Nomor yang anda tuju sedang-- Entah sudah keberapa kalinya Olin mencoba untuk menghubungi Dimitri, tapi tetap saja ponsel pria itu tidak pernah aktif. Andai ini bukan hari kedua menghilangnya Dimitri, Olin mungkin tidak akan sepanik ini. Olin menggigit bibirnya gelisah. Perasaan takut mulai menjalari benaknya. Pikiran buruk bermunculan di kepalanya. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Dimitri? Seperti penembakan waktu itu? Ya Tuhan! Membayangkannya saja sudah membuat Olin ketakutan. Semoga saja apa yang ia pikirkan ini tidak terjadi. "Mommy?" Mendengar panggilan itu, Olin segera berbalik. Ia menemukan Al tengah berjalan ke arahnya dengan wajah mengantuk. “Hai, sayang. Kenapa bangun?" Ia mengusap rambut Al. Al mengerucutkan bibirnya gemas lantas merentangkan kedua tangannya, meminta di

