#15 - I Love You Too

1369 Kata
Sharletta bangun pagi-pagi sekali padahal ini hari Minggu. Ingatan tentang semalam itu tidak bisa hilang dari otaknya. Malam itu adalah malam yang sempurna baginya. Seumur hidup tidak pernah mengalami kebahagiaan ini. Apalagi ketika Arion menurunkan Letta tepat di depan rumahnya malam itu dan berkata, “Lu cantik hari ini, tapi jangan berpakaian kayak gini lagi kalo gak sama gue!” dengan wajah tegas. Letta tersipu malu namun dia malah bertanya balik. “Memang selama ini gue jelek ya?” dengan polosnya. Arion gemas dan mengelus kepala gadis itu. “Cantik, tapi malam ini spesial cantiknya. Inget! Cuma kalo sama gue aja!” Letta lagi-lagi tersenyum malu dan mengangguk. “Ah, sebelum gue pulang ... gue mau mastiin apa sekarang lu udah jadi milik gue?” Gadis yang ditanyanya itu langsung melotot dan berekspresi bingung. “Tadi lu gak nolak waktu gue cium. Berarti udah jelas lu nerima gue ‘kan?” katanya lagi dengan senyum khasnya yang selalu mampu membuat Letta berdebar. “Emm ... itu ....” Letta malah malu sendiri mengingat ciumannya tadi. “Tiga detik lu gak jawab, gue anggep iya. Tiga ... dua ....” Gadis itu menatap wajah Arion yang berseri menghitung mundur. Letta memilih untuk terus diam sampai kata satu itu terucap. Jantungnya semakin berdebar lebih cepat. “Satu ... I love you too,” lanjut Arion tersenyum lebar saking bahagianya. Letta pun akhirnya tertawa lega dan bahagia. Kemudian Arion beranjak pergi dari sana setelah benar-benar pamit. Dua sejoli itu sedang dimabuk asmara. Letta masuk dengan perasaan berbunga-bunga dan ingin terbang ke langit ke tujuh sekali lagi sedangkan Arion menarik gasnya dalam-dalam dan berteriak lega telah mendapatkan gadis mungil itu. Ingatan malam itu tidak bisa membuat Letta tidur awalnya, tapi lama-kelamaan dia lelah juga karena berteriak di balik bantal berkali-kali dan menggulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri dengan girang sampai pipinya jadi keram kebanyakan senyum-senyum. Tak lama dia memutuskan bangun dan segera mandi untuk bersiap ke rumah Dhira sekalian mengerjakan PR. ٭٭٭  Mereka tengah mengerjakan PR Biologi. Ada soal yang menyuruh mereka menggambar susunan pencernaan dalam tubuh mulai dari mulut sampai ke usus. Dhira paling tidak suka menggambar, dengan senang hati Letta membantunya. Di tengah-tengah pekerjaan mereka, Dhira sempat meminta maaf soal semalam yang membuat sahabatnya itu terkejut. Tapi, Letta sudah tidak mempermasalahkan itu. “Gak apa-apa. Untung ada Arion yang naikin mood gue lagi. Gue yang salah, kok, belum terbiasa sama hubungan lu yang begitu. Tapi, sekarang udah aman, toh gue juga sering liat adegan begitu di komik,” balasnya dengan santai sembari menyelesaikan gambarnya. “Terus kemarin lu langsung pulang sama Arion? Kayaknya ada sesuatu yang terjadi deh.” “Apaan?” Gadis itu mengelak. “Hayooo ... ada apa? Gue penasaran, nih!” Tiba-tiba gawainya berbunyi, bergegas Letta membuka gawainya dan mendapati sebuah chat dari Arion. Mukanya sudah berseri-seri. Begitu pesan itu dibuka, hanya ada sebuah video yang blur. Tanpa kecurigaan apa pun Letta mengunduhnya. “Siapa sih? Arion ya?” ledek Dhira merapatkan tubuh dan melihat gawai Letta. Gadis mungil itu tidak sabar ketika unduhannya berhasil dan dibukalah video tersebut. Reflek mulut Letta menganga dan terkesiap ketika melihat Arion di dalam video itu mencoba mengecupnya lewat kamera gawai lalu diakhiri dengan senyuman menggoda. Video itu sangat singkat namun mampu membuat Letta girang tertawa seperti orang gila dan berguling-guling di atas kasur Dhira. Pemilik kasur tersebut malah hanya melirik Letta dengan gemas. Dhira sendiri tidak tahan melihat video itu, jelas aja Letta jadi menggila. “Gila, Arion bisa banget bikin lu kejang-kejang! Bahaya kalo tiap hari dikirim beginian,” ledeknya menggeleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. “Iiiiih! Sumpah ya, kenapa sih dia cakpe banget? Terus kelakuannya itu lho! Kayak di komik-komik selalu bikin gue deg-degan gak jelas!! Aaarrrgh! Dhiraaaa, gue bisa gila kalo begini!” pekik Letta karena dia tidak berani berteriak di rumah Dhira. “Ckckck ... anak kecil mulai jatuh cinta rupanya. Jujur deh, kalian ada apa kemarin?! Udah jadian kah?” tanya Dhira dari bawah kasurnya. Letta pun terdiam dan telungkup di kasur Dhira. Wajah mereka jadi dekat dan Letta berbisik pada Dhira. “Kemarin ... Arion nyium gue.” “Ha?!” reflek Dhira menjauh dari Letta dengan muka terkejut bukan main namun kemudian ekspresinya berubah jadi tersenyum meledek. “Serius? Ih, kok, bisa?” Dia kembali mendekat. Letta jadi tersipu malu mengingat kejadian itu lagi. “Gatau, tiba-tiba aja dia nyium gue dua kali. Terus, pas sampe rumah ... kayaknya kita jadian.” “Hee? Kok, kayaknya? Tunggu tunggu! Lu dicium dua kali? Bisa dijelaskan lebih detail?!” Akhirnya mereka jadi membahas kisah Letta malam itu. Hingga di akhir cerita, Dhira mulai mengangguk paham dan berkata, “Ya berarti kalian emang udah jadian. Ciee ... akhirnya punya pacar!” “Ih, apaan sih! Emang apa bedanya pacaran sama enggak? Menurut gue itu cuma sebutan aja, status untuk mengikat seseorang ‘kan?” “Wiih, udah paham nih sekarang? Tapi, menurut gue Arion itu emang cocok untuk lu sih, dari kelakuannya itu emang agresif kayak cowok yang lu suka di komik, iya ‘kan?” “Iya, tapi kenapa dia bisa suka sama gue ya? Emang di sekolahnya gak ada cewek cantik? Pasti ada ‘kan?” “Hmm, gak usah mikirin itu, nanti lu malah gak pede terus sakit sendiri. Selama Arion mencintai lu, ya udah terima aja, cintai dia balik. Gak usah mikirn orang lain.” “Iya deh. Makasih ya, Dhir.” Tiba-tiba Letta teringat untuk membalas chat Arion, dia bertanya kenapa pakaiannya rapi sekali? Di video itu Arion tengah mengenakan kemeja putih panjang, rambutnya juga ditata rapi. Balasannya lama, membuat Letta jadi cemas, sebenarnya pria itu ada di mana. Perasaan cemas kembali menghantuinya. Namun dia mencoba tetap fokus pada PR-nya yang hampir selesai. “Ngomong-ngomong, tipe cowok lu ternyata yang manis-manis kayak Vendi ya?” tanya Letta yang entah kenapa mengingat wajah pria itu lagi. “Iya ya? Gue gak ngeh sih. Tapi, kalo gue pikir-pikir kelima cowok gue tipe-tipenya emang sama,” balas Dhira seraya berpikir. “Terus ke-empat cowok lu gak pernah ngajak ketemu gitu?” “Sering, tapi gue males. Gak terlalu suka sih sama mereka, cuma si Vendi yang nurut. Tapi, yang lain bisa jajanin gue.” “Emang Vendi enggak? Kemarin itu gimana?” “Kita patungan. Dia orang sederhana sih, tapi gue suka soalnya dia gak neko-neko, manis juga sikapnya.” “Hmm ... nanti dia sakit hati banget kalo tau diselingkuhin. Mending lu fokus sama satu cowok aja, Dhir.” Setelah itu mereka terdiam, Dhira dengan pikirannya tentang kalimat Letta, dan gadis mungil itu dengan pikirannya soal pesan yang belum dibalas oleh Arion. Satu jam berlalu dan pesan pun masuk ke gawai Letta. Gadis itu dengan semangat membukanya. Arion membalas bahwa dia sedang ada acara keluarga di puncak. Nanti malam baru pulang. Beberapa detik kemudian dia mengirim foto kebersamaanya dengan keluarga di taman belakang sebuah Villa. Letta pun jadi tenang dan membalas, “Have fun!” dengan emoji senyum di akhir kalimatnya. ٭٭٭  Hari berikutnya pun datang, mereka menjalani hari seperti biasa setiap harinya setelah itu. Selama beberapa hari itu pula Arion selalu memberi pesan cinta pada Letta meski tidak sering bertemu. Karena jadwal sekolah merekalah yang membuatnya jarang bertemu. Arion dengan jadwal yang tidak setiap hari masuk Pagi itu tidak bisa menjemput Letta. Namun dia tetap berusaha untuk menemuinya di sekolah dengan pakaian bebas, kadang dia membolos seperti hari ini demi menemui gadisnya itu. Letta menyadari kehadiran Arion saat dia dan teman-temannya jalan keluar gerbang. Siapa yang tidak bisa melihatnya? Pria itu bersandar di motornya dengan kaus dan jaket kulitnya beserta masker mulut dan topi. Itu cowok udah kayak pria mencurigakan deh! Batin Letta melirik sesekali ke sana. Tiba-tiba dia sadar bahwa beberapa anak perempuan mulai mengamatinya dan berbisik girang. “Dhir, emang Vendi hari ini gak ada kelas?” bisik Letta. “Hmm, ada, kok. Sore. Kenapa?” “Liat tuh! Si Arion ngapain di sini? Dia bolos? Apa mereka beda kelas?” “Enggak tau, coba lu tanya. Gak apa-apa, dia nurut sama gue untuk gak pake seragam ke sini,” ucap Dhira sedikit terkekeh. Letta pun menghampiri pria yang tengah bosan memainkan gawainya itu. “Ngapain lu ke sini?” tanya Letta tanpa basa-basi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN