IN THE GRAVE

1039 Kata
“Pesan? Kalau boleh saya tahu, pesan apa yang sempat ditinggalkan oleh Mbak Nawang?” Danur bertanya. Namun, sang kakek justru menggurat wajah dengan berpindah. Memandang lurus pada sebuah arah. Saat itu, sebuah kuburan dengan luas beberapa hektar tanah menjadi titik fokus. Seorang pemuda terlihat berdiri di depan salah satu nisan yang ada. “Reksa?” Danur memekikkan suara. Sang kakek tersenyum dengan lebar begitu saja. Berkata, “Kakek akan pulang dahulu. Kau jangan terlalu banyak bertanya. Jangan pernah memercayai setiap orang yang berhasil kau tanyai. Sebaiknya, kau mencari tahu kebenaran itu sendiri.” Setelah itu, kedua pria dengan usia jauh berbeda, berpisah. Sang kakek telah berjalan jauh dari posisi Danur berada. Sedangkan, Reksa baru saja meletakkan bunga berjenis mawar putih pada nisan yang ia datangi. Berlalu pergi usai mendoakan sosok mendiang yang dikubur di dalam tanah. Berjalan keluar dari dalam area kuburan. Kembali menaiki kendaraan beroda dua. Setelah Reksa tak lagi tampak, Danur berjalan hingga menapak pada sisi kuburan seorang mendiang. Sembari melebarkan bola mata, Danur menyugar puncak kepala. Bagaimana tidak, saat itu nisan bertuliskan nama Tri Ajeng Nawangsari dengan waktu sepeninggal satu tahun lalu, terukir pada batu yang tertancap. Nisan itu benar-benar membuktikan bahwa Reksa memiliki keterkaitan hubungan dengan Nawang. Sial! Lantas, mengapa Reksa justru berbohong sewaktu gue menanyakan perihal sosok Nawang pada dia dan Genta? Ternyata, jawaban ‘tak mengenal’' yang Reksa lontarkan pada saat itu, hanya sebuah kebohongan. Usai membatin penuh kesal, Danur mengeluarkan ponsel dengan tak adanya jaringan di dalam layar. Telepon genggam itu bukan ia gunakan untuk menelepon seseorang. Melainkan, untuk mengambil gambar nisan bertuliskan nama Nawang. Namun, “HEI! YA!” Danur berdecak. Sesaat usai mendapati sosok Nawang menampakkan diri di dalam kamera. “Sedang apa kau berada di sini, hah? Bukankah, sebaiknya kau tidur saja dengan tenang di dalam tanah?” Jiahaha— Saat itu, sosok hantu wanita tersebut mengeluarkan suara teruntuk kali pertama. Berbicara dengan nada menggema, “Bagaimana bisa aku beristirahat dengan tenang selagi salah satu temanmu terus bertindak tanpa rasa bersalah dan dosa?” Hep! Seketika, tenggorokan Danur terasa kering. Seraya ia sedang tercekik hingga tak mampu bernapas. Kali itu, sahutan yang diberi oleh si arwah gentayangan, benar-benar memberi skak mat pada Danur. Pemuda tersebut hingga tak bisa berkata-kata. Hanya bisa berdiri mematung sembari menyaksikan arwah Nawang menghilang secara perlahan. Kepergian Nawang bersamaan dengan posisi tubuh Danur yang tak lagi bisa menjaga keseimbangan. Beruntung, ia tak benar-benar roboh hingga terjatuh dan menyasar dataran tanah kubur. ****** Baru saja Danur menampakkan diri pada hunian seorang warga. Saat itu, sosok Genta dan Nayla terlihat sedang berdiri berdampingan. Salah satu dari mereka menyapa, “Lo ke mana saja?” “Gue hanya keluar sebentar untuk sekedar berjalan-jalan pagi.” Usai memberi sahutan, Danur melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kaki yang menapak disertai dengan bidik pandang pada seorang pemuda. Saat itu, sosok Reksa sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua. Mengalihkan pandang pada sang sahabat yang baru saja tiba. Menyapa, “Ke marilah. Makanan yang sedang gue siapkan hampir selesai. Sembari menunggu, kalian bisa mendinginkan nasi lebih dulu.” Menyaksikan raut polos yang Reksa tampakkan, Danur merasa tak kuasa untuk menuduh. Sungguh, ia memungkiri keterkaitan Reksa akan kasus pembunuhan. Reksa hanya seorang pemuda pendiam yang kesepian. Dia tak mungkin melakukan hal serendah itu, bukan? “Nur? WOI! Pagi-pagi, sudah melamun,” Genta menghentak. Menyadarkan sang sahabat dari lamunan. “Buru lo ambil nasi. Keburu gue habisin, nih.” Dengan mimik tak sedang berselera makan, Danur meraih piring dan sendok. Bergantian mengambil nasi dengan sosok Nayla. Setelah itu, keempat mahasiswa dan mahasiswi KKN segera menikmati hidangan makan pagi bersama seluruh penghuni rumah. ****** Pagi ini. Di balai desa. Mahasiswa yang sedang melaksanakan program KKN di Kampung Lelegean telah berkumpul. Para warga terlihat berbondong-bondong menuju satu lokasi yang sama. Memenuhi banyak kursi yang telah disediakan. Saat itu, Genta sedang bertugas sebagai operator. Danur dan Nayla membagikan selebaran cetak yang sudah disiapkan dari Jakarta. Sedangkan, Reksa baru saja memulai agenda memberi penyuluhan untuk para warga. Mendengar suara Reksa yang menenangkan dan penuh unggah ungguh dalam berbicara, para warga menanggapi bahan seminar dengan antusias. Bahkan, beberapa dari mereka aktif dalam mengajukan pertanyaan. Pada saat bersamaan, Danur tercekat. Sesaat usai seorang wanita muda menggenggam tangannya di kala sedang membagikan selebaran. “Ada apa?” Danur bertanya. Memandang kembali sosok wanita muda tersebut. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, wanita itu menyelipkan secarik kertas pada telapak tangan Danur. Kemudian, ia melepaskan genggaman. Beranjak dari posisi duduk semula. Danur menunduk singkat. Menatap secarik kertas yang sudah kusut karena diremas dengan kasar oleh si pemberi, Hanya saja, di waktu Danur membidik arah semula. Wanita muda tersebut tak lagi ada. “Nay? Lo melihat wanita yang duduk di sini, tadi?” Danur bertanya. Nayla mengangguk. Menunjuk dan menyahut, “Dia baru saja berbelok kiri usai melewati gardu itu.” Setelah memastikan jikalau Nayla juga dapat melihat sosok wanita tersebut, Danur mulai membuka secarik kertas yang kusut. Membaca tulisan yang disertakan dengan tinta hitam. *Aku enggan kehilangan salah satu dari kalian lagi* Astaga! Apa yang dimaksudkan dari pesan ini? Danur bertanya di dalam hati. Seketika, ia teringat pada ucapan si kakek sewaktu pertama kali mereka berjumpa. Yakni, sebuah pernyataan bahwa Reksa takkan bisa meninggalkan Kampung Lelegean. Rasa kesal tak lagi terbendung. Danur bergerak alami dalam meremas secarik kertas yang sudah kusut. Kemudian, ia berbisik pada Nayla. Berkata, “Nay, sepulang KKN gue akan ke lokasi kejadian perkara.” Sang lawan bicara melebarkan bola mata. Berhenti bernapas dalam beberapa detik. Sebelum menyahut, “Sepertinya, hari ini gue belum bisa ikut bersama lo ke sana. Gue masih terbayang akan mimpi buruk semalam. Entah mengapa, gue merasa takut saat hendak melanjutkan misi ini. Ijinkan gue untuk menenangkan diri. Mengumpulkan keberanian lagi.” Danur mengangguk mengerti. Lagi pula, sedari awal ia enggan melibatkan Nayla lebih jauh. Sedangkan, ijin yang baru saja ia lontarkan tak memiliki makna untuk memaksa Nayla turut serta ke TKP. Melainkan, Danur hanya memastikan jikalau Nayla mengetahui arah ia pergi setuntas melaksanakan tugas KKN. Mengingat, selagi berada di Kampung Lelegean, mereka takkan bisa bertukar kabar dengan pesan mau pun panggilan. Setelah itu, “Nay? Nur?” Suara Genta terdengar. Pemuda yang baru saja beranjak dari posisi duduk semula itu segera berseru. Meminta agar kedua muda mudi tersebut membantu Reksa dalam pemberian demo materi penyuluhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN