Matahari dan Bulan Tidak Sendiri

1847 Kata

Pagi-pagi papan mading sudah dikerumuni beberapa mahasiswa. Penasaran, aku mempercepat langkah dan menyisir kerumunan hingga membuat mereka memberi tempat. Melihatku memblokade tempat, beberapa dari mereka berlalu pergi. Kuamati selembar artikel yang menjadi sorot utama. Mataku menyipit membaca sampai habis. Lagi-lagi provokasi. Bisik gaduh terdengar di belakang. Mendengar nama Angkara, aku menoleh cepat. "Heh. Ngomong apa barusan?" Dua cowok yang menyebut nama Angkara saling berpandangan. Mereka tak berani menjawab pertanyaanku baik melalui ucapan maupun pandangan. Bukan hanya dua cecunguk itu, yang lain membawa-bawa nama Angkara, membuat telingaku panas. "Parah. Kalau begini terus ormawa kampus dibubarin, nih. Fitnahnya udah keterlaluan banget nyebut ada penggelapan dana BEM." Kirana

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN