Hari yang ditunggu itu akhirnya tiba juga. Olin tidak bisa berhenti tersenyum sejak tadi. Meski perasaan gugup melandanya, ia tetap berusaha untuk tenang. Ia kemudian menatap penampilannya di cermin, memeriksa apakah ada yang kurang atau tidak dari penampilannya. Olin masih duduk di salah satu ruangan hotel tempat pernikahannya dilaksanakan. Ia bersama Andrea disana, hanya saja sahabatnya itu sama sekali tidak membantu. Malah membuat Olin semakin gugup saat melihat senyum jahilnya. "Kau gugup, Lin?" Tanya Andrea pada Olin yang kini menatapnya melalui cermin. "Menurutmu bagaimana?!" Olin mendengus kesal. "Sekarang kau boleh mengejekku. Tapi jika suatu saat nanti kau menilah, aku akan melakukan hal yang sama padamu!" Andrea tertawa. "Astaga, Lin. Aku hanya bertanya, bukan mengejekmu. Ke

