"Pak Rega tadi dari pihak Elle ada yang menghubungi. Mereka tanya, apa Bapak berkenan untuk diwawancarai?" Dara yang baru saja menaruh gagang telepon di atas meja kerjanya langsung menyampaikan maksud dan tujuan dari sambungan yang baru diakhirinya beberapa detik lalu, ketika gadis berkunciran ekor kuda tersebut berhasil menangkap sosok Bos VER Fashion—atasannya sekaligus aktor yang dicari pihak Elle—memasuki kawasan ruang kerjanya.
"Elle?" Rega bertanya sambil terlihat menyipitkan matanya—tak mengerti.
Mengangguk dengan antusias Sandara kemudian menjawab, "Iya, Elle magazine, Pak."
Oke, sepertinya Asisten Rega tersebut agak salah paham sewaktu membaca reaksi kebingungan yang Norega kuarkan. Oh, ayolah. Sekarang, pegelut dunia fashion mana di muka bumi ini yang tidak tahu majalah Elle? Secupu-cupunya dia si pecinta ranah mode, sekali-dua kali pastilah pernah mendengar atau bahkan melihat majalah yang telah memiliki empat puluh tiga edisi internasional di lebih dari enam puluh negara tersebut.
Memilih untuk tak menghiraukan tanggapan Dara yang kerap membuatnya meradang, Rega lantas lanjut bertanya, "Kenapa mereka mau mewawancarai saya?"
"Katanya sih itu ada kaitannya sama acara di Paris kemarin, Pak."
"Kalau begitu mereka, kan bisa langsung interview Abel atau Tom. Yang punya hajat, kan mereka berdua."
Benar. Jika pihak Elle ingin berita mengenai pagelaran fashion show yang dilakukan VER di Paris, seharusnya yang mereka cari bukan Rega. Pasalnya pria itu berangkat bahkan hanya demi mengisi slot Miko yang terpaksa tak bisa hadir.
"Tapi, katanya ini ada keterkaitannya sama desain Bapak di Paris kemarin," beber Dara mencoba kukuh mempertahankan bahwa info yang diberikanya memang betul-betul valid.
Tampak berpikir sejenak, Rega kemudian berujar, "Saya nggak ikut menyumbang desain apa-apa kok perasaan."
"Nah, masalahnya mereka juga nggak begitu ngasih banyak penjelasan sih, Pak."
"Dan kamu pun nggak berusaha untuk cari tahu lebih lanjut, kan?" serobot Rega kilat lengkap diiringi pula oleh ekspresi kebosanan yang lekat. "Kebiasan banget deh Dara."
Menampilkan cengiran lebar sok tanpa dosa andalannya, itu merupakan jurus pamungkas Dara sewaktu dirinya merasa sukses kalah langkah dari atasan paling menyebalkan sepanjang karir gadis muda tersebut berkiprah dikancah perkacungan.
Sedang Norega sendiri hanya mampu menghela napas samar sebab dianugerahi bawahan yang katakanlah memang belum terlalu berpengalaman. Meski demikian, pria itu tetap mempertahankan Sandara sebagai salah satu orang yang paling ia percayai karena di luar dari otak Dara yang jika kambuh suka tiba-tiba error, sebenarnya gadis itu adalah Asisten Pribadi yang paling mumpuni guna mengimbangi cara bekerja seorang Norega Altriano—yang hobi perintah ini-itu seenak dengkul, hobi marah-marah, hobi menindas, hobi kena kritik karyawannya—bila dibandingkan dengan Asisten-Asistennya yang dulu-dulu.
Berdecak singkat, Rega lalu bertanya, "Kapan rencana wawancaranya?"
"Mereka sih mintanya awal pekan depan, Pak," jawab Dara tanggap.
"Pekan depan? Bisa diselipin di antara jadwal saya yang lain nggak itu kira-kira?"
"Saya usahakan pasti bisa deh, Pak."
"Ya udahlah," ujar Rega yang merasa bahwa tidak akan ada yang dirugikan oleh agenda pelaksanaan wawancara tersebut. Toh, jika dipikir-pikir masuk ke dalam laman majalah sekalas Elle merupakan sebuah pencapain besar atau bahkan malah super besar? Seingat Rega, perusahaan pesaingnya—Cévo milik Paradikta—juga sering mejeng di majalah Marie Claire. Jadi, sudah jelas keputusannya; VER tak boleh kalah tempur dong!
Tidak ada lagi perkara mengenai pekerjaan yang dirasa perlu dirundingan lebih lanjut bersama Dara. Rega pun akhirnya kembali teringat akan tujuan utamanya mendatangi ruangan Asistennya tersebut.
"Eh, bunga saya mana?" tanya Rega tanpa basa-basi.
"Bunga ...?" Dara agak melongo saat mengulangi kata-kata Rega, sebelum detik berselang perempuan tersebut langsung menjentikkan jari-jari lentiknya di udara.
"Oh, iya." Gadis itu lantas merunduk di sisi laci kerjanya demi memboyong sebuket lily putih yang tampak masih teramat segar untuk kemudian ia angsurkan ke hadapan Rega.
"Cantik banget bunganya. Buat Bu Meta yah, Pak?" ujar Dara mencoba sok menebak-nebak buah manggis tatkala tangan Rega mulai mengambil alih buket yang disodorkannya.
"Bukanlah," jawab Rega singkat bersama air muka yang super lempeng. Membuat Dara yang menyaksikannya refleks puluhan kali merapal dalam hati 'Amit amit! Amit amit! Jauhkan hamba dari jodoh sejenis Pak Rega Tuhan karena selain nyebelin, doi juga nggak ada bakat buat jadi romantis babar blas'.
"Jadwal saya untuk hari ini udah nggak ada yang terlalu mendesak, kan?" Rega kembali membuka sesi pertanyaan yang sekaligus juga menyentak fokus Dara guna pulang ke alam nyata.
"Iya, Pak. Saya udah susun ulang dan beberapa agenda pertemuan dipindah ke hari lain, sesuai permintaan Bapak deh pokoknya."
"Oke. Kalau kerjaan kamu udah beres, langsung pulang saja. Saya duluan, Dar," ucap Rega sambil memutar langkah kakinya untuk mengeluari ruangan yang didominasi oleh warna cokelat milo, di mana Dara telah menempatinya selama hampir dua setengah tahun lamanya.
"Siap. Hati-hati mengemudinya, Pak," pesan Dara berbasa-basi.
Dan tanpa sudi menanggapi lebih jauh penuturan yang Asistennya coba lontarkan, Rega pun bergegas menutup daun pintu ruang kerja Dara.
Menyambi berjalan ke arah basemant tempat Peugeot RCZ-nya rapi terparkir, pria yang hari ini tampil sederhana dengan bantuan sepotong kemeja slim fit abu muda itu pun menyempatkan diri guna melirik arloji yang melingkar pada pergelangan kokohnya.
Jam 4 sore tepat. Terang waktu yang lumayan pas dipakai untuk berkendara di kota ini. Pasalnya di jalanan tentu belum terlalu berjubel barisan antrian kendaraan pribadi milik para pekerja ibukota yang menurut data Dishubtrans tahun 2015, jumlahya sudah mencapai lebih dari 7,9 juta unit.
Nah, tahun-tahun telah terlewati dari besaran akumulasi data tersebut. Maka, tidak heran dong separah apa macetnya jalanan yang hendak Rega lalui. Jadi, pulang lebih awal merupakan cara yang dirasa cukup ampuh guna pria itu tempuh supaya ia tak terlambat sampai di tempat yang akan ditujunya nanti.
Sekali-dua kali membalas sapaan segelintir karyawan VER yang berpapasan dengannya. Menit berselang, pemuda itu pun akhirnya berhasil menduduki jok empuk sports car kesayangannya.
Meletakkan sebuket bunga yang berisi sebelas tangkai lily putih di kursi sisi kemudi. Rega kemudian mulai bergerak guna mengeluarkan mobilnya dari area parkir.
Melaju dengan kecepatan pelan begitu menapaki jalan raya. Perlahan namun pasti pemuda itu mulai menambah daya pacu kendaraannya yang digadang-gadang mampu melesat dengan cepat berkat mesin Turbo yang kuasa menghasilkan tenaga hingga mencapai 163 hp tersebut.
Meninggalkan gedung kantornya di bilangan Kuningan menuju kawasan Jagakarsa. Rega pun memilih untuk memutar radio demi mengusir perasaan bosan yang kerap menghinggapinya kala tengah di perjalanan. Menentukan gelombang secara acak. Samar-samar suara Charlie Puth yang melantunkan single terbarunya dengan cita rasa R&B begitu saja memenuhi ruang dalam mobil Rega.
You just want attention
You don't want my heart
Maybe you just hate the thought of me with someone new
Yeah, you just want attention
I knew from the start
You're just making sure I'm never gettin' over you
Mendengar setiap penggal kata dari lirik lagu tersebut. Lamat-lamat Rega lantas mengeluarkan segaris ringisan miris. Entah mengapa dia merasa bahwa lagu itu ialah jawaban dari tingkah absurd-nya seharian ini. Benar. Mau coba dipikir seratus kali pun toh hari ini Norega Altriano Prakosatama memang betul-betul sesosok makhluk yang bodoh. Bagaimana bisa cuma karena satu orang saja, dia sampai sempat kehilangan pengendalian dirinya?
Gila! Rega tak tahu lagi kata-kata semacam apa yang sanggup menggambarkan nasibnya di hari ini selain kata 'gila' tersebut.
Gila! i***t! Dan tidak waras!
Menghela napas singkat. Mendadak ada yang datang menyusup ke dalam memori seorang Norega Altriano.
Tunggu dulu! Charlie Puth?
Bukannya dulu atau lebih tepatnya satu tahun lalu. Ketika dirinya dan Meta belum resmi menyandang status sebagai suami-istri. Di suatu pagi, di dalam mobil Zio, sewaktu ketiganya memutuskan untuk pergi bersama menggunakan satu kendaraan. Rega rasa-rasanya pernah iseng request lagu di radio untuk Meta. Dan jika tak salah ingat, maka lagu yang diputar oleh sang penyiar di hari itu adalah lagu Charlie Puth juga.
Mendapati kenangan akan kejadian tersebut setelah satu tahun terlewati, sesungguhnya Rega masih tak menyangka jika kini dia telah menikahi Meta—wanita yang dulunya begitu dicintai oleh adik kandungnya sendiri.
Menengok ke samping kiri. Sekilas Rega terlihat kembali menarik-ulur arus napasnya tatkala pandangannya terfokus pada bagian mahkota dari bunga lily yang dibelinya.
Setangkai bunga akan mekar lalu berakhir dengan layu. Mengapa? Sebab seperti itulah kodratnya.
Segala sesuatu yang terjadi, memang seperti itulah takdirnya.
Benar. Mencurahkan seluruh fokusnya kembali ke jalanan. Selang empat puluh menit kemudian, Rega akhirnya tiba di tempat yang menjadi destinasi primernya.
Menggapai buket lily-nya ke dalam genggaman. Norega lantas mematikan radio yang sedari tadi menyuguhkan bunyi berisik. Sebelum tubuhnya bergerak dengan cekatan demi meninggalkan Peugeot RCZ-nya yang telah tertib terparkir.
Mengusap kain kemejanya yang siapa tahu kusut. Pria itu mencoba meyakinkan hatinya sendiri dalam satuan detik. Menganggap telah sukses mendapat nuansa 'klik'-nya, Rega pun mulai melangkah secara tangkas guna memasuki pintu masuk kawasan TPU Kampung Kandang.
Menyusuri jalan setapak bertanah merahnya, Prakosatama sulung itu refleks menghentikan seluruh percobaan melajunya saat sepasang mata gelapnya berhasil menemukan penampakan sebuah gambar punggung milik seorang wanita yang diam-diam amat dikenalnya.
Mengurungkan niatnya guna menghampiri tempat peristirahatan terakhir adiknya, Gusta. Rega sendiri lebih memilih untuk berlaku sebagai pemerhati. Dari jarak sekitar dua meter, Rega berdiri tepat di belakang punggung istrinya yang tampak tengah fokus bersimpuh di sisi makam Gusta.
Sementara itu, Meta yang tanpa sadar sedang membelakangi Rega pun terlihat berusaha keras untuk mampu menampilkan seulas senyum lirih di atas bibir merahnya. Matanya sedikit menyipit dengan bola mata yang lancang berkaca-kaca.
"Hari ini, udah tepat setahun yah, Ta." Meta mulai bicara. Nadanya terdengar agak pelan meski demikian orang lain tetap memiliki kemungkinan untuk sanggup menjaringnya.
Menaruh buket mawar putih yang sengaja dibawanya ke dekat nisan Gusta. Meta lalu, mengelus secara hati-hati tulisan nama 'Gusta Eldriano Prakosatama' yang terukir pada nisan berwarna hitam tersebut.
"Maaf yah aku udah nggak sesering dulu nengokin kamunya," lanjut Meta bersama intonasi suara yang kian serak.
"Gimana kabar kamu? Pasti baik-baik saja, kan?" tanya Meta yang segera dijawabnya sendiri, "Aku percaya. Percaya banget kalau di sana kamu tentu baik-baik saja."
"Gimana? Udah ketemu bidadari belum, Ta? Kamu ... udah lupain aku belum?"
Mengelap debu-debu yang menepel di permukaan nisan Gusta menggunkan sampu tangan yang ia keluarkan dari dalam tas selempang kepunyaannya. Meta lalu kembali berkata samar akibat dorongan air mata yang terus saja mendesak ingin diluberkan, "Aku ... aku masih sama loh, Ta."
"Aku masih suka minum latte atau green tea waktu makan siang. Aku juga masih suka naik motor matic-ku yang pink itu loh kalau ngantor. Aku masih suka makan sembarangan. Makan mie instan, nggak sehat banget yah hidup aku?" Meta masih sempat memajang sebaris senyum sok gelinya ketika bertetes-tetes air mata justru sukses menganak sungai di wajahnya.
"Terus, aku juga masih ceroboh, Ta. Minggu lalu aku jatuh dua kali kesandung tangga di kantor. Lalu, hari ini aku jatuh karena kesandung langkahku sendiri. Payah banget, kan aku?"
"Oh, iya. Dari pertemuan terakhir kita. Aku udah tambah tua satu tahun. Beberapa tahun ke depan, aku bakal seumur kamu, Ta."
Mengambil jeda sejenak. Meta berusaha menghapus bekas air mata di permukaan pipinya menggunakan ujung lengan baju.
"Ta, aku mau cerita. Kamu dengerin yah? Tapi ... kalau pun di sana kamu nggak bisa dengar suaraku, nggak apa-apa kok. Seenggaknya aku cuma pengen punya teman buat ngomong."
Mengatur ulang napasnya yang berlarian, Meta lalu berkata, "Tahu nggak? Kemarin aku dapat masalah waktu menangani salah satu event gitu. Kamu tahu Wiz Rida, kan? Dulu kamu sempat ngoleksi lagu-lagunya juga, kan? Nah, kemarin rencananya dia mau konser, Ta. Sayangnya justru batal. Bos baruku Pak Jevas dia marah banget, soalnya event itu tanggung jawabku.
"Dimarah-marahin sama dia bukan hal baru buat aku. Aku udah biasa. Aku nggak apa-apa tapi, waktu dia mulai ngait-ngaitin kamu sama masalah yang aku bikin, rasanya nggak adil banget. Rasanya aku mau bilang sama dia kalau kamu adalah Atasan yang kompeten. Kamu selalu ngajarin aku. Kamu selalu kasih tahu mana yang salah dan benar ke aku. Kamu selalu bimbing aku. Kamu orang terbaik yang pernah aku kenal dan nggak pantas untuk menerima hinaannya Pak Jevas.
"Maafin aku, Ta. Bahkan setelah satu tahun kepergian kamu, kamu masih harus ikut terseret dalam masalahku. Aku minta maaf."
Meta menunduk dalam. Beberapa bulir air mata juga terus setia berjatuhan membobol benteng pertahanannya.
Apa yang wanita itu rasa sejujurnya agak abstrak. Yang jelas, dia merasa ada sesuatu yang tak kasat mata, hinggap, kemudian mengganjal dalam rongga dadanya sehingga tangisnya pun terasa berat jua terkesan sesak. Persoalan dengan Jevas, masalah pekerjaan yang seolah mencekiknya, lalu juga beban pikirannya tentang Rega ....
"Aku salah yah, Ta?" ujar Meta lagi.
"Selama ini karena terlalu bergantung sama kamu tanpa sadar aku jadi sering banding-bandingin Rega sama kamu. Padahal jelas-jelas dia bukan kamu. Aku jahat yah, Ta? Aku curang yah, Ta ke Rega? Harusnya aku bisa lebih ngertiin Rega lagi. Mestinya aku mampu buat bersikap kayak gitu yah, Taaa? Gusta? Apa nggak bisa sekali saja kamu jawab aku? Aku bingung, Taaaa ...."
Dan detik itu Meta sukses menangis dengan teramat kencang. Air matanya sangat deras meluber. Sedang tubuh ringkihnya pun sukses berguncang serta bergetar dengan begitu hebatnya.
Satu tahun ini Meta sudah berusaha. Wanita itu berjuang sekuat yang dia bisa dalam menjalani hubungannya dengan Rega. Sejak awal pernikahan mereka, Meta tidak terlalu banyak berharap. Perempuan itu hanya ingin kehidupan berumah tangga yang normal. Rega sendiri juga secara terang-terangan berkata bahwa ia tak menjanjikan kepada Meta untuk selalu hidup dengan berbahagia. Namun, sungguh memahami Norega memang sama sekali tak semudah yang Meta kira. Satu tahun nyaris berlalu dan tak ada kemajuan apa pun dalam ikatan keduanya. Terkadang, Meta jadi merasa lelah juga.
Di sisi lain, Rega yang sedari tadi berdiri kaku di balik punggung Meta otomatis langsung terhenyak sewaktu menyaksikan di hadapan mata kepalanya sendiri. Istrinya tampak tengah menangis dengan pilu.
Sumpah! Selama mengenal Meta, Rega tahu bila wanita itu memang cukup cengeng hanya saja istrinya belum pernah sekali pun terlihat sebegini kacau dan sedihnya.
Isakan kecilnya, bahu mungilnya yang tiada henti berguncang, dan tetesan-tetesan air matanya itu ....
Apa benar Meta memang tidak pernah merasa bahagia hidup dengannya?
Apa selama ini Rega begitu menyakiti Meta?
Entah mengapa melihat Meta yang biasanya membalas perkataannya dengan berani. Kali ini justru tampak terkesan sangat rapuh kontan membuat Rega merasa begitu kecil. Pria itu merasa kalah. Meski dia sendiri tak yakin pertandingan apa yang kiranya tengah dimainkannya.
Juga katakanlah bila Rega memang sangat keterlaluan. Pria itu sebenarnya sempat merasa jika dirinya telah lumayan mengenal Meta. Namun, nyatanya ia bahkan tidak tahu apa-apa mengenai wanita itu.
Jangankan soal Meta yang punya hobi ceroboh dan sering jatuh. Dulu, sebelum menikahi wanita itu. Rega tahu bahwa Meta suka sushi saja berkat bocoran info dari Zio. Dia tahu Meta suka mendengarkan siaran radio saja atas jasa Bundanya—Bunda Ane.
Sekali lagi. Pengetahuan Rega soal Meta memang sama sekali nol besar. Dia belum kenal istrinya. Dan entah mengapa Rega agak membenci mengenai satu fakta tersebut.
Mengepalkan buku-buku jemarinya kuat. Rega lantas memilih guna bertahan demi memerhatikan Meta dari posisinya. Pria itu memberi ruang bagi Meta untuk menuntaskan kegiatan menangisnya sambil diam-diam berbisik lirih pada angin, "Sttttt."
Lima belas menit berlalu dalam keadaan yang tetap sama. Meta terlihat mulai bangkit dari jongkoknya pasca menyudahi sesi curhatnya kepada Gusta. Sedang Rega sendiri otomatis langsung saja sigap menengok ke sekelilingnya demi mencari cara untuk bersembunyi. Menyadari minimnya ruang yang dapat ia gunakan untuk mengumpet. Pria itu mengerang pelan sambil memilih untuk merundukkan tubuhnya tepat di samping salah satu makam yang entah milik siapa.
Mengelus-elus nisan yang sekali lagi entah milik siapa itu. Melalui ekor matanya, Rega mengikuti pergerakan Meta yang terus berjalan—dengan pandangan yang untungnya lurus ke depan—menjauh. Memastikan jika wanita itu sudah benar-benar keluar dari kompleks pemakaman. Rega pun kembali berdiri dengan tegap.
Bergegas meraih ponselnya cepat dari dalam saku celana. Norega lantas menghabiskan hampir dua puluh detik demi mengetik sebuah pesan singkat yang terus ia lanjut kirimkan ke nomor kontak Meta.
Mengamankan kembali handphone-nya ke dalam kantung. Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya ke arah pusara milik Gusta.
Meletakkan bunga lily yang diboyongnya tepat di samping buket mawar yang tadi dibawa oleh Meta. Rega lalu berkata pelan, "Ta, gue harap lo nggak akan marah kalau suatu saat nanti lo mungkin harus gue tikung, hm?"
***