LOOK DIFFERENT

1140 Kata
Cit! Ban mobil baru saja berdecit saat Danur menginjak rem tepat di depan hunian. Ia menuruni kendaraan dan berlari menuju sisi dalam. Menghampiri Luna yang sedang terduduk ketakutan di ruang tamu. Sedangkan, sebuah panci yang semula dimaksudkan oleh sang adik perempuan, terlihat tergeletak di meja teras. “Kak?” Luna segera menyapa Danur. Mendekap sang kakak yang spontan menghentikan langkah usai dipeluk dengan erat oleh sang adik. “Tenanglah, kau pasti salah melihat,” Danur berujar. Mengusap singkat puncak kepala Luna. Kemudian, kakak beradik itu menghampiri sisi meja teras. Danur membuka penutup panci. Mengernyitkan dahi. Tak ada belatung berwarna putih yang dimaksudkan oleh Luna. Hanya ada aroma khas dari bumbu kari ayam, yang berhasil diracik dengan sebaik mungkin oleh Reksa. “Ini mustahil, Kak. Tadi, aku benar-benar melihat banyak belatung menggerogoti ayam-ayam potong itu.” Hhh, Danur menghembus napas. Kembali meraih puncak kepala sang adik. Berujar, “Kau pasti terlalu sering menonton acara horor. Maka dari itu, kau menjadi berhalusinasi seperti itu.” Luna mendelik. Ia tak terima. Namun, apa daya. Tak ada bukti yang dapat ia tunjukkan pada sang kakak. ****** Hari demi hari terus berganti. Entah mengapa, sejak kali terakhir Nawang menampakkan diri, sosok wanita itu tak lagi mengganggu pengelihatan dan keseharian Danur. Dengan perasaan lega, pemuda tersebut bersiap diri sebaik mungkin sebelum waktu keberangkatan ke Kampung Lelegean. Tepat, di akhir pekan. Danur dan rekan-rekan satu tim, telah berkumpul di satu lokasi yang sama. Yakni, hunian Rendra dan Kasih. Kedua orang tua itu membantu memasukkan barang-barang yang sekiranya akan dibutuhkan oleh para mahasiswa dan mahasiswi. Setelah itu, Danur berpamitan pada kedua orang tua termasuk Luna. “Luna? Awas, jangan menonton video horor lagi. Kau harus mengingat pesan dari Kakak.” Selagi Luna mengangguk patuh, Genta berdesis. Merasa tersinggung akan ucapan Danur yang terkesan mengintimidasi acara horor di laman miliknya. “Sudah, sebaiknya kalian segera berangkat. Sehingga, akan ada waktu bagi kalian untuk membereskan barang-barang sewaktu tiba di sana, nanti,” Kasih mengeluarkan suara. Memberi saran pada para muda-mudi di hadapan. “Baik, Ma. Kalau begitu, kami berangkat dahulu.” ****** Hari itu, tiga sekawan benar-benar berangkat dengan seorang mahasiswi bernama Nayla. Keadaan bersitegang antara Danur dan Reksa telah memudar seiring berjalannya waktu. Sehingga, tak ada alasan bagi Reksa untuk menolak keberadaan Nayla di dalam satu mobil yang sama. Meski sejatinya, Reksa masih kerap bersikap dingin kepada wanita tersebut. Deru kendaraan baru saja terdengar. Danur berada di posisi kemudi. Sedangkan, Genta memilih duduk di samping kiri Danur. Mengingat, ia cukup menghafal jalanan yang pernah mereka lalui bersama ketika sedang survey ke kampung itu pada beberapa waktu lalu. Di dalam perjalanan. Para muda mudi yang tak sedang memegang kemudi, bersibuk dengan ponsel masing-masing. Sebelum, Nayla mulai memecah keheningan. Mencoba membaurkan diri diantara para lelaki di dalam satu kendaraan. “Ta? Gue selalu penasaran sama unggahan video, lo. Entah mengapa banyak sekali yang menjadi subscribers. Padahal, lo cuma bikin konten hasil editan, kan?” Genta terbahak. Menyahut, “Sembarangan lo, Nay. Gue adalah seorang pembuat konten horor sejati. Nggak ada bagian yang sengaja gue edit.” “Seriusan?” Nayla melebarkan bola mata sebagai tanda tak percaya. “Ah, elah! Serius. Kalau lo kagak percaya, coba tanya Reksa. Dia sempat menjadi objek di dalam konten gue yang sempat merasakan hawa mistis.” Mendengar pernyataan dari Genta, Nayla menciutkan diri. Kembali memberingsut pada dudukan di jok yang sama dengan Reksa. “Benar kan, Sa? Waktu itu, lo sempat merasakan momen menghilang secara tiba-tiba. Lalu, tahu-tahu lo terbangun dalam keadaan kerasukan, kan?” Genta kembali mengeluarkan suara. Reksa menghembus napas panjang. Berkata, “Sepertinya, kali itu hanya kebetulan saja.” Issh! Genta berdesis. Tak terima. Sedangkan, Danur terus berpikir dalam. Di sela ia mengemudi, banyak pemikiran yang terus berkeliling di kepala. Tak lain, mengenai ucapan Luna perihal sosok wanita yang sempat terekam ke dalam kamera milik Genta. Yakni, selagi pemuda tersebut membuat konten di bagian belakang rumah Reksa. Meski begitu, Danur tak berniat untuk mengkonfirmasi kebenaran. Mengingat, ia harus mencari pembenaran akan sosok Nawang, yang kemungkinan besar berkaitan erat dengan Reksa secara diam-diam. Bagaimana pun, tak ada yang boleh tahu jikalau Danur dan Nayla memiliki misi bersama untuk membongkar rahasia yang Reksa sembunyikan. ****** Tak terasa, kendaraan yang dikemudikan oleh Danur dari arah Jakarta, hampir tiba di Kampung Lelegean. Saat itu, Nayla melongo tiada henti. Ia benar-benar takjub akan betapa berbeda kampung yang hendak menjadi lokasi KKN mereka. Yah! Sama halnya si tiga sekawan, Nayla juga terheran dengan jalur tempuh yang terjal, panjang dan begitu melelahkan. “Sampai kapan kita harus melewati medan seterjal ini, Nur?” Nayla bertanya. Tak henti menatap jalanan yang bergelombang. Genta mewakili sahutan yang hendak Danur lontarkan. Berujar, “Kita baru melintas sejauh dua kilometer. Berarti, masih ada sekitar lima belas kilometer lagi hingga benar-benar sampai di pemukiman warga.” “Astaga!” Nayla berdecak tak percaya teruntuk kali kedua. Sedangkan, Danur terus berfokus agar dapat melintasi medan terjal itu dengan baik. Mengingat, ia hanya membawa satu ban serep seperti hari biasa. Sehingga, pemuda tersebut harus mengantisipasi kendala pecah ban dengan sebaik mungkin. ****** Setiba di pemukiman warga. Baik Danur dan ketiga penumpang lain, bergegas turun dari dalam kendaraan. Meregangkan tubuh yang terasa tegang akibat berkendara sejauh itu dari pusat Kota Jakarta. “Beruntung, gue menumpang di mobil lo, Nur. Jikalau tidak, sopir pribadi di rumah gue akan kewalahan,” Nayla mencurahkan pemikiran. Sesaat usai teringat jikalau kedua orang tuanya tak memiliki kendaraan off-road seperti yang dimiliki oleh Danur. Selagi Nayla berbincang singkat dengan Danur, Genta terlihat membantu Reksa untuk mengeluarkan barang-barang dari dalam bagasi. Sementara itu, Danur dan Nayla berjalan menuju rumah warga. Menghampiri salah satu rumah dengan pintu terbuka. Mengucap salam bersama-sama. Dan, “Waalaikumsalam,” Salah seorang penghuni rumah menampakkan diri. Wanita berusia awal kepala tiga dengan balutan jarik serta pakaian tradisional, baru saja menyahut salam. Mempersilahkan empat orang tamu untuk duduk di teras. “Maaf, Tante. Ehm, maksud saya maaf, Mbak,” Danur gelagapan. Pada saat bersamaan, Reksa segera menimpali sapaan Danur yang canggung. Menyapa dengan garis bibir menyunggingkan senyum. “Mohon maaf jikalau kami mengganggu istirahat, Mbak. Namun jika boleh, perkenalkan kami adalah mahasiswa dan mahasiswi dari Kota Jakarta yang hendak melaksanakan KKN di sini.” Mendengar kalimat Reksa yang berhasil diucapkan dengan lebih baik, sosok wanita di hadapan mereka mengangguk paham. Beranjak dari posisi semula. Berkata, “Baiklah, kalau begitu kalian tunggu sebentar. Saya akan menyampaikan kedatangan kalian kepada Kepala Desa.” Tak menunggu lama, si penghuni rumah tersebut menggunakan alas kaki. Berjalan menuju salah satu rumah yang berada tak jauh dari sana. Lalu, “Nur? Mengapa rumah si kakek yang waktu itu, tak terlihat? Memang, hari ini kita tak berhenti di lokasi yang sama?” Genta bertanya. Sesaat usai mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kampung. Tak ada gambaran rumah antar rumah, yang dipisahkan oleh jarak cukup jauh di sana; tak sama halnya dengan penampakan sewaktu mereka sedang survey ke Kampung Lelegean.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN