Pagi-pagi papan mading sudah dikerumuni beberapa mahasiswa. Penasaran, aku mempercepat langkah dan menyisir kerumunan hingga membuat mereka memberi tempat. Melihatku memblokade tempat, beberapa dari mereka berlalu pergi. Kuamati selembar artikel yang menjadi sorot utama. Mataku menyipit membaca sampai habis. Lagi-lagi provokasi. Bisik gaduh terdengar di belakang. Mendengar nama Angkara, aku menoleh cepat. "Heh. Ngomong apa barusan?" Dua cowok yang menyebut nama Angkara saling berpandangan. Mereka tak berani menjawab pertanyaanku baik melalui ucapan maupun pandangan. Bukan hanya dua cecunguk itu, yang lain membawa-bawa nama Angkara, membuat telingaku panas. "Parah. Kalau begini terus ormawa kampus dibubarin, nih. Fitnahnya udah keterlaluan banget nyebut ada penggelapan dana BEM." Kirana

