Melihatku tak berhenti memandangnya, Angkara menghela napas. Ia berjalan tertatik melewati bebatuan sungai untuk sampai di tempatku. Aku menyambutnya dengan senyum kecil. Kami terlibat kebisuan selama beberapa detik. Lantas kebisuan tersebut pecah begitu kurasakan pukulan di kepalaku, membuatku mengaduh. "Ow!" "Udah senior bukannya nyontohin yang baik malah buang sampah sembarangan!" bentaknya, lalu mengangsurkan botol air mineral berisi gulungan kertas puisi yang tadi kuhanyutkan. "Nih." Aku menyengir kuda. "Buat kamu aja." Dahinya mengernyit. "Maksud kamu, aku disuruh nyimpen sampah, gitu?" Poninya arkitraftil. "Di dalam ada isinya. Nggak lihat, ya? Simpen." Tak membiarkan ia bertanya banyak, aku melenggang pergi, menaiki bebatuan agar sampai ke atas. Di puncak, kupandang Angkara y

