Mendung menggantung di kaki langit. Gerimis tiba-tiba menerjang ketika aku berlari memasuki gedung fakultas. Beberapa mahasiswa dan dosen yang masih di luar bergegas masuk untuk berteduh. Jam di dekat pusat informasi menunjuk angka delapan. Masih ada waktu sebelum memasuki kelas pertama hari ini. Aku melangkah menuju ruang baca. Hujan dan buku adalah favoritku. Apalagi ditambah dengan secangkir kopi atau cokelat hangat. Biarlah hari ini tanpa ditemani kopi, aku akan membaca di lantai dua.
Ruang baca dalam keadaan sepi. Aku meletakkan tas di bangku paling pojok, berdekatan dengan jendela sehingga dapat kunikmati guyuran hujan menempias atap. Kukeluarkan Carousel yang tinggal beberapa lembar saja. Diam-diam, aku merogoh sebatang cokelat dari saku dan memakannya. Sesekali mataku berkeliaran mengamati penjaga ruang baca yang asyik mengobrol satu sama lain. Aku kembali menunduk, bersembunyi di balik skat, lantas mengunyah. Perhatianku sepenuhnya terpusat pada buku yang k****a, berusaha untuk tak peduli terhadap gumaman berisik di sekitar.
"Eh udah tahu belum kalau Kirana dan Ananta putus?"
"Masa sih? Kata siapa kamu?"
"Ya elah ... orang udah nyebar sekampus."
Mendengar nama Ananta, telingaku bergerak responsif. Ananta dan Kirana putus? Aku mendengar diriku terbahak di dalam hati.
"Kok bisa sih? Padahal Kirana kan udah ngincer Ananta lama banget tuh. Sayang banget ya, padahal mereka sama-sama perfect."
Mereka betulan putus? Aku mengingatkan pada diri sendiri untuk tidak berteriak girang. Jangan senang dulu. Siapa tahu kalau ucapan mahasiswi tukang gosip di depanku ini hanyalah isapan jempol. Kendati begitu, hatiku berbunga. Senyumku tersungging lebar. Kugerakkan tangan hendak menggigit cokelatku, sampai akhirnya seseorang mendadak duduk di samping dan merebut cokelat tersebut. Menoleh, aku mendapati Sabas membuka buku, memakan cokelatku. Tak dipedulikan ekspresi jengkelku. Aku menendang kakinya. Spontan, ia berjengit dan berpaling ke arahku.
"Eh ada dek Anggi. Selamat pagi, Dek."
"Kurang ajar banget sih," desisku seraya membeliakkan mata.
"Di dalam ruang baca dilarang makan. Masa penulis artikel kedisiplinan fakultas malah ngelanggar peraturan kecil kayak gini?" sinisnya, berhasil membuat perutku bergolak.
Aku menggigit bibir bawah. "Aku belum sarapan. Lapar."
Ia melengos dan kembali bertekur dengan buku bacaannya. Tanpa memandang ke arahku, ia melanjutkan, "Makanya sebelum berangkat ngampus makan dulu."
"Di tanganmu itu sarapanku!" Nada kukeraskan sedikit. "Kamu udah ngambil jatah sarapanku."
"Aku cuma meringankan hukuman kamu kalau tiba-tiba aja petugas ruang baca ngelihat kamu makan." Senyum hiperbolisnya amat sangat mengganggu.
Aku menggeram kesal. "Kamu tuh bikin darah tinggi ya."
Bahunya terangkat. Aku mengemas novel yang tadinya akan kuhabiskan hari ini. Sebelum berdiri, ia memegang tanganku. Praktis, aku menyentak tangan dari genggamannya dan menyatukan alis. Beberapa mahasiswa yang melihat keributan kami saling melempar pandangan dan bisikan skeptis.
"Apaan sih?" tanyaku makin kesal.
"Katanya belum sarapan? Aku bayarin." Mendengar kalimat tersebut, mendadak bibirku mengulaskan senyum. "Tapi ada timbal baliknya." Senyumku praktis lenyap. Wajahku berubah memberengut.
"Kalau nggak ikhlas mah nggak usah sok-sokan nraktir, Bas."
"Eh, kan kamu masih terikat perjanjian sama aku."
Aku mendesah pendek. Hampir saja aku melupakan taruhan konyol yang meruntuhkan harga diriku. Kalau saja waktu itu aku tak besar kepala, kemungkinan hari ini aku bisa menghirup udara bebas. Ah, pikirkan saja dampak positifnya. Aku bisa berhemat. Hehe.
"Ya udah, deh."
Ia memberi kodeku untuk segera berdiri sebelum diusir petugas karena ribut dan makan di dalam ruangan. Beberapa pengunjung ruang baca mengamati langkah kami. Aku perlu menjaga jarak agar tak diperhatikan dan dianggap aneh-aneh oleh sebagian warga fakultas. Alih-alih dapat menghindari tatapan tajam hampir semua kaum hawa di sini, Sabas malah menarik tanganku, memintaku mempercepat langkah.
Hujan berubah menjadi gerimis kecil. Kami berteduh di bawah tenda, duduk di salah satu bangku. Ia melipat tangan memandangku.
"Pesan sana, terserah kamu mau apa," katanya.
Lagi-lagi aku mengulum senyum. Bangkit berdiri, aku memesan makanan di salah satu tempat makan. Kusebutkan semua pesanan pada penjual, sebelum kembali lagi ke tempat semula. Gerimis berubah menjadi rintik kecil. Meski demikian, udara dingin tak dapat kuelak.
"Jadi, aku harus ngapain?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Nih, naskah dramanya." Ia mengangsurkan naskah drama padaku.
Aku mengamati naskah drama yang ia sodorkan. Di sana, tampak susunan tim panggung sebuah pementasan drama. Mataku bergerak meliriknya, membayangkan harus dekat-dekat dengannya sampai pentas. Hanya asisten sutradara yang menemaninya mengatur pementasan. Kurasa tidak ada salahnya. Sambil menunggu pesanan datang, aku membuka naskah drama tersebut untuk kupelajari.
"Naskahnya bagus. Siapa yang buat?"
"Aku sendiri dong," jawabnya membanggakan diri.
Bola mataku terputar. Kulanjutkan membaca naskah tersebut sampai halaman terakhir. Jalan cerita yang tak hanya romantis, melainkan unik, seperti kriteria pementasan panggung teater berat pada umumnya. Aku jadi penasaran dan tidak sabar melihat latihan mereka. Berdosakah aku melompati batas-batas larangan anak majalah? Kalau Nabila tidak tahu mungkin tak masalah....
"Dapat inspirasi dari mana?" tanyaku, mengenyahkan kekhawatiranku terhadap pemikiran anak-anak majalah.
Ia terdiam sejenak—ekspresinya berubah datar. "Nggak tahu. Muncul aja di kepala."
Bibirku mengerucut miring. Ia menghindari kontak mata dariku dan lebih memilih menatap lalu lalang pengunjung saat baru kusadari hujan telah reda. Tak berselang lama, pesananku datang. Aku bertepuk tangan antusias melihat semua pesanan yang memenuhi meja. Sadar dengan pesanan makananku, Sabas membelalak.
"Buset. Banyak amat pesannya??" tanyanya terkejut.
"Apaan? Cuma sop buntut, siomay, seblak, dua gelas es teh. Nggak banyak kok." Aku mulai menyantap makananku, tak mengacuhkan helaan napas berat Sabas yang menyusupkan wajah pada telapak tangan. Kupandang ia sambil menahan tawa agar tak meledak di meja.
*
Sore menjelang senja, terpaksa aku tidak pulang. Kukatakan pada Adeeva yang mengajakku pulang bersama bahwa aku perlu menyelesaikan tugas dari kelas yang tidak ia ambil. Percaya pada bualanku, Adeeva melambai dan berpamitan lebih dulu ke tempat parkir. Aku berdiri memandang sepatu. Melihat tali sepatuku lepas, aku membungkuk dan membenahi. Dari arah belakang, tubuhku disenggol keras sampai-sampai membuatku terjengkang ke depan. Praktis, aku mencengkeram tangan seseorang sebagai penyeimbang. Menengadah, kulihat cengiran lebar di wajah Sabas.
"Berengsek amat sih!" sengalku, memukul lengannya.
"Anak-anak udah mulai latihan. Yuk."
Aku melipat tangan di depan d**a. "Nggak ah."
Mengabaikan kejengkelanku, pita yang mengikat rambutku justru ia ambil dan dibawa lari. Rambutku terurai jatuh di punggung. Aku memalingkan perhatian menuju Sabas yang berbalik sembari mengayun-ayunkan pita di tangannya.
"Ambil sendiri," katanya, sebelum berlari pergi.
Aku mengentak-entakkan kaki, lantas melesat mengejarnya. Di penglihatanku, terlihat ia berhenti di lapangan parkir mobil yang sudah sepi di belakang gedung kampus yang terbengkalai. Perutku bergejolak melihat anak-anak teater yang sebelumnya sering menjadikanku bahan lelucon dan tertawaan berkumpul.
"Dek Anggi! Sini dong, Dek! Temani Mas!" Praska berteriak disusul suara tawa yang lain.
Sudut bibirku terangkat. Aku memutar mata dan melangkah malas mendekati mereka. Beberapa anggota memandangku lekat tanda tak suka. Aku merasa terintimidasi oleh tatapan mereka. Kuputuskan untuk duduk di bawah pohon, melihat mereka melakukan pemanasan. Sementara Sabas, Praska, dan Pasa (si ketua teater) yang memantau. Melihatku duduk seperti gelandangan, Sabas berseru.
"Ngapain di sana? Sini!"
Aku menggeleng. Ia menghela napas panjang, melenggang menghampiriku, lalu mengulurkan tangan. Menengadah, kubagi pandangan antara tangan dan wajahnya. Tangan yang terulur dan kukira hendak membantuku berdiri malah bergerak menyentil poniku.
"Jangan kayak anak jin penunggu pohon. Sana. Aku mau kenalin astrada baru ke yang lain."
Aku berdiri tak bertenaga. Tatapan tak suka masih giat dilesatkan anggota lain, terutama seorang perempuan yang sedang menghitung gerakan pemanasan. Tatapannya seperti menyerukan ancaman 'mampus kau' yang membuat perutku melilit.
"Temen-temen kamu kayaknya nggak suka deh sama aku," bisikku.
"Emang," jawabnya jujur. "Makanya, bikin mereka suka atau kamu pulang nggak selamat."
"Ih! Kok gitu, sih!" Aku mencubit lengannya.
Sabas meringis dan tertawa. Pada Praska dan Pasa, ia memperkenalkanku sebagai asisten sutradara yang akan mendampinginya. Hidupku seakan berakhir. Aku pasti tersiksa selama proses latihan berlangsung.
"Kirain ngenalin Angkara sebagai pacar tadi, Bas. Kecewa deh," celetuk Praska.
"Mas, bacotnya dijaga, ya," balasku.
"Baru kali ini aku kenal cewek yang nggak mau jadi cewekmu. Huh!" Praska terbahak bersama Pasa, membuat Sabas melengos dan melempar pandangan pada anggota lain yang telah menyelesaikan pemanasan, meminta mereka segera memulai latihan panggung.
Dengan sigap, anggota lain mulai memosisikan diri dan menghafalkan dialog masing-masing. Kuamati kesibukan mereka dengan saksama. Baru kali ini aku merasa sedikit terhibur, walaupun sebagian dari mereka tampak tidak begitu senang dengan kehadiranku. Aku lebih terhibur oleh guyonan Praska bersama anggota senior lain, sebelum Sabas memukul kepala mereka dengan gulungan naskah, memerintahkan untuk diam.
Aku mengamati jalannya latihan panggung. Selama itu pula, kucatat beberapa poin penting yang disampaikan oleh para senior sebagai masukan. Berulang kali latihan terhenti oleh seruan senior sebagai kritikan. Atau teriakan yang memekakkan telinga karena terdapat kesalahan dialog dan gestur. Aku menggigit bibir bawah melihat senior-senior di sini saling beradu argumen. Para aktor diminta mengulang adegan. Sedangkan aku sudah mati kebosanan mencatat dan mencoreti buku—saking bosannya, aku malah menggambar hal-hal absurd di kertas yang masih kosong.
"Kenapa kalian masih nggak bisa menjiwai peran, sih?" Tiba-tiba Sabas berseru, menghentikan jalannya latihan.
"Bukan nggak menjiwai, kita butuh properti," balas si perempuan yang tadi melesatkan tatapan benci padaku (dan merupakan aktor utama). "Udah mendekati hari pertunjukan, tapi kita masih belum memulai latihan dengan properti? Harusnya tanya tuh bocah kenapa kita nggak bisa menjiwai peran!" Telunjuk perempuan itu teracung ke arahku.
Dengan tampang t***l, aku menunjuk diri sendiri. "Kok aku? Apa salahku?"
"Gara-gara kamu, kita dilarang menggunakan ruang kelas buat latihan sampai larut malam! Mikir dong sebelum nulis—"
"Gita!" seruan Sabas praktis membungkam mulut perempuan itu, Gita. "Menyalahkan keadaan nggak akan menyelesaikan masalah. Ada atau nggak ada properti, harusnya kalian bisa profesional! Urus latihan sendiri!" Naskah di genggaman Sabas dilempar. Ia melangkah pergi, disusul Praska yang mencoba membujuknya. Sementara Pasa memerintahkan para aktor istirahat.
"Kita kembali jam tujuh ya," katanya.
"Percuma, Mas. Sampai hari ini kita nggak ada kemajuan. Aku mundur dari keaktoran aja, deh." Mengusap peluh di dahi, Gita melangkah mendekati kawannya yang mengangsurkan botol air mineral. Pasa menyusupkan jemari pada helaian rambut, menggeleng, lantas berlalu pergi.
Hanya aku yang duduk bengong, tak mengerti permasalahan mereka.
*
Kegelapan menyelimuti kampus. Suasana yang tadinya ramai oleh kegiatan mahasiswa mulai lengang. Aku melihat Praska bersama senior lain bermain kartu di gazebo. Sampai detik ini, tak kulihat Sabas di mana pun.
Ciye yang nyari Sabas, si malaikat di atas pundak berbisik di telinga.
Aku menghela napas panjang. Berani sumpah, aku tidak bermaksud mencarinya. Betapa tidak sopannya ia meninggalkan aku setelah menyeretku untuk ikut bersamanya!
Sampai jam delapan pun ia tak kunjung kembali. Seharusnya ia kembali sesuai perintah Pasa. Beberapa anggota teater yang menjadi aktor juga tidak kunjung menampakkan batang hidung mereka. Melihat Pasa mondar-mandir di dekat gazebo sambil merokok, aku melompat dari kursi, mendekatinya.
"Nggak jadi latihan ya?" tanyaku.
Pasa memandangku, lantas mengedikkan bahu. "Kalau begini terus, pertunjukan terancam batal."
"Nggak bisa gitu dong. Masa kalian nyerah, sih?"
"Bukan nyerah. Tapi keadaan emang nggak memungkinkan. Padahal tinggal beberapa pekan lagi loh."
Aku menggigit kuku. "Ini semua karena aku, ya?"
Mendengar pertanyaanku, Pasa gagal mengisap rokoknya. Ia menjatuhkan puntung rokok tersebut dan melumatnya dengan sepatu. "Ah, jangan didengerin ucapan Gita tadi."
"Gara-gara artikelku, kalian nggak bisa gunain kelas sampai malam buat latihan, kan?"
Bibir Pasa mencebik membenarkan. "Ya ... begitulah. Soalnya properti panggung cuma di sediakan di sana. Kalau ke auditorium pusat terlalu jauh. Kamu tahu sendiri kan jarak antara kampus ini dengan kampus pusat?"
Ah, s**l. Aku jadi merasa bersalah. Kini aku paham ucapan Sabas tempo hari. Gara-gara ulahku, anggota teater tidak dapat berlatih sampai larut malam. Edaran surat kebijakan dari wakil dekan menghambat proses latihan.
"Padahal pertunjukan ini penting banget buat Sabas," Pasa melanjutkan perlahan.
"Penting kenapa?"
Pasa tersenyum kecut. "Kamu mau pulang? Biar diantar anak-anak." Ia mengalihkan topik pembicaraan. Nah kan, aku jadi penasaran setengah mampus setelah ucapannya baru saja.
"Aku cari Sabas dulu, deh."
Mempersilakan aku pergi, Pasa mengangguk. Aku melangkah meninggalkan gazebo, entah ke mana. Kuikuti saja ke mana kakiku melangkah. Sembari mengamati keadaan kampus yang makin lama makin sunyi, kuedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari sosok Sabas. Pesan yang kukirim padanya tak kunjung dibaca.
"Gimana sih, tadi ngajakin, sekarang ninggalin. Mau kamu apa, Bas?" teriakku kesal. Kutendang kerikil di sepanjang jalan. Aku memasuki tempat parkir di samping fakultas. Begitu melihat cahaya merah kekuningan di kejauhan, mataku menyipit. Kulihat seseorang sedang melemparkan sesuatu ke dalam api. "Itu setan bukan, sih?"
Dirundung penasaran, aku melangkah mendekat. Kini dapat kukenali sosok di balik kobaran api kecil di dekat pohon itu. Aku membuang napas, melangkah mendekat.
"Kamu ngapain sendirian di sini? Nggak takut ditemenin kuntilanak?" tanyaku.
Mengabaikan pertanyaanku, Sabas melempar buntalan kertas ke dalam api. Mulutku terbuka menyadari bahwa kertas yang ia lempar merupakan naskah drama. Sebelum membuka suara, ia menyela,
"Seharusnya sebagai asisten sutradara, kamu yang ngatur mereka, menggantikan aku. Bukannya udah aku jelasin tugas kamu?"
"Ya kali baru gabung sama temen-temen kamu langsung suruh ngatur mereka. Sori aja." Tak memerlukan izin, aku duduk di sebelahnya. "Jangan kayak pengecut gini main kabur."
"Siapa yang kabur?" tanyanya tidak terima. "Aku cuma mau kasih pelajaran sama mereka."
"Bukan ngasih pelajaran ini mah, tapi menghancurkan pementasan. Ya ... biarpun aku nggak ngerti soal dunia teater, aku tahu fungsi sutradara kayak pemimpin. Ibarat anggota tubuh, mereka adalah otak. Kalau otak nggak berfungsi, otomatis semua organ tubuh nggak berfungsi, kan?"
Ia menoleh, mengamatiku. "Sok bijak." Kemudian melengos dan melempar kertas terakhir. Diperhatikan api yang meliuk-liuk dengan percikan keemasan.
Aku menggigit lidah. Kalau aku minta maaf padanya, akankah harga diriku turun?
Tentu tidak! Memang seharusnya kamu minta maaf. Ayo, si malaikat berbisik merayu.
"Bas," panggilku. Ia masih bergeming, tak menjawab maupun menoleh. "Aku minta maaf."
Menanggapi ucapan maaf itu, ia tertawa pendek. "Baguslah kalau seorang Angkara Devanagari punya nyali buat minta maaf." Pada akhirnya, ia berpaling menuju ke arahku. "Udah tahu kan dampak dari perbuatan kamu waktu itu?"
"Aku kan nggak tahu. Berani sumpah, aku nggak nyari gara-gara kok. Artikel itu aku tulis juga atas dasar keresahan warga kampus yang menganggap pulang di atas jam sembilan malam sangat mengganggu—"
"Udah, udah. Nggak usah dibahas. Toh SK dari wakil dekan telanjur keluar." Ia mengambil ranting pohon di sebelahnya dan melempar ke api.
Aku teringat ucapan Pasa tadi. Berdeham, aku ikut melemparkan ranting-ranting pohon di dekatku. "Kata Pasa tadi, pertunjukan teater itu sangat penting buat kamu, ya?"
Kepalanya terangkat. Dipandangnya aku, sedikit heran, lalu mendesah kesal. "Tugas kamu cuma mencatat dan menggantikan aku, bukan kepo."
Bibirku mengerucut ke depan. Ia banyak menyimpan rahasia. Aku paling benci dibuat penasaran, apalagi bila bekerja sama dengan orang yang membuat penasaran. Kami berdiaman satu sama lain. Dagu kutekan pada lutut. Aku memain-mainkan ranting, membakar dan memutar-mutarnya. Ponsel Sabas berdering. Ia menjawab panggilan seseorang, sementara aku memandang kosong ranting di tangan.
"Bentar lagi pasti pulang, Pa. Kayak nggak kenal adek aja sih? Masa Sabas yang harus cari anak segede dia?"
Saat ia disibukkan mengobrol dengan seseorang yang mungkin ayahnya, aku terpekik kaget. Tanpa kusadari, jariku terbakar.
"Ow!!" Aku mengibas-ngibas tangan.
Mendengar rintih kesakitanku, Sabas mematikan sambungan tanpa mengucap salam. "Eh, kenapa?"
"Jariku kena api." Aku terus mengibas-ngibas dan mendesis kesakitan.
Tanganku ditarik untuk diamati. "Di basecamp ada obat anti bakar. Buruan tanganin sebelum parah. Ayo." Ia menarikku untuk berdiri. Kulepas tanganku dari pegangannya. Ia berlalu mendahului, sedangkan aku mengikuti dari belakang.
Basecamp dalam keadaan sepi ketika kami sampai. Aku celingukan mencari keberadaan satu manusia saja. Tak ada siapa pun kecuali kami berdua. Aku sangsi masuk ke dalam.
"Ngapain masih berdiri di situ?" tanya Sabas.
"Nggak ah. Aku mau mastiin kamu nggak aneh-aneh."
Ia memutar mata. "Aneh-aneh apa? Emangnya aku mau ngapain kamu? Nggak usah delusi, deh." Ia menggeledah bufet dan mengambil kotak plastik berukuran sedang. "Masuk, Gi. Di luar mana kelihatan."
Aku mendesah panjang. Pada akhirnya, aku masuk dan duduk di depannya. Ia membuka penutup dan mencari-cari sesuatu.
"Kok sepi, sih?" tanyaku, melihatnya mengambil obat oles untuk luka bakar.
Sabas menengok jam tangannya. "Bentar lagi kan gerbang student center ditutup. Udah pada pulang kali. Sinikan tangan kamu."
Kuulurkan tanganku padanya. Ia mengoleskan obat luka bakar tersebut pada jari-jariku yang memerah. Spontan, aku mengernyit dan meringis.
"Pelan, dong! Perih nih!" teriakku.
"Ini udah pelan, Angkara!" ia balik berteriak.
"Ah, kamu mah emang niat nyiksa. Aku sendiri aja!" Kurebut obat itu dari tangannya. Dengan tangan kiri, aku berusaha mengeluarkan krim. Usahaku sia-sia belaka karena tanganku tak sanggup melakukannya secara mandiri.
"Udah bisa, Dek Anggi?" Sabas mencemooh.
Aku mengerucutkan bibir kesal. Kulempar obat oles itu padanya. Menggeleng-geleng, ia menarik tanganku lagi. Kubiarkan ia yang menangani luka bakar pada jemariku sampai selesai.
"Nah, udah."
Aku meniup-niup jemariku yang terasa dingin seperti dilumuri es. Sabas mengembalikan kotak obat ke tempat semula. Tanganku terkatung di udara, membiarkan obatnya meresap.
"Aku mau pulang."
"Iya, bawel. Kupingku juga udah panas dengerin kamu ngomel dari tadi." Sabas beranjak berdiri, lantas meraih jaket yang ia sampirkan di balik pintu basecamp. "Ayo."
Kami menyusuri lorong gelap student center, melewati kafetaria menuju pintu gerbang keluar. Begitu sampai di depan pintu gerbang student center, Sabas terpaku.
"Anjir, udah dikunci."
"HAH?!" Aku spontan berteriak.
Sabas bergeser menjauh. "Nggak usah teriak di kuping, monyet! Gerbangnya dikunci."
"Lewat pintu utara, deh."
"Pintu utara mah udah dikunci sejak tadi."
"Terus gimana, dong?!"
Celingukan mencari-cari keberadaan penjaga, Sabas menggerung kesal mendapati lapangan parkir sepi tanpa tanda-tanda kehidupan. Ia merogoh saku, mencoba menghubungi salah satu kawannya.
"Pras, kekunci nih. Di mana?" Entah apa yang dikatakan lawan bicaranya, tetapi raut muka Sabas betul-betul kesal. "Si anjing. Gila nyuruh nginep di sini? Iya udah biasa, tapi sekarang lagi sama cewek nih. Balik, bantuin aku keluar! Pras!" Sambungan terputus. Sabas mengamati ponselnya dan mengumpat. "Berengsek nih bocah, malah dimatiin."
Aku bertanya melalui mimik wajah, namun tak mendapatkan jawaban. Ia sibuk mengamati ketinggian pagar, lalu memandangku.
"Bisa manjat, kan?"
"Kalau tanganku bengkak kayak gini mana bisa."
Ia mengusap wajah kesal. Selama beberapa saat, terjadi keheningan. Aku sibuk menggigit ibu jari kiriku, sementara ia terdiam. Sampai akhirnya ia melenggang melewatiku dan berkata enteng,
"Mau gimana lagi. Kita nginep di sini."
Praktis, mataku membelalak. "HAH?!"
Sumpah, baru kali ini aku terkunci di dalam kampus dan ini amat sangat tidak lucu!