"Maksud Mas apa?" Aku menghela napas panjang. Badanku mundur, memberikan Lastri ruang bernapas. Wajahnya tampak pucat pasi. "Buat apaan sih kamu ngelakuin itu? Anggi temen kamu, kan?" Alih-alih membalas, ia melenggang pergi. Tangannya kucekal erat, membuat langkahnya praktis terhenti. Kepalanya masih ditundukkan takut. Aku menariknya agar lebih mendekat. "Jangan bikin aku marah," tukasku. Gadis itu mengangkat kepala, memberanikan diri bersipandang denganku. Aku menunggunya membuka mulut. * Motorku sudah terparkir di depan indekos Angkara. Aku menunggu sejam jam, membiarkan angin malam yang dingin menerpa. Kutengok arloji. Ia tak kunjung menampakkan diri. Berulang kali aku menengadah berharap ia melongokkan kepala ke bawah. Padahal, aku sudah mengirim pesan sejak jam lima, mengabarka

