Sesaat usai Reksa mengikuti arah bidik Danur, suara gemuruh yang semula terdengar kencang tiba-tiba menghilang. Air hujan tak lagi turun ke bumi. Begitu pula dengan sosok dosen wanita yang kembali menampakkan kecantikan di wajah.
Danur terperangah. Membatin. Mengapa perubahan cuaca dan paras dosen kami bisa berpindah dalam kurun beberapa detik saja?
Lalu,
“Nur? Ada apa?” Reksa kembali mengeluarkan suara. Berbicara santai seperti biasa.
“Tidak, Sa. Tidak ada apa-apa. Sepertinya, gue hanya kurang tidur saja.”
******
Mata ajar terus silih berganti. Tiba di saat kelas mereka hendak disudahi. Danur menyampaikan niat untuk menemani Reksa ke rumah sakit. Sesuai dengan janji yang ia berikan pada Rendra, Danur harus mendampingi pemuda tersebut untuk kontrol ulang.
“Lo bilang, jika rasa pusing yang terakhir kali gue rasa sewaktu berada di Kampung Lelegan merupakan sakit kepala akibat kerasukan. Jadi, untuk apa gue kontrol ulang, Nur?”
“Memang benar, Sa. Tapi, bukankah lo masih harus konsumsi obat? Dan, sebelum kita berangkat KKN nanti, sudah sebaiknya jika stok obat-obatan lo tercukupi.”
Mendengar pernyataan yang Danur lontarkan, Reksa menghembus napas singkat. Sejatinya, ucapan sang sahabat memang benar. Meski, Reksa sudah mulai bosan meminum beberapa jenis obat untuk menunjang perawatan pasca cidera kepala.
Namun,
“Baiklah,” Pada akhirnya, Reksa mengiyakan.
******
Selagi Danur dan Reksa sedang menuju rumah sakit, Genta kembali bertemu dengan Nayla pada sebuah koridor. Mereka telah memutuskan untuk menuju ruang informasi bersama-sama seusai menuntaskan mata ajar kuliah.
“Genta?” Suara Nayla terdengar menyapa.
Pemuda tersebut membalas lambaian tangan. Mempercepat langkah. Menghampiri sang wanita. Tanpa basa-basi mereka berjalan berdampingan. Bergegas menuju salah satu bangunan dengan cat dinding berwarna putih terang. Kemudian, Genta terlihat menunggu Nayla berbicara dengan seseorang. Tak lain, seorang penjaga baru di ruang informasi.
Wanita berusia akhir kepala dua itu berseru senang. Mengijinkan Nayla menggantikan posisi ia untuk sementara.
Di sela si penjaga melangkah untuk menghampiri Genta, Nayla bergegas menjejalkan p****t pada dudukan. Memasukkan nomor identitas beserta password khusus yang dimiliki oleh para anggota BEM. Setelah itu, sebuah laman berhasil terbuka. Kolom kosong baru saja meminta Nayla untuk mengetikkan nama. Tak menunggu lama, ia mengetik nama Nawang.
Klik!
Kolom pencarian sedang berputar. Menampakkan tulisan ‘loading page’ di sana. Sembari menunggu, Nayla bercelinguk ke arah Genta. Memastikan keberhasilan pemuda tersebut dalam mengalihkan perhatian si penjaga. Lalu, satu lembar kerja berisi puluhan nama muncul di dalam layar. Nayla kebingungan. Terdapat banyak nama dengan suku kata Nawang. Namun, mahasiswi itu segera berpikir jernih. Mencoba mengingat suatu hal yang dapat ia jadikan petunjuk.
Dan, satu tahun silam? Yah! Gue harus mencari nama Nawang yang menjadi mahasiswi di kampus kami pada kisaran tahun ajaran satu hingga dua tahun lalu.
Berkat ketelitian yang Nayla miliki, ia berhasil menjumpai sebuah nama yang cukup menarik perhatian. Yakni, Tri Ajeng Nawangsari.
Ketika Nayla hendak membuka informasi pribadi dari pemilik nama tersebut, sebuah pesan masuk ke dalam telepon genggam. Memunculkan nama Genta di dalam kolom notifikasi. Pemuda itu baru saja meminta agar Nayla bergegas. Mengingat, si penjaga wanita berdalih melupakan ponsel di atas meja kerja. Sontak, Nayla melirik sebuah telepon genggam dengan layar sentuh yang memang tergeletak di sana.
**Genta : “Buruan, Nay. Dia hendak kembali ke dalam ruang untuk mengambil ponsel. Dia bersikeras meminta foto bersama gue dengan telepon genggam miliknya.”
Issh!
Nayla berdesis. Segera menujukan jemari tangan kanan untuk menekan perintah pengecekan status mahasiswi di dalam layar.
Bunyi klik kembali terdengar. Bola mata Nayla melebar. Meski begitu, ia segera tersadar. Beralih menekan tombol kamera di dalam telepon genggam pribadi. Berniat mengambil bukti atas fakta yang baru saja ia temukan di sana.
Beruntung, di saat si penjaga berjalan menuju sisi ruang kerja, Nayla telah mengeluarkan identitas dan password khusus miliknya. Bersandar pada punggung kursi seolah tak melakukan hal apa pun di sana.
Lalu,
“Terima kasih ya, Nay. Kau sudah mau mengantikan posisi jagaku untuk beberapa menit. Sekarang, kau bisa kembali. Dan, kuucapkan terima kasih karena sudah memperkenalkan aku secara langsung dengan pemilik laman Hideous Movie Channel.”
“Sama-sama, Mbak. Kau tak perlu sungkan. Yang terpenting kau menjadi senang,” Nayla berujar. Menyertakan seringaian.
Setelah itu, kedua wanita dengan selisih usia beberapa tahun tak lagi berhadapan. Nayla telah kembali menjumpai Genta. Mengucap terima kasih atas bantuan yang sudah pemuda tersebut berikan.
“Santai, Nay. Lagi pula, apa sih yang enggak buat, lo?” Genta menyahut dengan perangai para playboy seperti biasa.
“Kebiasaan deh lo, Ta. Mulut lo, mulut buaya. Tapi, so far thanks, ya.”
Mendengar ucapan terima kasih dari Nayla, Genta tak serta merta membalas dengan sahutan ala kadarnya. Mengingat, pemuda itu paling pandai dalam memanfaatkan keadaan. Sehingga, alih-alih mereka berpisah. Genta justru berhasil mengajak Nayla untuk makan bersama.
******
Jikalau, Genta dan Nayla berpindah pada sebuah café di pusat kota Jakarta. Lain halnya, dengan Danur dan Reksa. Kedua pemuda itu sedang mengantri di depan ruang konsultasi.
Sembari menunggu panggilan yang ditujukan untuk seorang pasien rawat jalan, Danur mengajukan pertanyaan.
“Sa? Sewaktu lo kerasukan, lo ingat tidak apa yang terjadi sebelum makhluk halus itu masuk ke dalam tubuh lo? Yang gue lihat di dalam unggahan video milik Genta, sebelum lo kerasukan, lo bersibuk menjadi kameramen dia—”
Belum sempat Danur menuntaskan kalimat, seorang perawat baru saja menyerukan nama Adinata Reksa Pambudi. Pemuda tersebut beranjak dari posisi duduk semula. Berpamitan pada Danur untuk menuju ruang konsultasi. Terpaksa, pertanyaan yang Danur lontarkan harus ditangguhkan.
Sepersekian detik kemudian.
Pintu ruang konsultasi baru saja tertutup. Reksa menghilang dari balik ambang pintu berwarna cokelat. Sedangkan, sesosok makhluk halus kembali menampakkan diri. Seolah ia baru saja meniupkan sesuatu sebagai penarik perhatian. Danur segera menoleh pada arah tengkuk kanan yang bergidik.
Dan,
Astaga! Lo lagi? Danur berdecak di dalam hati.
Hantu perempuan itu tak menoleh. Ia hanya menunduk. Menampakkan gambaran dengan wajah ditutupi dengan rambut hitam tergerai. Setelah itu, arwah gentayangan tersebut menghilang dari di depan pandangan. Danur menyugar puncak kepala dengan kasar.
Pada saat bersamaan, dering panggilan masuk terdengar. Danur tersentak. Mendengkus sebelum memastikan sebuah nama yang muncul di dalam layar.
*Nayla*
Danur beranjak dari posisi duduk. Berjalan menjauh dari lokasi semula. Menghentikan langkah tepat di pagar pembatas lantai dua. Menatap pengunjung rumah sakit yang sedang berjalan ke sana dan ke mari pada lantai dasar. Menyahut panggilan masuk. Menyapa, “Halo, Nay?”
“Nur, gue sudah mendapatkan informasi yang lo butuhkan.”
“Benarkah?”
“Yah. Gue akan mengirim bukti melalui hasil jepretan ke lo.”
Drrt drrt!
Sebuah pesan segera bertengger di kolom notifikasi. Tak lain, pesan dengan lampiran file dengan format jpeg yang baru saja dikirim oleh Nayla.