Kebisuan merambat di antara kami. Mata kami bersipandang. Ada kekagetan tergambar jelas di kedua mata jernihnya. Ia mengedip perlahan, masih bergeming. Detik lain, bibirnya terpilin. "MAU MATI, YA?!" teriaknya, lalu memukuliku dengan novel Jason Goodwin yang bersampul hardcover. Kepalaku kena hantaman berkali-kali. Aku mengaduh kesakitan. "Ow-ow! Sakit, Gi!" Aku melompat dari sofa, berlari menghindari kejarannya yang memaki-makiku sambil mengacung-acungkan novel Jason Goodwin. Kakiku terhenti saat kausku dicengkeram Angkara. Sangat kuat, seperti preman pasar. Ia mencoba memitingku dan memukul kepalaku keras. "Berengsek banget, sih! g****k! Ngeselin!" teriaknya di telingaku. "Sori, sori! Sumpah, refleks itu. Sumpah." Aku mengangkat dua jariku yang membentuk huruf V. Pertikaian kami be

