perintahnya.
Kemudian dia kembali menarik tangan Letta keluar dari sana menuju motornya yang diparkir di antara motor lainnya. Jam segini parkiran masih penuh karena malam Minggu memang biasanya mall tutup lebih larut. Arion memakaikan helm pada Letta, setelah itu merogoh kantung jaketnya yang dipakai Letta untuk mengambil sarung tangan. Dia memundurkan motornya sembari memakai sarung tangannya lalu melepaskan pijakan belakang untuk memudahkan Letta naik.
“Ayo naik!” perintahnya lagi.
Gadis itu menurut dan dengan perasaan aneh dia terus berpikir tentang berbagai hal. Mulai dari pertanyaan mengenai rasanya ciuman, rasanya dipeluk, sampai ke pertanyaan mengapa Arion nampak biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal semua ini adalah yang pertama untuk Letta, dia benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaannya sekarang.
“Kenapa lu biasa aja setelah nyium gue? Itu ciuman pertama gue tau!” bentak Letta tiba-tiba tidak tahan lagi untuk bertanya.
Arion terkejut mendengar pentanyaan itu ketika hendak memakai helm. Dia pun menoleh pada Letta dan berkata, “Jujur gue juga deg-degan, kali pertama gue mencium seorang gadis manis kayak lu, tapi kalo gue tunjukkin ke elu, gimana gue bisa bikin lu nyaman? Nanti sama-sama canggung.”
Letta tidak bicara lagi dan diam-diam menyetujui pernyataan itu. Kemudian Arion menyuruh Letta berpegangan. Berhubung gadis itu hanya meremas kausnya, Arion pun menarik paksa kedua lengan itu untuk memeluk tubuhnya.
Ah! Perutnya, dia cuma pake kaus tipis sih. Aduh gue gak bisa rasain perutnya kotak-kotak apa enggak? Otaknya kembali melayang ke dunia khayal yang tak berujung.
“Jangan dilepas kalo gak mau jatuh!” perintahnya dan langsung menarik gas dalam-dalam.
Sontak Letta memekik terkejut dan mengomeli Arion untuk tidak mengebut.