Danur tak segera memberi balasan pada pesan yang dikirim oleh Nayla. Ia sedang memikirkan perihal kalimat yang tepat untuk ia tujukan pada Genta. Mengingat, Genta akan bertanya mengenai alasan di balik permintaan tolong yang akan Danur layangkan. Sehingga, sebuah kesimpulan berhasil terbesit di dalam benak Danur. Ia berkeinginan agar Nayla mau meminta tolong secara langsung kepada Genta. Dengan begitu, sang sahabat pria takkan banyak bertanya.
**Nayla : “Astaga, Nur. Jadi, harus gue lagi nih?”
**Danur : “Iya, Nay. Please, bantu gue?”
**Nayla : “Iya-iya, dah! Entar, gue coba ngomong sama Genta.”
Danur bernapas lega.
******
Keesokan hari. Tepatnya, pada hari Senin.
Danur baru saja tiba di kampus. Begitu pula dengan Reksa yang menumpang pada kendaraan berjenis sport milik Genta. Saat itu, Danur sengaja tak segera menyapa sosok kedua sahabat. Bagaimana tidak, dari kejauhan Nayla terlihat menghampiri Reksa dan Genta. Menyapa salah seorang pemuda di sana.
Tak lama setelah itu, Genta berpindah lokasi dengan Nayla. Sedangkan, Reksa terlihat berjalan seorang diri menuju koridor kampus. Berniat untuk menghampiri perpustakaan sebelum masuk ke kelas.
“Sa?” Danur menyapa. Menepuk pundak Reksa.
“Ada apa, Nur? Ekspresi wajah lo terlihat girang?”
Haha!
Danur tergelak. Mengibaskan tangan. Berujar, “Masa? Enggak, ah! Biasa saja. Ngomong-ngomong, lo mau ke mana? Kelas kita kan ada di sisi barat kampus, Sa.”
Sembari menggaruk tengkuk yang tak gatal, Reksa menginformasikan arah tuju. Danur segera paham. Sosok sahabat pria yang satu itu, memang hobi sekali membaca buku. Bahkan, sebelum para dosen memberi bahan ajar, Reksa sudah mempersiapkan buku-buku sesuai dengan jadwal SKS yang sudah diterbitkan.
“Kalau begitu, gue temenin lo, ya?”
“Nggak perlu, Nur. Lo langsung ke kelas saja,” Reksa menolak.
Danur memanggutkan dagu. Menepuk pundak pemuda di hadapan secara singkat. Kemudian, berpamitan.
Di sela Danur melangkah menjauh, ia merasa ingin menoleh ke arah belakang. Benar saja, perasaan itu tak serta merta karena ia penasaran. Melainkan, sosok arwah bergentayang itu sengaja membuat Danur ingin menoleh ke belakang.
Oh, men! Hantu wanita itu memang benar-benar tak takut pada sinar. Gue kira, hantu hanya bisa menampakkan diri di waktu malam. Danur bergumam. Sesaat usai melihat hantu wanita tersebut kembali mengitari sosok tubuh Reksa. Meski begitu, Reksa terlihat biasa saja. Sama sekali tak terganggu dengan kehadiran makhluk halus yang berkeliling di sekitar.
Akibat berjalan sembari memandang tak lurus ke depan, Danur jadi tak sengaja menabrak seorang dosen yang sedang berjalan.
BUG!
Suara tabrakan terdengar. Danur menoleh. Berujar, “Maaf, Bu. Saya tidak melihat Ibu berjalan.”
“Bagaimana bisa kau melihat? Jika, kepalamu saja berputar ke belakang,” Dosen bersetelan rapi itu menjawab. Bersindekap.
Danur membungkukkan badan. Meminta maaf teruntuk kali kedua. Lalu, memberi jalan.
Sejatinya, penampakan hantu wanita itu tak hanya menyebabkan Danur mengalami masalah kecil. Bahkan, ia pernah hampir terjatuh dari atas rooftop karena mengikuti sosok hantu itu pada beberapa bulan lalu. Tepatnya, di saat ia sedang menemani Reksa ke rumah sakit. Ia merasa terpanggil untuk mengikuti arah tuju si hantu wanita. Dan, entah bagaimana ceritanya, Danur telah sampai di rooftop rumah sakit. Beruntung, Danur dapat mengendalikan diri saat mengikuti gerak arwah, yang tiba-tiba melompat begitu saja dari sisi atas bangunan. Jika tidak, mungkin Danur akan turut kehilangan nyawa karena terjatuh dari ketinggian.
******
Setiba di kelas.
Danur terperangah. Seingat dia, langkah kaki dirinya dan Reksa telah menapak pada lajur berbeda. Namun, sosok sang sahabat sudah lebih dulu terduduk di dalam ruang belajar.
“Nur? WOI!” Genta memekikkan suara. Menggerakkan telapak tangan kanan. Mengibas kasar untuk menyadarkan tatapan Danur ke arah depan.
“Ada apa, Nur? Jangan bilang, lo sedang kerasukan? Anjir! Gue harus buru-buru siapin kamera,” Genta kembali mengeluarkan suara. Bergerak cepat saat membuka resleting pada tas ransel yang ia gunakan.
Jikalau, Genta selalu berisik. Tak demikian dengan Reksa. Pria dengan garis rahang berbentuk persegi itu hanya terdiam. Memandang Danur dengan santai.
Sebelum, “Sa? Sejak kapan lo berada di dalam kelas?” Danur bertanya. Masih dengan tatapan heran.
Sontak, Genta mengalihkan pandang. Menghentikan pergerakan tangan yang hendak menyalakan kamera. Bertanya pelan, “Sa? Danur benar-benar sedang kesambet, ya?”
“Jangan ngaco deh, lo,” Reksa menimpali pertanyaan dari Genta. Beralih menjawab, “Gue baru tiba di kelas. Hari ini, perpustakaan tutup. Maksud gue, buka lebih lambat.”
“Benarkah?” Danur memastikan.
“Yah. Jika, lo tak percaya. Lo bisa tanyakan teman sekelas kita yang juga sering ke sana.”
“Tapi, bukan itu yang sedang gue maksud, Reksa. Maksud gue, lo benar-benar baru tiba di kelas, kan? Lo sempat gue sapa sewaktu berada di koridor menuju sisi timur kampus, kan?”
“Apaan sih lo, Nur?” Reksa berdecak. Menyumbulkan seringai. Melanjutkan kalimat, “Tentu saja, yang lo sapa tadi adalah gue.”
Melihat Reksa dan Genta menertawakan dirinya, Danur memanggutkan dagu. Menghembus napas. Barulah menjejalkan p****t pada sebuah kursi di sana.
******
Satu jam SKS telah terlewati. Meski begitu, mata ajar kuliah pada hari itu amat padat. Satu dosen yang keluar dari kelas, segera digantikan dengan dosen pada mata ajar lain. Hanya saja, pada saat SKS kedua, sisi jendela berukuran lebar yang berkeliling di ruang segera berubah warna. Lebih tepatnya, baru saja menampakkan suasana menggelap dari gambaran semula. Tiba-tiba, hujan turun dengan begitu deras. Menimbulkan petir dan kilat yang menyambar.
Beberapa mahasiswa terlihat menarik korden. Menutup sisi kaca tembus pandang dengan tirai. Menyalakan lampu dengan pencahayaan penuh. Kembali duduk dan memperhatikan seorang dosen wanita berpakaian warna merah.
Saat itu, sang dosen baru menuntaskan penjelasan melalui layar berukuran besar. Kemudian, ia beralih menjejalkan p****t pada dudukan khusus. Menundukkan kepala sembari menggulir jemari pada sebuah telepon genggam.
Di sela para mahasiswa dan mahasiswi sedang berdiskusi untuk membahas studi kasus yang diberikan, Danur tak sengaja bertatap pandang dengan si dosen. Dosen bersetelan rapi dengan jas formal dan celana kain sepanjang mata kaki, baru saja menatap Danur dengan tajam. Dalam sekejap, mimik wajah sang dosen berubah. Menunjukkan gambaran hantu wanita dengan paras yang rusak parah.
Astaga! Danur berdecak keras di dalam batin. Ia tak mungkin menjerit dan menghebohkan seisi kelas.
Meski begitu, Reksa yang memiliki kepekaan tinggi segera menegur Danur. Berusaha menetralkan raut pasi di wajah sang sahabat laki-laki. Bertanya lirih, “Ada apa, Nur?”
Hh? Eh?
Danur tersadar. Berujar, “Gue baru saja melihat gambaran yang tak pernah tertampak dengan jelas di retina.”
Reksa mengerutkan dahi. Menyahut, “Apa yang sedang lo bicarakan, Nur?” Ia bergegas mengikuti arah bidik Danur. Yakni, pada sang dosen wanita yang sedang terduduk seorang diri di sebuah sudut.