Reward

2557 Kata
Hal pertama yang kudengar ketika aku berada di ambang alam sadar dan tidak adalah suara berisik. Mataku menyipit, lalu terbuka perlahan. Suara berisik tersebut makin terdengar nyata. Aku menguap dan meregangkan badan. Perlahan, mataku mengerjap, berhadapan langsung dengan wajah seseorang yang praktis membuatku terperanjat duduk. Pasa bertolak pinggang mengamatiku dari puncak kepala sampai ujung kaki. Sebelah alisnya terangkat skeptis. Berpasang-pasang mata menghujaniku dengan tatapan mengintimidasi. Mataku berpindah bergantian dari Pasa yang masih bertolak pinggang, lalu ke anggota BSO teater lain yang berdiri mengamatiku. Tak ada batang hidung Sabas di antara mereka. s****n, ke mana bocah berengsek itu? "Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Pasa. Kukaitkan rambut ke belakang telinga. "Ngg ... anu, Mas. Kemarin aku kekunci, terus nggak bisa keluar. Jadinya terpaksa tidur di sini deh." "Oh, itu loh. Kemarin Sabas telepon aku. Bilang kekunci di sini." Dari belakang, Praska menyahut. Seorang cowok lainnya menyeletuk, "Gila. Diapain nih cewek semalem?" "Nggak diapa-apain kok!" Aku menggoyangkan tangan dan menggeleng. "Yah! Nggak seru. Tak kira diapa-apain," Praska menyahut lagi. Bibir Pasa tercebik. Ia menghela napas panjang. "Ya udah. Silakan pergi." Tanpa diminta pun aku sudah pasti segera angkat kaki dari sini. Aku mengambil ransel di bawah bufet kecil, lantas berpamitan pada yang lain tanpa berani memandang wajah mereka yang dominan mengintimidasi. Dahi kuketuk berkali-kali, mengumpat ketololanku sendiri. Kucek ponsel yang sejak semalam kukantongi di saku jins, menengok waktu. Sudah jam sepuluh?? Demi apa aku tidur sampai jam sepuluh?! Jam sepuluh aku ada kelas! Mau tak mau, aku berlari secepatnya meninggalkan student center, menaiki anak tangga tergesa-gesa menuju kelas pertamaku, Bahasa Inggris. Aku tak pernah bernasib lebih s**l daripada ini. Sebelum memasuki kelas, aku menerjang pintu toilet cewek, lantas mencuci muka sekadar menyingkirkan aib. Begitu wajahku bersih dan lebih segar, aku menyisir rambut dengan jari, kemudian menguncirnya dengan pita yang kuambil dari ransel. Untunglah aku sudah terbiasa membawa parfum ke mana-mana—ini juga sebagai jaga-jaga kalau aku tak sempat mandi saat mengikuti kelas pagi. Hehe. Kucium udara sekitar sekadar mengetes aromanya. Aku menyusupkan tangan pada kantong kecil di dalam ransel, mencari permen mint dan mengunyahnya. Kudekatkan telapak tangan pada mulut sekadar mengetes. Aroma mint. Haha. Makin joroklah aku hari ini. Aku mengepak ransel dan memasuki kelas Bahasa Inggris yang sudah dipenuhi mahasiswa lain. Sebelum memasuki kelas, kutundukkan kepala sopan, meminta maaf atas keterlambatanku pada tutor. Ia memerintahkanku bergabung dengan yang lain sebelum kelas dimulai. Aku memilih duduk di bangku paling belakang agar tak terlalu mencolok. Aku tak bisa membayangkan kalau teman-teman sadar bahwa aku belum mandi. Maka untuk langkah aman, aku duduk di antara bangku kosong. "Hai, Dev." Spontan aku berjengit dan berkedip cepat begitu kurasakan tepukan di pundak. Seseorang duduk di sebelahku, meletakkan buku dan pena, membuat kedua mataku melebar. "Kenapa mukanya merah begitu?" tanyanya, kemudian menambahkan dengan cengiran. Aku menggeleng. Ananta memajukan kepala untuk mencermati wajahku. Dahinya mengernyit. Apa? Kenapa? Dia melihat belek? "Kenapa, Mas?" tanyaku tak nyaman. "Muka kamu kusut banget. Kamu semalam begadang?" Lagi, aku menggeleng. "Masih ngantuk aja, Mas." "Jam sepuluh masih ngantuk?" Dilihatnya jam yang melilit pergelangan tangannya. "Anu, banyak tugas yang aku kerjain." "Berarti bener dong kamu begadang?" Sudut-sudut bibirku terangkat membentuk senyum hiperbolis. Kutepuk dahi pelan saat kepalaku menunduk menatap bukuku yang belum terjamah tinta. "Itu kenapa tangannya?" Tanganku ditarik dan diamati. "Kamu abis ngapain sampai tangan kamu begini?" "Nggak apa kok." Kutarik tanganku dan menyembunyikannya. "Waktu masak kena wajan panas." "Coba langsung bawa ke dokter daripada makin parah. Lain kali hati-hati loh." Tanpa memandangnya, kuanggukkan kepala dan tertawa sangat pelan. Harusnya aku klepek-klepek mendengar penuturan manis itu. Tapi semuanya hancur dalam sekali kedip hanya karena kekhawatiranku yang belum mandi dan malah duduk di samping Ananta! Ananta tak meneruskan obrolan. Ia mendengarkan penjelasan tutor bahasa Inggris sambil sesekali mencatat di bukunya. Selagi ia tak melihat, aku mengeluarkan ponsel, lantas memeriksa mata. Tidak ada belek kok. Wajahku memang terlihat menyedihkan dan mengerikan. Ada kantung mata sebesar jamban yang tak akan bisa disembunyikan dengan apa pun. Tidak dengan parfum atau permen mint. Sampai kelas Bahasa Inggris selesai, aku berusaha menghindari Ananta dengan mengatakan ada urusan mendadak. Ia hanya melambaikan tangan. Wajahnya tampak bingung melihat tingkah anehku hari ini. Aku bersyukur kelasku masih sore nanti. Kuhempaskan ransel di gazebo, lalu berbaring dan menghela napas berat. Ah, ini semua gara-gara Sabas. Aku jadi ikutan ketiban s**l! Siapa tahu malah kamu yang bawa s**l di kehidupan Sabas, si iblis berbisik di telinga. "Amat sangat nggak ngebantu, wahai iblis," bisikku. "Kok kamu ngatain aku iblis sih?" Mendadak aku menoleh, melihat Adeeva yang berdiri membawa minuman dalam gelas plastik dan tas kresek. "Sejak kapan kamu di sini?" tanyaku seraya bangkit duduk. "Ya elah! Barusan aku bilang sama kamu, aku bawain minum dan makanan. Nih." Disodorkan kresek serta minuman itu padaku. Aku menyengir, menggumamkan kata terima kasih, lalu mengeluarkan gorengan dari dalam kresek. Ia duduk di sebelahku, mengamatiku makan sambil berdecak. "Laper, Div," kataku menjejalkan makanan tanpa ampun. "Gimana semalam?" Ia menyikut lenganku dan menaik-turunkan alis. Aku menelan dengan susah payah sebelum menyedot minuman. Kuusap bibirku dengan tisu yang disodorkan Adeeva. "Apanya yang gimana?" "Loh, semalam kan kamu chat aku ngomel-ngomel lagi kekunci di kampus sama Sabas. Ngapain semalam?" Kutoyor kepalanya, membuat ia mengerucutkan bibir kesal. Ia tak tahu penderitaanku semalam. Kuceritakan saja mulai dari awal, ketika gerbang pintu dikunci dan membuat kami terjebak di kampus. Malam itu, aku tak bisa tidur dengan tenang. Yang kulakukan sepanjang malam hanyalah meringkuk di pojok, kadang mengomel pada Adeeva dan menceritakan kesialanku, lalu melihat Sabas yang sibuk bersama laptop dan earphone—sesekali melirikku terganggu. Penasaran dengan yang ia tonton, aku merangsek di sebelahnya. "Film apaan tuh ada orang Jepangnya? Hentai, ya?" Hidungku disentil. "Emang semua film kalau ada orang Jepangnya udah pasti hentai?" Aku menggosok hidung. "Kali aja ternyata kamu suka nonton hentai." "Emang kenapa kalau aku nonton hentai?" "Masa mantan ketua HMD doyan nonton hentai. Hahaha." Aku tertawa hiperbolis. Ia menggeleng-geleng. "Sempit banget pemikiranmu." Lagi-lagi hidungku disentil sampai membuatku mengernyit. "Kalau ada cowok yang nggak pernah nonton hentai atau blue film, berarti kejantanannya dipertanyakan." Sudut bibirku terangkat. "Kenapa gitu?" Matanya melirikku. Ada senyum kecil—seperti mencemooh—yang terlihat di bibirnya. "Coba bayangin kalau kamu punya suami yang nggak pernah nonton bokep. Bisa nggak bikin anak?" Ia menyengir. Spontan saja aku menoyor kepalanya. "Dasar mesum." "Bukan m***m. Itu namanya realistis." Ia berdecak. Dilanjutkan lagi kegiatan menontonnya yang membuatku ikutan mengamati. "Ini Death Note. Seru, tahu." Ia menyodorkan earphone bagian kiri untukku. "Beneran bukan hentai, kan?" Bola matanya berputar ke atas. "Bukan." Kupasang earphone yang diberikan olehnya pada telinga kiri. Kami menghabiskan tengah malam dengan menonton film Death Note yang ternyata memang seru. Berkali-kali aku mengumpat atau menyumpah serapah. Saking asyiknya, kuabaikan waktu yang bergulir sangat cepat. Jam sudah menunjuk angka dua, mataku sudah sedikit berat. Beberapa kali aku menguap. Aku tak sadarkan diri setelah itu dan berakhir dengan tatapan tajam anak-anak BSO teater pagi harinya. "Ciyeee. Bobok di sebelah Mas Sabas rasanya gimana, Gi? Anget-anget gimana gitu ya?" Mendadak Adeeva berteriak heboh sampai mengundang perhatian mahasiswa di sekitar. Aku sontak membekap mulut Adeeva dengan tangan kiriku. "Jangan mulai deh, Div." Aku mengangkat tanganku yang masih nyeri. Untung saja ini bukan luka bakar serius. Kulit punggung tanganku hanya memerah dan kering. Mungkin beberapa hari lagi nyerinya hilang. "Ya ampun sampai begitu tangannya." Adeeva mengamati tanganku. "Untung nggak parah ya. Eh iya, Mbak Sesa tadi bilang ke aku, ulasan kamu tentang Mahadeva Café di surat kabar bagus banget. Kamu dapat reward dari pemiliknya." "Dari ... pemilik?" Pemilik kafe itu kan keluarga Sabasnash. "Pak Andre. Disuruh datang ke rumahnya buat ambil reward." Aku menelan ludah susah payah. Maksudnya datang ke rumah Sabas? "Mau aku anterin, nggak?" tawar Adeeva. Lama aku menimbang ajakannya. Lumayan kalau bisa buat uang jajan atau membeli buku-buku teori yang belum sanggup kubeli. Adeeva menyenggol lenganku. "Ya udah." Tersenyum lebar, Adeeva menunjukkan ibu jari. "Kamu nggak pulang? Aku ada latihan paduan suara dulu nih. Barengan yuk. Aku anterin pulang." Mengangguk setuju, kami meninggalkan gazebo bersama. * Motor Adeeva berhenti di depan rumah bergaya mediterranean (aku pulang dulu untuk mandi sambil menunggu Adeeva menyelesaikan latihan padus). Sebelumnya, seorang satpam menanyakan keperluan kedatangan kami dan janji yang telah kami buat dengan sang pemilik rumah. Sambil menyodorkan surat tugas dari kantor surat kabar tempat aku bekerja sebagai kontributor, satpam tersebut akhirnya memperbolehkan kami masuk. "Kamu udah tahu ya kafe itu punya Sabas?" tanyaku bertolak pinggang pada Adeeva. Menyengir kuda, Adeeva mengangguk. "Sengaja nggak aku kasih tahu ke kamu. Nanti kamu malah menilai nggak objektif kalau tahu kafe itu punya Mas Sabas." "Jadi, kamu juga tahu dong kalau Sabas berencana ngajak aku taruhan?" nadaku naik dua oktaf. Adeeva menggeleng cepat. "Nggak kok, sumpah. Aku nggak tahu dia ngajak kamu taruhan." Memandang berkeliling, aku seperti orang norak yang baru pertama kali melihat rumah bagus. Rumahku—sebelum dijual Mama—memang tak sebesar ini. Aku mengatupkan rahang begitu pintu dibuka pembantu dari dalam. "Mencari siapa, Mbak?" "Pak Andre. Katanya ada di rumah dan lagi nggak ngantor," jawab Adeeva sambil menyelipkan senyum sopan. "Oh ... ada. Silakan masuk ke dalam." Berdua, kami memasuki rumah. Aku menelisik dekorasi rumah yang serba tertata dan tampak penuh. Ada banyak foto dalam bingkai besar yang dipajang. Foto keluarga besar, foto seorang pria berjas dengan seorang wanita berkebaya, foto seorang pria muda yang duduk di sofa bersandaran tinggi, foto seorang gadis yang masih sangat muda—seperti anak SMA—berambut pendek, dan foto Sabas dengan ekspresi datar—bahkan di foto keluarga saja ia sendiri yang tidak tersenyum. "Silakan duduk dulu," kata pembantu yang usianya kemungkinan 30 tahunan. Ia menaiki anak tangga melingkar-lingkar, mencari sang juragan. Tak seperti aku yang norak, Adeeva bersikap santai. Ia pernah datang ke rumah Sabas. Sikapnya sudah pasti tidak senorak aku. "Ini keluarga ngepet di mana, sih? Gede banget rumahnya," bisikku ngeri. "Hush. Ngawur." Adeeva mencolek pinggangku. "Ini yang namanya hasil dari kerja keras, Gi." Tidak berselang lama, seorang pria berpakaian santai turun dari tangga. Aku mengamati pria tersebut tak berkedip. Merangsek mendekat, aku berbisik lagi, "Bapaknya ganteng banget, Div. Kayak ahjussi-ahjussi di drama Korea." Bibir Adeeva mencebik. Ia mencubit pahaku, memintaku berdiri dan menyambut sopan Pak Andre. Lelaki itu tersenyum ramah, mempersilakan kami duduk lagi. Ia menaikkan kaki ke atas paha dan menghela napas panjang. "Kamu pernah datang ke sini, ya?" Pak Andre menunjuk Adeeva, mencoba mengingat. Adeeva mengangguk membenarkan. Mereka berdua cepat akrab satu sama lain, sedangkan aku seperti kambing congek. Adeeva memperkenalkanku pada Pak Andre. Senyum terulas tipis di bibirku. Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga. "Oh, ini yang nulis ulasan kafe saya yang di Menanggal?" "Benar, Pak." "Panggil Om saja." Aku mengangguk tanpa menghapus senyum yang membuat pipiku kaku. Tak berselang lama, seorang wanita bergabung dengan kami. Mataku seperti disilaukan oleh sinar kedewian seperti di film-film. Wanita berambut panjang, berkaki jenjang, berkulit bersih, dan berwajah bak dewi itu duduk di sebelah Pak, eh, Om Andre. "Ibunya cakep banget, Div," pekikku di telinga Adeeva. "Kayak Ha Ji Won." Bibit keluarga ini benar-benar super. Pantas saja Sabas digilai banyak cewek. Bibitnya saja sebagus ini. "Ini yang nulis ulasan kafe kita di surat kabar, Ma." Om Andre menunjukku. Wanita itu tersenyum manis madu bagai bidadari surga. "Oh...." Matanya berpindah menuju Adeeva. "Kalau Adeeva sudah kenal ya. Yang ini belum." Ia mengulurkan tangan ke depan, langsung kusambut. Halus sekali. "Panggil Tante Dewi saja." "Angkara, Tante." Ia menyadari tanganku yang memerah. "Kenapa tangan kamu merah begini?" Aku mengerjapkan mata, menjawab gelagapan, "Kena api." Waktu berduaan dengan putra Tante. Kutelan jawaban tersebut ke dalam perut. "Astaga, lain kali hati-hati ya, Sayang...." Tante Dewi tersenyum, lantas melepas tanganku. Kuamati gesturnya yang elegan dan tertata. Wajahnya sangat mirip anak perempuan di foto yang kulihat tadi. Aku bisa membayangkan bahwa anak perempuannya—adik Sabas—bersikap sama elegannya seperti sang ibu. "Assalamualaikum!!!" Om Andre menjawab salam yang diucapkan lantang tersebut, sedangkan Tante Dewi memejamkan mata dan menyentuh dahi. Dari samping, kulihat gadis berambut pendek yang masih mengenakan seragam sedang menenteng ransel dan membiarkan tali sepatunya terlepas. Sosok yang menghancurkan ekspektasi yang kubangun beberapa waktu lalu. Gadis berambut pendek. "Dari mana aja kamu baru pulang jam segini?" tanya Om Andre. "Biasalah, Pa. Kerjain tugas kelompok sambil main sedikit. Aku naik duluan yo!" Ia mengangkat tangan sebelum berlari menaiki anak tangga dengan bunyi entakan keras. Kupandang Adeeva yang menahan diri untuk tak tertawa. Di depan, Om Andre menggelengkan kepala, sementara Tante Dewi memijit pelipis sambil berkomat-kamit. "Maafkan putri Om, ya. Memang begitu anaknya." Om Andre tertawa pendek. "Mama mau tegur dia biar lain kali sopan kalau ada tamu." Menggeleng dan menghela napas panjang, Tante Dewi beranjak pergi menyusul putrinya. Kupandang diriku sendiri dan menyamakan cewek berambut pendek tadi. Lalu menelan ludah. "Istri saya tadi bikin sorbet. Saya penasaran sama ulasan Nak Angkara. Mau coba?" Mulutku terbuka, tapi tertutup lagi sekadar memberi waktu otakku berpikir. Tanpa meminta persetujuanku, Adeeva mengangguk setuju. Mataku memelotot ke arahnya yang hanya ditanggapi dengan kedikan bahu. Aku mendesah. Om Andre memberi gestur, mengajak kami untuk mengikutinya. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku dan Adeeva mengekor menuju ruang makan. Dua pembantu menyiapkan meja dengan sorbet berbagai rasa. Om Andre memerintahkan kami duduk santai sambil menikmati sorbet yang ia hidangkan. "Istri saya memang senang membuat kudapan seperti ini. Kalau saya suka bermain resep dengan kue, istri saya ahlinya meracik es krim. Makanya kami berinisiatif mengembangkan usaha keluarga sampai di beberapa kota. Baru-baru ini saja anak saya yang sulung mulai mengembangkan kopi di Malang. Ayo coba." Adeeva menyenggol lenganku. Ia mulai menyendok sorbet dengan rasa berbeda ke dalam gelas kami. Om Andre memandangi menungguku mencoba sorbet tersebut. Mulai kumasukkan sesendok sorbet ke mulut. Mangga dan stroberi menyatu dengan lidah. "Ini enak banget, Om!" pekik Adeeva. "Kalau menurut Nak Angkara?" Om Andre bertanya padaku. Aku terdiam sekadar merasakan campuran rasa itu di lidah. Sensasi dan rasanya sama seperti ketika aku mencoba cupcake di kafe itu. Mataku tak berhenti menyorot pada sosok Om Andre yang tersenyum menunggu mulutku terbuka. Ia sungguh ingin mendengar ulasanku? Apa yang ingin didengarnya? Bahwa rasa seperti ini sudah lama tak kurasakan? Perasaan dan sensasi aneh yang sudah tidak pernah menyublim dalam hatiku, yang seakan-akan aku sedang merasa damai dan tenang. Yang seolah-olah aku pernah merasakan kebahagiaan, namun tak tahu apa. Bagaimana caraku mendeskripsikannya? Sedangkan ulasan cupcake waktu itu hanyalah ulasan biasa layaknya kudapan reviewers lain. "Kami punya cerita di balik pembuatan sorbet. Pertama Om dan Tante bertemu, ya gara-gara ini," tutur Om Andre. "Rasanya yang manis, segar, dan penampilannya yang cantik, seperti sensasi waktu kami bertemu." Mendadak saja aku teringat pertama kali mencoba cupcake di kafenya, yang lantas disusul kemunculan Sabas. Aku mengusap tengkuk. "Ngapain ada dua cewek di sini, Pa?" Dari belakang aku mendengar suara Sabas. Ia menghampiri Om Andre, mencium punggung tangannya. "Ini loh Bas, Papa ngundang Angkara buat ngasih reward atas ulasan bagus dia di surat kabar. Eh iya, kalian punya waktu luang sampai malam, kan? Saya mau ajak kalian gabung makan malam di sini." "Yah, Om. Adeeva nanti malam ada janji sama temen." Aku memandang Adeeva meminta penjelasan, sembari mencolek pahanya di bawah meja. Ia menepis tanganku dan memelotot. "Angkara saja yang di sini, ya. Kayaknya dia ada waktu luang, Om." Menoleh ke arahku, Adeeva menyengir. APA MAKSUDNYA MENINGGALKANKU DI SINI?! "Oh ... ya sudah. Nanti Angkara Om antar aja ya pulangnya." "Sabas aja, Pa." APA PULA BOCAH BERENGSEK INI? "Sekalian nanti mau beli buku buat bahan presentasi," lanjutnya. Aku hanya melongo, menoleh ke Adeeva yang menaikkan kedua alis dan mengulum bibir sekadar menyembunyikan senyum. Kupandang Om Andre yang mengangguk setuju. Ya Tuhan, harusnya tak kuterima saja reward dari orang kaya ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN