Wajah Angkara tak sesendu kemarin. Di pujasera, ia bisa tertawa bersama Adeeva. Aku memerhatikannya sambil membuka-buka naskah panggung. Ia tidak bicara banyak. Sampai kuantar pulang, ia diam. Setidaknya, ia baik-baik saja dan kembali seperti sebelumnya. "Nggak makan, Bas?" Praska bertanya sambil mengunyah mie goreng telur. Aku menghela napas panjang. Aku menyeret piring Praska, lantas melahap makanannya, membuat ia mengumpat. Kudorong lagi piringnya.. Angkara dan Adeeva beranjak pergi. Saat melewatiku, pandangan Angkara sempat tertuju padaku, kemudian mengalihkannya ke Adeeva. Aku memutuskan untuk kembali fokus pada naskah. Walau begitu, hatiku jadi gelisah. Ada hal yang terjadi padanya, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tak mau terbuka padaku. Aku mengerang dan berlalu pergi,

