Di sinilah Meta, setelah hampir dua jam lalu mendapatkan sebuah pesan singkat dari suaminya—Norega si makhluk absurd. Benar. Kenapa absurd? Ya, apalagi memang imbuhan yang pantas Meta sematkan di belakang nama pria itu jika bukan aneh, gaje, labil dan teman-temannya?
Huh! Jangan dikira Meta lupa yah mengenai peristiwa tadi siang ketika Prakosatama sulung itu meneleponnya. Lalu, membualkan kata-kata receh yang penuh akan cita rasa dusta.
Apa kata Rega siang tadi? 'Sayang', 'Kangen', 'Mau datang ke kantornya untuk mengajak makan siang bersama'?
Halah!
Untung saja Meta bukan tipikal perempuan yang mudah baper sehingga mampu dengan gampangnya masuk ke dalam perangkap tipuan maha dahsyat ala suaminya itu.
Sebab, pada faktanya di lapangan. Jangankan hadir guna menginjakkan kedua kakinya itu di Royal Event Organizer. Norega Altriano bahkan dengan tidak tahu malunya berani bertingkah lagaknya bayi merah yang baru lahir—suci tanpa dosa, seakan-akan dalam riwayat hidupnya di hari ini, pemuda itu tak pernah menelepon Meta yang sekaligus juga sempat membuat sedikit-banyak istrinya tersebut digelendoti hawa sebal yang luar biasa akibat aksi Rega yang sudah main tutup-tutup telepon sembarangan—begitu bertemu muka dengan Meta beberapa waktu tadi.
Berusaha membendung sedikit lebih lama rasa kesal yang bercokol di dalam dadanya. Meta pun melirikkan kedua indra pengelihatannya ke kiri dan kanan.
Tidak berubah. Situasi kediaman utama milik keluarga Prakosatama—mertuanya—ini masih saja sepi seperti ketika pertama kalinya ia datang, menginjakkan kakinya di sana sore tadi. Dan kenyataan yang didapatinya tersebut bisa dibilang sangat tak lumrah!
Tentu saja!
Come on! Padahal jelas-jelas sebelum wanita itu memutuskan untuk pulang ke rumah mertuanya selepas dari kunjungannya ke makam Gusta. Rega sudah terlebih dahulu mengiriminya sebuah pesan teks, di mana isinya adalah bakal ada acara doa bersama guna mengenang satu tahun wafatnya Gusta di kediaman utama milik keluarganya di bilangan Menteng sini.
Namun pada realitasnya sekarang, jangankan ada segurat tanda-tanda kesiapan demi melangsungkan acara tersebut. Sejak beberapa waktu lalu, rumah besar ini anehnya benar-benar dalam kondisi yang kosong melompong. Bi Num saja yang biasanya selalu siap sedia tinggal di rumah, hari ini entah mengapa mendadak hilang tanpa jejak.
Kemana kira-kira perginya para penghuni rumah ini?
Meta betul-betul merasa tak habis pikir. Dan di atas segalanya, jika memang benar akan diselenggarakan sebuah kegiatan doa bersama, mustahil dong Bunda Ane tak memberitahukan kabar sepenting itu kepada Meta dari jauh-jauh hari? Bahkan tadi pagi sewaktu Meta asyik bertukar pesan chatting bersama ibu mertuanya itu, mereka tak ada membahas mengenai rencana doa bersama di rumah pokok keluarga suaminya ini kok.
Serta sialnya Meta baru menyadari terselipnya sepaket kejanggalan itu, sekarang. Ketika bokongnya sudah mulai terasa panas karena terlalu lama ia pakai untuk duduk diam di atas sofa ruang tengah rumah bergaya Japanese Style tersebut.
Mendenguskan udara kencang dari celah bibirnya demi meredakan gelombang emosi yang tiba-tiba memuncak. Meta lantas melengos ke arah si biang kerok—Norega Altriano Prakosatama—yang tampak masih begitu santai juga anteng guna memainkan ponsel pintarnya, sambil sesekali melirikkan mata awas bin kelamnya itu ke sisi televisi yang menyala secara ogah-ogahan.
"Doa bersamanya cuma aku sama kamu doang?" tanya Meta akhirnya merasa lelah jua muak sendiri.
Terlihat berupaya memperbaiki posisi tumpuan punggungnya pada sandaran sofa. Rega yang satu detik berselang kembali cuek memainkan gadget-nya pun menjawab sekenanya, "Ya enggaklah."
"Nah, terus? Ini udah berapa jam kita nunggu? Hari makin malam dan nggak ada satu orang pun yang datang, Reg. Kamu yakin kalau acaranya benar di sini?" ujar Meta yang tak lagi kuasa menahan kejengkelenannya.
Ya, bagaimana mungkin Meta tak dongkol? Waktu konstan bergulir. Jam di dinding bahkan nyaris menunjuk angka sembilan tepat. Tapi, Norega yang bersekutu bersama sikap apatisnya itu jelas-jelas tak membantu apa-apa.
Lalu, yang lebih gilanya lagi saat dengan nada tersinggungnya Rega malah balas berkata, "Ya kamu pikir, aku nggak tahu acara yang diadakan sama keluargaku sendiri?"
"Udahlah! Disuruh sabar aja susah banget. Kita tunggu, sebentar lagi juga palingan bakal ada yang datang," imbuhnya ketus.
Iya kalau beneran akan ada yang datang. Kalau nggak? Mau sampai subuh mereka mesti duduk-duduk tanpa kejelasan di situ?
Serta yah untuk ke sekian kalinya, Meta hanya mampu menghela napasnya pasrah dan kalah.
Tak banyak yang dapat wanita dalam balutan festive tunic sederhana sewarna khaki itu perbuat. Pasalnya sudah puluhan kali dia mencoba untuk menghubungi Bunda Ane maupun adik iparnya, Ezio. Namun, entah apa yang tengah terjadi. Nomor ibu dan anak tersebut tiba-tiba saja menjadi begitu kompak sulit dihubungi; tidak aktif.
Sungguh aneh!
Mendesah lelah. Meta akhirnya menjajal untuk menuruti anjuran suaminya guna lebih bersabar. Meta pun menopang dagunya seraya mulai fokus mengamati sebuah tayangan di televisi.
Pengelihatannya yang tadinya terkesan malas nan layu serta merta berubah menjadi lebar dan intens, tatkala sepasang bola matanya berhasil menjaring serentetan gambar di atas layar kaca yang tengah menampilkan sesosok jurus masak asal Australia yang belakangan sering wanita itu gosipkan bersama rekan-rekannya di kantor.
"Ya ampunnnn!" Meta agak menjerit tertahan. Sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih heboh, "Itu, kan Chef Samuel Tonelli. Benar kata Wulan, kadar kegantengan Chef Sam ternyata tiap hari tuh makin nambah. Wulan juga lagi sibuk nontonin acara ini nih pasti. Wow! Challenge-nya bikin masakan Bizantium? Alamat bakal menang telak nih Chef Sam."
Entah sedang ketularan sifat fangirl ala temannya, Wulan atau memang Meta punya kepribadian terpendam yang suka heboh seperti itu. Yang jelas, aksinya kali ini benar-benar memancing kerutan dalam serta picingan mata curiga dari sisi Rega yang tengah duduk tepat di sebelah kanan wanita itu.
Bahkan saking merasa terganggunya dengan tingkah Meta itu, Rega yang tidak diundang untuk nimbrung tiba-tiba justru menyahut bersama nada yang sarat akan kesinisan. "Predikat menang atau kalah di sebuah perlombaan masak itu dinilai dari hasil masakannya. Apaan cuma berkat tampang doang bisa menang?"
Refleks memutar haluan kepalanya demi dapat saling berhadapan dengan suaminya. Meta pun mencebikkan bibirnya sambil membalas tegas, "Kata siapa? Orang ganteng, bersih dan rapi kayak Chef Sam udah pasti masakannya juga bakalan enaklah, Reg. Penampilan sendiri aja dia perhatiin apalagi masakannya. Aku yakin dia bakal menang!"
Tak sudi kalah, Rega kembali mengudarakan sebentuk kalimat kontra, "Emang kamu udah pernah nyicipin masakan dia? Sikap sok tahu itu jangan suka diternak dan dibudidayakan. Kalau meleset, kena kamu. Tahu rasa kamu!"
"Ihhh tapi, kata Wulan teorinya tuh—"
"Wulan aja kamu seriusin," serobot Rega mencerca.
"Dan lagian, tampang kayak gitu," Rega menunjuk rupa laki-laki bule, kekar nan berberewok tebal yang terlihat tengah tekun memasak di balik layar kaca. "Dilihat dari sudut mana coba kamu bilang tampan?"
"Ihhh! Sirik yah? Biasanya nih yah, Reg, munculnya bunyi nyinyiran tuh karena orang itu ngerasa iri dan dengki," cibir Meta sembari melipat kedua lengannya di depan d**a.
Oh, ayolah! Di belahan bumi ini banyak golongan wanita yang menganggap pria berberewok, berjambang—yang tak klimis macam Rega—itu sexy, gagah dan amat rekrut-able sebagai calon jodoh masa depan. Meskipun Meta tak pernah secara terang-terangan masuk ke dalam kubu perempuan pendamba pria berewokan, tapi yah diakui ataupun tidak Samuel Tonelli itu kharismanya memang unik dan berbeda.
Menyunggingkan seulas ringisan sumbing. Rega pun berdeklarasi pasti, "Sirik itu cuma buat orang yang nggak mampu melakukan sesuatu dan aku? Apa memang yang nggak bisa aku lakukan?"
Meta sontak memutar bola matanya malas begitu mendengar kecongkakan ala Norega yang lagi lagi ribut mengangkasa.
Astagaaa! Sudah berapa gunung dosa kira-kira yang sukses Rega lahirkan akibat sikap jumawanya tersebut?
Hih! Sekilas coba membayangkan mengenai tabungan dosa-dosa Rega, lama-lama Meta merasa bergidik sendiri.
"Lagipula, apa semua perempuan itu hanya hobi menilai pria berdasarkan tampangnya aja?" lanjut Rega mendadak melayangkan tuduhan yang sepertinya lupa untuk berkaca terlebih dahulu.
Mendecih lirih, Meta lantas menjawab santai namun penuh penekanan, "Apa emang bedanya sama laki-laki? Kenapa pria suka Kate Upton? Scarlett Johansson? Hm?"
"Siapa pria yang kamu maksud?" tanya Rega pura-pura bodoh atau memang bodoh betulan. Entahlah! Tiap detik bertukar obrolan dengan suaminya itu, Meta justru merasa jika emosinya kian sukses terpacu.
Heran! Norega ini kok bakat untuk jadi 'menyebalkannya' tuh sangat luar biasa sekali yah? Pintar banget dia kalau untuk urusan memancing amarah lawan bicaranya! Hih!
Menggemelatukkan gigi-giginya pelan, Meta yang sedang di ambang proses meledak itu pun lalu menjawab menggunakan intonasi suara yang sengaja ia tipiskan. "Ya, kamu. Kamu, kan pria juga. Emang kamu nggak suka sama mereka?"
"Enggak," respons Rega enteng sambil mengedikkan pundaknya acuh tak acuh.
Hahaha. Ingin rasanya Meta berteriak bullshit dengan nyaring di depan muka suaminya yang sekali lirik pun sudah sangat ketahuan jenis pria seperti apa Norega itu—pemuja wanita cantik, sexy dan lebih perfect lagi jika kaum hawa tersebut juga punya body killer.
Dari mana Meta bisa tahu? Tentu, karena selama satu tahun ini Meta selalu berusaha untuk memerhatikan segala polah yang Norega kuarkan.
Maka, dengan nada keraguan yang kental Meta pun lanjut menanggapi, "Bohong banget! Ya, kali kamu laki-laki belok sampai nggak suka sama wanita-wanita super ideal setipe mereka?"
"Lah, emang nggak kok. Serius," kata Rega santai yang menarik atensi Meta untuk mengeluarkan sebentuk sorotan mata penuh tuntutan jua kecurigaan.
Menyadari hadirnya hawa ketidakpercayaan dari sisi Meta yang makin lekat. Rega pun cepat-cepat mengimbuhkan, "Oke, mereka mungkin lumayanlah. Tapi, kalau harus jujur sih aku lebih suka Emily Ratajkowski. Atau yah, Tori Black juga cukup okelah."
Mendengar pengakuan Rega tersebut, Meta otomatis langsung komat-kamit guna mengulangi nama-nama yang barusan saja disebutkan oleh suaminya.
Tori Black yah? Meta sih tahunya Dimas Black eh Beck. Juga paling si Black-Black sang werewolf gagah yang temannya Bella Swan dalam series laris Twilight. Nah, kalau barisan nama yang sempat Rega beberkan sih rasa-rasanya masih terbilang sangat asing bagi tabungan ilmu pengetahuan serta informasi yang Meta miliki.
Serta, di samping itu masa sih mereka lebih cakep dari Kate atau Scarlett yang usut punya usut, mereka adalah salah dua wanita yang masuk ke dalam jajaran selebritis ter-hot berdasarkan versi The Richest.
Maka, sebab didorong oleh serbuan deru haus informasi tersebut. Meta yang pada dasarnya mudah penasaran itu pun dengan berani memutuskan untuk bertanya, "Kenapa suka? Memang mereka artis top? Model? Penyanyi? Nggak terkenal yah? Kok, aku belum pernah dengar?"
Tampak mengubah posisi duduknya agar tegak menghadap Meta, Rega pun menopang sisi kepalanya yang sepertinya sengaja ia miringkan. Sebelum pada akhirnya pria itu justru berkata dengan menantang, "Mau tahu mereka siapa?"
Meta yang masih dalam mode berkeras sangat ingin tahu itu lalu refleks mengangguk dengan penuh antusiasme.
Tentu saja! Wanita itu mau dengar, seperti apa sih sebenarnya sosok perempuan yang hobi Rega puja? Perempuan ideal seorang Norega Altriano Prakosatama, suaminya yang mungkin sanggup menyabet titel sebagai suami paling menyebalkan se-Indonesia tersebut.
"Sini ... kubisikin," ujar Rega lirih sembari menggeser letak tubuhnya guna semakin rapat merangsek ke arah Meta.
"Y-yah?"
Belum sempat Meta mengambil respons untuk memundurkan badannya demi menghindari Rega. Pria itu tanpa disangka-sangka justru telah berhasil berujar pelan di depan daun telinga kanan Meta.
Sangat pelan dan hanya dua kata. Benar. Hanya dua kata. Namun, telinga Meta dengan begitu getolnya malah langsung menggemakannya secara keras nan lantang. Sehingga ucapan yang Rega lontarkan tadi, tanpa mampu dibendung justru terus berdengung, sampai-sampai membuat kedua kelopak mata Meta kontan melotot lebar.
Astagaaa!
"Regaaaaa!" jerit Meta sewaktu sukses meraih kembali kesadarannya.
"Apa?" sahut Rega lengkap diiringi pula oleh timbulnya segaris seringaian super mengesalkan.
"Ngeres! m***m! p*****t! Otak kotor!" cecar Meta menelurkan sepaket kalimat-kalimat hujatan seraya mulai melayangkan berondongan tinjuan-tinjuan keras dari kepalan tangan mungilnya, membuat Rega yang tak sempat mengantisipasi hadirnya serangan tersebut pun praktis dengan mudahnya roboh ke permukaan sofa.
"Kan ketularan kamu ngeresnya," ujar Rega membela diri. Posisinya kini bahkan benar-benar telah sukses terlentang.
"Fitnah! Kapan juga aku pernah punya pikiran sekotor kamu gitu?" amuk Meta yang tanpa sadar justru sudah ikut menumbangkan diri, menindih tubuh besar Rega secara telak.
Walau sudah menyadari seperti apa posisinya dengan Meta kini. Rega yang pola pikirnya susah dibaca itu pun malah seakan sengaja makin menyudutkan Meta dengan berucap, "Nggak ingat? Sebelum menikah, bukannya dulu kamu diam-diam punya hobi buat mikir yang 'nggak-nggak'?"
"'Nggak-nggak' kepala kamu! Aku mustahilah punya pikiran jorok macam kamu."
"Masa?"
"Ihhh! Dibilangin, nggak pernah!"
"Pernah pasti."
"Enggaaakk—"
"Pernah, Meta."
"Enggak, Regaaaa ihhh!"
Dan detik itu serta merta Meta kehilangan semua daftar perkataan yang bersarang dalam benaknya. Sewaktu tangan kecilnya yang sejak tadi sibuk memukuli Rega secara bertubi, tiba-tiba saja berhasil dijegal untuk kemudian lanjut dikunci paksa oleh tangan besar pria itu.
Perlahan mendongak demi dapat menatap tepat ke arah manik mata Rega yang gelap. Entah mengapa mendadak kewarasan Meta seperti diusir pergi untuk menguap dengan begitu bebasanya menuju angkasa.
Alasannya? Sekali lagi Meta katakan, ia tak tahu sebabnya.
Yah, wanita itu jadi bingung harus mengambil tindakan sejenis apa untuk mampu mengatasi situasi canggung yang tengah berlangsung di antara dirinya dan Norega.
Sementara di lain pihak. Rega sendiri memutuskan untuk tak banyak bicara. Hanya indra pengelihatannya saja yang tampak begitu awas nan teliti menyoroti sosok Meta yang tengah telungkup di atas tubuhnya.
Apa yang pria itu pikirkan sekarang sebetulnya tak begitu jelas. Yang pasti, Rega baru saja menyadari jika selama ini ternyata dia tidak pernah memerhatikan Meta secara sungguh-sungguh. Buktinya, pria itu bahkan baru tahu kalau istrinya ini faktanya memiliki kulit yang bersih meskipun tak seputih ras kaukasoid. Selain itu, Meta juga mempunyai kelopak mata yang sedikit lebih besar dari miliknya. Untuk warna bola mata Meta, Rega tidak terlalu yakin. Namun, sepertinya sih agak kecokelatan.
Lalu, hidung Meta. Ukurannya tidak besar jua tak mungil. Apa yah? Menurut Rega sih, pas saja. Bergeser ke bawah sedikit, pandangan mata pria itu lantas disambut oleh penampakan seulas gambar belahan bibir tipis milik Meta yang biasanya suka ia kecup. Jujur, walau dikata belum ada cinta di antara dirinya dan Meta. Tanpa sudi dituduh munafik, Rega akui bahwa dirinya memang sangat suka berciuman dengan Meta. Kenapa? Ya, entahlah. Mungkin karena ia kerap menjumpai aroma buah strawberry favoritnya pada diri Meta? Atau entahlah. Yang pasti, Meta ini lain daripada yang lain. Intinya sih, wanita ini tidak seperti mantan-mantan Rega.
Menggerakan sebelah tangannya yang bebas guna meraih sejumput rambut hitam Meta yang jatuh persis di sisi wajah perempuan itu. Pelan-pelan, Rega kemudian menyelipkannya ke belakang daun telinga Meta.
Dan di awali dari satuan waktu tersebut. Entah siapa yang mengambil inisiatif, jarak yang menyekat antara suami-istri itu pun terus terkikis sedikit demi sedikit. Lalu, ketika hidung keduanya nyaris beradu dan ruang yang melintang guna memisahkan mereka jua tinggal selintasan angin belaka.
Di ruang yang semula sunyi tersebut sekonyong-konyong menggemalah sebuah suara yang kontan membuat Rega ataupun Meta sama-sama terlonjak kaget, yang sekaligus memukul gerak refleks mereka untuk bergegas berbalik demi saling bahu-membahu untuk membubarkan diri dari posisi penuh salah paham yang sempat keduanya amalkan.
"Ealaaah. Timing masuknya nggak tepat banget." Bunda Ane spontan menampar mulutnya sendiri yang terlanjur lancang menyeplos begitu saja.
Menggaruk surainya yang tak gatal, Meta yang sukses salah tingkah pun dengan sigap beridiri dari duduknya. Berlari terburu ia lantas bergerak kilat guna menghampiri ibu mertuanya yang tampak sedang mesem-mesem penuh morse.
Alamat bakal tambah dituntut soal cucu ini sih bau-baunya dan jangan lupa, ingatkan Meta jika ini semua salah Rega!
Berlaga seolah-olah tak ada yang terjadi. Meta lalu mencoba mengambil alih kantung-kantung belanjaan yang tengah diangkut oleh Ane.
"Bunda dari mana aja sih? Kok, susah banget ditelepon?" protes Meta berusaha mengenyahkan kekikukannya.
Selepas mengedipkan sebelah matanya yang sarat akan makna ke sisi putra sulungnya yang tampak masih sok sibuk menonton tivi. Bunda Ane pun mengulas senyum simpul sambil menatap Meta dan berujar, "Habis dari panti asuhan tadi, terus pulangnya mampir belanja dulu deh. Eh? Meta nelepon Bunda yah? Pantesan kayak ada yang getar-getar gitu tapi, belum sempat Bunda cek sih, Sayang."
Menggaris bawahi penjelasan mertuanya tersebut di dalam hati. Meta lalu menarik sebuah kesimpulan seraya langsung menyampaikannya, "Panti asuhan? Acara doa bersama buat Gusta diadainnya di sana, Bun?"
Ane kemudian menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.
Sementara Meta pribadi yang merasa sedikit kecewa pun lantas berujar, "Loh, kok Bunda nggak ngasih tahu Meta sih, Bun?"
"Bunda udah dengar dari Rega. Katanya, Meta lagi ada sedikit masalah di kantor. Jadi, yah Bunda nggak pengenlah Meta tambah repot."
Norega itu yah kok sok tahu dan menyebalkan sekali!
Membuang udara kasar dari sela bibirnya. Meta berusaha kembali membalas, "Tapi, kan ini acaranya Gusta, Bun. Sesibuk apa pun, Meta pasti bakal usahain supaya bisa ikutan."
Tahu pasti seberapa besarnya Meta peduli akan Gusta. Ane kemudian menepuk pundak menantunya itu lirih. Seraya berkata, "Nggak apa-apa, Sayang. Besok, kan Meta masih bisa gabung di acara pembukaan sekolahnya Gusta. Lagian, rencananya besok juga bakal ada acara berdoanya. Jangan sedih gitu dong mukanya, Mantu Bunda. Maafin Bunda yah?"
Entah mengapa mendengar kata 'Mantu' yang kadang Ane tuturkan masih saja terasa geli bagi Meta. Maka, selepas mengulas sebaris tawa pelan, Meta pun mengangguk setuju.
"Emm, Bunda mau masak nih, ntar mertua kamu mau pulang. Bi Num lagi kerja bakti di tempat Tante Inez. Jadi, Mantu Bunda mau bantuin masak atau mau ... lanjut bikinin Bunda cucu aja?" goda Ane tanpa ampun yang membuat wajah Meta otomatis jadi memerah parah.
"Masaaakkk. Ayo Bun kita tancap ke dapurrrr," serobot Meta kilat.
Tertawa renyah. Ane lantas geleng-geleng kepala menanggapi reaksi salah tingkah yang tengah menantunya pajang.
"Oke, oke. Tapi, Bunda ganti baju dulu yah ke atas?" nego Ane.
"Siap, Komandan!" setuju Meta penuh semangat.
Selepas membuntuti gerakan mertuanya yang melaju menapaki undakan tangga ke lantai dua. Meta lantas berniat hendak melenggang menuju dapur lebih dulu. Sebelum, seluruh rencana tersebut dipaksa batal akibat hadirnya seorang tamu yang mendadak menginterupsi.
"Tante Ane belanjaannya ada yang ketinggal—"
Meta melongok ke arah pintu. Dan di sana, matanya serta merta disuguhi oleh munculnya wujud seorang wanita berparas menawan yang tampak tak terlalu familiar baginya.
Agak terperanjat sewaktu bertemu muka dengan Meta. Perempuan yang terlihat sangat independen itu lalu mengulas segaris senyum sederhana yang Meta berani bertaruh bahwa senyum perempuan tersebut terlukis indah sekali.
Senyumnya mah pasti lewat! Tak selevel.
"Tante Ane ... kemana yah?" tanya wanita itu ramah yang sekaligus membawa Meta untuk kembali dari sesi meratapi diri akibat peristiwa kalah saingnya.
"Ahhh, barusan saja lagi ganti baju di kamar," jawab Meta ceria.
"Oh." Wanita itu lalu menggangguk paham. Senyumnya yang awalnya tampak hanya segaris tiba-tiba berubah kian lebar ketika pandangan mata teduhnya justru berhasil menangkap sosok Rega yang terlihat tengah berjalan untuk ikut bergabung ke dalam lingkaran berisi dua wanita tersebut.
"Hei, Reg?" sapa perempuan itu supel yang lantas dibalas melalui sebuah anggukan singkat dari sisi Rega.
Meta yang dilanda kebingungan pun berupaya bertanya, "Kalian ... saling kenal?"
Bukannya apa-apa. Cuma Meta memang belum pernah bertemu dengan perempuan yang kini tengah berdiri di hadapan dirinya dan Rega ini.
"Sebetulnya Rega teman satu kampus saya dulu dan sekarang kebetulan kami baru saja jadi rekan satu kantor juga," jawab wanita jangkung itu mewakili Rega yang terlihat enggan memberi keterangan secuil pun.
"Ohhh."
"By the way, perkenalkan saya Gladysa." Teman Rega itu sontak mengulurkan telapak tangannya ke arah Meta.
"Ahhh, iya. Saya Meta," balas Meta sambil menyambut jabat tangan tersebut.
"Dan kamu ...?" Gladysa mengerutkan sedikit bagian dahinya untuk mengorek informasi mengenai status wanita yang meski sudah malam begini tapi masih berkeliaran di rumah Ane.
"Saya—"
"Dia temanku," sela Rega tiba-tiba. Yang otomatis membuat Meta terhenyak serta langsung terbisu di tempatnya berdiri.
Nggak salah? Meta cuma sebatas te-man Rega?
Mereka cuma teman?
Memandang Meta intens menggunakan sorot mata sekelam malamnya, Rega lalu melanjutkan, "Meta adalah temanku. Teman hidupku. Istriku, Dys."
Dan seketika suasana di sekeliling mereka pun menjelma sunyi.
Entah apa yang sesungguhnya tengah terjadi kini. Meta—orang yang pertama kali sadar situasi pun mengambil sikap dengan berdehem lirih sambil berkata pelan, "Aku permisi ke dapur dulu."
Namun, tanpa diduga Rega malah menahan pinggang wanita itu supaya tak pernah coba-coba untuk beranjak kemana pun.
Menggigit bibirnya lirih. Meta yang telah sanggup membaca bahwa ada sesuatu yang tidak beres di antara Norega dan Gladysa pun berusaha untuk tetap mengurai rengkuhan erat suaminya di sekitar area pinggangnya.
Hati-hati Meta bertutur, "Aku mau ambil minuman dulu, Reg."
Melirik sedikit tak rela. Rega kemudian berujar, "Jangan lama-lama."
"Hhm."
Wanita itu berjalan sambil sesekali menengok beberapa kali ke balik punggungnya. Pasca kepergian Meta, praktis hanya tinggal Rega dan Gladysa yang tersisa di ruangan sepi itu.
Tampak menguarkan ringisan kecil. Perlahan senyum Gladys malah berganti menjadi sebaris tawa geli yang cukup merdu.
"Kenapa? Ada yang lucu?" Rega bertanya tanpa kuasa membendung nada ketusnya.
Gladys yang tak ambil pusing akan reaksi Norega tersebut pun kontan mengangguk yakin.
"Huum. Kamu ... lucu."
Rega beraksi cepat guna mengerutkan dahinya dengan tak suka.
Membuang karbon dioksida samar. Gladys lalu mengangkat dua pundaknya enteng.
"Untung Tante Ane udah cerita mengenai siapa Meta. Kalau nggak, lihat tingkah kamu ke dia kayak begitu tadi. Bisa-bisa aku kena serangan jantung deh."
Mengabaikan gurauan yang coba Gladys ujarkan. Rega malah bertanya dengan lumayan tajam, "Siapa memangnya Meta?"
"Hm? Dia ... mantan pacar adik kamu, kan?"
"Bukan."
"Hah?"
Lurus-lurus menatap sosok wanita yang sempat membuat dunianya jungkir-balik. Rega kemudian berkata tegas nan mutlak, "Meta Yunara istriku, Dys. Perempuan itu adalah orang yang udah kunikahi secara sah. Dia, istriku."
Meringis miris, Gladys yang tak gentar membalas bersama nada yang tak kalah tegasnya, "Istri yang sama sekali nggak pernah kamu cintai maksudnya?"
***