HEAR A VOICE (1)

1056 Kata
Seorang Kepala Desa baru saja menghampiri para mahasiswa dan mahasiswi, yang hendak melaksanakan KKN di sana. Pria berusia setengah abad itu segera mengajak mereka berkeliling area sekitar kampung usai memperkenalkan diri. Selagi berjalan-jalan, Karim memberi tahu letak rumah warga yang bisa dijadikan sebagai tempat bermalam. Tentu saja, hunian tinggal untuk mahasiswa dan mahasiswi akan dibedakan. Nayla mengangguk paham. Tak merasa keberatan saat mengetahui jika ia akan tinggal seorang diri di salah satu rumah warga. Setelah itu, dua rumah menjadi tujuan. Karim mempersilahkan agar mereka memasukkan barang bawaan ke dalam rumah-rumah tersebut. “Permisi,” Reksa berujar ramah. Tak sama halnya dengan Genta yang justru bersikap acuh dan lebih berfokus dengan kamera miliknya. Sementara itu, Danur bersikap sama halnya Reksa. Bahkan, pemuda tersebut terlihat menyapa akrab sosok anak-anak pemilik rumah. Dan, “Baiklah, saya rasa agenda berkeliling pada hari ini sampai di sini dahulu saja. Saya hendak pamit menuju balai desa. Esok pagi-pagi sekali, saya harap kalian sudah tiba di balai,” Karim berujar. Kemudian, menunduk singkat dan berlalu dari hadapan. Di sela Danur dan Reksa membawa barang bawaan menuju sebuah kamar yang sama, Genta justru berkeliling area sekitaran luar rumah. Tentu, sembari membawa kamera miliknya ke mana saja. Lalu, “Ta?” Nayla menegur. Sesaat usai wanita tersebut menuntaskan agenda merapikan barang pada kamar di bagian hunian lain. “Ada apa?” “Bagaimana kalau kita pergi berkeliling? Gue masih belum merasa puas. Tadi, Pak Karim hanya mengajak kita berkeliling ke area sekitaran saja. Sedangkan, gue merasa penasaran dengan objek pemandangan yang mungkin dapat kita nikmati di akhir pekan.” “Baiklah, jika lo menginginkan jalan bersama gue. Yah! Gue sih, ayo-ayo saja,” Genta menyahut. Menyengir lebar dengan gurat senang hati. ****** Suara langkah kaki terus terdengar menapak bergantian. Hingga, tak terasa mereka berdua telah berada sejauh dua hingga tiga kilometer dari posisi semula. Nayla merasakan hawa dingin yang menerpa. Sore itu langit berubah menjadi senja. Menghilangkan sinar yang menghangatkan tubuh. Sedangkan, Nayla tak sempat mengambil jaket yang sudah ia kemas di dalam tas. Dan, dengan peka Genta melepas sweater berbahan tebal. Menyodorkan pakaian tersebut pada Nayla. “Terus, lo bagaimana?” “Bagaimana apanya, Nay?” Genta menatap arah bidik sang wanita. Yakni, pada tubuh yang kini hanya dibalut dengan kaos berlengan pendek. Kembali berkata, “Ah! Gampang. Kulit gue cukup tebal. Setebal kulit badak.” Ck! Nayla berdecik. Menyumbulkan tawa kecil. Lalu, beralih merogoh saku di dalam celana jeans. Mengeluarkan ponsel lipat dari dalam sana. Berniat menggambil potret senja yang memanjakan retina. Namun, wanita tersebut justru berfokus pada garis-garis petunjuk signal. Saat itu, tulisan ‘tidak ada jaringan’ segera menjadi bidik pandangan. Ia berujar, “Gawat! Jadi, di desa ini kita tak dapat menggunakan ponsel untuk berkomunikasi, Ta?” Genta mengedikkan bahu. Menyahut, “Seperti yang baru saja lo tahu. Maka dari itu, gue cukup frustasi. Lo kan tahu sendiri. Gue harus mengunggah video paling tidak sehari dua kali.” Meski begitu, Genta tak berniat untuk meliburkan aktivitas merekam. Bagaimana pun, pemuda tersebut amat menyukai hobi dalam pembuatan konten. Sementara itu, Nayla hanya bisa berpasrah. Berharap, jikalau Danur segera menemukan bukti nyata akan keterlibatan Reksa dan mendiang Nawang. Setelahnya, kemungkinan besar Nayla akan pergi meninggalkan area pedesaan. Berpindah tim untuk melangsungkan KKN di tempat lain yang lebih menjanjikan. ****** Senja yang kian lama semakin menghilang, mengharuskan kedua muda mudi tersebut untuk segera kembali ke lokasi semula. Sudah pasti, Danur dan Reksa mencari-cari keberadaan mereka. Dan, benar saja. Saat itu, Reksa sedang memandang Genta dan Nayla dengan bidikan tajam. Merasa kesal karena mereka berdua terlihat bermain-main saja di sana. Sedangkan, dirinya dan Danur benar-benar menyiapkan segala keperluan untuk pengerjaan tugas. “Mengapa kalian pergi tanpa berpamitan?” Danur menegur kesal. Genta dan Nayla hanya terkikik bersamaan. Kemudian, para pemilik rumah mengarahkan mereka untuk makan bersama-sama. Petang itu, lauk sederhana menjadi menu hidangan. Genta dan Nayla merasa kurang berselera. Reksa segera berbisik peka, “Mulai besok, gue akan memasak untuk kalian.” “Benarkah?” Genta dan Nayla menyahut serentak. Reksa mengangguk kepala. ****** Satu jam kemudian. Para anggota berkumpul. Reksa sedang memimpin diskusi kecil untuk membahas hari pertama mereka pada esok hari. Tak lupa, ia membagi tugas pada satu sama lain. Malam pertama mereka segera disibukkan dengan pembuatan materi seminar. Yakni, pokok bahasan yang akan diselenggarakan di balai desa pada esok hari. Sebenarnya, pertemuan berkala bagi para warga baru akan diadakan saat akhir pekan. Namun, kedatangan mahasiswa KKN mengharuskan Kepala Desa untuk mengubah sedikit jadwal di sana. Sembari merilekskan punggung, Nayla meneguk air mineral di dalam gelas. Danur menyodorkan cemilan kepada satu-satunya perempuan di dalam tim mereka. Berbisik, “Nay? Sebaiknya, malam ini lo perbanyak waktu istirahat. Mulai esok, gue akan menjelajah lokasi TKP.” Nayla mengangguk dengan pelan. Berusaha untuk tak menarik perhatian dua pemuda lain di sana. Terutama sosok Genta yang tak sedang bersungguh-sungguh dalam pengerjaan materi untuk seminar. ****** Malam itu, jarum pada jam menunjuk setengah dua dini hari. Genta terus bergerak dengan gusar. Seraya ia tak bisa tidur dengan nyaman. Danur membangunkan sang sahabat. Mengarahkan agar mereka bertukar tempat. Yakni, mempersilahkan Genta untuk tidur di kursi berbahan dasar kayu jati. Tentu, kursi kayu tersebut telah dilapisi oleh Danur dengan bedcover berukuran tebal. Usai berpindah, Danur menyampingi posisi tidur Reksa pada sebuah ranjang. Sejatinya, ranjang akan menjadi tempat tidur yang lebih nyaman dari pada tempat pemuda tersebut merebahkan badan sebelumnya. Namun, hawa dingin yang terasa saat Danur menyampingi posisi Reksa, membuat ia menjadi paham akan alasan Genta tak henti dalam bergerak. Dingin! Sungguh, ranjang ini terasa dingin hingga menusuk kulit. Danur berkomentar di dalam hati. Berpindah dari posisi semula. Memilih menjejalkan p****t pada area kosong; kursi kayu yang sedang ditiduri oleh Genta. Pada detik itu juga, suara sebuah pintu berderit. Kriet— Hanya saja, Danur tak berpikiran macam-macam. Ia mengalihkan perhatian pada layar laptop yang baru saja menyala. Bergegas menggunakan headphone bluetooth sebagai pengalih tangkapan indera telinga. Tetapi, suara berisik segera merasuki headphone tersebut. Ngiiing! Brbskskrsk— Suara bernada abstrak itu membuat Danur melepas piranti dengar dengan kasar. Reksa hingga terbangun dari alam bawah sadar. Berpindah posisi dari rebahan ke duduk. Bertanya memastikan, “Ada apa, Nur? Mengapa lo belum tidur?” Pada saat bersamaan, bayangan Nawang kembali terlihat. Kali itu, sosok hantu perempuan tersebut tak sedang berkeliling di sekitar Reksa. Melainkan, terduduk sembari menyandarkan kepala pada salah satu bahu sang sahabat. GLEK! Pemandangan itu membuat Danur menelan ludah dengan susah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN