Pada akhirnya, Danur terpaksa membopong tubuh Nayla hingga wanita tersebut tersadar.
***
Tepat pada pukul sepuluh malam.
Mereka berdua tiba di hunian yang sedang menjadi tempat bermalam para mahasiswi. Kali itu, daun pintu rumah telah tertutup. Nayla terpaksa mengetuk pintu dengan perlahan. Berupaya agar si pemilik rumah mendengar ketukan yang dilayangkan.
Namun, suara daun pintu yang terbuka tak disertai dengan mimik menyenangkan. Seringai kesal yang ditujukan oleh si pemilik rumah, membuat Danur dan Nayla menjadi terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, malam itu wanita berusia awal lima puluh tahunan segera bersindekap. Mengeluarkan suara dengan menggelegar, “Kalian berdua dari mana saja? Apakah kalian baru saja berbuat hal yang tidak-tidak di kampung kami ini? Katakan, kalian berbuat hal tak sepatutnya itu di mana, hah?”
Sontak, Nayla menggurat pasi di wajah. Sementara itu, Danur menyugar puncak kepala. Tak menyangka jikalau mereka dianggap pergi keluar untuk berdua-duaan.
Keributan kecil yang sempat terjadi di sana, membuat beberapa warga keluar dari dalam rumah. Termasuk, para mahasiswa yang sedang bermalam di salah satu hunian.
Menyaksikan sang sahabat sedang dituduh melakukan hal tidak sopan, Reksa segera menghampiri rumah Kepala Desa. Ia berinisiatif untuk meluruskan kesalah pahaman yang ada.
Tak menunggu lama, Pak Karim tiba. Pria berusia kepala lima itu datang bersama Reksa. Memberi pengertian dan penjelasan kepada si pemilik rumah.
“Tidak. Tak mungkin mereka berdua tidak berbuat macam-macam, Pak Kades. Saya sering menjumpai kedua muda mudi itu mengobrol bersama. Entah di waktu pagi buta atau juga malam hari. Tanpa dijelaskan dengan detail, Pak Karim paham dengan maksud saya, bukan?” Si pemilik rumah bersikeras. Enggan memahami alasan yang dibuat oleh Danur dan Nayla pada malam itu.
Dengan berat hati, dua muda mudi itu digiring ke balai desa. Para warga segera dikumpulkan untuk melakukan musyawarah.
“Kami tidak terima kampung kami kedatangan muda mudi yang hanya berniat berbuat hal buruk di sini. Lebih baik pulangkan saja mereka ke Jakarta.”
“Benar, Pak Karim. Sudah cukup desa ini dianggap sebagai desa terkutuk sepeninggal seorang mahasiswi di wilayah kita. Kami tak ingin dikucilkan oleh para warga dari desa-desa sebelah.”
“Benar. Pulangkan saja mereka!”
Suara sorak-sorai terdengar. Padahal, Karim mengumpulkan mereka ke balai desa untuk mencapai mufakat dengan hati yang dingin. Namun, cemooh terus diserukan. Seakan mereka lupa pada hari yang mulai larut di sana.
Sehingga,
“Tenang, Bapak dan Ibu-Ibu. Mari kita lirihkan suara. Tidakkah kalian merasa sungkan dengan warga yang sedang memiliki bayi dan berusia sudah renta? Mereka membutuhkan istirahat,” Karim berujar mengingatkan.
Suara sorak terhenti. Digantikan dengan bisikan-bisikan lirih dari bibir para ibu-ibu.
Setelah itu, seorang kakek datang menghampiri. Sutredjo menampakkan diri di tengah-tengah dua sayap kursi pada kanan dan kiri. Ia berkata, “Pak Karim, apa yang dikatakan oleh mahasiswa dan mahasiswi itu adalah benar. Mereka memang datang ke rumah saya untuk meminta bantuan. Tak ada hal aneh yang mereka berdua lakukan. Perihal waktu keberangkatan dan kepulangan mereka, sudah jelas cukup menempuh waktu lama. Menempuh lebih dari lima kilometer dengan berjalan kaki bagi pendatang, terbilang jarak yang cukup jauh, bukan?”
Para warga terdiam. Beralih mendengar ucapan Sutredjo dengan seksama.
“Lagi pula, bukankah Bapak dan Ibu sekalian dapat melihat pakaian mereka? Tidak ada bagian yang aneh. Mereka juga tak terlihat seperti dua orang yang melakukan hal tidak sepatutnya, bukan? Jadi, jangan asal menyimpulkan hanya karena mendengar fitnah dari seseorang.”
“Hah? Fitnah?” Kali itu, para warga segera berbisik ramai. Menatap seorang pemilik rumah yang sedang mendecap bibir secara berulang. Menampakkan ekspresi ketahuan usai melontarkan omong kosong belaka.
Suara gaduh segera berganti menyerang salah seorang warga. Pak Kepala Desa segera menghentikan ujaran-ujaran berisi rasa kesal. Berusaha menetralkan suasana yang semakin tidak kondusif di sana.
Namun,
Kepergian si pemilik rumah menyiratkan bahwa ucapan Sutredjo tidak salah. Oleh karena itu, hasil mufakat telah diputuskan bahwa tidak ada situasi apa pun yang terjadi pada Danur dan Nayla.
Usai kerumunan para warga dibubarkan, Danur dihampiri oleh Reksa. Pemuda tersebut berkata, “Sebaiknya, dalam waktu dekat lo dan Nayla jangan terlalu sering keluar bersama.”
Mendengar nasihat dari Reksa, Danur menyipitkan mata. Ia mencium aroma-aroma bahwa Reksa enggan melihat Danur dan Nayla melakukan hal secara diam-diam di belakangnya.
“Mengapa lo memandang gue seperti itu, Nur?” Reksa kembali mengeluarkan suara.
“Tidak. Tidak apa.”
Setelah itu, Danur dan Nayla berjalan terpisah. Danur sedang melangkah berdampingan dengan Reksa dan Genta. Hanya saja, situasi dingin dan tegang seraya sedang menyelimuti sosok si tiga sekawan. Selagi mereka berjalan bersama, tak ada satu pun di antara mereka yang mengeluarkan suara.
******
Setiba di tempat bermalam para mahasiswa.
Genta telah masuk ke dalam kamar lebih dahulu. Sedangkan, Reksa dan Danur masih berada di sisi teras rumah.
Hening dalam kurun beberapa menit.
Sebelum salah satu dari mereka mengajukan pertanyaan, “Memang, bantuan apa yang sedang kalian ingin dapatkan dari kakek tua, tadi?”
Mendengar pertanyaan dari Reksa yang terkesan menginterogasi, Danur enggan memberi jawaban. Kembali melontarkan pertanyaan balasan, “Untuk apa lo berbuat sejauh itu? Bahkan, lo memanggil Pak Kepala Desa untuk membantu membereskan masalah kami.”
Cih!
Reksa berdecik lirih. Mengusap sisi bawah hidung sebanyak dua kali. Menyahut, “Bukankah, sudah menjadi kewajiban gue untuk membantu masalah sahabat sendiri?”
“Membantu? Apa lo yakin benar-benar berniat membantu kami?” Danur masih berujar dengan nada curiga.
Reksa beralih menatap lekat manik mata sang sahabat. Berujar, “Gue juga akan melakukan hal yang sama jikalau kejadian seperti itu menimpa Genta. Sudah jelas, gue akan tetap membantu kalian untuk terbebas dari masalah sebisa mungkin. Hanya saja, kepergian Genta tak ketahuan seperti kepergian lo dan Nayla.”
“Apa maksud ucapan lo baru saja, Sa?”
Ck!
“Bukankah, sudah jelas bahwa Genta juga sempat pergi keluar tadi?”
Sontak, Danur mengingat-ingat saat ia dan Nayla sedang ditegur oleh si pemilik rumah. Saat itu, para mahasiswa segera berdatangan ke tempat bermalam para mahasiswi. Hanya saja, ada sosok pemuda yang lagi-lagi tak terlihat di kerumunan. Dan, benar saja. Genta tak ada di sana. Pemuda tersebut baru tiba beberapa menit usai mahasiswa, mahasiswi dan para warga berpindah lokasi ke balai desa.
“Apa yang sedang lo bicarakan, Sa? Lo tak sedang berniat menuduh Genta melakukan hal yang tidak-tidak, bukan? Memang, lo mendapati dia pergi keluar dengan salah satu mahasiswi? Tidak, kan? Lagi pula, kepergian Genta pasti karena dia sibuk mencari konten untuk bahan unggahan.”