Mercusuar

2649 Kata

Rumah dalam keadaan lengang sepulangnya aku dari kampus. Melirik jam dinding, jarum menunjuk angka sembilan. Hanya ada adik perempuanku, Aruna, yang meramaikan rumah dengan suara samber dan u*****n kesalnya. Suaranya terdengar sampai di luar. Memasuki ruang keluarga, aku melihatnya bermain PSP. Saking asyiknya sampai tak sadar kakaknya pulang. "Woy, kampret." Kulempar kemoceng yang digantung di atas bufet ke arahnya. Spontan, Aruna mendesis. Menoleh, ia memutar bola mata jengkel. Stik PSP di tangannya dilempar ke atas sofa. "Papa sama Mama mana?" Bahu Aruna terkedik. "Nggak ada pesan tuh. Tapi kata si Mbok, mereka ada kunjungan ke kafe yang mau dibuka di Bogor." Ia meraih setoples berisi kacang mente, lantas melahap dengan suara berisik. "Eh, Mas. Kak Adeeva nggak diajak ke sini? Aruna m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN