Sontak, Danur meraih lengan sang sahabat. Membawa Reksa menjauh dari sisi ranjang. Ia kira, dengan begitu sosok mendiang Nawang akan menghilang. Namun, tidak. Wanita yang sudah berubah menjadi arwah gentayangan itu, terus berada di posisi semula. Menundukkan kepala. Tak henti menyemburkan hawa dingin di dalam satu ruang yang sama. Bahkan, Genta yang sedang memejamkan mata, segera bergerak meringkuk. Merapatkan selimut tebal untuk menutup setiap bagian tubuh karena tak tahan dengan hawa dingin di dalam ruang.
Sementara itu, Danur bergegas mengarahkan Reksa untuk keluar dari dalam kamar. Jikalau, menjauh dari sisi ranjang saja, tak mempan. Maka, menghindar dari ruang yang sama akan ia jadikan alternatif selanjutnya.
Benar saja, saat itu Danur mengintip ke dalam kamar. Sosok mendiang Nawang tak lagi terlihat.
Dan,
PUK!
Suara tepukan terdengar. Reksa baru saja menepuk pundak Danur dengan keras. Berujar, “Apa yang sedang lo lakukan? Apa yang sedari tadi membuat lo menjadi bersikap aneh?”
Pertanyaan polos yang dilontarkan oleh Reksa, membuat Danur menggeleng penuh bingung. Sungguh, ia ingin menanyakan secara langsung perihal keterkaitan sang sahabat dengan si arwah gentayangan.
Hanya saja, suara langkah kaki terdengar dari pintu utama rumah. Danur dan Reksa bergegas memastikan sosok yang baru saja menapak dengan langkah gusar.
Saat itu, anak pemilik rumah baru saja menyampaikan. Bahwa, salah satu anggota tim KKN yang berasal dari Kota Jakarta terus menangis tiada henti. Membuat para warga menjadi terganggu saat sedang beristirahat.
“Maksudmu, mahasiswi itu adalah teman kami Nayla?” Danur mengkonfirmasi.
Sang lawan bicara mengangguk cepat. Tanpa pikir panjang, Danur bergegas keluar rumah. Bagaimana pun, ia turut bertanggung jawab jikalau suatu hal terjadi pada Nayla.
******
Setiba di rumah salah satu warga.
Sosok Nayla baru saja berhasil ditenangkan oleh seorang kyai. Pria berbalut sorban dengan jenggot panjang, segera menunduk dan memberi salam. Berpamitan untuk kembali ke hunian pribadi.
Sementara itu, Nayla segera menatap Danur dari kejauhan. Menyiratkan banyak pesan di dalam manik mata yang saling berpandangan. Sontak, pemuda tersebut menoleh. Ia kira, sosok Reksa sedang berada di sampingnya. Namun, tidak. Reksa tak turut serta berlari dengan dia.
Kemudian,
“Ada apa?” Danur bertanya pelan.
Nayla menggeleng. Merapikan kalimat sebelum memberi jawaban. Lalu berucap, “Gue bermimpi buruk. Seseorang mendorong gue dari sebuah atap yang tinggi. Setelah itu, gue terbangun. Dan, entahlah. Gue merasa ingin mengeluarkan air mata. Gue tak menyangka. Jikalau, suara tangisan gue itu membuat para warga berkumpul di depan rumah. Bagaimana ini, Nur? Gue sudah menyebabkan kegaduhan. Bahkan, kau lihat sendiri, bukan? Baru saja, pemilik rumah hingga mendatangkan seorang kyai untuk meredakan tangis gue.”
Mendengar pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nayla, Danur hanya bisa menepuk pelan pundak sang wanita. Berkata, “Tak apa. Nanti, gue akan membantu lo untuk meminta maaf pada pemilik rumah.”
Setelah itu, Nayla enggan masuk ke dalam kamar yang ada di hunian tersebut. Sama halnya yang sempat dirasakan oleh Danur dan Genta. Di dalam sebuah kamar pada hunian lain, Nayla juga sempat merasakan hawa dingin. Bahkan, wanita tersebut masih berbalut dengan selimut saat menampakkan diri pada ambang pintu utama tadi.
“Lo yakin nggak mau masuk ke dalam? Kita harus beristirahat, Nay. Esok pagi, kita akan memulai tugas KKN untuk hari pertama,” Danur mencoba merayu.
Nayla menghembus napas panjang. Menoleh ke arah kiri dan kanan. Benar saja, dini hari itu suasana kampung terlihat suram dan menyeramkan. Tak mungkin, jikalau mereka berdua terus begadang di teras.
Sehingga,
“Baiklah, gue akan masuk ke dalam. Lo bergegas kembalilah.”
Saat itu, Danur tak melangkah. Ia memastikan bahwa Nayla benar-benar masuk ke dalam rumah. Setelah daun pintu utama tertutup, barulah Danur memutar tubuh. Hanya saja, di saat ia sedang berbalik arah. Sosok Reksa muncul dengan tiba-tiba. Danur segera berdecak, “Lo mengagetkan gue saja. Sejak kapan lo berdiri di belakang gue?”
“Baru saja,” Reksa menyahut singkat.
Kini, kedua pemuda itu melangkah bersama. Mereka berjalan berdampingan dengan suasana hening.
Sebelum, “Nur? Esok pagi, gue akan pergi berbelanja. Gue sudah berjanji menyiapkan sarapan untuk kalian semua.”
“Kalau begitu, biar gue temani lo ke pasar.”
“Tak perlu. Gue akan berangkat sendiri. Dengan bantuan salah satu anak pemilik rumah, gue akan berangkat berbelanja.”
“Begitukah?”
“Yah. Kau tenang saja.”
******
Keesokan hari.
Suara adzan baru saja terdengar. Sedangkan, sosok Reksa tak lagi berada di satu kamar yang sama. Danur mengerjap mata. Berusaha membangunkan Genta untuk bertanya.
Hm?
Genta hanya membalas dengan deheman.
“Lo melihat Reksa, tidak?”
“Bagaimana gue bisa melihat dia, Nur? Menjawab panggilan dari lo saja, gue sambil memejamkan mata.”
“Astaga! Memang, ya. Tak ada gunanya gue bertanya pada lo,” Danur menggerutu. Beranjak dari posisi semula. Keluar dari dalam kamar.
Saat itu, Reksa baru saja menampakkan diri dengan balutan baju koko, sarung dan peci. Berujar, “Mari kita sholat shubuh berjamaah, Nur.”
Tanpa banyak berkata, Danur hanya menjawab, “Baiklah.”
******
Setuntas menunaikan kewajiban. Reksa berpamitan untuk pergi berbelanja sebelum matahari mulai tampak. Danur mengantar sang sahabat menuju sisi depan halaman.
Saat itu, anak seorang pemilik rumah sudah bersiap dengan kendaraan roda dua.
“Kita berangkat dulu, Nur.”
Danur mengangguk. Beralih mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Deru kendaraan yang terdengar, digantikan dengan suara ayam berkokok. Kemudian, ia memilih menjejalkan p****t pada dudukan di teras.
Suasana menenangkan di pedesaan, cukup membuat Danur sedikit tertarik untuk menetap lebih lama. Hanya saja, pemuda tersebut harus berfokus pada KKN serta misi rahasia yang sedang ingin ia pecahkan. Lagi pula, sosok mendiang Nawang takkan berhenti bergentayang. Sebelum, Danur bisa memecahkan kasus bunuh diri tersebut dengan bukti akurat terkait adanya faktor pembunuhan.
Di sela Danur sedang berpikir dalam, sosok seorang kakek-kakek terlihat berjalan. Pemuda tersebut mengenali postur dan cara berjalan si kakek. Ia beranjak dari posisi semula. Menghampiri sang kakek yang sedang melangkah pada sebuah arah. Menyapa, “Kek? Kakek hendak pergi ke mana?”
Pria berusia lebih dari tujuh puluh lima tahun itu menoleh. Segera menyemburkan senyum tipis di wajah. Sembari merapatkan kedua buku tangan pada sisi belakang punggung. Kemudian, dia menyahut dengan suara khas para tetua. Berkata, “Kakek hendak melihat seorang pemuda di sana.”
Sembari mengikuti arah bidikan si kakek, Danur bertanya-tanya. Pemuda siapa yang sedang dimaksudkan oleh beliau?
“Kalau begitu, bolehkah saya turut serta bersama Kakek?” Danur memberanikan diri untuk meminta persetujuan.
Kakek itu mengangguk pelan. Melanjutkan aktivitas berjalan dengan posisi bungkuk pada badan.
Selagi berjalan berdampingan, Danur mengutarakan sebuah pertanyaan.
“Kek? Kalau boleh saya tahu, Kakek tahu dari mana jikalau sosok hantu wanita yang waktu itu berkeliling di sekitar teman saya, merupakan sosok mendiang Mbak Nawang?”
Sang kakek membalas dengan dengkusan pelan. Berujar, “Itu karena Nawang sempat meninggalkan pesan.”