7. Membongkar Isi Hati Norega

3237 Kata
"Yaelah, Bos. Dari mana saja sih? Jam di rumah lo berhenti muter? Matahari udah di dekat ubun-ubun malah baru nongol." Miko yang sengaja menunggui Rega di depan pintu masuk ruang kerja pria itu kontan segera menyerbu atasannya tersebut menggunakan jurus menyerocos anti putus andalannya. Sedang Rega sendiri, yang kali ini datang super ngaret bersama parade tampang keruh nan lesunya justru memilih mengabaikan eksistensi teman sekaligus rekan kerjanya tersebut yang menurutnya terlalu banyak mulut serta sangat merungsingkan. Maka, dengan derap langkah yang tangkas jua sulit dijegal, Rega serta merta menjeblakan pintu ruang kerja pribadinya secara kasar. Masih dilingkupi oleh gelombang emosi serupa, pemuda itu kemudian terlihat terburu meraih gagang telepon di atas meja sewarna gadingnya. Menunggu sepersekian detik, suara berat Rega yang terdengar sangat tak sabaran lantas berseru nyaring, "Dara?" "Iya, Pak?" "Di mana kamu?" tanya Rega to the point ketika tadi ia tak berhasil menjaring sosok Sandara, Asisten Pribadinya di meja kerja gadis itu yang berada tepat di sisi ruangannya. "Pak Rega sudah datang? Saya lagi di lantai bawah, Pak. Menyiapkan bahan untuk meeting nanti." Ah, benar. Bagaimana Rega bisa lupa? Satu jam lalu dia kan baru saja menyuruh Dara untuk me-reschedule agenda rapatnya. Memijit sebelah pelipisnya yang memang pening, Rega lanjut menitah, "Ya sudah. Bereskan secepatnya. Habis itu langsung ke ruangan saya, bawakan saya kemeja. Ngerti?" "Oke, siap, Pak." Dan tepat sedetik sebelum Dara memutuskan sambungan telepon di antara mereka, Rega dengan sangat cepat berupaya menyela. "Eh, Dar sekalian tolong kamu pesankan satu buket bunga lily deh," katanya. "Bunga, Pak?" Oke, entah apa yang Asisten Rega itu pikirkan. Mungkin karena selama ini Rega terkenal akan pribadinya yang angkuh, cuek, keras dan tentu saja judes bin galak. Sehingga sulit rasanya untuk percaya bahwa beberapa saat lalu atasannya tersebut ingin dibelikan bunga. Oh, ayolah. Untuk sekadar memberi karangan bunga ataupun papan bunga berisi ucapan selamat kepada rekan-rekan sesama pengusahanya saja, Rega tak pernah mau peduli jika bukan Dara yang berinisiatif sendiri agar VER tidak malu. Jangankan demi perusahaan lain lah. Untuk istrinya saja. Seingat Dara, Rega belum pernah memintanya memesakan bunga, sekali pun ketika itu Meta tengah berulang tahun. Lantas sekarang? "Iya, yang putih saja kalau ada. Ntar sore harus sudah sampai ke tangan saya. Oke?" "Ahhh, i-iya. Siap, Pak. Laksanakan." Setelahnya, aktivitas menelepon atasan-bawahan tersebut pun resmi tersudahi. "Woah, habis ketampar air hujan deras semalam yah, Bos? Are you sure? A flower bouquet? Lily?" Miko yang sedari awal memang telah membuntuti pergerakan Rega guna memasuki ruangan pun, refleks memajang segaris senyum sumbing pada permukaan wajah bergurat tegas miliknya tatkala berhasil tampil sebagai saksi dari sesi perbincangan yang barusan saja terjadi dengan membawa-bawa aroma harum dan manis di antara Norega bersama Asistennya. Melirikan pandangan matanya yang memicing runcing ke arah Miko yang tampak sedang berdiri malas sambil bersidakep persis di sisi lemari tinggi tempat di mana biasanya kumpulan arsip dihimpun. Rega tanpa tedeng aling-aling menyentak bengis, "Bukan urusan lo!" Serta, yah. Miko tidak terlalu terkejut begitu mendapati rekasi Rega yang seperti itu. Selain karena memang sudah terbiasa, tingkah Rega yang sedari pertama kali datang tadi toh memang sudah terkesan aneh. Oleh sebab itu, Miko berusaha untuk rela memaklumi. Norega Altriano Prakosatama yang saat ini berdiri di hadapannya jelas bukan lawan yang asik untuk Miko ajak guna bersilat lidah. Jadi, sebagai orang yang mempunyai pemikiran lebih waras serta terbuka dari Rega. Maka, pria berkulit kecokelatan akibat kegemarannya melancong, mengelilingi alam bebas itu pun memutuskan untuk mengerem laju perkataannya. Puluhan detik Miko membiarkan waktu berjalan dalam bisu. Hingga tiba-tiba, bola mata hitam pekatnya mampu menangkap sosok Rega-yang masih mengenakan jaket kulit berwarna hitam yang semalam dikenakannya-mulai bergegas membongkar sebuah lemari mungil di pojok ruangan. Menyipitkan pengelihatannya, Miko dapat melihat bahwa Rega baru saja berhasil memboyong seperangkat peralatan mandi juga selembar handuk putih dari dalam lemari tersebut. Merasakan adanya sedikit kejanggalan, Miko pun buru-buru menginterupsi kegiatan atasannya itu dengan bertanya, "Udah sesiang ini dan setelat ini lo baru nyampe ke kantor. Serta parahnya lagi lo belum mandi? Seorang Rega? Kemana aja sih lo sebenarnya, Bos?" Rega yang nyaris meraih knop pintu kamar mandi yang berada di dalam ruang kerjanya, otomatis menghentikan seluruh pergerakan. Bersama air muka yang tercetak amat terganggu, pria itu berbalik demi menghadapi Miko sambil mengeluarkan sebaris jawaban enteng, "Kemana lagi emangnya?" Tergagu cengo, Miko sontak mendengus seraya membalas dengan begitu gemasnya, "Ya mana gue tahulah. Makanya gue nanya ke lo juga, Bos." Heran, Rega ini sungguh-sungguh habis terguyur hujan atau kenapa sih otaknya? Sempat-sempatnya dia mengajak Miko bermain teka-teki yang sama sekali tak bercitarasa puzzle. Mendesah jengkel, Rega yang diterpa sakit kepala yang kian intens tiap menitnya pun lantas menyemprot sang Manajer Sales and Marketing VER Fashion tersebut dengan galak melalui jawabannya, "Gue ke Sentul. Nginep di sana. Di parkirannya. Puas lo?" "Lo ... ke Sentul?" Miko mengulangi statement Rega yang baru didengarnya bersama nada yang agak bingung. "Ngapain?" "Meta ada ngurusin konser Wiz di sana," respons Rega sekenanya. Mengerutkan dahinya dalam. Miko teringat akan tayangan yang ditontonnya di televisi semalam. Di mana Wiz Rida si penyanyi rap asal negeri Paman Sam sana terpaksa batal menggelar konser solo pertamanya di tanah air, dikarenakan adanya sebuah insiden panggung roboh tepat beberapa jam saja jaraknya dari jadwal acara konser rapper tersebut dilangsungkan. Mengelus area dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, Miko kemudian berujar, "Wiz yang batal konser semalam, kan? Gue baru tahu yang bawa Wiz tuh ternyata EO-nya si Jevas." "Sial!" desis Rega geram. "Heh? Apaan? Salah apa gue sampe lo nyial-nyialin gue macem gitu?" protes Miko terganggu. Mengeluarkan decakan super keras, Rega lalu menyahut dengan penuh penekanan, "Bukan elo! Tapi, nama yang barusan saja lo sebutin tuh yang sialan!" Menadahi pengakuan dari Norega tersebut kontan seulas senyum mengejek tanpa sanggup dibendung pun segera terbit di atas bibir Miko. "Kenapa lagi lo sama si Jevas, heh? Jangan bilang, kalian terlibat dendam lama bersemi kembali yah? Atau malah dendam lama belum kelar, hm?" tukas Miko meledek. Ayolah. Sudah jadi rahasia umum di antara para alumni SMA di mana mereka bersekolah dulu bahwa yang namanya Norega Altriano juga Jevas Prambada itu ibarat dua kutub magnet kembar. Mau berjauhan ataupun berdekatan toh takdir mereka ya bakal tetap saling tolak-menolak. Sulit sekali mengakurkan dua manusia keras kepala tersebut. Alasannya? Terlalu rimbun masalah yang menjerat Rega dan Jevas. Yang saking banyak dan complicated-nya Miko menolak untuk mengingat kembali apa saja kiranya persoalan-persoalan tersebut. Tampak menyisir rambut hitamnya kuat, Rega lalu berkata dengan penuh arogansi tinggi. "Tahulah! Pokoknya, gue bakal pastikan kalau dia wajib bayar semuanya. Siapa memangnya dia sampai ngerasa berhak buat menginjak-injak harga diri istri gue? Dan juga si Meta lagi tuh. Entah gimana sebenarnya cara kerja otaknya itu? Bisa sebegitu begonya dia jadi orang. Udah gitu ngapain pula dia pake melemparkan kesalahannya ke gue? Benar-benar perempuan yang kelakuannya cuma bikin pusing saja." "Padahal gue udah ribuan kali bilang ke dia supaya keluar saja dari Royal. Nggak usah kerja sama bareng si Jevas yang super sialan itu tapi, malah ngebantah terus. Udah nggak becus kerja, ngapain sih dia masih sok-sokan maksain diri dan buang-buang waktu macem begitu? Heran gue! Belum move on kali dia dari Gusta." Menunggu beberapa saat hingga dirinya merasa yakin jika Rega tak berniat menghamburkan luapan murkanya kembali. Miko pun mengambil sikap untuk menegakkan tubuhnya. Berjalan beberapa langkah agar posisinya semakin mendekati Rega. Pria berkemeja putih itu pun lantas berkata, "Tahu nggak lo, Reg?" "Rasanya gue pengen nyaplok kepala lo," sambung Miko tak berselang lama yang refleks membuat Rega langsung memicing tak suka di tempatnya berdiam. "Usia lo itu udah 31 tapi, seriusan deh kelakuan lo tuh lebih mirip sama bocah umur 3,5 tahun," tutur Miko beropini. "Ko! Gue cerita ke lo bukan buat ngumpulin hinaan-hinaan lo yah," ucap Rega memperingatkan. "Kalau nggak mau dihina ya mestinya lo nggak usah menunjukan sikap yang hinalah, Bro." "Jatmiko Sadewo!" Menghela napasnya pelan. Miko menata raut wajahnya menjadi setenang yang selumrahnya pria itu pajang. Sebelum melirih kepada Rega, "Entah lo anggep atau nggak. Kita udah berteman selama belasan tahun, Reg. So, jangan harap gue nggak ngerti apa-apa mengenai diri elo." "Stop muter-muter deh lo, Ko!" sentak Rega jengkel. Paham bila Norega kian terbakar bara emosi. Maka, Miko pun langsung mengarahkan pembicaraan ke point intinya. "Kesimpulan yang gue tarik dari masalah lo selama ini sama Meta, Reg. Coba deh, lo balik lagi ke dasar yang melatar belakangi lo menikahi dia. Demi kebahagiaannya Meta, kan? Nah, sekarang apa elo udah merasa yakin kalau sejauh ini Meta benar-benar udah hidup dengan bahagia bareng lo?" Miko sengaja memberi jeda dalam rentetan penuturannya. Pada selang waktu yang tercipta tersebut, pria itu menjajal guna menelisik ekspresi jenis apa yang kiranya Norega ulas. Serta, satu yang tampak teramat nyata terperangkap di ujung pengelihatan Miko; resah. Betul. Prekdisinya tak meleset. Norega pasti terpengaruh. Memasukan telapak tangannya ke saku celana bahan yang dikenakannya. Miko kemudian lanjut berbicara, "Reg, gue sama sekali nggak ngerti semenghibur apa bagi diri lo ketika bikin Meta kesal. Tapi, perlu diingat kalau dia itu tetap perempuan, Reg. Kaum mereka beda sama kaum kita. Mereka diciptakan dengan sangat perasa. Kata-kata yang waktu kita dengar terkesan lumrah, bisa jadi buat hati mereka efeknya lain." "To the point saja lah, Ko. Lo mau belain Meta, kan?" tuduh Rega seolah sungguh-sungguh menolak memahami apa yang sejak tadi coba Miko terangkan. "Gue nggak membela siapa-siapa. Tapi, sejauh yang mata awam gue ini lihat dari hubungan suami-istri yang kalian jalani setahun ini tuh selalunya Meta, Reg yang coba buat mengerti diri lo. Contohnya buat makan siang aja. Selalu Meta yang datang buat nyamper lo ke VER. Walaupun jelas-jelas di kantor lo lagi nggak sibuk, lo tetap nggak mau datang ke dia. Alasannya? Karena lo malas ketemu Jevas. Jangan egois, Reg. Jangan jadi pecundang." "Lo nggak perlu terlalu sok tahu, Ko!" desis Rega tajam. Dan entah bagaimana bisa Miko begitu tahan menjalani ikatan pertemanan bersama makhluk penganut sifat kepala batu seperti Norega. Yang jelas, satu hal yang Miko pelajari dari sejarah persahabatan mereka bahwa sewaktu kekerasan gagal memukul mundur aksi ngotot Rega, maka mau tak mau Miko harus sudi untuk sedikit mengamalkan ilmu berlapang d**a. Pelan-pelan, Miko berusaha kembali memberi pengertian. "Coba gue tanya deh sama elo, Bro. Setahun belakangan, apa sih yang udah lo lakukan untuk Meta? Apa lo beneran udah maksimal mengusahakan hubungan kalian? Karena dari sudut pandang mata gue, elo belum berbuat apa-apa, Reg. Lo belum berkontribusi apa pun. Selalu istri lo yang sibuk berjuang sendirian. "Padahal kita semua tahu kalau Meta baru aja kehilangan seseorang yang paling berharga di hidupnya. Memilih menikah sama lo, tentu Meta butuh sandaran. Bukannya tambahan masalah yang nggak ada putusnya." Menadahi seluruh kalimat yang Miko lontarkan, begitu saja Rega mengeluarkan segurat ringisan miris. "Ngerasa sebegitu kenalnya lo, Ko sama Meta? Kenapa dulu lo nggak sekalian mengajukan diri sebagai calon suaminya juga?" seloroh Rega. "Rega." Miko menipiskan nada bicaranya. "Gue ngomong ini-itu hanya sebatas sebagai teman lo, Bro. Terserah sih kalau ending-nya lo mau sok tuli. Tapi, jangan lupa, Reg. Jevas yang hari ini lagi berkeliaran di sekeliling Meta adalah Jevas yang udah banyak belajar dari diri lo. Lo, salah satu penyebab lahirnya Jevas yang kayak sekarang ini. Gue nggak tahu sebesar apa rasa bencinya ke lo. Tapi, lo jelas bakal tahu rasa sendiri kalau sampai istri lo kena, dia embat. Ingat! Jevas selalu punya ambisi buat ngejiplak lo, Bro." "Dan hari di mana dia berani melakukan hal itu adalah hari di mana Jevas bakal gue tumpas habis," ancam Rega serius. Tersenyum segaris, Miko lagi lagi coba meledek, "Beresin dulu tuh hati lo yang berserakan. Baru deh ngomongin soal menghabisi Jevas. Disamperin Gladys lagi palingan juga lo nggak berdaya." "Keluar deh lo, Ko! Mumet gue lama-lama dengar bacot lo!" usir Rega sambil melayangkan sepatu hitamnya ke arah Miko. Membuat pria kekar itu refleks berlari dengan lebaynya guna mengeluari ruangan tersebut. *** "Ngapain lo malah masih di sini?" Rega yang telah rapi dan mulai berjalan keluar dari ruang kantornya pasca setengah jam berlalu dari momen obrolannya bersama Miko, sontak menatap malas wajah Jatmiko Sadewo yang ternyata memilih untuk menungguinya di lorong. Menyengir kuda Miko pun berdalih, "Gue telat masuk ruang meeting. Bareng lo biar gue ada teman malu." Rega sendiri terlihat hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir demi merespons kelakuan absurd kawannya itu. Ya, begitulah hubungan pertemanan mereka. Sesering atau seserius apa pun cekcok yang sempat keduanya lalui toh ujung-ujungnya mereka bakal baikan lagi meski nantinya mungkin bakal kembali terjebak dalam serentetan aktivitas beradu urat. Berjalan saling beriringan guna menuju lantai bawah. Di mana hari ini rencananya akan ada agenda rapat bersama seluruh perwakilan divisi yang menghuni jajaran manajerial VER Fashion demi, merundingkan serta dilanjutkan dengan memutuskan, mengenai desain produk baru yang hendak VER luncurkan guna memperbarui stock barang di outlet-outlet seluruh tanah air juga beberapa negara Asia Tenggara lainnya pada bulan depan. "Eh, gue belum ketemu satu pun karyawan baru dari Tim Desain loh. Ada tiga orang, kan? Ada ceweknya nggak, Reg?" tanya Miko ketika mereka telah berada berdua saja di dalam lift. Menekan tombol sesuai angka lantai yang hendak mereka tuju, Rega lantas menjawab sinis, "Baru ngelamar Prita, kan lo? Ngapain tanya-tanya soal cewek segala?" Mendengus keras, Miko balik menyerang dengan cukup telak, "Alah! Kayak gue nggak tahu belang lo aja. Lo juga yang udah merit eh, malah berani-beraninya jalan-jalan di Paris sama perempuan lain." "Gue nggak jalan-jalan, Ko." "Masa?" pancing Miko. "Kemarin gue sempat ngelihat postingan IG-nya Gladys. Dan rasa-rasanya sangat jelas di gambar itu ada penampakan wujud punggung lo di Le Château d'Esclimont." "Itu tempat resepsinya Anthony. Dan iya, gue ke sana bareng Gladys tapi, sekali lagi gue cuma sebatas kondangan sama dia nggak lebih," jelas Rega. "Lebih juga siapa yang tahu, kan? Dengar-dengar di sana itu para tamu undangannya bisa sekalian hiking, mancing bahkan juga ... berkuda. Bukannya dulu lo sampe bela-belain rutin belajar naik kuda di equestrian centre hanya demi bisa ngimbangin hobi berkudanya Gladysa? Gue sih cuma kasihan sama Meta kalau lo sampe aneh-aneh." "Jatmiko!" "Iya iya. Gue, kan hanya mau memastikan aja, Bro. Awas lo kalau nekat main api, kebakar, gosong jadi angus lo!" "Lo yang bakal jadi angus duluan kalau sampai akhir minggu ini masih belum nyetorin laporan penjualan ke gue," ultimatum Rega. "Siaplah, Bos. Pinter banget perasaan mengalihkan pembicaraan." Mengedikan pundaknya acuh tak acuh. Rega lebih dulu bergerak guna mengeluari lift serta kemudian mendorong pintu kaca ruang rapat yang terletak sepersekian meter jaraknya dari lift. Beberapa orang yang sudah terlebih dahulu hadir pun otomatis langsung berdiri menyambut kedatangannya. Terus melaju untuk duduk di kursinya yang terletak di bagian poros barisan, mata gelap Bos VER Fashion tersebut kemudian menjelajah seluruh isi ruangan. Menelusuri siapa-siapa saja yang siang ini hadir untuk berdiskusi. Lalu, tiba-tiba saja mata kecil Rega sontak melebar sewaktu tatapannya berhasil menyapu kursi-kursi yang diduduki oleh para perwakilan dari Tim Desain. Tepat diapit oleh Tom dan Abel yang kemarin sukses besar di Paris, seorang wanita dalam balutan blouse putih tampak begitu mengguncang laju degup jantung milik Norega. Meraih berkas berisi data diri dari hasil rekrutmen karyawan yang kemarin Dara berikan. Di atas kertas tersebut, Rega dapat membaca sebaris nama yang sangat familiar bagi lidahnya. Gladysa Tetria Helian Cobaan macam apalagi ini kiranya? Gara-gara terlalu fokus meladeni masalahnya dengan Meta. Pria itu jadi lupa untuk mengecek laporan soal hasil akhir dari perekrutan karyawan yang Asistennya berikan. Bahkan berkat permasalahan itu juga, dalam rapat kali ini Rega merasa menjelema sebagai manusia paling bodoh di dunia. Bagaimana tidak? Pemuda itu seratus persen kehilangan konsentrasi. Yang ia tangkap dari rangkaian rapat tersebut hanya mereka bersepakat untuk meluncurkan sekitar 100-an desain baru-sesuai rumusan request produk dari tiap Manajer toko di semua outlet-pada bulan besok. Satu jam lebih lima menit, di mana durasi meeting tersebut akhirnya usai. Rega yang tengah bergegas dalam perjalanannya guna kembali ke ruang kerjanya, mendadak justru berpapasan dengan Gladysa di dalam kawasan lift yang sempit. Tepat sewaktu wanita bercelana capri itu terlihat hendak menyapanya. Rega cepat tanggap berkelit serta mulai menjajal asas menghindar dengan cara tampak sibuk. Mencoba sesegera mungkin menekan nomor kontak seseorang melalui handphone-nya. Rega berusaha menghubungi istrinya di ujung sana. "Di mana?" Rega bertanya serak. Namun, di seberang sambungan sama sekali belum terdengar adanya nada terhubung. Sementara, tepat beberapa senti meter jaraknya dari diri seorang Norega Altriano, Gladys tampak menunduk sambil sekali-dua kali melirik ragu-ragu ke arah Rega. "Kamu di mana?" ulang Rega begitu mendapati panggilannya telah sukses diterima. Balik melirik ke posisi di mana Gladysa tengah terpaku, perlahan Rega menggerakan mulutnya untuk mengimbuhkan, "Sayang ...?" "Apaan sih? Sayang-Sayang Hongkong! Aku masih banyak kerjaan dan masih malas buat sekadar ngobrol apalagi berdebat sama kamu. Jadi, tolong jangan nelepon dulu deh." Seolah tak peduli bahwa barusan saja Rega mengucapkan kata 'Sayang' untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan hubungan mereka. Suara Meta yang terdengar begitu galak sama sekali tak menciutkan apalagi meruntuhkan niatan Rega untuk lanjut bicara, "Makan siang?" "Iya aku lagi makan di luar. Udah yah?" "Aku jemput ke kantor oke?" tawar Rega seakan tak menangkap apa yang Meta ucapkan. "Aku-lagi-makan-siang-di luar, Reg. Sinyal kamu lup-lep atau gimana sih?" "Iya, nanti kita makan di luar. Kamu yang pilih tempatnya," ujar Rega serasa tengah bermonolog. "Ihhh ini aku lagi lunch. Tempat apaan lagi sih yang kamu maksud?" "Ya udah. Tunggu aku di kantor yah? Aku ke situ sekarang." "Astaga, Rega! Aku lagi di luar. Ngapain lagi kamu pake ke Royal? Ntar kamu ketemu Jevas loh. Marah kamu tambah parah, nanti aku lagi yang kena." "Iya. Aku juga kok." "Nah loh, juga apaan lagi coba ini? Gaje banget perasaan dari tadi!" "Kangen kamu." "Y-yah? Astaga! Please, kamu ngelindur yah? Kepentok, kah Reg kepala kamu atau-" Belum sempat Meta menyelesaikan kalimat asumsinya, Rega justru dengan seenak udelnya telah terlebih dahulu mengakhiri sambungan di antara mereka secara sepihak. Dan di tempat lain. Meta terdengar langsung berdesis, mencebikan bibir tipisnya sambil mendumel dalam hati begitu melihat layar ponselnya yang kembali menghitam. Menyaksikan polah wanita itu yang tampak lumayan lucu, seorang pria perlente yang sejak tadi duduk tepat di seberang tempat Meta pun lantas bertanya, "Rega?" Meta kontan mengangguk membenarkan. "Lagi kumat kali dia," gerutu Meta. "Kumat?" Ezio mengerutkan bagian sudut matanya. Sementara Meta memilih untuk mengedikan bahunya ringan sebagai respons bahwa rasanya mereka tak perlu mengangkat tema bahasan mengenai Norega. Karena bisa dipastikan emosi Meta bakal kembali bergejolak. Jangan sampai deh! Meletakkan ponselnya ke dalam tas, Meta lalu melipat lengannya pada permukaan salah satu meja di KFC. "Makasih yah, Zi kamu udah bantuin aku buat bicara sama Jevas," tutur Meta sambil memandang Zio dengan lekat. Mengingat kembali memori beberapa saat tadi, di mana adik tunggal Rega itu ikut repot memberi penjelasan kepada Jevas Prambada yang begitu keras kepala. "Kalau kamu memang masih ingin bekerja di Royal dan kebetulan ada yang bisa aku lakukan ya aku pasti bakal usahakan buat bantu, Me," jawab Zio sederhana. Meta yang merasa mood-nya jauh lebih baik pun serta merta menunjukan sebaris senyum lirih yang diam-diam membuat alur napas Zio berangsur-angsur melega. "Ini." Zio mengangsurkan selembar sapu tangan ke arah Meta. Mengedip-ngedipkan kelopak matanya cepat. Kebingungan Meta diam-diam membangkitkan segaris ringisan kecil di bibir Zio. "Dulu, aku mungkin masih bisa dan bebas hapusin bekas saus yang nempel di muka kamu tapi, sekarang itu udah jadi tugasnya Rega. So, aku pinjami sapu tangan saja, hm?" terang Zio. "Ish! Tugas apaan coba?" gerutu Meta lagi akibat teringat akan suaminya yang super menyebalkan sambil tangannya bergerak guna menerima sapu tangan hitam yang Ezio ulurkan demi membersihkan noda belepotan yang menghiasi area wajahnya. "Dan jika bisa. Tolong jangan sedih lagi, Me," ujar Zio bersama nada yang cukup terukur. "Yah?" "Karena kalau setiap kali kamu datang padaku dengan kondisi yang seperti tadi. Rasanya aku jadi menyesal sebab satu tahun lalu aku pernah melepas kamu ke Rega." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN