"Panas, Cuk. Gerah. Pengen buka baju." Aku membuka almamater dan memreteli kancing kemeja, menampakkan kaus oblong putih. "Astaghfirullah, Sabas!" Menoleh, aku mendapati Anisa yang duduk paling dekat denganku, menutup wajah. Dahiku mengernyit keheranan. "Lebay. Pasti mikir jorok. Astaghfirullah...." Anisa membuang muka. "Dasar! Kalau ada cewek di sini jangan buka baju." "Kenapa, Sayang? Sini, duduk lebih deket. Aku pengen lihat muka kamu yang cantik kalau merah merona kayak gimana." "Sinting!" Gadis berhijab itu berlalu pergi meninggalkan ruang BEM diikuti teman-temannya yang cekikikan, sambil tak berhenti beristighfar. Di sebelah lemari pendek, Praska terbahak. Aku melempar almamater ke mukanya. "Sebentar lagi maba udah kumpul lagi nih. Asyik banget ngerjain mereka. Polos-polos mac

